Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Kedatangan


__ADS_3

Perancangan usaha yang dilakukan Zahra benar - benar sudah terstruktur dengan baik. Ia akan menjual berbagai roti dan juga kue, mulai dari yang tradisional sampai kue modern di toko yang sekarang sedang dalam tahap renovasi.


Setiap hari ada saja resep baru yang dibuat Zahra, wanita itu seakan bereksperimen sambil mengembangkan bakat yang sudah lama terpendam dalam dirinya.


Hari ini Zahra membuat roti slice yang berisi daging asap, ini adalah resep baru yang ia inovasikan sendiri untuk panganan anak muda yang suka dengan makanan kekinian yang enak namun juga simpel.


Ken sedang sibuk dengan dunianya sendiri di ruang tamu saat Zahra menghidangkan roti slice-nya yang baru matang.


"Wah, istriku buat apa lagi hari ini?" tanya Ken terlihat antusias, apalagi aroma yang menguar dari roti yang baru dihidangkan Zahra didepannya sangat menggugah selera.


"Cobain... nanti kamu kasi komentar yang jujur soal rasanya," kata Zahra serius.


Tentu Ken dengan senang hati mencoba berbagai olahan yang dibuat istrinya itu, karena ia yakin dengan kemampuan Zahra yang mumpuni.


"Belum dimakan aja aku udah tebak ini pasti enak. Aromanya udah langsung buat laper," kata Ken terus terang.


Ken pun mengambil potongan roti slice-nya.


"Enak... rotinya lembut, dagingnya juga terasa. Kematangannya pas."


"Hihihi, udah kayak juri di tv - tv aja kamu tuh!" kekeh Zahra.


"Serius, sayang! Kenapa kamu gak ikutan masterkoki aja? Masakan kamu selalu bisa memanjakan lidah dan perut aku," kelakar Ken sambil mengunyah roti slice buatan sang istri.


Zahra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pujian Ken.


"Kamu kok bisa pinter gini sih masaknya? Pinter inovasi juga?"


"Ya, jadi dulu aku memang hobi masak. Terus pas di Singapore aku sempat kursus membuat kue - kue dan roti gitu, sesuai kan sama usaha yang mau kita buat," jawab Zahra.


"Oh pantesan, jadi ini rotinya kamu buat sendiri? Bukan yang udah jadi diisi sama daging, gitu?"


"Iya, Sayang. Aku buat adonan rotinya sendiri, terus dipanggang sendiri juga, kalau roti yang siap saji takutnya cepat keras dan melempem kalau dikasi isian begitu," terang Zahra.


"Istriku memang jenius, aku jadi makin cinta..."


Zahra terkekeh sambil menepuk pundak sang raja gombal dirumahnya itu.


"Aku beneran gendut ini, Sayang..."


"Kalau udah selesai makan baru deh ingat gendut... tapi kalau pas disajikan makanan didepan mata, gak pernah mau nolak," sindir Zahra sambil tertawa pelan.

__ADS_1


______


Hari ini Zahra ikut dengan Ken ke Bengkel, mereka akan makan siang bersama kemudian mengecek perkembangan ruko yang sedang di renovasi. Zahra ingin melihat apa saja yang kurang disana agar segera dipenuhi kekurangannya.


Saat Ken dan Zahra sedang asyik bercengkrama didalam ruang kerja Ken yang ada di Bengkel, tiba - tiba telepon diruangan itu berbunyi.


"Kenapa?" Ken menerima panggilan line teleponnya.


"Apa?" Wajah Ken terlihat aneh, ekspresinya nampak terkejut dan sulit diartikan. Zahra yang melihat ke arah suaminya mulai menerka bahwa ada sesuatu yang terjadi.


"Baiklah, aku akan menemuinya." Ken meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula.


"Ada apa, Ken?" Zahra menatap Ken dengan rasa ingin tahu.


"Ada sedikit masalah didepan. Tunggulah disini, jangan keluar dari ruanganku," ucap Ken dingin. Zahra mengernyit heran dengan perubahan sikap suaminya.


Zahra tahu pasti sesuatu telah terjadi, namun ia belum bisa bertanya lebih lanjut pada Ken karena sang suami langsung berlalu setelah mengakhiri kalimatnya tadi.


Zahra ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi dia juga tak mungkin melanggar perintah suaminya yang memintanya untuk tetap berada dalam ruangan ini.


_


Sementara itu, Ken keluar dari ruangannya dengan langkah yang lebar. Suasana didepan cukup ramai karena ada beberapa pelanggan yang datang ke Bengkel untuk menyervis mobil maupun membersihkan mobil di area carwash.


"Aku menyuruhnya menunggu di ruangan itu, Bang." Darma menunjuk ke arah ruangan yang menyimpan banyak stok barang-barang bengkel.


Ken menghela nafas sejenak, kemudian berjalan menuju ruangan itu. Darma pun berlalu setelah menyampaikan hal itu pada Ken.


"Apa maumu?" tanya Ken begitu tiba di ruangan yang tak terlalu besar itu, ia menatap nyalang lawan bicaranya.


Wanita dihadapan Ken menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.


"Ken...."


"Tolong katakan apa maumu mendatangiku sampai kesini, Jenar? Masalah apa yang kau bawa sekarang?" Ken mencerca Jenar dengan murka, bukankah seharusnya wanita ini tidak mengganggunya lagi. Jenar sudah tahu jika Ken telah menikah, bukan? Lalu mau apa lagi dia mencari Ken sekarang?


Jenar mendekat ke arah Ken, mencoba memegang lengan pria itu namun Ken segera menepisnya.


"Langsung ke point-nya! Aku tidak mau melihatmu mengiba didepanku!" ucap Ken tegas.


Jenar menghela nafas, kemudian bibirnya mulai terbuka untuk berkata dengan tergagap. "A-aku... hamil, Ken!" ucapnya.

__ADS_1


Mata Ken membola mendengar itu, awalnya ia tak menatap wajah Jenar, tapi mendengar hal itu membuat Ken menoleh juga pada wanita itu.


"Lalu? Apa urusannya denganku? Kau mau mengatakan itu anakku?" tanya Ken sinis.


Jenar mengangguk cepat secara berulang.


"Bullshittt!!" umpat Ken didepan wajah Jenar.


"Aku serius, Ken! Ini anak kamu!"


Ken menggeleng. "Imposible!" dengkusnya.


"Ken... terserah kau mau percaya atau tidak, tapi ini benar-benar darah dagingmu. Aku masih bisa membiayainya, aku cuma mau kau mengetahui bahwa aku sedang mengandung anak kita. Tolong akui anak ini, Ken! Kita sama - sama tahu bahwa kita sering melakukannya dulu!"


Ken terdiam. Ia yakin jika yang dikandung Jenar bukanlah anaknya, namun ia juga tak memungkiri jika ia dan Jenar memang sering melakukan hal itu. Tapi itu dulu.


"Kau tahu itu tidak mungkin, Jen! Aku selalu memakai pengaman, right?" tanya Ken setelah hening yang cukup lama.


"Y-ya... tapi kenyataannya aku hamil, Ken!" lirih Jenar. "Pengaman itu bisa saja bocor atau entahlah... banyak kasus yang seperti ini, tidak ada jaminan bahwa semuanya akan tetap aman." Jenar mulai terisak.


Pening menjalar dikepala Ken sekarang. Bagaimana mungkin Jenar hamil dan menuntutnya sekarang-- disaat rumah tangganya dengan Zahra sedang berada di fase yang paling hangat dan baik-baik saja. Damned!


"Bisa saja kau hamil dengan lelaki lain!" kata Ken pelan.


"Ken? Kau menuduhku begitu? Itu jawaban pria pengecut, Ken!"


Ken menghela nafas panjang. "Baiklah, katakan padaku berapa usia kehamilanmu!" pinta Ken.


"5 Minggu..."


"What? Sudah jelas itu bukan anakku, Jen!" tegas Ken. Mana mungkin usia kehamilan Jenar sama dengan kandungan Zahra saat ini? Bukankah mereka sudah lama tak berhubungan, bahkan sebelum Ken menikahi Zahra, Ken sudah lama meninggalkan Jenar.


"Ini anakmu, Ken!" ucap Jenar bersikukuh.


"Aku bisa menghitung! Itu bukan anakku! Kau mintalah pertanggung jawaban pada ayah biologisnya, jangan padaku!"


Jenar menggeleng sambil berderai airmata. "Kau ayahnya, Ken! Jika kau tetap seperti ini maka aku tidak segan - segan membawa hal ini ke jalur hukum. Aku tahu itu tidak akan berpengaruh padamu, tapi aku yakin istrimu itu akan mengetahuinya cepat atau lambat! Apa yang akan dia lakukan jika tahu hal ini, Ken?" ancam Jenar tak main-main.


"Sudah ku bilang itu bukan anakku! Kita bisa buktikan dengan tes DNA." Ken berbalik badan, bersiap meninggalkan Jenar seorang diri diruangan itu.


Ken menendang pintu sambil mengumpatt keras, kemudian pria itu benar - benar berlalu dari sana.

__ADS_1


******


__ADS_2