
Ken masuk ke dalam kamarnya, seharian ini rasanya ia amat lelah. Ia mulai menanggalkan jas yang sejak pagi tadi melekat ditubuhnya, meletak itu secara sembarangan di dekat tempat tidurnya.
Ia melirik jam di dinding, ia berniat untuk mandi lalu menunaikan shalat isya terlebih dulu, barulah ia akan tidur setelahnya.
Namun, langkahnya terhenti didepan pintu kamar mandi, karena melihat Zahra yang juga baru saja keluar dari dalam sana.
Deg... perasaannya berdebar.
Ia sadar dan ia ingat jika ia sudah menikahi gadis ini, namun ia tidak tahu sejak kapan Zahra berpindah ke kamarnya bahkan menggunakan kamar mandinya.
Sejak siang tadi, yang ia tahu adalah Zahra masih menempati kamar tamu untuk meletakkan barang - barangnya, bahkan saat maghrib tadi, ia masih melihat Zahra memasuki kamar tamu untuk melakukan shalat disana, meski awalnya ia ingin mengajak Zahra shalat berjamaah dikamarnya, namun niat itu ia urungkan sebab ia sendiri maaih gugup untuk menawarkan hal tersebut pada Hana-nya.
Zahra tampak terperangah dengan kehadirannya, sesaat kemudian gadis itu pun menunduk seperti yang telah ia perkirakan sebelumnya.
Ia tahu, pasti gadis ini malu karena ia mendapati Zahra dalam keadaan yang hanya mengenakan bathrobe mandi, serta menutup bagian kepalanya dengan sehelaii handuk.
"Kamu disini?" tanyanya pada Zahra sembari memasukkan satu tangannya kedalam saku celana yang ia kenakan. Ia mencoba bersikap santai, padahal ia tahu suaranya tadi pasti terdengar bergetar.
Zahra masih menundukkan kepala, menatap lantai bergranit hitam yang masih diinjak. "I-iya, tadi Mama bilang kalau koper aku udah dipindahkan Zaki kesini, jadi... aku ... terpaksa mandi disini..." ucap Zahra terdengar hati - hati.
Ia mengulumm senyum. "Terpaksa?" tanyanya.
Zahra mengangguk sekilas, kemudian menggeleng berulang. "Ma-maksudnya bu-bukan gitu," sanggah Zahra tergagap--sembari mengibaskan tangan dihadapannya.
Ia tersenyum tipis. "Ya udah, emang seharusnya kamu disini!" ucapnya menatap Zahra yang masih enggan mengadah padanya.
"Aku mandi dulu, ya..." Ia sengaja berbisik pelan ditelinga Zahra yang terbuka, mencuri - curi agar bisa menghirup aroma segar yang sepertinya berasal dari rambut Zahra, hmm ... atau dari kulit gadis itu?
Namun, akibat ulah isengnya itu, Zahra jadi mengadah padanya dengan wajah merah yang selalu menggemaskan.
Membuat mereka saling bertatapan satu sama lain beberapa saat, sampai akhirnya Zahra seolah sadar dan berusaha menghindari tatapannya-- dengan menatapi ke arah lain--selain dirinya.
Sebenarnya ia masih ingin menggoda Zahra, namun ia harus menundanya karena ia harus segera mandi saat ini juga.
Saat ia ingin menuju kamar mandi dan melewati tubuh istrinya yang masih setia berdiri ditempat yang sama, ia melakukan kesalahan kecil. Lebih tepatnya bukan dirinya, melainkan Zahra pun melakukan kesalahan langkah seperti yang ia lakukan.
Saat ia ke kanan, Zahra juga ke arah yang sama. Ia beralih kekiri, namun lagi - lagi Zahra melakukan hal yang sama, hingga tubuh keduanya nyaris bertubrukan. Ia ingin tertawa karena mereka berdua pasti terlihat konyol sebab kejadian tersebut.
"Ken, aku dulu yang lewat!" cicit Zahra tampak protes. Ia bisa melihat wajah Zahra yang kesal dan itu justru membuatnya semakin gemas.
Ia terkekeh pelan dan akhirnya membiarkan gadis yang sudah menjadi istrinya itu untuk lebih dulu melangkah-- agar mereka tak nyaris bertubrukan dan melakukan kesalahan yang sama lagi.
Setelah itu, barulah ia berjalan untuk masuk kedalam kamar mandi. Tapi, sebelum menutup pintunya, ia dengan sengaja memanggil nama istrinya.
__ADS_1
"Han..."
Zahra yang sudah berjalan pelan pun menoleh sekilas padanya yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Jangan ngintip-in aku mandi, ya..." ucapnya seraya mengerling nakal demi menggooda gadis itu.
Ia tak tahu apa reaksi Zahra saat setelah ia menutup pintu kamar mandi, tapi pasti wajah gadis itu sudah merah lagi sekarang. Ia pun tersenyum puas. Sekarang ia harus segera mandi dan menyegarkan tubuhnya.
______
"Han..." panggil Ken saat Zahra sudah berhasil keluar dari kungkungan pesona pria itu di depan area kamar mandi.
Zahra menoleh, mengira jika ada hal penting yang ingin diingatkan Ken padanya. Namun, yang diucapkan pria itu selanjutnya, justru membuatnya melongo.
"Jangan ngintip-in aku mandi, ya..." Lalu terbitlah sebuah senyuman culas disertai kerlingan nakal milik pria itu.
Demi apapun, ingin rasanya ia menyentil wajah tampan sekaligus paling menjengkelkan milik pria itu.
Namun, keinginan itu ia tepiskan karena ia tahu itu tidak boleh, sebab sekarang Ken adalah suaminya. Ya, suaminya.
Hah, apa hal itu termasuk dalam KDRT?
Ia pun bergidik sekilas, tak mau hal semacam itu hadir dirumah tangganya bersama Ken.
Walaupun auratnya ini sudah halal dilihat oleh Ken--yang telah menjadi suami sah nya-- namun, tetaplah ia masih merasa risih jika bagian tubuh yang biasa ia tutupi--harus tereks-pos begitu saja didepan mata Ken.
Beberapa saat mencari dimana kopernya, ia tak menemukan benda penting itu.
"Bukannya kata Mama koper aku udah dipindahin ke kamar Ken, ya?" gumamnya, perasaannya mulai tak enak sekarang.
Matanya menangkap lemari besar yang ada di pojokan kamar. Mungkin sudah ada yang menyusun bajunya didalam lemari itu. Ya, mungkin saja.
Namun sayang, ia tak menemukan satupun baju yang ia kenali saat membuka lemari itu lebar - lebar. Yang terlihat disana justru diluar ekspektasinya.
Jika kalian mengira disana ada baju-haram untuk malam ini, jawabannya bukan.Tidak ada baju semacam itu yang disediakan untuknya.
Entahlah, yang jelas yang ada dihadapannya saat ini hanyalah baju - baju kemeja Ken, celana, serta jas yang tergantung rapi, sisanya baju kaos rumahan yang terlipat dengan rapi pula.
Ia tidak mungkin keluar kamar lagi jika melihat tampilan dirinya sekarang. Diluar pasti masih ada Zaki atau siapa saja. Ia malu keluar kamar ini demi mencari keberadaan kopernya di kamar tamu.
Meminta tolong pada Ken, pasti harus menunggu pria itu selesai mandi dan membuat Ken akan melihat keadaannya yang masih mengenakan bathrobe lagi. Ia tak mau!
Ia belum siap untuk hal itu. Ia masih trauma atas tindakan Ken padanya dulu--meski sejatinya ia tak melihat apa yang Ken perbuat padanya-- tapi ia tetap merasa takut. Itu sebabnya ia memberi syarat pasca pernikahan pada Ken, agar pria itu jangan dulu menyentuhnya, sampai ia bisa menghilangkan rasa takut itu perlahan - lahan.
__ADS_1
"Han... ada apa? Apa ada masalah?"
Ia sampai tak menyadari jika Ken sudah keluar dari kamar mandi dan sekarang tengah berada dibalik punggungnya.
Ia tak berani berbalik untuk menatap Ken, ia hanya menyahut pelan.
"Pa-pakaianku tidak ada disini... padahal kata Mama koperku sudah dipindahkan. Y-ya, seharusnya be-begitu." Ia sadar jika ia tergagap dengan kalimatnya sendiri.
"Oh, masalah sepele..." ucap Ken terdengar santai.
Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal ini adalah hal sepele? Ia tak punya baju-ganti sekarang. Apanya yang sepele?
"Bi-bisa tolong carikan koperku di kamar tamu?" tanyanya tanpa berbalik badan.
"Minta tolong tapi gak mau melihat pada orang yang dimintai tolong, hmmm..."
Ia tahu jika Ken tengah menyindirnya. Ya, ucapan Ken benar adanya. Sehingga ia pun berbalik badan untuk menghargai orang yang ingin dipintai tolong olehnya.
"Ken!!!" ia memekik saat melihat Ken dibelakangnya yang hanya mengenakan selembar handuk yang melilit di pinggang. Ia refleks menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa, sih?" tanya Ken dengan polosnya. Tidak, pria ini tak mungkin sepolos itu. Ken pasti sengaja menggodanya.
"Tolong carikan koperku di kamar tamu!" Ia masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Untuk?" tanya Ken lagi, membuatnya kesal saja.
"Ya untuk cari pakaianku! Aku gak punya baju ganti disini!"
"Itu.... pakai aja pakaian aku!" jawab Ken tenang.
"Gak mau! Risih!"
"Ya udah sih, lagian kamu gak perlu pakaian juga malam ini!" kata Ken sembari mendekat ke arahnya. Ia bisa merasakan jika sekarang tubuhnya terkung-kung oleh tubuh Ken, walau ia tak bisa melihat itu-- karena masih enggan membuka telapak tangan yang membekap wajahnya sendiri.
"Mau apa kamu?" tanyanya dengan suara keras namun tak begitu terdengar sebab terbungkam tangannnya sendiri.
Ken makin merapatkan diri padanya, hingga ia refleks berjongkok saat itu juga.
Prak...
Suara apa itu? batinnya.
"Apa sih, Sayang? Kamu pikir aku mau ngapain? Aku mau nutup pintu lemarinya doang!" kata Ken disertai tawa kecil yang terdengar renyah.
__ADS_1
*****