
Sejak Zahra mengatakan ke-tidak-nyaman-an-nya perihal sikap Zaki kepada Devia, pemuda itu tampak lebih menjaga sikap sekarang. Zaki tidak berusaha mendekatkan diri dengan Zahra lagi dan mulai bersikap sewajarnya.
Zaki yang sekarang, lebih sering membicarakan poin pekerjaan dan tidak akan merembet kemana-mana seperti dulu.
Terserahlah apa yang dipikirkan pemuda itu sekarang tentang dirinya, yang jelas kini Zahra cukup bisa bernafas lega, ia tidak mau memberi harapan pada pria manapun lagi, mengingat masa - masa saat ia begitu akrab dengan Frans dan berakhir pada lamaran pria itu.
Zahra tidak mau mengulangi tindakan yang sama dengan mengakrabkan diri dengan Zaki atau siapapun. Ia menutup akses diri agar tidak dekat dengan lawan jenis.
Seiring berjalannya waktu, Zahra juga sudah bisa bersosialisasi dengan para staff wanita dan mempertemukannya dengan teman-teman baru di lingkup pekerjaannya.
Tanpa terasa, sebulan sudah Zahra bekerja di kantor milik Devia, ia cukup senang karena berkat bimbingan Devia dan teman-teman barunya ia bisa mengemukakan ide dan rancangan desainnya, meski ia belum bisa menggambar dengan baik sampai saat ini.
"Dari awal, saya sudah menduga ini Han," kata Devia tersenyum puas setelah meeting selesai dan tadi Zahra sempat menerangkan pemikiran ide nya didalam pertemuan mereka kali ini.
"Ya, ada apa, Tant?" tanya Zahra.
"Han... bagaimana dengan perkembangan rancangan gambarmu? Apa sudah ada kemajuan?" tanya Devia saat mereka tinggal berdua saja dalam ruangan itu.
Zahra menggeleng lemah, kemampuan menggambarnya memang payah. Sepertinya ia tak berbakat sama sekali dalam bidang menggambar meski ide mulai datang berkejaran dikepalanya.
"Sebenarnya ini yang sudah saya perkirakan, Han."
"Maksud Tante?"
"Maaf Han, sepertinya saya harus mengatakan ini. Kelihaian menggambarmu sulit dikembangkan karena saya rasa bakat kamu bukan disana."
"Lalu? Bagaimana, Tant? Maaf sudah mengecewakan Tante..." Zahra merasa sungkan dengan Devia, bagaimanapun wanita itu sudah memberinya kesempatan dan ia tak bisa memanfaatkan kesempatan itu karena keterbatasannya dalam dunia menggambar desain.
Devia tersenyum lembut.
"Apa saya akan dipecat karena tidak kompeten, Tant?" tanya Zahra kemudian.
Devia tertawa pelan. "Mungkin kamu tidak bisa menggambar desain, tapi ide yang kamu berikan selama bekerja disini cukup membantu dalam pembuatan desain itu sendiri, apalagi penjelasan kamu di meeting tadi, saya rasa kamu lebih berbakat dibidang itu," ujarnya.
"Hah?" Zahra melongo, belum mencerna maksud Devia.
"Bagaimana kalau kamu jadi sekretaris saya saja, Han... jadi, ketika meeting, nanti kamu saja yang menjabarkan desain kepada para klien, saya rasa itu lebih sesuai dengan kamu."
__ADS_1
"Tapi Tante... saya merasa tidak percaya diri, apalagi jika bertemu orang baru. Di kantor memang saya bisa menjelaskan dengan baik tentang ide-ide itu, karena sekarang saya sudah cukup mengenal para staff disini," terang Zahra.
"Menurut saya, sikap percaya diri kamu bisa diasah dan lambat laun pasti akan terbentuk seiring berjalannya waktu, itu lebih baik ... daripada kamu harus belajar menggambar yang sama sekali tidak kamu kuasai," jelas Devia.
"Begitu ya, Tant? Baiklah, jika menurut Tante begitu, saya akan mengikuti dan mencoba menjadi lebih baik lagi." Zahra tersenyum manis dan Devia menepuk pundaknya sekilas.
"Saya tahu kamu pasti bisa, Han."
"Terima kasih, Tante masih memberi saya kesempatan dan percaya dengan kemampuan saya."
"Kamu gadis yang pintar, Han. Kamu bisa menjelaskan ide kamu dalam bentuk yang kompleks dan mudah dimengerti. Hanya saja kamu terlalu antisosial menurut saya..." Devia menyunggingkan senyum tipis.
Zahra tertawa pelan. "Iya Tante, saya akui jika saya memang terlalu intovert sejak lama," akunya menunduk.
"Jangan jadikan beban, lambat laun kamu akan terbiasa. Bersosialisasi dengan orang baru akan membantu mengatasi jiwa introvert kamu itu..."
"Teima kasih, Tant..."
"Setiap melihat kamu, saya jadi mengingat anak saya," gumam Devia pelan.
"Kenapa Tant?"
"Zaki?"
Devia menggeleng. "Bukan, sudahlah... ayo kita mulai pekerjaan kamu di bidang yang baru, kita akan menemui klien siang ini. Kali ini kamu yang menjelaskan keunggulan dan desain terbaik kita ya," katanya tersenyum.
_____
Ken terkejut saat Reno mengatakan bahwa dia pernah melihat Zahra disuatu tempat.
"Kamu yakin?" tanya Ken sembari menunjukkan lagi foto Zahra yang ada diponselnya.
"Iya, Kakak ini pernah membeli daganganku, Bang!" kata Reno meyakinkan.
"Kapan dan dimana?" tanya Ken tak sabar.
"Aku gak ingat pastinya, tapi memang belum lama ini lah," kata Reno.
__ADS_1
"Dimana tempatnya?"
"Di terminal, aku sering berjualan sampai kesana!" terang Reno.
"Terminal mana?"
"Lagujati, Bang!"
"Makasih, Ren..." Ken amat senang karena mendapat titik terang tentang keberadaan Zahra, entah itu Zahra atau bukan-- yang dilihat Reno diterminal waktu itu-- namun, Ken tetap mencari Zahra ketempat itu.
Ken pun beranjak dari Yayasan sembari mengambil ponselnya untuk menghubungi Rasta, sayangnya telepon Ken tak dijawab oleh kawan karibnya itu.
Ken mengendarai motornya untuk mencari Rasta di basecamp mereka. Namun begitu tiba ditempat itu, yang ditemuinya bukanlah Rasta atau Chandra yang biasa ada disana, melainkan seorang wanita yang terlihat mengenakan jilbab berwarna putih gading.
"Ken..." sapa wanita itu sembari tersenyum pada Ken.
Ken cukup terperangah lalu menghela nafas sejenak. Ada apa ini?
"Jenar? Kau kenapa? Ada apa dengan penampilanmu ini?" tanya Ken terheran-heran melihat wanita cantik itu kini justru mengenakan hijab.
Jenar tersenyum senang. "Kenapa, Ken? Bagus kan? Apa kamu menyukainya?" tanyanya antusias.
Ken menggeleng pelan. Ia mengingat ulah Jenar yang belum sempat ia balas waktu itu, tapi melihat penampilan Jenar sekarang--sedikit membuat kepala Ken menjadi pening.
"Untuk apa kau merubah penampilanmu seperti ini, Jen?" tanya Ken dingin.
"Aku pikir ini akan membuatmu tertarik padaku lagi, Ken! Begini kan, tipe idealmu yang sekarang?" tanya Jenar dengan mata penuh harap.
Ken mendengkus pelan. "Darimana kau menyimpulkan hal ini, Jen?"
"Aku tahu kau sedang mencari gadis berhijab itu, kan? Untuk apa mencari yang sudah pergi? Ada aku disini, Ken! Lihat aku! Aku bisa menjadi seperti yang kamu mau! Aku akan menjadi yang kamu inginkan!" kata Jenar ngotot.
Ken tak tahu Jenar mengetahui tentang Zahra darimana, tapi yang jelas, mendengar ucapan Jenar itu emosi Ken terasa memuncak.
"Jen, aku sudah berbaik hati dengan membiarkanmu begitu saja setelah malam itu! Jadi, jangan ganggu hidupku lagi. Kau dan aku sudah berakhir! Jika kau ingin merubah penampilanmu jadi lebih baik, itu bagus. Tapi, jangan pernah berubah menjadi orang lain demi menarik perhatianku lagi, Jen! Aku tidak suka!"
Usai mengatakan hal itu, Ken pun beranjak dari sana. Jenar meneriaki namanya beberapa kali, namun Ken tak menghentikan langkah.
__ADS_1
Sedikit banyak, Ken bisa menilai jika Jenar merubah penampilannya demi menarik perhatian Ken lagi, tapi walau bagaimanapun, tetaplah bukan Jenar gadis yang Ken tunggu dan harapkan sejak dulu.
...Bersambung ......