
Mobil yang dikendarai Frans tiba di parkiran bawah tanah yang ada di gedung perkantoran milik Bagas, namun kedatangannya justru disambut oleh seorang pria yang tak dikenalinya. Tampaknya pria itu sudah menunggu kedatangannya di parkiran gelap itu--entah sejak kapan.
Saat Frans menuruni mobilnya, pria itu langsung menyambut dengan mencengkram kerah kemeja yang Frans gunakan, tanpa memberi Frans kesempatan untuk menghindar.
Mendapat serangan tiba-tiba seperti itu, tentu Frans terkejut dan memberontak, namun karena kalah cepat dengan aksi sang pria yang mendadak, hingga Frans pun harus rela jika posisinya sekarang memang tengah dibawah kendali si pria berbadan tegap itu.
"Mana Hana?" tanya pria itu padanya dengan rahang yang tampak mengeras.
"Kau siapa? Zahra tidak bersamaku!"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Katakan saja dimana Hana?" tanya orang itu dengan wajah marah, yang tangannya beralih mencengkram leher Frans.
Frans mencoba berontak lagi, namun cengkraman kuat dilehernya yang semakin mencekat, membuatnya kembali sulit untuk bergerak.
"Beberapa jam lalu kau membawanya! Kalau kau mengelak, aku tidak segan - segan untuk mematahkan lehermu ini!"
Frans menepis kasar tangan kekar yang menjerat lehernya, pria itu pun melepaskan agar mendengar jawaban Frans dengan jelas.
Frans terbatuk - batuk keras, kemudian mencoba menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Akibat pria didepannya ini, ia jadi sulit bernafas. Ia bahkan mengendurkan dasi yang masih dikenakannya.
"Zahra sudah tidak bersamaku! Dia meminta aku menurunkannya ditepi jalan tadi!" jawab Frans pelan.
"Apa kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu?" tanya pria itu dengan ekspresi marah yang sangat jelas.
"Terserah kau saja!" kata Frans malas, mulai beranjak ingin pergi.
"Kau akan menyesal jika bermain - main denganku!" ucap pria yang tak lain adalah Rasta itu.
Frans menoleh. "Kau siapa? Jangan bilang kau adalah pria yang bertunangan dengan Zahra!" dengkus Frans mulai tersulut emosinya.
Rasta paham jika Frans sebenarnya tak tahu siapa yang menjadi tunangan sang Adik.
"Dimana kau menurunkannya?" tanya Rasta.
"Didekat jalan Anggrek! Kami tadi melewati jalan itu dan Zahra ingin turun disana. Aku mencegahnya, tapi dia ngotot, aku tidak mau memaksanya lagi. Entah kemana tujuannya sebenarnya. Aku tidak tahu!"
Setelah mendengar itu, Rasta langsung meninggalkan Frans begitu saja, ia sudah tahu tujuan sang Adik sekarang.
_____
Zahra bernafas lega saat langkahnya mulai memasuki gerbang panti. Setidaknya, Frans sudah mau mendengar segala perkataannya dan tidak melanjutkan niat pria itu untuk membawanya entah kemana. Dalam hati, Zahra mendoakan Frans agar pria itu segera berubah menjadi lebih baik dan bisa mengikhlaskannya.
"Assalamu'alaikum..." sapa Zahra pada pengelola panti yang menyambut kedatangannya.
"Wa'alaikumsalam. Ada yang bisa dibantu, Mbak?" Pengelola panti itu memang tak mengenal Zahra.
"Saya ingin bertemu Bu Nurma."
"Baik, silahkan lewat sini..."
__ADS_1
Walau Zahra sudah tahu pasti letak dan seluk - beluk panti, tapi ia tetap harus menghargai pengelola baru yang sekarang mengurus panti. Bu Nurma sudah mulai menua dan posisinya akan segera digantikan oleh orang lain yang lebih muda dan cekatan.
_____
Rasta tiba di panti. Setelah berbasa - basi dengan orang yang mengaku sebagai pengelola panti yang baru. Akhirnya, Rasta bisa menemui sang Adik yang ternyata memang sudah berada disana.
Saat Rasta ingin menyapa Zahra yang tampak duduk disebuah ayunan besi di pekarangan panti bersama seorang gadis, yang lebih dulu menyapa Rasta bukanlah sang Adik, melainkan ...
"Om...?"
Rasta langsung mengenali sosok gadis mungil yang ada didepan Zahra, tentunya gadis yang tadi memanggilnya dengan sebutan itu.
Rasta mengabaikannya, ia lebih memilih menaiki ayunan besi bulat itu dan duduk disebelah sang Adik dengan tampang cuek.
Zahra yang mendengar Cira memanggil sang Kakak dengan sebutan 'Om' hanya bisa mengulumm senyum tanpa berkomentar apapun.
"Kakak, ada apa kakak kesini?" tanya Zahra.
"Tentu saja mau menjemputmu!"
"Aku bisa pulang sendiri, Kak. Terus, darimana kakak bisa tahu aku disini?"
"Itu gak penting. Sekarang urusan kamu di panti sudah siap belum? Kalau sudah ayo aku antar pulang ke kos mu." Rasta ingin mengajak Zahra segera pulang karena ia tak nyaman dengan Cira, entah kenapa.
Cira yang melihat interaksi Zahra dan Rasta dihadapannya, mengerutkan dahi dengan heran.
"Om, kenapa Om terlihat akrab dengan kak Hana?"
"Kenapa? Gak boleh?" tanyanya dengan tampang meledek Cira.
Gadis remaja itu mencebik. "Gak boleh, Om! Kak Hana sudah bertunangan dengan Abang Ken!" jawabnya tampak kesal.
"Biarin lah! Kalau perlu... kamu bilang sama Ken juga, aku gak takut!" tantang Rasta dengan pongahnya.
"Ish... Om kok gitu? Abang Ken kan temennya Om, kan? Om juga hadir di acara pertunangan Kak Hana dan Abang Ken, kenapa Om mendekati Kak Hana?"
Zahra ingin menjawab lagi namun selalu kalah dengan suara Rasta yang cepat sekali menyahuti pertanyaan Cira.
"Anak kecil tahu apa sih!" kata Rasta tersenyum tipis.
Cira semakin kesal melihat senyuman Rasta yang tampak mengoloknya itu.
"Nyebelin banget sih!" gumam Cira, membuat Rasta dan Zahra terkikik pelan.
"Kak Hana ada hubungan apa sih sama Om ini... awas loh, nanti Abang Ken marah!" kata Cira tampak memperingati Zahra.
Zahra menggeleng - gelengkan kepalanya pelan.
"Memang, kalau ada hubungan kenapa? Apa masalahnya sama kamu?" Lagi - lagi Rasta suka sekali menantangi Cira.
__ADS_1
Bahkan kali ini, Rasta sengaja memegang tangan Zahra didepan gadis remaja itu, membuat Cira terperangah tak percaya.
"Om jangan sembarangan pengang tangan Kak Hana gitu dong!" protes Cira.
"Emang kenapa?"
"Gak baik! Kak Hana juga sudah bertunangan!" sahut gadis berambut sebahu itu.
Rasta tertawa kencang. "Huahahaha... bahkan Ken aja gak berani ngelarang gue, anak kecil pula nasehatin gue.. buahahaha..."
"Sudahlah, Kak! Jangan menggoda Cira terus. Aku perhatikan kalian ribut terus. Saat acara pertunanganku juga aku sempat melihat kalian berdebat..." Zahra mulai bersuara untuk menengahi Rasta dan Cira.
"Ya gimana, abisnya bocah ini panggil aku 'Om' terus! Tampangku kan masih Abege masak dipanggil Om!" gerutu Rasta.
"Memang Om saja yang gak merasa kalau sudah Om - Om!" jawab Cira bersungut - sungut.
"Lo emang udah pantes jadi Om- Om kok, Ta!" Tiba - tiba, Ken sudah hadir diantara keriuhan mereka bertiga dan langsung menimpali percakapan yang terdengar ditelinganya.
Dalam perjalanan menuju panti tadi, Rasta sudah mengirimi Ken pesan, sehingga Ken yang memang sudah berada dijalan untuk menuju kantor sang Papa--langsung putar haluan menuju arah panti.
"Gue jadi om - om? Belum lah...." sahut Rasta pede.
"Kok belum?" Ken mengambil posisi duduk disebelah Cira, karena Rasta sudah berada disamping Zahra dalam ayunan besi yang tempat duduknya berhadap - hadapan itu. "Ntar, kalo gue sama Hana nikah, terus ngasih lo keponakan juga lo bakal dipanggil Om!" lanjutnya dengan senyum melengkung.
"Ish... bahas apaan sih!" Zahra membuang pandangan kearah lainnya, karena pembahasan Ken yang cukup absurd ditelinganya.
"Bener juga ya..." kata Rasta yang langsung tampak berpikir.
"Iya, udah bener dan paling bener panggilan aku ke Om!" timpal Cira.
Rasta menatap Cira, seakan sadar akan ucapan gadis remaja didepannya itu. "Ya tapi kalau kamu yang manggil Om tetap aja gak cocok! Kamu kan bukan keponakan aku!" protesnya.
"Terus maunya dipanggil apa, Om?" tanya Cira dengan wajah ditekuk.
"Panggil 'sayang' kali," celetuk Ken random. Dan tiba - tiba ketiga orang didekatnya justru menatap Ken dengan tajam.
"Ya, kan... gue asal sebut aja tadi!" ucap Ken membela diri, sadar jika jawabannya tadi mengundang amarah dari ketiga orang didepannya.
"Abang Ken, kok gitu? Mana mau Cira manggil Om ini dengan sebutan itu... iuhhh," Cira tampak bergidik ngeri.
"Gue juga gak mau kali... dipanggil 'sayang' sama bocah!" jawab Rasta tak mau kalah.
"Aku bukam bocah, Om! Udah 16 tahun!"
"Dibawah 17 tahun itu tetap bocah!"
Zahra hanya bisa geleng - geleng kepala melihat Rasta dan Cira yang kembali berdebat hal nyeleneh.
"Kalau kamu, mau gak kalau aku panggil 'sayang'?" tanya Ken pelan didepan Zahra, namun ucapan pelan itu tetap terdengar oleh Rasta dan Cira, membuat keduanya terkikik - kikik mendengar gombalan seorang Ken. Sementara Zahra terdiam dengan wajah yang sudah merah padam.
__ADS_1
...Bersambung ......