
Setelah mandi dan menunaikan shalat ashar, Ken dan Zahra keluar dari hunian baru mereka. Mereka akan mengunjungi bengkel mobil Ken terlebih dahulu, barulah mereka berbelanja segala keperluan untuk menginap beberapa hari dirumah baru.
Ken menatap Zahra yang tampak aneh.
"Sayang? Masih sakit, ya?" tanya Ken pada sang istri.
"hmm... lumayan sih!"
"Maaf ya, Sayang..." ucap Ken tulus. Ia jadi merasa bersalah karena sempat mengulangi momen itu lagi di kamar mandi, seharusnya ia sudah bisa memperkirakan hal ini, mengingat istrinya yang masih murni. Namun, mau bagaimana lagi, ia tak bisa mengendalikan diri saat melihat istrinya itu.
"Enggak apa - apa, Ken." Zahra tersenyum lembut. Meskipun ia belum bisa mengimbangi Ken, tapi ia tahu Ken sudah sangat berhati - hati dalam memperlakukannya.
Ken membukakan pintu mobil untuk dinaiki sang istri. Setelah duduk di kabin masing - masing, Ken memasangkan seatbelt untuk mereka berdua, barulah ia mengemudikan mobilnya.
"Sayang, makasih ya..." celetuk Ken saat mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah.
"Kamu udah ngucapin itu berulang kali, Ken. Sekarang makasih untuk apa lagi?"
"Untuk semuanya! Aku gak pernah sebahagia ini, ternyata kebahagiaan aku benar - benar bersama dengan kamu."
"Gombal abis," desis Zahra.
Ken pun tersenyum tipis.
"Serius! Rasanya sudah lama sekali aku gak tersenyum seperti ini." Ken pun memasang senyum yang sangat lebar, berniat menunjukkan kebahagiaannya pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Zahra menganggukkan kepala sembari menguulum senyum.
"Kalau kamu? Bahagia enggak, menikah dengan aku?" tanya Ken menatap Zahra sekilas.
"Bahagia, Ken." jawab Zahra jujur.
"Tapi kenapa kayaknya enggak ya, hmmm..."
"Kok kamu berpikiran begitu?"
"Abisnya, aku gak nyangka bisa bersanding sama malaikat seperti kamu. Ya, walaupun memang kamu yang aku incar selama ini buat jadi calon istri, cuma... rasanya aku beruntung banget."
"Aku gak sebaik itu, Ken! Aku juga beruntung menikah dengan kamu." Zahra tertunduk malu setelah mencetuskan kalimat itu.
"Yakin, kamu merasa beruntung? Bukannya merasa buntung, eh..." Ken terkekeh diujung kalimatnya.
"Ken, seperti apapun kamu dalam penilaian orang lain, atau seberapa nistanya kamu menganggap diri kamu sendiri selama ini, tapi gak satupun dari hal itu yang bisa membuat perasaan aku berubah terhadap kamu," ucap Zahra sangat pelan.
"Sayang, kamu serius?" Ken takjub mendengar kejujuran dari bibir istrinya.
Zahra mengangguk berulang.
"Allah itu baik banget sama aku, Sayang. Menghadiahkan istri seperti kamu... aku jadi malu selama ini selalu melupakan kewajibanku didunia. Padahal kalau Allah mau, bisa aja aku dihukum karena semua dosa yang udah aku lakuin." Ken mengelus kepala Zahra yang tertutup pashmina.
__ADS_1
"Itu tandanya kamu masih diberi kesempatan untuk insyaf," sahut Zahra sambil tertawa pelan. "Semoga kamu bisa berubah jadi lebih baik lagi kedepannya," lanjutnya.
"Aamiin... makasih banyak, istriku!" Ken tersenyum kecil, sementara wajah Zahra sudah merona mendengar ucapan pria itu.
_____
Ke memarkirkan mobil dipekarangan Bengkel mobil miliknya. Kawasan ini lumayan strategis untuk memulai usaha, terletak dipinggir jalan besar dan dipusat keramaian.
Bengkel mobil baru milik Ken, sejajar dengan ruko - ruko lain yang menjual banyak kebutuhan. Disana seperti pusat tempat yang bisa mendapatkan banyak hal yang dicari, mulai dari panganan, penjualan perabotan rumah tangga, bahkan cafe dengan gaya instagramble juga berbaris rapi dengan mengusung tema yang berbeda - beda.
"Rencananya kapan grand opening bengkelnya, Ken?"
"Insya Allah bulan depan udah selesai sih semuanya. Anak - anak juga udah gak sabar buat gabung lagi."
"Oh, jadi pekerja kamu masih yang lama?"
Ken mengangguk. " Iya, kebetulan ada dari mereka yang masih menganggur. Entah karena belum dapat pekerjaan yang bagus, atau karena memang menunggu aku."
"Oh, ya? Berarti karyawan kamu pada setia dong... salut aku!" Zahra mengacungkan jempol ke arah Ken.
"Ya bisa dibilang gitu lah," ucap Ken sambil nyengir.
Ken mulai melihat - lihat apa lagi yang dibutuhkan untuk melengkapi kebutuhan di bengkelnya kali ini.
"Bengkel ini sekalian buka car wash juga, Sayang. Jadi semakin ramai," terang Ken antusias. Zahra jadi tahu minat sang suami didalam bidang otomotif memang lebih dominan.
Zahra mendengar semua cerita Ken dengan seksama, ia memperhatikan sang suami sembari mengagumi sosok yang ada dihadapannya ini. Ken yang ia kenal memang memiliki kemampuan diri yang berlebih. Jiwa marketing dan bisnisnya juga mumpuni, tak salah jika para pekerja yang bekerja dengan Ken begitu menunggu usaha baru yang akan diusung oleh pria ini.
Setelah Ken menceritakan pada Zahra tentang konsep usaha barunya ini, Ken permisi pada sang istri untuk menemui seorang rekan yang juga datang karena permintaan pria itu.
"Bang..." sapa Darma pada Ken.
"Darma, gimana? Apalagi yang kurang kira -kira?"
Lalu Ken mulai membicarakan hal - hal tentang bengkelnya bersama Darma yang baru tiba. Tak lupa ia mengenalkan Darma pada Zahra yang sudah menjadi istrinya.
Darma cukup terkejut mendengar kabar bahwa Ken telah menikah, namun dia ikut senang melihat wajah Ken yang tampak memancarkan aura kebahagiaan. Darma juga mengucapkan selamat untuk Ken dan Zahra.
"Ayo sayang, sekarang kita belanja!" Ken menuntun tangan Zahra menuju mobil dan kegiatan selanjutnya adalah belanja kebutuhan mereka.
____
Tak perlu waktu lama untuk tiba disebuah pusat perbelanjaan, lebih kurang 15 menit mobil yang dikendarai Ken dari bengkelnya sudah tiba disebuah Mal terdekat.
Yang mereka tuju lebih dulu tentunya store tempat menjual pakaian.
Ken memilihkan beberapa baju, blus, setelan, gamis serta jilbab untuk sang istri.
Begitupun dengan Zahra yang melakukan tindakan sama. Ia memilih beberapa kemeja, kaos dan jaket sesuai style yang Ken sukai.
__ADS_1
Sudah cukup banyak pakaian yang masuk kedalam troli belanjaan mereka. Sampai Zahra melihat satu buah baju yang menarik perhatiannya. Zahra mengambil itu dan menyerahkannya pada sang suami.
"Ken, coba tes baju ini..." ucap Zahra sambil tersenyum kecil.
Ken mengernyit saat melihat baju pilihan Zahra kali ini. "Serius kamu nyuruh aku pakai ini?" tanyanya heran.
"Ya kenapa enggak?" Zahra mengulumm senyum.
"Ini baju koko loh, masa aku pake ginian... gak cocok, Sayang." Ken tertawa pelan.
"Siapa bilang gak cocok? Kamu cocok pakai apa aja! Pasti bagus di badan kamu," celetuk Zahra apa - adanya.
"Bukan masalah badan atau postur tubuh, Sayang. Tapi... gak cocok sama kelakuan aku. Huahahaa." Ken tertawa lagi, kali ini bahkan lebih kencang.
"Udah sih, dipake aja!" ucap Zahra berlagak memanyunkan bibir.
"Iya iya, semua ini karena pilihan kamu... aku coba deh. Tapi setelah ini kamu coba baju pilihan aku juga ya, gantian." Ken tersenyum penuh arti sementara Zahra tak menyadari arti senyuman Ken itu.
"Iya, terserah kamu aja. Coba gih!" kata Zahra kembali menyerahkan baju koko pilihannya untuk Ken coba di bilik pas.
Ken mencoba baju pilihan Zahra, lalu menunjukkannya pada istrinya itu.
"Tuh kan...cocok!" Zahra terkekeh melihat Ken, membuat Ken ragu apa benar ia cocok mengenakan pakaian semacam ini.
"Serius kamu?"
"Duarius, Ken." Zahra mengacungkan jari membentuk huruf V.
"Oke, kita beli... meski aku gak tahu kapan mau pake baju seperti ini."
"Ya dipake pas sholat, Ken. Atau pas ke masjid!"
"Iya - iya. Yaudah, sekarang giliran aku yang pilihin baju untuk kamu!" kata Ken antusias.
"Kayaknya dari tadi udah pilihin baju buat aku deh."
"Ini beda. Ini baju dinas buat kamu!" Ken tersenyum miring.
"Baju dinas?" Dahi Zahra mengerut samar.
"Iya, istri itu ada baju dinasnya juga... kayak gitu!" Ken menunjuk arah menggunakan dagunya.
Dan mata Zahra pun mengikuti arah yang dimaksud oleh sang suami.
Glek!
"K-ken... kamu bercanda kan mau pilihin aku baju begituan?" Rasanya Zahra sulit menelan ludahnya sendiri ketika melihat jejeran lingeriee diseberang sana.
Ken terkikik. "Gantian, kan?" ucapnya sembari menaikkan sebelah alis. Ia pun menatap sang istri yang sudah menampilkan wajah merah padam disebelahnya.
__ADS_1
*****