
Sebenarnya Zahra sudah sadar sejak beberapa hari lalu, namun selama hampir empat hari ia bedrest di Rumah Sakit, selama itu pula wanita itu tidak banyak berbicara. Sorot matanya kosong, hanya sesekali ia mengutarakan kata dan ucapannya pun terdengar sangat memprihatinkan.
Zahra selalu mengeluh tentang ketakutannya dan dia tidak mau ditinggalkan seorang diri sedetikpun meski hanya ditinggal sekejap mata.
Walau dari fisiknya terlihat baik-baik saja, tapi sikap Zahra yang demikian membuat semua keluarga merasa khawatir. Tidak terkecuali Ken yang cemas dengan keadaan psikis Zahra sebab insiden yang menimpanya beberapa hari yang lalu.
Baik Dokter yang menangani kandungan Zahra, maupun Dokter yang mengobati memar di beberapa bagian tubuh Zahra, menyarankan agar setelah ini Ken membawa Zahra ke psikiater untuk menghilangkan trauma dalam diri wanita itu.
"Ken ...."
Ken menoleh ke arah pintu dimana Devia baru saja kembali setelah makan siang.
"Makanlah dulu. Biar gantian Mama yang jaga Hana, ya."
Ken menggeleng lesu, ia bahkan sudah tidak merasai nasi lagi dalam dua hari ini sejak merasa kondisi Zahra semakin mengkhawatirkan saja.
"Ayolah, Ken! Kalau kamu masih mau menjagai Hana kamu harus makan, jangan sampai nanti kamu yang sakit karena tidak mengonsumsi apapun."
Ken menatap iba pada wajah teduh istrinya yang baru saja tertidur sebab baru meminum obat.
"Aku pria penuh dosa, Ma. Tapi yang paling membuatku merasa berdosa adalah selalu menyakiti istriku secara tidak langsung," gumam Ken pelan. Satu tangannya menggenggam jemari istrinya dan satu tangan yang lain menyeka airmatanya yang menetes begitu saja. Lagi dan lagi ia menjadi cengeng dan lemah karena perempuan yang sama.
"Ken, jangan terus menyalahkan diri. Semua ini sudah terjadi, kamu harus tetap kuat agar Hana juga bisa kuat. Kamu harus menguatkan dia. Pikirkanlah bahwa Hana sedang mengandung sekarang. Syukuri karena kandungannya baik-baik saja dan sekarang kamu harus berusaha membuat Hana kembali sembuh seperti sedia kala," ucap Devia menasehati sembari meremass pundak puteranya. Ia merasa nelangsa melihat anak dan menantunya berada dalam fase ini.
"Aku tidak bisa melindungi Hana, Ma. Aku telat datang waktu itu. Andai aku bisa datang lebih cepat lagi. Bukan, seharusnya sejak awal aku tidak pergi meninggalkannya sendirian dikamar itu!" ucap Ken meratap.
"Ken, mama bilang berhenti menyalahkan diri!" tegas Devia.
Ken membungkam wajahnya sendiri, penyesalan melingkupi dirinya dan ia merasa ini semua terjadi karena perannya juga-- yang telah meninggalkan Zahra pada malam itu.
"Seharusnya aku membunuh Frans malam itu, Ma! Atau seharusnya Mama biarkan saja Rasta menghabisinya dalam senyap!"
"Ken... sudah! Mama bilang sudah cukup!"
Devia memeluk tubuh sang putera yang berguncang karena isakan, mengelus punggung Ken dengan penuh kasih sayang dan berusaha menenangkan pria itu yang pasti sangat terpukul karena kondisi Zahra saat ini.
"Jika kamu terus seperti ini, mama akan membawa kamu berobat ke psikiater juga!"
"Aku rasa aku memang hampir gila karena semua ini, ma!" lirih Ken.
Devia menggeleng. "Kamu harus kuat! Kamu anak mama yang paling kuat! Jika kamu seperti ini, orang-orang yang ingin menghancurkanmu akan bahagia, berarti rencana mereka berhasil untuk membuat kamu hancur."
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar merasa lemah, Ma."
"Mama paham, Nak. Tapi jangan terlalu lama kamu meratapi semua ini. Istri dan anakmu membutuhkan kamu sebagai sandaran. Kamu harus lebih kuat dari orang-orang yang ingin kamu lindungi."
"Iya, Ma."
_____
Ken sudah membawa Zahra kembali ke rumah mereka, bersamaan dengan itu Irene dan Bagas berkunjung untuk melihat kondisi Zahra pasca insiden yang sempat terjadi dikediaman mereka.
"Ken, maafkan Papa karena kejadian ini terjadi tanpa sepengetahuan papa. Saat itu papa baru saja tertidur karena efek dari minum obat," kata Bagas penuh penyesalan. Bagas juga menyayangkan kejadian ini hingga Zahra mengalami trauma dan Frans menjadi tahanan di sel karena tuntutan yang Ken layangkan.
Bagas tidak bisa meminta maaf dihari yang sama setelah insiden itu terjadi dikarenakan ia kembali collaps saat mengetahui kejadian yang menimpa Zahra karena ulah Frans, maka setelah ia merasa pulih barulah sekarang ia sempat mengunjungi anak dan menantunya ini.
"Sudahlah, Pa. Semua juga sudah terjadi. Sekarang Aku hanya tinggal menunggu sidang putusan masa tahanan Frans dipenjara. Ku harap dia mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya," ucap Ken sembari melirik Irene yang terus tertunduk, entah malu entah pula marah karena ucapan Ken barusan.
"Bisa Papa melihat keadaan Zahra?"
"Hana ada dikamar, untuk saat ini aku tidak mengizinkan siapapun untuk melihatnya," Ken menatap sang Papa dan memberi isyarat mata bahwa ia tak mau Irene melihat sang istri dan Bagas seolah paham apa yang dimaksud oleh sang putera.
"Baiklah, Ken. Papa titip salam pada Zahra, semoga dia cepat sehat." Bagas tersenyum pada Ken dan dibalas hal serupa oleh pria itu.
Sepatah katapun tidak keluar dari mulut Irene meski hanya permintaan maaf saja. Ken tahu kedatangan wanita itu kerumahnya pastilah karena keterpaksaan dan karena perintah sang Papa. Atau justru Irene mau menyelidiki keadaan Zahra untuk memberitahukannya pada Frans? Entahlah. Tapi, Ken merasa lega karena Bagas tidak memaksa untuk tetap melihat kondisi Zahra.
____
Hari hari berlalu, Ken benar-benar membawa Zahra berobat ke psikiater untuk kebaikan istrinya itu. Sejauh ini perkembangan Zahra lumayan melegakan karena dia sudah mau lebih terbuka pada Ken meski sikap lamanya belum sepenuhnya kembali seperti dahulu.
Dalam masa-masa itu, Ken selalu mendampingi sang istri dan dia tidak mau melewatkan waktu sedikitpun tanpa membantu semua kebutuhan istrinya.
Sebulan telah berlalu sejak insiden itu. Ken sampai melupakan masalah utamanya untuk mencari bukti tentang hubungan Frans dan Jenar, sampai Chandra yang mendatanginya untuk menyerahkan sebuah flashdisk berisikan semua rekaman cctv mengenai kedekatan Jenar dengan adik tirinya, Frans.
"Thanks, Bro! Gue bahkan udah lupa mau ngusut masalah ini."
"Sama-sama, Bro! Lo yang sabar ya, semoga dengan kejadian ini lo jadi semakin berhati-hati lagi dan lo jadi semakin sayang sama istri lo," ucap Chandra sembari menepuk pundak Ken secara bersahabat.
"Jadi menurut lo gimana?"
"Apanya?"
"Dari hasil penyelidikan lo mengenai semua hasil rekaman cctv ini... kira-kira Frans dan Jenar ada hubungan apa?"
__ADS_1
"Ya, gue rasa mereka beneran TTM sih... Teman Tapi Memuaskan... hehehehe," ucap Chandra sambil nyengir.
"Gue nungguin Jenar minta sampel DNA ke gue, tapi sampe sekarang belum keliatan lagi dia didepan mata gue!"
"Ya... gue rasa dia gak akan berani, jelas itu bukan anak lo, Men!"
"Tapi gue masih belum puas sebelum dia mengakui hal itu didepan gue. Gue gak mau ada buntut dari permasalahan ini. Gue mau semuanya jelas dan dia jujur ke gue bahwa itu bukan anak gue, kalau perlu buat hitam diatas putih supaya gak ada tuntutan dibelakang hari."
"Nah kalo itu setuju gue!" Chandra terkekeh diujung kalimatnya.
______
Sidang putusan akhir mengenai tindak perbuatan Frans sudah didepan mata. Dia dituntut dengan masa hukuman selama 12 tahun penjara atas kasus pelecehan serta percobaan pemerkosaan terhadap Zahra.
Ken tidak mau Zahra disangkut pautkan lagi, ia tidak mengizinkan Zahra menjadi saksi karena psikis Zahra saat ini sangatlah rentan.
Namun, karena hal itu juga, justru Frans bisa mendapat hukuman minimal sebab kurangnya saksi dari pihak terkait.
Namun, Ken tidak peduli, ia menyerahkan semuanya pada kuasa hukum yang sudah ia percayai dan akan menerima apapun hukuman yang nanti dijatuhkan pada adik tirinya itu.
Apabila Frans lepas begitu saja dalam jangka waktu sesaat, maka Ken yang akan bertindak sendiri untuk menghabisinya.
Intinya, Ken tidak terlalu memikirkan berapa lama hukuman yang akan diputuskan oleh hakim. Sesuai atau tidaknya keputusan ketuk palu itu nantinya, Ken tak mau mempermasalahkannya karena ia punya rencana sendiri untuk melenyapkan Frans jika nanti adik tirinya itu berani mengusik hidupnya lagi.
Sampai pada putusan akhir sidang, akhirnya Frans mendapat masa tahanan penjara selama 5 tahun saja. Sebenarnya itu jauh dari masa tuntutan yang dilayangkan dari pihak kuasa hukum Zahra, namun sekali lagi Ken tak terlalu peduli karena yang utama baginya adalah kesehatan mental sang istri.
"Apa rencana lo setelah ini, Ken?" tanya Rasta saat mereka baru saja keluar dari ruang persidangan.
"Gue akan mengajak Zahra pindah. Kami akan menetap di Luar Negeri untuk sementara."
"Kenapa? Gue jadi jauh dengan adik gue, dong!" kekeh Rasta.
"Kau bisa mengunjungi kami kapan saja, Kak! Percuma uangmu sangat banyak!" kelakar Ken bicara lebih sopan dan memanggil Rasta dengan sebutan kakak.
"Nah, sepertinya lo lebih cocok manggil gue kakak kayak gini." Mereka tertawa serentak.
Ken menghentikan tawanya saat ujung matanya tidak sengaja menangkap siluet tubuh wanita yang sangat ia kenali, Jenar. Ya, sepertinya itu Jenar yang datang menggunakan kacamata hitam serta topi untuk menyamarkan penampilannya, entah kenapa, mungkin ingin menghindar dari Ken yang memang menunggu kedatangan wanita itu lagi untuk menyelesaikan semua problem diantara mereka.
"Jenar!" pekik Ken dan wanita yang dicurigai Ken sebagai Jenar itu justru berlari menghindar.
"Ta, lo jegat dia di gerbang depan!" kata Ken pada Rasta.
__ADS_1
"Oke!" jawab Rasta sembari berlarian ke arah pintu keluar.
*****