Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Kesalahan fatal


__ADS_3

Ken cukup bersyukur kala kunci mobil Rasta berada di saku celana jeans nya. Ia memang pergi bersama Rasta dan Chandra ke acara Shella dengan menggunakan mobil tua milik Rasta. Sejak awal, memang ia lah yang mengambil posisi dibalik kemudi, sehingga tak heran jika kunci mobil itu berada padanya.


Ken meletakkan tubuh Zahra di jok belakang dengan hati-hati.


Sekarang kendalanya ada dua. Pertama, ia tak tahu harus membawa Zahra kemana dalam keadaan tak sadar seperti saat ini. Kedua, tubuhnya benar-benar sudah terbakar karena efek obat yang dibubuhkan Jenar kedalam minumannya beberapa waktu lalu.


Dengan gerak sigap, ia mulai menyetir mobil tua itu keluar dari area parkiran hotel.


"Frans bang-sat!!!" makinya sembari mendengkus keras.


Sesekali ia melirik tubuh Zahra yang ada di jok belakang-- lewat spion tengah mobil.


Beberapa saat mengemudi, Ken akhirnya tiba disebuah tempat. Bukan rumah petak yang adalah kontrakannya, melainkan Bengkel mobil miliknya.


Di Bengkelnya memang terdapat kamar untuknya beristirahat, walau ia tak menjadikan tempat itu sebagai tempat tinggal karena ia tahu orang-orang akan mudah mencari keberadaannya disana.


Ken mengusap kasar wajahnya sebelum kembali membawa tubuh Zahra masuk ke dalam.


"Dari sekian banyak cewek didunia! Kenapa harus lo yang dipilih Frans untuk jadi istrinya?" gumamnya sembari menatap Zahra yang belum sadarkan diri.


Ken mulai mengambil posisi untuk mengeluarkan tubuh Zahra dari jok mobil. Saat tangannya menyentuh tubuh mungil gadis itu lagi, perasaan seperti tersengat kembali menguasai dirinya dan getaran itu semakin terasa menjadi-jadi ditubuhnya.


"Ken, dengan memilikinya kau bisa menghancurkan Frans sekaligus!" setan dalam dirinya mulai ikut mengambil tugas untuk menggoda jiwa kelelakiannya yang sudah tercemar obat per-ang-sang.


Ken menggeleng pelan, ia mulai berjalan menggendong tubuh Zahra sambil menahan has-rat.


Saat di Club tadi, ia melihat begitu banyak wanita sek-si namun ia masih bisa menahan, jadi sekarang ia pasti bisa melakukan hal yang sama, apalagi tubuh Zahra nyaris tertutup sepenuhnya dengan pakaian yang dikenakan gadis ini.


Ken mulai meletakkan tubuh Zahra di atas tempat tidur yang ada disana. Ia hendak segera beranjak namun urung-- karena terlanjur menyadari daya pikat gadis yang terbaring itu, pesona Zahra seolah tengah menghipnotisnya hingga menahan kepergiannya--walau pada kenyataannya Zahra tak sedang melakukan hal apapun padanya.


Ken tahu, semua ini terjadi karena tubuhnya yang masih terpengaruh obat. Sekarang, pikiran kotornya mulai beradu argumen dengan dirinya sendiri.


"Ken ... kau baru menyelamatkannya dari mulut buaya! Tapi kau justru memasukkannya kedalam kandang singa!" batin Ken mulai berkata-kata dalam pikirannya sendiri.


"Ini kesempatanmu untuk menjadikannya milikmu, Ken!" Setan kembali berbisik untuk melancarkan tugas.


Ken kembali menggeleng samar, mencoba menepiskan sesuatu yang terlintas dikepalanya. Ia tahu, tak akan ada yang bisa mencegahnya sekarang selain dirinya sendiri. Ia seperti berperang dengan dirinya sendiri.


Ken segera berdiri, mungkin mengguyur kepalanya dengan air dingin dapat membantu menjernihkan pikirannya. Bagaimanapun, Zahra adalah gadis yang ia hargai sejak lama, walau perasaan ingin memiliki Zahra juga terasa sangat menggebu-gebu saat ini.


Saat hendak bergerak dari posisinya, Ken justru mendengar Zahra yang menggumamkan namanya dalam keadaan yang masih tak sadarkan diri.


"Ken ..."


Suara Zahra bagai gelombang elektromagnetik yang terdengar mendayu-dayu di indera pendengarannya, panggilan dengan suara khas yang selalu ia rindukan dan tak pernah ia dengar dari wanita manapun selain dari bibir 'Hana-nya'.


Ken gelap mata, dipikirannya sekarang hanya ada Hana yang telah ia tunggu lebih dari 10 tahun lamanya.


Ia merangsek ke bibir tempat tidur, memandang Zahra dengan mata yang sudah berkabut.

__ADS_1


Panas dan gerah menyelimuti jiwanya sekarang, ditambah tangannya mulai membelai pipi mulus 'Hana-nya' yang tampak diam namun mampu menggoyahkan pertahanannya.


Ken membungkuk dan merapatkan diri ke wajah gadis itu, menjamahh bibir Zahra dengan sentuhan ibu jarinya. Ia semakin merasa gila saat merasakan kelembutan bibir gadisnya dikulit tangannya.


Dengan rasa yang sulit dijabarkan, Ken membuka pashmina yang masih membungkus rambut Zahra, menggerai rambut gadis itu secara perlahan-lahan.


Baru sekali ini Ken melihat surai rambut Zahra secara langsung, lagi-lagi ia terpesona dengan kecantikan alami gadisnya, Ia menatap 'Hana-nya' dengan lekat dan dari jarak yang sangat dekat.


Ken mengecup dahi Zahra dengan penuh perasaan, kemudian beralih mencium bibirnya dengan lembut, merasai itu walau tidak mendapat balasan dari sang empunya.


Dengan pelan dan berhati-hati, Ken ingin memulai segalanya, walau ia tahu, ia pasti akan menyesali ini nantinya.


________


Zahra terbangun dari pingsannya, ia mengucek matanya sekilas dan menyadari ada sesuatu yang janggal dengan dirinya.


Ia mengingat kali terakhirnya dalam keadaan sadar yaitu saat akan melakukan sesi meeting bersama Frans di Hotel, namun kegiatan itu sepertinya tidak terjadi karena ...


Ia mengantuk dan ... tertidur.


Zahra langsung melihat pada dirinya sendiri, pakaiannya memang masih melekat namun sudah acak-acakan. Dan rambutnya yang panjang, sekarang dalam keadaan tergerai.


Mata Zahra menatap sekeliling ruangan yang benar-benar asing dimatanya. Tampak jam dinding yang menunjukkan pukul 00:17 WIB. Ia pun langsung menyadari jika hidupnya sudah habis sekarang.


Matanya memanas dan perlahan-lahan mulai meneteskan airmata.


Beberapa kali ia beristighfar dalam hati dan memohon ampunanNYA.


Tak lama, Ken muncul dari balik pintu kamar mandi, rambutnya tampak basah, ia hanya menggunakan celana jeans model sobek dan berte-lanjaang dada-- dengan raut wajah yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


Ken melihat Zahra yang tampak menangis sambil memeluk lutut, ia tahu ini semua karenanya.


"Han, gue--" Baru kata itu yang keluar dari mulutnya, Zahra menoleh sekilas dan langsung menatapnya dengan tatapan bingung, membuatnya urung melanjutkan kalimat.


"K-ken..." kata Zahra tercekat dengan ekspresi terkejut yang nyata. Zahra segera membuang pandangan kala melihat dada Ken yang terbuka serta menampilkan banyak tatto ditubuh pria itu.


Zahra segera meraih pashminanya yang tergeletak dilantai dan memakai itu secara asal dihadapan Ken.


Ken menghela nafas panjang, bingung hendak menjelaskan darimana kepada gadis yang ada didepannya.


Ken duduk dibibir tempat tidur, namun Zahra tampak mundur dengan tergesa-gesa sampai ke ujung ranjangg, menghindar dari Ken seperti orang ketakutan.


"Gue minta maaf, Han..." ucap Ken parau.


Zahra menggeleng cepat, ia mengira semua ini perbuatan Frans. Tapi ternyata saat ia sadar-- yang ia dapati adalah Ken. Ia tak pernah menyangka semua ini akan terjadi kepadanya.


"Kamu keterlaluan, Ken!" hardik Zahra kembali menangis bahkan sekarang meraung-raung. Zahra merasa, Ken melakukan ini kepadanya hanya untuk membalas dendam pada Frans, seperti yang Frans katakan padanya tempo hari.


"Gue tahu, gue salah. Maafin gue, Han.." ucap Ken, ia membelakangi Zahra, membungkukkan tubuh lalu mencengkram kepalanya sendiri, penuh penyesalan.

__ADS_1


Zahra terdengar menangis tersengguk-sengguk disudut sana.


"Kamu lakuin ini karena ingin membalas Frans, kan?"


Ken mengeryit. "Enggak, Han..." jawabnya pelan.


Zahra terdiam, ia tak mempercayai Ken lagi sekarang walau dulu ia sangat mempercayai ucapan pria ini.


"Gue ... bakal tanggung jawab!" ucap Ken lagi.


"Tanggung jawab apa yang kamu maksud, hah?" tanya Zahra dengan suara keras.


"Apapun yang lo mau..." jawab Ken pasrah.


Terdengar Zahra yang menghela nafas pendek-pendek. Secara mendadak, Zahra bangkit dari posisinya dan mengambil sling bag miliknya yang juga tercecer di lantai.


"Han ..." Ken menangkap tangan Zahra yang hendak pergi dari sana-- tanpa menuntut apapun dari Ken.


Zahra menepis kuat tangan Ken. "Jangan sentuh aku, Ken!" ucapnya menekankan kata-katanya.


Zahra mencari sepatunya dan dengan sigap memakai itu.


"Han! Dengar aku, aku akan tanggung jawab! Kamu bilang ... apa yang kamu mau, aku bakal menurutinya," ucap Ken yang mengganti tata bahasanya secara spontan.


Zahra berbalik dan menatap Ken dengan nyalang.


"Jauhi aku! Jangan pernah menghubungiku! Jangan menampakkan wajahmu lagi didepanku!"


"Han... aku gak bisa!"


"Kenapa?"


"Aku ..." Ken menghentikan kata, tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Tanggung jawab apa yang bisa kamu berikan kepadaku, Ken?" tanya Zahra lagi.


"Aku akan menukar semua milikku ... yang penting kamu memaafkan aku," jawab Ken lemah.


"Hanya itu?" tanya Zahra menuntut.


"Ya, semua aset atas namaku, akan ku berikan kepadamu, Hana! Aku lebih memilih jadi gembel asal kamu mau memaafkan aku!"


Zahra tampak mengusap airmatanya sekilas. "Ternyata kesalahanku yang paling fatal adalah mencintai kamu, Ken! Kamu gak layak dicintai karena kamu benar-benar seorang pecun-dang!" Zahra segera berlari keluar dari kamar itu, sementara Ken terdiam mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan oleh 'Hana-nya'.


...Bersambung ......


...Sesuai judul ya... jadi Ken akan merasa dirinya paling "nista" disini... dia berhasil menghancurkan Frans, menghancurkan Zahra dan terutama menghancurkan dirinya sendiri sekaligus✌️...


...Tinggalkan komentar dan jangan lupa like❤️♥️...

__ADS_1


__ADS_2