
"Aku tidak bisa menikah dengannya, Kak!" Zahra menjawab dengan tegas.
"Hah? Kenapa?" tanya sang Kakak keheranan, karena menurut cerita Ken padanya--Zahra memiliki perasaan terhadap pria datar itu.
"Aku tidak mau dia menikah denganku karena terpaksa dan hanya rasa tanggung jawab saja!"
"Jadi, dia belum mengungkapkan juga tentang perasaannya padamu?"
"Perasaan apa, Kak? Dia tidak memiliki perasaan apapun!"
"Ken bodohh!" umpat sang Kakak sambil tergelak.
"Kakak darimana bisa mengenal dia?"
"Kami sudah berteman sejak lama. Tidak ada rahasia diantara kami, aku juga tahu problem yang sedang kalian seterukan!"
"Kami tidak berseteru!" sanggah Zahra cepat sembari menyeka airmatanya yang menetes.
Sang Kakak terkekeh lagi. "Ya mungkin bukan berseteru, tapi lebih tepatnya kamu yang pergi menghindari dia kan?"
Zahra diam dan tertunduk, didalam kepalanya penuh dengan pertanyaan.
Apa kakak juga tahu tentang perbuatan Ken terhadapnya? Tapi kenapa Kakak tidak terlihat marah akibat ulah Ken? Meskipun Kakak berteman lama dengan Ken, tapi tetap saja ia adalah adik bagi kakaknya. Seharusnya Kakak marah atas perbuatan yang dilakukan Ken, bukan?
"Kak, apa kakak tahu apa yang dilakukan Ken padaku? Apa dia bercerita pada kakak?" tanya Zahra.
"Tentu saja, aku tahu semuanya tentang Ken si kanebo kering."
"Kakak!" protes Zahra.
"Ya memang Ken itu kanebo kering! Dia saja tidak marah ku beri julukan itu. Kenapa kamu yang marah?" Sang Kakak pun terkekeh nyaring.
"Lalu, apa kakak tidak marah dengan apa yang dia perbuat padaku?"
"Kamu mau aku bertengkar dengannya, heh?"
"Bukan begitu... seharusnya kakak membelaku, bukan?"
"Ya, makanya ku suruh kalian menikah saja! Urusan marah atau tidak, biarlah itu antara aku dan Ken..."
Zahra masih bingung dengan sikap kakaknya ini. Sebegitukah persahabatan yang terjalin antara Ken dan Kakaknya sehingga Kakaknya tidak bisa memarahi Ken meski tindakan Ken dimata Zahra sangat keterlaluan.
"Tapi kak..."
__ADS_1
"Ada hal yang aku tahu, tapi aku tidak berhak menyampaikannya padamu. Kamu memang adikku! Namun, Ken punya alasan tersendiri dan aku tidak bisa menyampaikan segala yang ku tahu kepadamu. Suatu saat nanti, segala tindakan yang diperbuat Ken, akan kamu ketahui alasannya, mungkin Ken yang akan memberitahumu ataupun kamu yang akan tahu dengan sendirinya. Tapi yang jelas bukan tahu dariku, karena aku tidak berhak mencampuri permasalahan yang menyangkut tentang perasaan diantara kalian berdua!"
Hening, Zahra mencoba memahami Kakaknya kali ini, termasuk tentang reaksi tenang yang ditunjukkan kakaknya meski sepertinya sang Kakak sangat tahu tindak - tanduk yang Ken perbuat terhadap Zahra.
"Bagaimana kabar Ken sekarang, Kak?" tanya Zahra tiba - tiba.
"Tuh kan, kamu khawatir juga dengannya!"
"Jawab saja, kak..." lirih Zahra.
"Dia tidak baik - baik saja! Temuilah dia! Terakhir kami bertemu saat aku mengantarnya ke Terminal Lagujati dan berkeliling disekitar sana sekitar seminggu yang lalu."
Zahra menoleh pada kakaknya dengan ekspresi terkejut. "Darimana kalian tahu aku sekarang tinggal didaerah disana?" tanyanya.
"Jangan ragukan Ken dalam hal mencarimu! Dia benar - benar serius ingin menikahi kamu!"
Zahra diam tertunduk, ia hanya menatap flatshoes yang ia kenakan. Tak tahu harus berkata apa lagi karena sekarang ia tahu jika ternyata Ken masih berusaha mencari keberadaannya sampai saat ini.
"Tapi... karena sekarang aku sudah mengetahui jika kamu adalah adikku, maka Ken harus memintamu secara baik - baik padaku jika dia memang ingin menikahi kamu." Sang Kakak tergelak untuk kesekian kalinya. Merasa lucu pada kenyataan yang ternyata menyadarkannya-- jika bumi begitu sempit.
"Tapi, Kak! Aku belum bilang jika aku bersedia menikah dengannya!"
"Ya itu terserah kamu, Hana! Sekarang aku ingin bertanya padamu..."
"Apa kamu mencintai Ken? Ya... walau aku sudah tahu jawabannya dari cerita Ken tapi aku ingin mendengar jawaban adikku secara langsung."
Zahra tak menjawab, cukup lama ia terdiam namun sang Kakak seakan tetap menunggu jawaban dari bibir gadis itu.
"Aku ... cinta Ken, kak!" jawab Zahra dengan suara bergetar.
"Aku sudah menebaknya."
"Hmm, tapi jangan katakan padanya jika kita bertemu. Berjanjilah padaku, Kak!"
"Baiklah, kirimkan alamatmu yang sekarang. Besok kakak akan mengunjungimu disana," ucap sang Kakak.
_______
Sesuai dengan yang di janjikan, Kakak Zahra benar - benar mengunjunginya ke tempat kos baru, di daerah yang ditempati gadis itu sekarang.
Namun, karena area Kos itu dilarang dimasuki oleh kaum pria maka sang Kakak hanya menunggunya di luar gerbang.
Ini adalah hari Minggu dan momen yang pas untuk mengajak Zahra jalan - jalan karena mereka sama - sama libur bekerja.
__ADS_1
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Zahra.
"Ayo naik saja! Kakak ingin mengajakmu jalan - jalan! Mau tidak?"
Zahra mengangguk antusias, rok panjang yang ia gunakan meriap - riap saat ia sedikit berlari mencapai mobil tua yang digunakan Kakaknya.
Mereka berkeliling sambil bercerita tentang keseharian masing - masing. Zahra menceritakan jika ia sekarang bekerja bersama Devia dan menjadi sekretaris wanita itu.
Sementara sang Kakak menceritakan juga bagaimana ia mengembangkan bisnis mendiang orangtua mereka secara diam - diam dan tidak dicurigai siapapun.
Zahra baru tahu jika mendiang Ayahnya adalah pengusaha industri minyak bumi. Mencari sumber kilang minyak di berbagai pelosok daerah.
"Apa usaha itu masih berjalan sampai sekarang, Kak?"
"Ya, dulu Paman Sapta yang melanjutkan. Sampai aku cukup umur, semuanya dia serahkan padaku karena beliau juga sudah tua sekarang."
"Apa perkembangan usaha itu tidak dicurigai Kak?"
"Tentu saja, pasti ada saja yang mencurigai dan mencari tahu siapa yang mengembangkan produksi minyak bumi dari tahun ke tahun, tapi ada badan hukum yang melindungi pemilik aslinya, jadi nama kakak masih aman. Dan lagi, kakak dan Paman membuka pabrik kayu untuk menutupi rasa curiga orang lain terhadap pekerjaan kami yang sesungguhnya."
"Syukurlah, Kak..."
"Kakak cukup senang ternyata selama ini kamu bisa mendapatkan latar belakang pendidikan yang baik, walaupun kakak tidak tahu kehidupan seperti apa yang kamu jalani dari kecil. Maafkan Kakak, Hana... kakak dan Paman Sapta mencari kamu kemanapun, namun kami tidak tahu di panti asuhan mana Mama menitipkan kamu."
"Sudahlah, Kak. Yang terpenting sekarang kita sudah bertemu."
Menjelang siang, mereka memutuskan makan di sebuah cafe yang nyaman.
Namun, ditengah - tengah keakraban yang baru terjalin diantara mereka berdua, muncul seorang pemuda yang kehadirannya tidak diharapkan Zahra sama sekali.
"Maksud lo apaan, Ta? Lo sengaja nyuruh gue kesini biar liat lo berduaan sama Hana?"
"Ken..." Zahra membekap mulutnya sendiri sebab terkejut dengan kedatangan Ken yang mendadak.
"Lo denger dulu penjelasan gue!"
"Penjelasan apa? Lo sekarang ngedeketin Hana, gitu?" Ken menatap kedua orang didepannya dengan tatapan marah dan kecewa.
"Bukan gitu, lo salah paham! Gue justru mau lo ketemu sama Hana sekarang!"
"Sejak kapan lo akrab sama Hana?" Ken sudah dipenuhi amarah padahal belum mendengar penjelasan apapun dari kedua orang dihadapannya itu.
...Bersambung ......
__ADS_1