
"Besok pagi... aku jemput ya," kata Ken saat Zahra hendak turun dari mobil setibanya mereka di tempat kos gadis itu.
Zahra menoleh. "Memangnya besok mau kemana?" tanyanya.
"Besok kamu masih bekerja, kan? Aku akan menjemput kamu dan mengantar kamu ke kantor."
"Enggak usah, Ken."
"Kenapa?"
"Aku gak mau merepotkan kamu, lagipula aku bisa berangkat naik ojol atau taxi seperti biasanya."
"Itu kan yang biasa, apa kamu gak mau yang luar biasa? Dijemput aku misalnya," kekeh Ken.
"Aku gak merasa kerepotan jika hanya menjemput calon istriku." Ken menambahkan kalimatnya, namun itu justru membuat Zahra tertunduk malu mendengarnya.
Ken mengulurkan tangan ke arah Zahra dengan niat mengelus pipi gadis itu, namun ternyata ia tak melanjutkan aksi itu, tangannya terhenti diudara.
"Ingat Ken! Dia adalah Hana, bukan gadis yang biasa dan seenaknya saja untuk kau sentuh! Sabar... sabar," batin Ken memperingatkan dirinya sendiri.
Zahra mengernyit heran saat melihat tangan Ken yang berada sejengkal didepan wajahnya.
"Ada apa?"
"Ng-nggak, bukan apa- apa, masuklah..." kata Ken mendadak gugup, dengan spontan ia menarik kembali uluran tangannya dihadapan Zahra.
Zahra mengangguk dan menarik tuas pintu lalu keluar dari mobil yang dikendarai oleh Ken.
Ken menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Masuklah Hana..." ucapnya sedikit memekik.
Zahra membungkuk dan melihat Ken dari sebalik jendela mobil. "Kamu pergi dulu, baru aku masuk!"
"Aku akan pergi setelah memastikan kamu masuk!" ucap Ken bersikukuh.
"Baiklah, aku masuk. Hati - hati di jalan," ucap Zahra sedikit keras karena jarak mereka yang semakin menjauh.
Ken mengangguk, lalu menatapi Zahra yang mulai berjalan perlahan menuju ke dalam area kos-nya. Sudut bibir Ken tertarik, membentuk lengkungan penuh karena perasaannya yang bahagia.
Hubungannya dengan Zahra semakin membaik saja, tak masalah kan, jika sekarang ia bahagia? (Gpp Ken, readers aja ikut bahagia liat kalian😁)
Setelah siluet tubuh Zahra benar - benar tak nampak lagi dipelupuk matanya, barulah Ken kembali menyalakan mobil untuk bertolak menuju kediaman sang Mama.
_____
"Ma," sapa Ken saat melihat Devia tengah sibuk dengan sesuatu diruang keluarga. Ken baru saja selesai mandi dan tampak segar dengan penampilan santainya.
"Ken, tadi kamu ke kantor mama ya?"
"Hmm," gumam Ken.
"Heran mama liat kamu, dulu aja...asal mama ajak ke kantor selalu gak mau, sekarang ... hampir seminggu penuh ini mama perhatikan kamu selalu rutin datang ke kantor!"
"Ya dulu sama sekarang beda dong, Ma."
Devia berdecak lidah sekilas sambil menggelengkan kepala, lalu ia kembali fokus pada urusannya yang sudah menjadi atensinya sejak awal.
"Sibuk apa sih, Ma? Ada desain baru, ya?" tanya Ken.
"Bukan soal pekerjaan, sih. Ini lagi sibuk mengurusi pernikahan kamu sama Hana."
Ken menghela nafas, yang benar saja semua urusan pernikahannya ditanggulangi oleh sang Mama? Ia bahkan santai - santai saja. Sekarang ia jadi merasa sangat tak enak hati dengan wanita yang melahirkannya itu.
__ADS_1
"Ma, aku kan udah bilang... jangan Mama yang mengurus semuanya, biarkan aku dan Hana yang mengurusnya."
"Mama mau melakukannya, Ken! Kamu itu anak Mama satu - satunya, biarkan Mama kasih yang terbaik untuk pernikahan kamu yang sekali seumur hidup!" kekeuh Devia.
"Memangnya apa yang Mama urus lagi? Bukankah semuanya sudah diurus W.O?"
"Ini soal cathering dan baju pengantin."
"Oh..." Ken memang tak tahu menahu dengan hal semacam ini, apalagi ia termasuk pria yang cuek dengan segala hal. Jangankan mengenai pesta, mengenai penampilannya sendiripun ia tak terlalu memikirkannya. Namun, benar kata sang Mama, ini menyangkut pesta pernikahannya jadi tak masalah jika kali ia ikut campur, bukan?
"Ada yang perlu aku bantu, gak, Ma?"
"Emm, menurut kamu... makanan untuk prasmanannya enak yang mana, Ken?" Devia mengulurkan sebuah buku menu untuk Ken pilih.
Didalam buku itu sudah tersedia berbagai jenis makanan beserta paket - paket yang akan melengkapinya.
"Yang ini kayaknya enak!" ucap Ken merujuk pada sebuah paket yang tampak komplit dengan menu campuran ala Indonesia dan western.
"Boleh juga usul kamu, ini cukup netral untuk menu makanannya dan semua kalangan pasti suka!" Mama pun menandai pesanan Ken.
"Kalau besok kamu dan Hana yang mencicipi menunya, gimana?"
Ken mengangguk. "Boleh deh, Ma. Sekalian nanya Hana, menu yang dia inginkan." Ken pun tersenyum senang.
"Nah gitu dong, udah mulai kompak. Mama heran liat kalian, apa sih yang menjadi sumber perdebatan kalian? Kok mama perhatikan Hana itu kayaknya marah ya sama kamu? Atau jangan - jangan kepergian Hana ke daerah ini karena bertengkar sama kamu ya?"
"Hah? Eng-gak kok, Ma. Kita... kita baik - baik aja!" Ken pun memasang senyum yang ia paksakan.
"...cuma Hana itu kan, nolak tegas yang namanya pacaran, jadi aku... aku inisiatif langsung lamar dia waktu itu, terus dia mungkin masih terkejut karena pertunangan kami yang tiba - tiba!" lanjut Ken agak terbata - bata, mana mungkin ia menceritakan pada Mamanya perihal apa yang sebenarnya membuat Zahra marah dan kecewa padanya.
"Oh begitu... Mama pikir kamu buat salah sama dia. Kesalahan fatal gitu..." celetuk Mama.
"Y-ya enggaklah, Ma!" sanggah Ken cepat.
"I-iya, Ma..." Ken menjadi gugup seketika, takut kalau Mamanya membaca kebohongannya.
"Oh iya, kalian fitting baju pengantin juga ya tanggal 15!"
"Iya, Mamaku bawel..."
"Kamu ini kalau dibilangin selalu gitu! Giliran kesusahan dapetin Hana, baru minta tolong Mama, huh!" Mama mencebik berlagak merajuk.
Ken terkekeh. "Enggak kok, Ma. Jangan ngambek dong! Nanti cantiknya hilang loh!"
"Bisa aja kamu gombalin Mama sendiri!" Devia jadi terkekeh.
"Eh, Ma... Hana apa gak bisa libur kerja aja, ya?"
"Kenapa? Kamu keberatan Hana bekerja?"
"Bukan, aku takut calon istri aku kelelahan." Ken tersenyum - senyum sendiri disudut sana.
Mama menggelengkan kepalanya, melihat tingkah absurd Ken yang diyakininya sebagai bentuk nyata orang yang tengah kasmaran.
"Kamu udah pikirkan mahar untuk pernikahan kamu belum?"
"Udah!" sahut Ken cepat.
"Apa itu? Mama gak kamu kasi tahu?"
Ken pun membisikkan sesuatu pada sang Mama.
Mama menatap Ken kemudian. "Serius kamu? Kapan kamu beli?" tanyanya.
__ADS_1
"Ya, aku mendengar saran Mama. Uang hasil keuntungan saham, kan, gak pernah aku gunain ... jadi ya udah aku pake aja kali ini. Uang itu juga dari kerja keras aku!"
"Nah, bagus itu kalau pikiran kamu sudah terbuka!"
"Hmm, rencananya aku juga mau buka bengkel mobil lagi. Kasian anak - anak yang masih pada nganggur!" kata Ken.
Devia mengernyit. "Anak - anak?" tanyanya.
"Hmm, maksudnya teman - teman aku, Ma. Yaudah aku balik ke kamar ya, Ma!" Ken langsung beranjak, karena ia tak mau diinterogasi sang Mama mengenai anak - anak yayasan yang tak diketahui sang Mama sampai saat ini.
Sesampai dikamar, Ken meraih ponselnya dan menelepon seseorang, siapa lagi jika bukan Zahra.
____
Zahra baru saja menyelesaikan sholat isya' ketika ponselnya terdengar berdering.
Ia mengambil benda pipih yang sejak tadi belum disentuhnya sama sekali.
Ternyata ada panggilan video yang meminta dijawab olehnya. Namun, yang membuat Zahra kaget adalah contact name yang melakukan panggilan itu.
Perasaan, gak pernah deh aku memberikan nama kontak seseorang dengan nick name ini.-batin Zahra.
Ia menerima panggilan itu dan terpampang wajah Ken yang tersenyum disana. Ia pun langsung menyadari keadaan, jika nama kontak Ken yang ada diponselnya adalah ulah Ken sendiri yang sempat meminjam ponselnya sebentar tadi.
"Assalamu'alaikum..." jawab Zahra canggung.
"Wa'alaikum salam," Ken tampak terus tersenyum dari seberang sana.
"Ada apa, Ken?" sahut Zahra akhirnya, masih dengan kikuknya.
"Kok 'Ken'? Perasaan nama aku diponsel kamu bukan itu, deh!" protesnya.
"Kan memang nama kamu 'Ken'..." jawab Zahra pelan.
"Tapi aku maunya dipanggil sesuai dengan nama yang diponsel kamu!" kata Ken dengan nada yang terdengar manja.
"Hah?" Zahra melongo.
"Coba dong! Sebentar lagi kita menikah, kamu harus mulai terbiasa, Hana!" pinta Ken dengan wajah yang tampak memelas.
Zahra menggeleng tegas.
"Kalau memang susah banget, kamu bacain aja nama aku yang ada di ponsel kamu."
"Gak!" kata Zahra mengulumm senyum, kenapa Ken bersikap manja seperti ini? Apa memang Ken seperti ini kepada banyak wanita?
"Yaudah aku merajuk!" Ken memanyunkan bibirnya, asli seperti bocah. Apa gak malu sama umur?- batin Zahra.
Seketika itu juga, Zahra ingin tertawa ngakak.
"Sudahlah Ken... jangan aneh - aneh! Nama kontaknya juga bakal aku ganti nanti!"
"Awas aja kalo berani!" kata Ken tajam.
Zahra tak kuasa menahan tawanya hingga ia pun terkekeh juga.
"Seneng banget ya, kamu..." celetuk Ken ikut tersenyum simpul.
"Gak boleh?"
"Boleh dong, Sayang..."
Astaga... dia bilang apa tadi? Apa aku salah dengar? Jantungku kok jadi berdentum- dentum begini, ya? Zahra membatin dengan tampang wajah yang memerah, sementara Ken yang melihat itu, tertawa cekikikan diseberang sana.
__ADS_1