Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Tabir yang mulai terbuka


__ADS_3

"Maafkan saya, Zee... maafkan saya yang baru bisa menemukan kamu sekarang!" kata Devia tersengguk - sengguk.


Zaki tampak mengernyit heran. Dipikirannya menerka - nerka siapa Zahra bagi sang Ibu? Kenapa Mamanya itu tampak menangis? Atau jangan - jangan Zahra adalah anak kandung Devia yang lain? Ah, Zaki tak tahu tentang masa muda Mamanya itu.


"Bisa Tante perjelas maksudnya? Aku akan mencoba memahaminya," ucap Zahra meminta penjelasan.


"Kurang lebih 25 tahun yang lalu, diawal - awal usaha berlian yang tante rintis, ada seorang sahabat yang sangat mendukung Tante. Namanya Charista. Charista mendukung tante dari segi apapun. Termasuk dari segi finansial yang waktu itu masih pas - pasan."


"...kemudian, sebagai bentuk apresiasi Charista terhadap usaha yang baru tante geluti, dia menjadi pelanggan pertama yang memesan desain khusus cincin yang diperuntukkan buat kedua anak - anaknya."


Zaki dan Zahra menyimak cerita Devia dengan ekspresi serius.


"Tante mendesain sepasang cincin itu dengan rasa terharu, sebab tidak menyangka jika Charista benar - benar mendukung tante sampai menjadi konsumen pertama, Charista benar - benar sahabat yang mengajari tante arti sebuah persahabatan. Dia melebihi saudara bagi tante," imbuh Devia.


"Jadi, sahabat tante yang bernama Charista itu ... apakah beliau adalah Ibu kandungku?" tanya Zahra.


Devia mengangguk sembari menyusut airmatanya.


"Ya sudah, kita pertemukan saja Hana dengan tante Charista, Ma... beres!" kata Zaki menimpali.


Devia menggeleng dan setetes airmatanya jatuh kembali. "Tidak bisa, Hana tidak bisa bertemu dengan Charista," ujarnya susah payah.


"Kenapa?" tanya Zaki.


"Kenapa, Tant? tanya Zahra juga.


"Charista sudah tiada, dia ... sudah meninggal!" jelas Devia melanjutkan.


Nyes....


Bukankah ini takdir yang kejam untuk Zahra? Bagaimana tidak, ia bahkan belum pernah bertemu dengan sosok ibu kandungnya. Lalu, sekarang saat tabir yang selama ini tertutup mulai terbuka, lagi - lagi kenyataan tidak berpihak padanya. Seolah tidak mengizinkannya bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya, barang sekalipun seumur hidupnya.


"A-apa tante serius?" Isak mulai terdengar saat Zahra menanyakan kalimat itu. Kenyataan ini sulit diterimanya, hatinya yang merindu dengan sosok ibu yang tak pernah dilihat bahkan tergapai--harus layu sebelum berkembang, harus sirna sebelum sempat bersua.


"Inilah yang membuat tante sedih dan menyesal karena baru menemukan kamu sekarang, disaat Charista sudah tiada."


"Lalu, dimana Ayah kandung Hana, Ma?" tanya Zaki yang ikut merasakan sesak yang sama, entah kenapa ia juga menjadi sedih melihat dua wanita dihadapannya menangis tersedu - sedu.


Devia menggeleng lemah. "Yuda juga telah tiada, dia lebih dulu meninggal, sebelum Charista meninggal karena dibunuh!"


"Apa?" Jelas saja Zahra terkejut mendengar sebab kematian Ibu kandungnya. Dibunuh?


"Yuda, Ayah kandung kamu... bermasalah dengan rekan bisnisnya dari Luar Negeri. Terjadi bentrok yang tante tidak tahu pasti pokok permasalahannya. Menurut cerita Charista waktu itu, Yuda harus menghadapi dua pilihan sulit, membunuh atau dibunuh. Dan Yuda membunuh orang itu." Devia kembali menangis, kali ini lebih histeris.


"Charista sempat bercerita dengan tante dalam masa - masa pelariannya. Sejak insiden yang memaksa Yuda menjadi pembunuh, hidup Charista dan kedua anaknya tidak tenang. Yuda yang dipenjara diluar negeri dan Charista yang terpaksa menitipkan kamu di panti asuhan agar luput dari pengejaran orang - orang yang ingin menghabisi keluarga Yuda akibat dendam. Mereka ternyata sekelompok mafia yang berkuasa."


Kini, Zahra tahu kenapa dulu ia diletakkan di panti asuhan. Bukan karena ia anak yang tidak diinginkan, bukan pula karena orangtuanya tak menyayanginya, tetapi itu semua dilakukan untuk menyelamatkan hidupnya.

__ADS_1


Zahra menitikkan airmatanya yang tak kunjung habis, ternyata orangtuanya tidak hidup tenang, meski dari cerita Devia ia dapat menyimpulkan jika Ayah dan Ibu kandungnya pastilah orang - orang yang memiliki bisnis dan hidup berkecukupan.


"Apa tante tahu dimana makam kedua orangtuaku?"


"Makam Charista tante tahu, tapi makam ayahmu tidak... karena Almarhum meninggal diluar negara."


Sesak, itulah yang dirasakan Zahra saat tahu kenyataan ini. Harapannya untuk bertemu kedua orangtuanya harus lenyap seketika. Orangtuanya telah tiada. Bukan cuma Ayah atau Ibu, tapi keduanya. Tak salah ia hidup di panti asuhan selama ini, karena kenyataannya ia memanglah yatim piatu.


Sampai akhirnya suara Zaki kembali terdengar diantara isak tangisnya yang bercampur dengan isakan Devia.


"Tapi, Kakak kandung Hana masih hidup kan, Ma?" celetuk Zaki.


Devia menggeleng lesu. "Tidak ada yang tahu dia dimana sekarang. Tante mencarinya juga, tante sangat yakin dia masih hidup, tapi entahlah."


Hening ... hanya nampak Zaki yang memijit pelipisnya sendiri. Devia merenung sedih, sementara Zahra masih menangisi kenyataan.


_____


Zahra harus menerima kenyataan, setelah tahu detail cerita dari Devia, ia pun mulai tahu siapa jati dirinya.


Nama lahirnya adalah Zeevana Dirgantara, anak kedua dari pasangan Prayuda Dirgantara dan Charista Galandra.


Ia mencari nama itu diinternet dan menemukan fakta bahwa kedua orangtuanya memanglah keluarga terpandang di masanya.


Kemudian tampilan jendela internet yang memberitakan tentang kasus Ayahnya langsung berbaris rapi disana ketika ia mengetikkan nama sang Ayah di kotak search engine.


Bahkan peristiwa terbunuhnya sang Ibu yang dilakukan oleh orang - orang suruhan yang dendam pada Ayah kandungnya, juga tertera di portal berita.


Namun, ia tak menemukan namanya atau nama kakak kandungnya disana. Tiada berita yang menjelaskan tentang keluarga inti Prayuda dan Charista. Seolah hal itu ditutupi dari media.


Maka dari itu, Zahra hanya mengetahui tentang Kakak kandungnya dari pembicaraannya dengan Devia saja. Kakaknya, berumur empat tahun diatasnya, yang dikenal Devia dengan nama Dirga, dari nama keluarga mereka, Dirgantara.


Ia sempat bertanya pada Devia, kenapa nama asli anak - anak Prayuda dan Charista tidak terlihat di portal berita, Devia hanya mengatakan jika ini semua memang sengaja dilakukan agar identitas asli mereka tidak diketahui pihak manapun. Karena kabarnya, sampai saat inipun musuh Ayahnya masih mencari keturunan Prayuda demi membalas dendamnya.


-


-


"Han, kamu gak apa - apa?" Zaki memperhatikan Zahra yang sudah dua hari ini tampak tak semangat, semua ini pasti karena asal - usul gadis itu yang sangat menyedihkan.


"Aku gak apa - apa kok!" sahut Zahra tanpa menoleh.


"Kamu masih memikirkan keluarga kamu, ya?" tebak Zaki.


"Hmm, dimana kira - kira kakak kandungku berada ya? Aku mencari silsilah keluarga kami, siapa tahu ada diantara mereka yang mengasuh kakakku sejak balita. Tapi, aku cuma tahu kedua orangtua dari Ayahku yang juga sudah meninggal."


"Kamu harus tetap semangat, Han! Setidaknya kamu masih punya keluarga. Aku akan membantu kamu mencari keberadaan kakak kamu," ujar Zaki mencoba tersenyum tipis.

__ADS_1


"Terima kasih, Zak. Kamu dan Mama kamu sangat membantu aku selama ini."


"Kamu gadis yang baik, gak salah kami membantu kamu. Apalagi sekarang kita tahu bahwa almarhum Mama kamu adalah sahabat Mamaku," kata Zaki.


"Iya, kamu beruntung masih punya Mama, Zak..." kata Zahra tersenyum.


Zaki ikut tersenyum tipis. "Kamu salah, Mama Devia bukan Mama kandungku."


"Hah?"


Zaki mengangguk. "Sebenarnya Mama Devia itu Kakaknya Mama kandungku. Aku juga udah gak punya Mama kandung, beliau meninggal saat melahirkan aku," jelasnya.


"Ah, maafkan aku, Zaki... jangan tersinggung." Zahra merasa tak enak hati pada pria itu.


"Gak apa, santai aja, Han! Eh, kamu udah makan siang belum?"


"Belum, aku kepikiran ingin berkunjung ke makam Ibuku," kata Zahra.


"Yaudah, aku bisa kok temani kamu kesana. Kita kan teman sekarang..." Zaki nyengir.


"Tapi dikota itu ada kenangan buruk untukku..." batin Zahra tak menyuarakan pada Zaki.


"Tapi kesana butuh waktu dua jam," kata Zahra.


"Ya gak apa - apa, kita bisa kesana pas weekend."


"Baiklah, ajak Dewi juga ya... atau Lala?" Zahra menaik-naikkan alisnya menggoda Zaki karena ia menyebut Lala.


"Kok Lala?" tanya Zaki berlagak bodoh.


"Orangtua Lala tinggal dikota itu, dia pasti mau diajak kesana. Dulu kami juga sekolah disana... apalagi perginya sama kamu, pasti mau tuh anak!" kekeh Zahra.


Zaki menggaruk tengkuknya sekilas. "Gitu ya?" tanyanya.


"Ya iyalah, kamu pikir aku gak tahu kalau kalian sekarang ada something..." Zahra menekuk dua jari menjadi tanda kutip saat mengatakan kata itu.


Zaki terkekeh. "Mana ada!" dustanya.


"Ngeles aja sih... Lala tuh cerita lagi sama aku. Gak apa - apa loh, aku dukung juga!"


"Ya kan, biar move on dari kamu!" kata Zaki tertawa.


"Halah, kamu jangan jadikan Lala pelampiasan ya! Dia itu sahabat aku!"


"Iya deh iya, by the way... calon suami kamu aku kok gak pernah lihat? Ajak aja sekalian nanti pas weekend, biar kita ke makam ibu kamu bareng - bareng."


"Hah?" Zahra melongo, ia lupa sempat menolak Zaki dengan alasan memiliki calon suami. Sekarang apa yang harus dijawabnya sebagai alasan??

__ADS_1


...Bersambung......


Readers.... ada yang kenal gak sama kakak kandungnya Zahra? Coba kasi tahu dia dong ✌️😂


__ADS_2