
Ken tidak bisa tidur malam ini, pikirannya memikirkan Zahra yang sekarang tak berada disisinya. Jam sudah menunjukkan pukul 00:02 dini hari namun mata Ken seakan segar dan tak bisa untuk terpejam.
Ken meraih ponsel diatas nakas, menimang-nimang benda itu. Kemudian ia menekan angka 1, panggilan cepat ke nomor sang istri.
Ken pikir panggilan itu akan ditolak atau diabaikan karena mungkin Zahra sudah tertidur pulas, nyatanya langsung dijawab di nada yang kedua.
"Hallo, Assalamu'alaikum ..."
Betapa senang hati Ken mendengar suara khas milik istrinya. "Wa ... Wa'alaikumsalam," ujarnya mendadak gugup.
"Ada apa?" Suara Zahra terdengar dingin, namun Ken sudah cukup bahagia karena Zahra masih mau menerima panggilannya.
"Ada apa, Ken? Tidurlah, sudah larut." Zahra berucap lagi karena Ken tetap tak menyahuti ucapannya.
"A-aku gak bisa tidur," ujar Ken akhirnya. Ken pikir Zahra akan menyuruhnya tidur dan memutus panggilan itu begitu saja, nyatanya ia salah.
"Aku mengantuk, Ken. Tapi aku juga gak bisa tidur," kata Zahra dengan suara yang terdengar tercekat.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu masih memikirkan---"
"Aku kangen kamu, Ken!" lirih Zahra memotong ucapan Ken.
"Sayang, aku juga kangen kamu! Sangat kangen. Kita bahkan belum sehari berpisah, tapi aku... hah! Aku gak bisa tidur karena kamu gak ada disamping aku."
Terdengar suara isakan dari seberang sana, entah jiwa sensi Zahra kumat lagi atau memang dia sesedih itu sebab jauh dari sang suami.
"Sayang, shhh... jangan nangis, aku jemput kamu sekarang, ya!"
"Ini udah larut, tidurlah, Ken!"
"Aku udah bilang kalau aku gak bisa tidur, Sayang...." Rupanya Ken ikut menitikkan airmata, kenapa ia se-dramatis ini ketika jauh dari istrinya?
"Ken, lebih baik kita jangan bertemu dulu. Selesaikanlah masalah kamu baru kamu menjemputku disini," ucap Zahra susah payah.
"Sayang...." Ken berucap dengan nada mengiba.
"Aku ngantuk, Ken. Lebih baik kita mencoba untuk tidur," ujar Zahra dari seberang panggilan.
"Aku tahu kamu gak akan tidur, kamu gak bisa tidur kalau perutnya belum aku elus. Aku jemput kamu sekarang!"
__ADS_1
"Enggak, Ken!"
"Sayang, apa kamu gak mau mendampingi aku dalam melewati masalah ini? Kamu benar-benar mau membiarkan aku sendiri menghadapinya?" tanya Ken putus asa.
"Bu-bukan begitu, Ken. Aku cuma ... memberi kamu waktu."
"Waktu? Waktu untuk apa?"
"Waktu untuk kamu memilih, aku atau ... Jenar," kata Zahra terdengar terisak.
"Kamu ngelantur, Sayang. Aku gak akan memilih karena semua ini bukan pilihan. Kamu dan anak kita adalah prioritas aku, bukan sekedar hal untuk aku pilih!" tegas Ken.
"Tapi dia juga mengandung anak kamu, Ken..."
"Sayang, kamu harus percaya kalau itu bukan anak aku! Aku tahu dan aku yakin, Sayang. Anak aku, hanya yang ada dalam kandungan kamu. Titik!"
Ken tak tahan lagi, akhirnya ia memutus panggilanya sebelah pihak. Ia bangkit dari posisinya, mengambil kunci mobil kemudian bergerak menuju garasi rumah.
Tidak butuh waktu lama, Ken sudah berada dibalik kemudi dan meninggalkan kediamannya dimalam yang sudah larut itu.
____
"Ken...." lirih Zahra sambil menatap nanar wallpaper ponselnya yang menampilkan foto pernikahan mereka berdua. Didalam foto itu Ken tengah mengecup dahinya dengan ekspresi yang paling teduh.
Zahra mengelus perutnya yang sejak tadi terasa bergejolak. Dari sore memang ia mengalami mual luar biasa, padahal selama masa kehamilan ini ia jarang sekali mengalami muntah bahkan morning sickness pun tak pernah.
Zahra berlari menuju pintu kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang sempat masuk ke lambungnya.
Sepertinya bukan hanya dirinya yang tak bisa jauh dari Ken, melainkan bayi dalam kandungannya pun melakukan protes karena hal ini.
Usai muntah beberapa kali, Zahra terduduk lemas dilantai, ia bersandar didekat kaki ranjangg, sambil menumpu kepalanya dengan kedua tangan.
"Astagfirullahhal'azim..." Beberapa kali bibirnya mengucap istighfar. Ia mengingat lagi ucapan Ken sebelum panggilan teleponnya terputus tadi.
Benar yang dikatakan Ken, tak seharusnya Zahra membiarkan Ken menghadapi semua masalah ini sendirian, ia sebagai istri harusnya tetap mendampingi Ken. Baik atau buruknya masa lalu Ken, sudah harus diterimanya ketika ia sudah resmi menjadi istri dari pria itu.
Kepergiannya, justru akan memperkeruh keadaan. Seharusnya ia menguatkan Ken dalam keadaan ini, bukan malah meninggalkannya dalam keterpurukan. Ken butuh dukungan darinya. Sekalipun Ken memang salah, namun kesalahan yang terjadi ini tetaplah terjadi dimasalalu pria itu, bukan karena Ken sengaja mengkhianatinya setelah mereka menikah.
Zahra menangis tersengguk-sengguk, ia tahu ia salah mengambil keputusan untuk menghindar dan pergi dari sisi Ken.
__ADS_1
Zahra merasa tubuhnya semakin lemah sekarang karena kehabisan energi sebab sempat muntah beberapa kali tadi, namun disaat seperti ini ia justru merasa semakin merindukan Ken untuk berada disisinya.
Dalam keadaan lemahnya, ia berkhayal Ken datang menghampirinya yang terduduk dilantai. Pria itu tersenyum kecil, berlutut dihadapannya, merendahkan diri didepannya dan membelai rambutnya dengan penuh kasih.
"Ken, aku rindu kamu. Aku gak bisa jauh dari kamu," gerutunya sambil menangis, ia bahkan merasakan jika sekarang Ken tengah memeluknya dan itu terasa sangat nyaman.
Khayalannya memang terlalu kurang ajar sebab mengharapkan Ken untuk berada disisinya sekarang--dimalam yang larut seperti ini.
"Seharusnya aku gak pergi, Ken. Kalau aku tetap dirumah pasti sekarang aku sudah tertidur nyenyak dalam pelukan kamu," kata Zahra terisak, ia semakin merasa elusan jemari Ken di kepalanya terasa sangat nyata.
Zahra pun mencoba memegang jemari Ken, benar saja jemari itu terasa nyata, bahkan ukuran jari-jarinya terasa persis sama seperti yang selama ini ia genggam.
"Apa ini nyata? Ternyata aku benar-benar sangat merindukan dia," batin Zahra berkata-kata.
Zahra mencoba menepis khayalannya tentang Ken. Ia beringsut dan bergerak untuk melepas pelukan ditubuhnya yang ia rasa sebagai bentuk ekpektasi dalam diri, nyatanya pelukan itu semakin erat dan tak bisa ia lepaskan, seolah tubuhnya benar-benar dipeluk oleh Ken dan Ken tak mau melepaskannya. Didetik yang sama, ia mendengar suara pria yang ia rindukan dan itu membuat semuanya terasa semakin sangat nyata.
"Kalau kamu sebegininya tanpa aku, kenapa kamu harus pergi dariku, hmm?"
Bahkan suara pria dalam khayalannya itu persis seperti Ken yang asli.
Dengan gerakan pelan tapi pasti, Zahra mendorong sesuatu yang terasa menghimpitnya itu, sesuatu yang ia rasa sebagai dada bidang milik Ken. Gerakan itu berhasil membuatnya terlepas dari pelukan bayang-bayang Ken yang sejak tadi mengurungnya dalam dekapan. Kemudian, Zahra mengadah dan mendapati sosok khayalannya tengah tersenyum lembut. Mata mereka saling beradu dan menatap satu sama lain. Zahra pun larut dalam tatapan itu.
"Ken...." kata Zahra yang merasa khayalannya seakan nyata adanya, padahal yang ia lihat sekarang memang Ken yang nyata. Ken telah tiba sirumah Rasta sejak beberapa menit yang lalu, ia masuk kedalam kamar Zahra setelah diberi tahu oleh Rasta.
"Hmm," sahut Ken yang akhirnya bergumam pelan.
"Ah, aku berkhayal kamu ada disini, rupanya," gumam Zahra. Wanita itu pun beringsut, kemudian mulai naik ke atas ranjangg dengan langkah gontai nan lesu. Sementara Ken mengulumm senyum melihat tingkah istrinya itu.
Ken pun mengikuti Zahra dan bergabung diselimut yang sama, ia memeluk tubuh Zahra dari belakang.
Zahra merasakan dekapan Ken ditubuhnya.
"Sepertinya aku mulai tidak waras karena pria yang sama," gumam Zahra dan Ken terkekeh pelan mendengarnya.
"Aku memang ada disini, Sayang. Kamu bukan berkhayal. Tidurlah yang nyenyak," batin Ken senang, ia merubah posisi demi bisa membelai dan mengelus wajah cantik istrinya. Sesekali ia menciumi pipi chubby Zahra seperti kebiasannya disetiap hari. Zahra terlihat nyaman dengan perlakuan Ken yang ia rasa sebagai khayalan, lambat laun ia mulai mengantuk.
"Aku cinta kamu, Han! Sampai kapanpun aku gak akan membiarkan siapapun merusak hubungan kita, aku akan membereskan masalah ini. Aku akan menyelidiki semuanya dan aku akan membuktikan bahwa anak dalam kandungan Jenar bukanlah darah dagingku!" tekad Ken didalam hati sambil memandnagi wajah Zahra yang sudah terlelap dalam pelukannya.
*****
__ADS_1