Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Pengaduan


__ADS_3

Frans tiba dirumah kontrakan Zahra, namun suasana senyaplah yang menyambutnya. Ia mendengkus keras karena lagi-lagi tak bisa menemui Zahra.


Ia bertanya pada orang yang lewat, ternyata orang itu mengatakan jika rumah kontrakan Zahra telah kosong.


Dalam rasa frustrasinya, Frans kembali ke kantor pusat dan langsung menuju ke ruangan Ayah sambungnya, Bagas.


"Pa!" seru Frans saat Bagas tengah bekerja dengan fokus.


Melihat raut wajah Frans yang lain daripada biasanya, Bagas langsung menebak jika terjadi sesuatu.


"Apa ini ada kaitannya dengan permintaan Ken untuk menikahi Zahra? Frans pasti kecewa dengan hal ini," batin Bagas.


Bagas menutup laptopnya, bangkit dan menghampiri Frans yang masih berdiri tak jauh dari pintu masuk ruangannya.


"Kemarilah, Frans... ada yang ingin papa sampaikan!" kata Bagas meminta Frans untuk duduk di sofa.


Frans menurut, sedikit banyak ia memang menghargai Bagas meski pria itu bukanlah Ayah kandungnya.


"Ada yang ingin aku sampaikan juga, Pa!" sahut Frans tak mau kalah.


"Baik, sekarang papa memberimu kesempatan untuk berbicara lebih dulu," kata Bagas mengalah. Ia paham jika mungkin Frans sedang kecewa saat ini karena Ken berniat menikahi Zahra yang sudah dipilih Frans menjadi istrinya.


Sedangkan sejatinya, Frans tidak tahu niat Ken itu. Yang ingin Frans sampaikan adalah tentang perbuatan Ken pada Zahra-- yang Bagas pun belum mengetahuinya.


"Apa papa tahu tentang perbuatan Ken?" pancing Frans, walau ia yakin Papanya tidak mungkin tahu tentang hal ini karena Ken mana berani mengakuinya.


"Perbuatan? Perbuatan apa?"


"Ken melec*hkan Zahra, Pa!" ucap Frans to the point.


"Apa?" Mata Bagas mendelik sempurna mendengar hal ini.


Apa karena ini Ken ingin menikahi Zahra? Bukankah kemarin Ken mengatakan ingin menikahi gadis itu karena mereka saling mencintai?


"Iya, Pa. Zahra sudah tidak masuk kantor dua hari ini dan tidak ada di kontrakannya. Dia pergi entah kemana. Ini semua karena Ken! Karena perbuatan Ken! Zahra tidak memiliki keluarga, Pa! Sekarang kemana Zahra pergi?" Frans meremass rambutnya sendiri dengan rasa putus asa yang sangat besar.


Bagas terdiam, dia syok mendengar hal ini dari mulut anak sambungnya itu.


"Ken tidak mungkin melakukan hal itu, Frans!" jawab Bagas ragu.


"Kenapa tidak mungkin, Pa? Ken pemain wanita! Lihat sekarang? Zahra benar-benar pergi!"


"Kemarin, Ken baru mengatakan ingin menikahi Zahra pada papa karena dia bilang, dia mencintai Zahra sejak lama!"


Frans terdiam, ternyata niat Ken bukan hanya merusak Zahra tetapi memang ingin memiliki gadis itu-- gadis yang ia cintai. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak mau Ken menang dengan memiliki Zahra seutuhnya.


"Nggak! Itu bohong! Ken tidak mencintai Zahra, Pa! Dia mau menikahi Zahra karena ingin menghancurkan aku dan juga karena dia sudah memper*osa Zahra, Pa!" dusta Frans, ia menolak mengatakan tentang perasaan Ken yang sebenarnya sudah ia ketahui juga.


"Jika Ken menikahi Zahra, dia akan menyiksa Zahra, Pa!" sambung Frans.

__ADS_1


"Ken mengatakan jika Zahra juga mencintainya, Frans!" jawab Bagas.


Apa lagi ini?? Zahra-nya mencintai Ken? Omong kosong!


Frans menggeleng kuat. Setitikpun ia tidak akan terima jika Ken mendapatkan Zahra begitu saja. Ia akan mempersulit semuanya.


"Justru jika Zahra mencintai Ken, itu akan membuatnya makin tersiksa jika sampai menikah dengan Ken yang hanya berniat melukainya demi membalas aku, Pa!" Frans mencoba mempengaruhi Bagas dengan pemikirannya.


"Ken sangat dendam padaku! Aku tidak percaya dia melakukan semua ini demi membalasku! Hanya karena membenciku ... Ken tega menghancurkan masa depan Zahra!" Frans menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Bagas dengan tuntutannya sebagai seorang Ayah, tak bisa berkutik saat tahu kebenaran ini. Ken memang anak kandungnya, tapi jika Ken melakukan kesalahan fatal seperti ini, haruskah ia tetap membelanya?


"Pa! Sampai kapan Papa melindungi Ken? Coba papa lihat, apa perbuatan Ken ini bisa dimaafkan? Apa ini semua bisa dimaklumi? Zahra wanita yang ku cintai dan dia tega melakukan semua ini pada Zahra!" Frans memainkan perannya, ia selalu bisa ber-playing victim sedari remaja, bukan?


Disinilah hati kecil Bagas harus memilih. Ia dihadapkan pada situasi yang sulit dan menuntutnya untuk bijaksana dalam mengambil sikap.


Ulah Ken memang tak termaafkan, apalagi Ken tidak jujur dengannya dan menurut Bagas permintaan Ken untuk menikahi Zahra hanyalah kamuflase agar Ken terbebas dari jerat hukum yang mungkin akan dituntut Zahra kepadanya.


"Kita bicarakan ini dirumah!" kata Bagas akhirnya.


_____


Dihari yang sama, Zahra ikut dengan Devia ke kantor wanita baya itu. Ditempat itu, ia bisa melihat banyak contoh rancangan-rancangan yang sangat mirip aslinya.


"Itu hanya imitasi, Hana! Itu biasa kita tunjukkan pada customer agar memudahkannya mencoba atau memilih desain yang disuka," kata Devia menjelaskan.


"Tapi ini benar mirip seperti aslinya," jawab Zahra takjub.


Zahra manggut-manggut paham, kemudian Devia menunjukkan satu ruangan agar Zahra mengikutinya masuk kesana.


"Kamu bisa mendesain disini, ini ruangan kamu!" kata Devia tenang.


"Saya punya ruangan sendiri, Tant?"


Devia mengangguk. "Ya, kamu butuh suasana yang baik untuk mendapatkan inspirasi serta ide yang cemerlang," katanya.


Zahra pun mulai mengelilingi ruangan itu, ruangannya cukup luas dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan indah--mengarah ke sebuah taman kota yang tampak hijau dari tempatnya berdiri sekarang.


Kebetulan kantor Devia ini terletak dilantai 21-- sebuah gedung pencakar langit.


Devia mengatakan belum bisa membangun gedung sendiri untuk kantornya. Jadi, didalam gedung ini terdapat banyak perusahaan kecil lain yang menempati tempat yang sama namun di lantai yang berbeda-beda.


Devia menjelaskan, keberadaan kantornya digedung ini juga semacam simbiosis mutualisme, ia menyewa gedung sambil mencari peluang, ia bisa menemukan relasi bisnis lain yang tertarik dengan usahanya digedung ini-- mulai dari konsumen serta investor baru dalam lingkup yang sama.


"Tante benar-benar hebat!" puji Zahra mengacungkan jempol dengan antusiasme tinggi, ia tidak menyangka ternyata bisa bekerja ditempat baru semacam ini.


Zahra langsung teringat kontrak kerjanya di perusahaan pusat milik Orangtua Frans, entah bagaimana nantinya ia akan membayar biaya finalty-- jika suatu saat nanti perusahaan itu menuntutnya, entahlah. Ia hanya bisa menunggu saat itu tiba dan bertekad akan bisa melewatinya.


"Kamu memikirkan apa, Han?" Devia mengelus pundak Zahra sekilas.

__ADS_1


"Saya merasa beruntung dan berhutang budi kepada Tante," jawab Zahra jujur.


Devia tersenyum kecil. "Bagi saya, tidak ada yang namanya hutang budi. Lagipula kamu bekerja disini karena saya juga membutuhkan kamu, kita saling membutuhkan satu sama lain dan jangan sungkan, oke?"


"Terima kasih, Tante..." Zahra menunduk kemudian ia mengingat suatu hal.


"Ehmm, apa saya harus memanggil Tante dengan sebutan Ibu atau Nyonya di kantor ini?" tanya Zahra dengan tatapan serius.


"Oh jangan, Han. Saya sudah mengatakan pada kamu untuk memanggil saya dengan sebutan 'Tante'..."


"Baiklah, Tant..."


"Ya sudah, apa kamu mau pulang dulu ke penginapan?" tanya Devia.


"Apa boleh?"


"Tentu, kamu bisa mulai bekerja besok saja!" jawab Devia sekaligus memberi usul.


Zahra mengangguk patuh.


Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dari luar dan nampak seorang pemuda yang menghampiri mereka.


"Ma..." sapa pemuda itu pada Devia dan saat itu juga Zahra tahu jika pemuda itu adalah anak dari Devia.


"Ah ya, Zaki... kenalkan ini Hana!" kata Devia pada sang anak.


Pemuda bernama Zaki itu mengulurkan tangan hendak bersalaman dengan Zahra, namun Zahra hanya tersenyum kecil sembari mengatupkan jemari didepan wajahnya.


Zaki tertegun, ia menatap tangannya sendiri yang tak mendapat sambutan dari jemari gadis yang dikenalkan sang ibu.


"Aku Zaki," ucap Zaki akhirnya, sembari mengembalikan posisi tangannya ke saku celana bahan yang ia kenakan.


"Hana," jawab Zahra pelan.


"Zaki, kamu bimbing Hana ya... dia akan menjadi perancang ide ditempat kita, tapi dia belum memiliki kemampuan menggambar,"


"Baik, Ma!" sahut Zaki patuh.


"Han, Zaki ini anak saya... kamu bisa menanyakan apapun kepadanya, kebetulan Zaki adalah pelukis desain, dia bisa memahami maksud dari ide yang akan kamu sampaikan dan dia yang akan menuangkannya dalam bentuk gambar nantinya."


"Zaki juga bisa mengajari kamu menggambar desain jika kamu mau. Ya kan, Zak?" tanya Devia memastikan pada sang anak.


Zaki yang masih terpaku pada gadis yang baru ditemuinya hari ini pun-- tidak begitu mendengar penuturan sang ibu. Ia hanya mendengar kalimat terakhir Devia yang menanyakan kesetujuannya.


"I-iya, Ma..." jawab Zaki akhirnya dengan ekspresi gugup yang tidak bisa ditutupi.


...Bersambung ......


...Like dan komen yah guys... berikan hadiah dan vote juga boleh♥️...

__ADS_1


...Yang nebak Devia adalah Mama kandung Zahra? Hm... iya apa enggak ya? Baca terus ya, biar tahu jawabannya✌️😁...


__ADS_2