Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Berkunjung


__ADS_3

Zahra sangat heran saat mobil yang dikendarai Ken berhenti disebuah bangunan yang berpagar menjulang tinggi.


Begitu Ken mengklakson mobilnya didepan gerbang itu, seorang security yang sepertinya adalah penjaga tempat itu--langsung tergopoh-gopoh untuk menghampiri mobil yang dikendarai oleh Ken. Begitu kaca jendela mobil Ken terbuka, security itu seakan tahu siapa yang tengah dilihatnya--kemudian segera membuka pintu gerbang tersebut, tanpa diminta oleh Ken.


"Apa security itu sudah mengenali, Ken? Tanpa perlu bertanya apa maksud dan tujuan Ken datang ke tempat ini?" batin Zahra.


Rasa heran yang Zahra rasakan, semakin bertambah tatkala mobil sudah benar - benar berhenti dipekarangan yang cukup luas.


"Ayo, turun Sayang!" Ken membukakan pintu mobil dan mengajak sang istri untuk turun. Senyuman Ken terlihat sangat jelas, tampak jika sekarang ia memanglah sangat bahagia kala membawa istrinya ke tempat ini.


Zahra pun menatap ke arah dimana sebuah bangunan yang cukup besar berdiri kokoh dihadapannya. Bukan hanya heran karena belum memahami bangunan apa yang kini ia tatap, tapi sekarang rasa lain bertambah dihatinya yakni rasa takjub dan terkejut.


Bagaimana Zahra tak merasakan hal itu, sebab kedatangannya dan Ken langsung disambut oleh banyaknya anak - anak kecil-- ada sekitar 20 orang dengan usia antara 7 - 14 tahunan. Mereka tampak berbaris rapi dikiri - kanan jalan setapak yang adalah akses masuk menuju pintu bangunan didepannya.


Semua anak - anak itu memegang setangkai mawar merah ditangan mereka.


Zahra menatap Ken sekilas, seolah bertanya ada apa ini? Namun Ken hanya mengangguk sebagai isyarat meyakinkan sang istri-- agar tetap berjalan melewati jalan setapak yang dipenuhi barisan anak - anak kecil.


Zahra pun mulai berjalan pelan, ia menggenggam tangan Ken yang juga memegang jemarinya. Mereka berjalan beriringan sampai didepan anak pertama yang sepertinya berusia paling kecil, diantara yang lain.


"Ini buat, Kakak..." celoteh anak itu semnari menyerahkan setangkai bunga mawar yang ia pegang kepada Zahra. Zahra menerima itu setelah Ken mengangguki seolah menyetujui jika sang istri boleh menerima itu.


"Terima kasih, Sayang." jawab Zahra lembut sembari membelai pelan wajah imut sang gadis cilik.


Kejadian itu pun terus berulang. Mulai dari kedua anak dibarisan pertama, berlanjut dengan barisan kedua yang juga memberikan tangkai - tangkai mawarnya pada Zahra, dan begitu seterusnya sampai barisan anak yang ia lewati hpir habis. Akhirnya, ditangan Zahra terdapat segenggam tangkai bunga mawar merah dan ia semakin merasa speechless dengan hal ini, karena ini salah satu hal romantis yang ia alami.


Dibarisan anak yang terakhir, Zahra pun masih mendapatkan dua tangkai mawar dari anak yang berbaris di kiri - kanannya.


"Ken, ini tempat apa?" bisik Zahra ditelinga Ken.


Ken hanya tersenyum. Kemudian berdehem - dehem sekilas, mereka kini beridiri diambang pintu masuk. Tampaknya Ken ingin mengucapkan sebuah kalimat, tapi ucapan serentak barisan anak - anak dihadapan mereka kembali membuat Zahra terkejut dan Ken urung menyuarakan kalimatnya.


"Selamat datang Abang Ken dan Kak Hana... selamat pengantin baru dan selamat menempuh hidup baru!" seru anak - anak serentak lalu bertepuk tangan riang.


"Ken mereka kenal kamu?" Zahra berguman disebelah Ken dan Ken menganggukinya sebagai jawaban.


"Terima kasih, ya. Sambutan kalian buat Abang sama Kak Hana terkejut sekaligus terheran - heran," ucap Ken dengan senyum menawannya.


"Siapa yang mengajarkan ini?" tanya Ken


Sepertinya pria itu juga tak tahu akan ada penyambutan seperti ini saat kedatangannya hari ini.


"Bang Darma..." sahut Anak - anak serentak.


Ken sudah bisa menebak jika Darma yang mengatur hal ini di Yayasan, sebab ia sempat mengatakan pada Darma jika ia ingin datang ke Yayasan bersama Zahra hari ini.


Tak berapa lama, anak - anak yang berbaris tadi mulai berjalan ke arah Ken dan Zahra, mereka menyalami tangan keduanya dengan takzim secara bergantian.

__ADS_1


Zahra benar - benar belum paham akan hal apa yang terjadi dan apa hubungan Ken dengan para anak - anak ini.


"Benar, kan, Bang ... jika kita memaafkan orang lain maka maaf kita juga akan diterima dengan mudah. Terima kasih banyak, ya, Bang. Aku udah boleh tinggal disini!" ucap seorang remaja perempuan berperawakan manis.


"Sama - sama, Rara! Saran kamu memang benar dan bermanfaat. Gimana, kamu betah tinggal disini?" tanya Ken.


"Betah... meskipun disini kayak tinggal di asrama. Tapi aku senang banget, aku jadi punya tempat tinggal yang layak dan akhirnya aku bisa sekolah lagi!" jawab Rara riang.


"Kak Hana, perkenalkan namaku Rara... aku senang akhirnya bisa bertemu kakak secara langsung, karena tadinya aku hanya melihat wajah kakak dari foto. Ternyata aslinya kakak jauh lebih cantik dari yang difoto." ujar Rara ramah. Rara pun menyalami Zahra dengan senyum yang terkembang.


"Makasih ya, Rara... kamu juga gadis yang manis, sekolahnya yang rajin nanti!" sahut Zahra yang cukup terkesima pada ucapan Rara. Namun, tetap saja ia belum bisa mencerna semua ini. Apalagi tentang ucapan Rara terhadap Ken tadi--tentang maaf dan dimaafkan.


Setelah selesai bersalam - salaman dengan anak - anak itu, Ken mengajak Zahra masuk ke bagian dalam bangunan.


Zahra menatap ruang utama yang mereka masuki, seperti lobby receptionis yang sederhana namun tampak bersih dan barang - barangnya tertata rapi. Ada beberapa orangtua yang duduk santai disana sembari menyapa Ken dan juga tersenyum hangat pada Zahra.


Ken dan Zahra semakin masuk kedalam area bangunan dan menemukan gerbang yang lain, disana Zahra kembali melihat lapangan luas dan terdapat beberapa bangunan lain yang di bangun secara terpisah.


"Sebenarnya ini bangunan apa, Ken? Kenapa kamu membawa aku kesini?"


"Kamu gak suka ya?" tanya Ken.


"Bukan begitu, aku masih bingung dengan keadaan dan bangunan ini. Soal senang, tentu saja aku senang, Ken. Aku bahkan takjub dengan sambutan mereka semua terhadap kita."


"Ya, karena Darma sudah bilang pada mereka bahwa kamu dan aku baru saja menikah."


"Darma? Yang pernah bertemu aku di bengkel?"


"Dia tinggal disini?"


"Ya, sejak dia masih usia sekolah, mungkin sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu."


"Lalu, ini gedung apa sebenarnya? Kenapa banyak anak - anak kecil? Apa ini semacam panti asuhan? Tapi, aku juga lihat banyak orang tua yang duduk di lobby depan dan di sekitar bangunan sana!" ucap Zahra sembari menunjuk lewat pandangan matanya.


"Sebenarnya ini sebuah Yayasan yang dibangun dengan niat amal, awalnya hanya untuk menampung anak - anak jalanan yang tak punya orangtua dan tempat tinggal. Tapi lama kelamaan, banyak juga jompo yang boleh menetap disini."


"Wah, dermawan sekali orang yang membangun tempat sosial seperti ini. Apa Yayasan ini resmi, Ken?"


"Awalnya tidak, tapi sekarang sudah resmi." Ken tersenyum.


"Lalu, apa kamu mengenal orang dermawan yang membangun gedung ini?"


Ken terkekeh. "Aku gak kenal," jawab Ken. "Tapi mungkin kamu mengenalnya?" lanjutnya.


"Aku? Mengenalnya?" Zahra menggeleng, merasa tak mengenal orang sedermawan ini--yang mungkin membangun yayasan seperti ini. Siapa?-batinnya.


"Terus, kenapa semua orang disini mengenal kamu? Kamu pernah tinggal disini atau sering main disini karena berteman dengan Darma?"

__ADS_1


Ken memilih tak menjawab pertanyaan Zahra itu, ia justru menerangkan pada Zahra tentang bagian bangunan berserta fungsinya masing - masing.


"Jadi, bangunam yang disana khusus asrama putri. Disana menampung anak perempuan yang masih usia sekolah. Mereka disekolahkan oleh Negara dan Yayasan ini membantu mengurus sarana dan prasarananya."


Zahra manggut - manggut paham.


"Kalau yang disana asrama putra, usia sekolah juga."


"...mereka semua hidup dijalanan, tidak punya tempat tinggal dan sering diekploitasi oleh orang - orang yang salah, hanya mau memanfaatkan mereka demi uang dan uang."


"Iya, banyak kasus seperti itu. Kasian ya."


Ken mengangguk.


"Kalau yang sudah dewasa seperti Darma tinggal dimana?"


"Mereka yang sudah tamat sekolah dan mendapat pekerjaan, boleh keluar dari asrama ini untuk mencari jati diri. Tapi, apabila masih mau tinggal disini juga, tetap diperbolehkan. Diujung sana ada semacam rumah kontrakan 10 pintu. Itu untuk tempat mereka yang lajang atau berkeluarga. Masing - masing menempati satu rumah. Apabila ada rezeki lebih, boleh ditambah lagi jumlah rumah kontrakannya."


"Jadi, yang dulunya tinggal disini terus berkeluarga juga masih diperbolehkan tinggal juga dengan membawa keluarganya?"


Ken mengangguk. "Selama dia belum memiliki tempat tinggal, tidak masalah, daripada hidupnya terlonta-lonta dijalanan."


"Apa itu tidak membuat mereka jadi malas? Karena hanya menikmati fasilitas di yayasan ini?"


Ken tersenyum kecut. "Mereka tetap harus membayar uang sewanya, sayang. Jadi kepala keluarga tetap harus bekerja, itulah gunanya mereka disekolahkan oleh negara. Agar mereka bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dari jenjamg pendidikan yang cukup."


"...dan jika sudah bekerja lalu menikah, mereka harus fokus bekerja, karena anak dan istrinya sudah punya tempat tinggal disini dengan layak. Jadi, kepala keluarga pun bisa tenang untuk mencari nafkah. Mereka juga tetap harus membayar token listrik dan air. Tapi, Yayasan memberi keringanan harga."


"...dengan bantuan itu, lama kelamaan, banyak dari mereka yang sukses karena bisa menabung dan membuat usaha sendiri lalu membangun rumah sendiri juga."


"Aku jadi penasaran siapa pemilik yayasan ini. Dia memikirkan strategi menolong yang tidak tanggung-tanggung. Ini keren, Ken! Kalau aku punya uang banyak, aku pasti buat seperti ini juga!" Zahra menatap Ken serius dengan antusiasme tinggi.


Ken terkekeh pelan kemudian mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab.


"Kalau diujung sana? Itu bangunan apa?"


"Nah, itu khusus jompo. Biasanya ada yang ditemukan dijalanan, ada pula yang sengaja dititipkan anaknya kesini, mereka bahkan membayar untuk hal itu. Kasian ya? Sudah tua justru anaknya tidak mau merawat." Ken tersenyum miris.


"Ya Allah, kasian para orangtua itu. Apa aku boleh menemui mereka?"


"Apapun untuk kamu, Sayang. Apalagi cuma hal itu, ayo!"


Ken kembali menggandeng tangan Zahra dan mereka menuju area tempat para jompo berada.


Disana sangat hingar, karena menyambut kedatangan Ken. Hampir semua dari mereka menyambut Ken dengan senyuman hangat. Bahkan ada yang menganggap Ken adalah anak mereka.


"Semua yang ada disini adalah keluargaku, Sayang. Tapi sejak ada kamu, mereka jadi keluarga kita. Apa kamu keberatan?"

__ADS_1


Zahra tersenyum. "Kalau begitu, aku akan sering mengunjungi keluarga kita disini!" jawabnya tenang.


*****


__ADS_2