Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Seperti Dejavu


__ADS_3

Ken menyambangi kediaman Ayahnya disiang hari. Padahal ia sedang sibuk mencari keberadaan Zahra lagi hari ini, namun mendengar nada lain dari suara sang Ayah saat meneleponnya tadi, mau tak mau ia pun harus menemui pria baya itu untuk menanyakan apa yang mau disampaikan.


Tak pernah disangka, kedatangannya kerumah sang Ayah ternyata sudah ditunggu oleh tiga orang yang duduk di ruang tamu dengan tatapan mengintimidasinya.


Disana tentu saja ada sang Ayah, Ibu tirinya dan Adik tirinya yang terkasih, Frans.


Terkasih? Ken mengumpat keras dan terbahak dalam hati. Itu tidak akan pernah terjadi didunia manapun.


"Duduk Ken!" titah sang Ayah.


Ken duduk tepat diseberang keberadaan Frans dan Irene, sang ibu tiri. Disisi kanannya, ada Bagas yang duduk di single sofa.


"Kenapa, Pa?" tanya Ken. Ia cukup heran dengan panggilan mendadak ini, seharusnya Papanya dan Frans masih berada di kantor pada jam ini.


Bagas mengusap wajahnya sekilas, berdehem beberapa saat, kemudian menatap Ken dengan intens.


"Tolong beri papa jawaban yang paling jujur, Ken!" kata Bagas.


Mendengar itu, perasaan Ken mulai tak enak, ia seperti berada dalam persidangan sekarang.


Apalagi ini? Ia langsung merasa dejavu, kejadian semacam ini pernah terjadi dalam hidupnya, dulu. Saat ia terlibat baku hantam dengan Frans di masa SMP dan saat itu, ia lah yang terpojokkan. Ia dijauhi kawan-kawannya yang toxic, dibully dan dikucilkan, menyisakan rasa trauma padanya dalam masa-masa sekolah sehingga menyebabkannya menutup diri dengan teman sekolahnya, bahkan saat SMA, ia lebih memilih tak mempunyai teman dalam dunia persekolahan.


"Apa yang ingin Papa tanyakan?" tanya Ken pelan, ia yakin ada yang tak beres sekarang.


"Apa benar kamu telah melec*hkan Zahra?"


Deg...


Tak salah lagi, ini pasti aduan dari Frans. Damned!


Ken tak menjawab, lebih memilih diam.


"Apa benar, Ken?" tanya Bagas dengan nada suara yang naik beberapa oktaf.


Ken tetap diam dengan tangan mengepal. Rasa semacam ini, pernah juga dia rasakan dulu, terpojok dan tak bisa menjawab walau sebenarnya bisa ia menyanggahnya. Terlebih lagi sekarang, ia tidak melakukan hal sejauh perkiraan Papanya terhadap Zahra, tapi jika ia mengaku tidak melakukan apapun pada Zahra, maka semua akan sia-sia, Frans akan mengambil sikap dengan merebut Zahra darinya, apalagi Frans juga sudah tahu jika gadis itu yang Ken cintai selama ini.


Tidak! Ken tidak bisa berterus terang pada Ayahnya.


"Diammu berarti iya, Ken!" ucap Bagas.


Tepat seperti masa lalu! Bagas juga menyimpulkan kediaman Ken seperti saat ini.


"Apa Papa mendengar ini dari Frans?" tanya Ken sembari menyorot Frans dengan tatapan membunuhh.


Frans diseberangnya hanya tersenyum mencibir.

__ADS_1


"Itu tidak penting, yang terpenting jawaban kejujuranmu, Ken!"


"Aku sudah lebih dulu jujur pada Papa tentang niatku untuk menikahi Hana!" ujar Ken.


"Ya, tapi niat itu karena kamu telah melec*cehkannya, kan?"


"Tidak, Pa!"


"Lalu?"


"Itu karena Hana mengatakan bahwa dia mencintaiku, aku---"


"Bullshitt!!" gumam Frans diujung sana, seolah memprovokasi sang Papa.


"Ken, papa senang kamu mau bertanggung jawab dengan menikahi Zahra!" ucap Bagas membuat Ken dan Frans terkejut, begitu pula dengan Irene yang diam tanpa kata sejak tadi.


"Tapi, Papa tidak mengizinkan jika kamu menikahinya dengan niat tertentu! Zahra itu gadis baik-baik, Papa mengenalnya sejak kalian masih SMA, dia yang membantumu belajar dan Papa sangat bangga dengan gadis seperti dia! Secara tidak langsung, Papa sudah menganggap Zahra seperti anak Papa sendiri, jangan sakiti dia dengan niatmu, Ken!" kata Bagas tegas.


Ken menggeleng, ia bangkit dari posisinya dan menatap pria yang memiliki perawakan mirip dengannya itu.


"Aku sudah mengatakan pada Papa, jika aku mencintai Hana! Aku tidak mempunyai niat buruk terhadap Hana. Tidak perlu bertanya apa yang sudah ku lakukan kepadanya! karena hanya aku yang mengetahuinya! Jangan menyidangku seperti anak kecil, karena aku sudah dewasa!" marah Ken dengan wajah memerah.


"Baik," Bagas berdiri juga dari duduknya. "Jika kau merasa sudah dewasa dan merasa semua perbuatanmu adalah benar, lakukanlah sesukamu, Ken!" kata Bagas.


Ken mengangguk mantap. "Ya, aku akan tetap menikahinya dengan atau tanpa restu dari papa sekalipun!" kata Ken menekankan kata-katanya.


Ken tersenyum miring.


"Pa..." Frans dan Irene tampak ingin protes dengan keputusan bagas.


Tapi, Bagas sudah menaikkan tangan sebagai isyarat agar ibu dan anak itu tak angkat suara.


Terjadi keheningan beberapa saat sampai Frans tak bisa menahan lagi untuk bicara.


"Apa kau yakin Zahra tidak akan menuntutmu karena kasus ini?" tanya Frans mencibir dengan senyuman kecut.


"Dia mencintaiku..." kata Ken pongah.


"Ku rasa tidak lagi setelah apa yang kau perbuat padanya!" jawab Frans dengan gemuruh didadanya saat mengetahui perasaan Zahra terhadap Ken.


"Mungkin dia akan membenciku, tapi pada dasarnya dia mencintaiku sudah sejak lama, lalu bagaimana denganmu, Frans?" Ken tersenyum mengejek.


"Kau lupa? Jika dia pingsan saat bersamamu? Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ku rasa dia juga akan membencimu, Frans!" sindir Ken dengan senyuman penuh artinya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Bagas tak mengerti arah pembicaraan Ken yang sepertinya menyindir perbuatan Frans.

__ADS_1


"Kau lihat? Kau hanya mengadukan perbuatanku pada Papa, kau tidak mengakui perbuatanmu sendiri, Frans! Kau bertingkah sama seperti Anak SMP!" ejek Ken.


Mendengar itu, Frans bangkit dari duduknya dan ingin melayangkan tinju ke wajah Ken yang mengoloknya, namun tindakannya itu langsung dicegah oleh Irene yang berdiri disebelahnya.


"Jangan, Frans..." kata Irene menggeleng dengan wajah mengiba untuk menahan tindakan Frans.


Frans pun mendengkus keras.


"Papa harus tetap menghukumnya atas perbuatannya yang keterlaluan!" kata Frans kembali memprovokasi.


Ken terkekeh pelan. "Dasar kekanakan!" kata Ken pelan namun tetap terdengar semua orang yang ada disana.


"Ken, tindakanmu memang keterlaluan! Kamu harus menerima konsekuensinya, Ken!"


"Ya, Pa... hukum saja aku!" kata Ken tenang.


"Meski Zahra tidak melaporkanmu, tapi Papa tetap harus memberimu pelajaran agar kamu dewasa!"


"Terserah Papa saja, aku tidak peduli!" kata Ken mencoba beranjak dari sana, ia muak berada dalam ruangan itu.


"Papa mencabut namamu dari pewaris Papa, Ken!" ucap Bagas tegas dan itu berhasil menghentikan langkah Ken di ambang pintu keluar.


Frans dan Irene tersenyum sinis mendengar ujaran Bagas, ini benar-benar setimpal untuk perbuatan Ken-pikir mereka. Ken benar-benar akan menjadi gelandangan.


"Semua fasilitas atas namamu, akan papa cabut!" kata Bagas pelan dengan berat hati.


Ken berbalik, ia mengangguk samar. "Baik," katanya tenang.


Ken mengeluarkan dompetnya dari saku celana jeans belel yang ia kenakan.


Mengeluarkan semua debit, credit card dan tak lupa mengembalikan kunci mobil sport yang difasilitasi oleh Ayahnya.


"Ini semua harta Papa!" kata Ken tersenyum miris.


Bagas terdiam, ia tak menyangka Ken menyerahkan semua dan pasrah begitu saja, ia kira Ken akan menolak atau melawan titahnya lagi kali ini, tak disangka ternyata Ken berbesar hati dengan hukuman yang ia berikan.


"Papa beri saja semua itu pada anak tiri Papa. Papa jadikan aku gembel dan Papa muliakan dia!" Ken menunjuk Frans dengan telunjuknya.


Frans tersenyum miring dengan puas.


"Aku pergi, Pa..." kata Ken. "Ah ya, apa aku masih boleh memanggilmu dengan sebutan Papa?" tanyanya kemudian.


Bagas masih terdiam dan terpaku melihat sikap Ken yang tak membantahnya, padahal yang Bagas harapkan adalah Ken mau mempertahankan yang memang sudah menjadi hak milik Ken. Namun, tak disangka, Ken justru bersikap seperti ini.


"Ken..." ucap Bagas dengan perasaan menyesal.

__ADS_1


"Aku harap, setelah ini jangan campuri urusanku, Pa! Dan ku pastikan Hana akan menjadi istriku!" kata Ken menatap Bagas dan Frans bergantian.


...Bersambung ......


__ADS_2