
"Ada apa dengan Jenar?" Rupanya Frans ingin langsung membahas pokok pembicaraan yang ingin Ken tanyakan.
"Ternyata kau benar-benar mengenalnya," ucap Ken dengan senyuman tipis.
"Ya, kami hanya saling mengenal, tidak lebih!" Frans menekankan kata.
"Oh ya? Aku tidak yakin...."
"Apa maksudmu?"
"Sejauh apa hubunganmu dan Jenar?" tanya Ken to the point.
"Sudah ku bilang aku hanya mengenalnya, tidak lebih dari itu!" tegas Frans.
"Baiklah, aku hanya ingin menanyakan hal itu." Ken ragu untuk menanyakan perihal kehamilan Jenar pada Frans, karena bisa saja Frans menyerangnya balik jika tahu mengenai hal ini. Intinya, Ken sudah bisa menilai jika Frans tak tahu menahu tentang kehamilan Jenar.
Ken akan menanyai pria itu lagi setelah ia memiliki bukti kuat, agar Frans tak bisa mengelak dan tidak melakukan playing victim lalu berakhir melemparkan kesalahan pada Ken.
"Apa ada yang terjadi pada Jenar?"
Ken menghentikan langkah, ternyata Frans memang tak mungkin percaya begitu saja jika Ken hanya ingin mengetahui tentang perkenalan pria itu dengan Jenar, Frans pasti bisa membaca jika sesuatu telah terjadi.
"Kapan terakhir kau bertemu dengannya?" Ken malah balik bertanya.
"Aku tidak ingat. Katakan padaku apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada, semuanya baik."
"Jangan katakan kalau kau masih berhubungan dengannya hingga menyakiti Zahra!"
Ken tersenyum tipis. "Kau mau ambil peran jika aku menyakiti istriku?" tanya Ken dengan nada mencibir.
Wajah Frans memerah menahan amarah. "Lakukanlah! Aku akan menggantikan posisimu!" katanya akhirnya.
"Itu tidak akan terjadi sekalipun dalam mimpimu, Frans." Ken beranjak meninggalkan Frans yang sudah mengepalkan tangannya.
_
Ken dan Zahra ingin pamit untuk pulang dari kediaman Bagas, rencananya mereka akan kembali ke rumah mereka sendiri bukan ke rumah Rasta lagi. Namun, saat mereka ingin pulang Bagas mencegah kepergian anak dan menantunya itu.
"Tinggallah disini beberapa hari, papa senang kalian disini. Suasana rumah jadi lebih ramai. Papa rindu Ken. Hanya keinginan sederhana semacam inilah yang Papa inginkan dihari tua Papa."
Ken menggeleng, sejak dulu saja ia tidak bisa seatap dengan Frans. Apalagi sekarang saat ia sudah datang kesini bersama Zahra-- istrinya yang juga dicintai adik tirinya itu.
"Ken, Papa mohon ... singkirkanlah egomu, Nak. Papa ini sudah tua, mungkin waktu Papa untuk bersama kalian tidak lama lagi." Bagas menatap Ken dengan mata berkaca-kaca, membuat Ken terenyuh hati nuraninya.
Zahra meyakinkan Ken bahwa semuanya akan baik-baik saja hingga akhirnya Ken setuju untuk menginap dikediaman sang Ayah. Mengingat kondisi Bagas yang juga tak sehat, membuat Ken mau tak mau menuruti permintaan Ayahnya itu.
"Jika dengan keadaan sakit kamu mau mengabulkan permintaan Papa seperti ini, Papa lebih baik tetap sakit."
__ADS_1
"Pa, Papa gak boleh ngomong begitu!" Ken tak senang mendengar ucapan Papanya, walau hubungannya dengan sang Ayah tidak begitu baik akhir-akhir ini namun dilubuk hati Ken yang terdalam tetaplah mengakui jika Bagas yang telah menghidupinya selama bertahun-tahun.
"Habisnya, berapa kali Papa meimnta kamu untuk pulang? Berapa kali Papa minta kamu untuk menginap dan tinggal lagi dirumah ini? Bahkan sebelum kamu menikah berulang kali papa meminta kamu tinggal disini tapi kamu bersikukuh tidak mau."
Ken tak mau mendebat omongan sang Papa, ia hanya diam dan menurut kali ini. Tak lama lagi ia menjadi seorang Ayah juga, jadi dia tak mau menyakiti hati Bagas terus menerus.
_
Selesai makan malam yang hanya diisi dengan senyap, Ken menutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia menggandeng tangan Zahra, tak membiarkan istrinya itu lepas sedikitpun dari pengawasannya. Ia terlalu takut jika Frans menghampiri Zahra, ia takut miliknya kembali diambil oleh Frans seperti dimasa lalu. Meski ia tahu Zahra tak mungkin meninggalkannya namun ia tetap merasa takut.
"Sayang, pakai ini, ya..." kata Ken yang membongkar pakaian istrinya yang ada di tarvel bag--Travel bag yang Zahra bawa saat minggat ke rumah Rasta, karena niatnya mereka akan lanjut pulang kerumah, maka travel bag itu memang sudah Zahra bawa didalam bagasi mobil, nyatanya ia dan Ken justru kembali menginap dikediaman Bagas.
Zahra menatap pakaian yang disodorkan Ken padanya. Sebuah lingerie hitam yang entah kenapa bisa berada didalam travel bag itu. Mungkin karena waktu mengemasi baju-bajunya, Zahra tak melihat-lihat, hanya mengepaknya begitu saja karena perasaan kesalnya waktu itu.
Zahra ingin menolak, namun karena Ken sudah memilihkan, mau tak mau ia menerimanya.
Membuat hati suami senang tidak ada salahnya, kan?
"Sekarang?" tanya Zahra pada Ken.
"Iya, sekarang ganti bajunya. Kita gak akan keluar kamar lagi, kok. Udah makan dan udah shalat isya juga!"
Zahra mengangguk. "Aku ganti baju dulu, ya." Ia ingin beranjak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, namun Ken menahannya.
"Ganti disini aja!" desis Ken ditelinga Zahra, membuat kulit tubuhnya meremang.
Dengan gusar, Zahra pun mengganti pakaiannya dengan lingerie yang Ken pilihkan.
"Jangan gitu dong, Ken! Aku malu!"
Ken terkekeh pelan. "Iya, aku tutup mata," ucapnya tak benar-benar serius.
Akhirnya, Zahra berhasil mengganti pakaiannya dengan baju pilihan suaminya. Zahra segera beringsut menuju tempat tidur dan menyelimuti diri sampai menutup seluruh tubuh hingga kepalanya dengan bedcover.
Ken tersenyum puas, perlahan mulai mendekati Zahra dengan senyuman penuh maksud.
Ken memeluk tubuh Zahra yang bergelung dengan selimut, mencoba menyibak selimut yang Zahra kenakan.
Berhasil dengan hal itu, Ken mulai menelusupkan wajah diantara ceruk leher istrinya. Menghirup aroma tubuh Zahra dalam-dalam, feromon yang Zahra miliki memang selalu membuatnya kecanduan.
Zahra terpejam, merasakan sensasi geli yang dihasilkan dari sentuhan hidung dan bibir Ken di lehernya, satu desahhann lolos dari bibirnya, membuat Ken tidak sabar melanjutkan aksinya. Ken pun bergerak, menatap bibir ranum milik Zahra, tak sabar ingin mencicipi itu dan mereguk rasa manisnya.
Secara perlahan, Ken mulai mengikis dan memangkas jarak diantara mereka.
Cup!
Baru satu kecupan mendarat di bibir sang istri, belum naik ke tahap selanjutnya, namun panggilan dari ponsel Ken membuyarkan segalanya.
Ken menghentikan cumbuannyaa sejenak, namun kemudian berniat mengabaikan dering ponsel itu, ia melanjutkan lagi kegiatannya, namun Zahra segera menelusupkan jemari diantara bibirnya yang hampir mendarat lagi di bibir sang istri.
__ADS_1
"Angkat teleponnya, siapa tahu penting!" kata Zahra dengan berbisik pelan.
Ken pun menghela nafas berat, gairahhnya harus teredam sesaat karena telepon yang entah dari siapa.
Diambilnya ponsel yang tegeletak diatas meja nakas. Melihat nama si penelpon dan ia menjadi terduduk tegak lalu menerima panggilan itu secepat kilat.
"Lo perlu apa sama gue? Gue tunggu lo di Club sekarang!" tanya Chandra dari seberang sana.
Ken menatap Zahra sejenak. Kemudian kembali fokus pada panggilan diponselnya.
"Bukannya lo di rehab?"
"Formalitas aja, Bro! Gue juga udah lama gak make!" kata Chandra enteng.
"Oke nanti gue hubungin lo!" Ken menutup teleponnya, kemudian menatap pada sang istri.
Sebenarnya Ken masih ingin melanjutkan kegiatannya bersama Zahra, namun pertemuannya dengan Chandra tidak bisa ditunda lagi karena ia harus mencari bukti secepatnya sebelum Frans menyadari apa yang terjadi.
"Ada masalah?" tanya Zaha menatap Ken lekat.
"Ini menyangkut bukti yang aku cari, terkait pengakuan Jenar soal kehamilannya. Aku memang sedang mengumpulkan bukti bahwa dia berhubungan dengan lelaki lain dalam beberapa bulan terakhir. Aku ingin memegang bukti itu, agar Jenar tidak menuntutku lagi." Ken menyelipkan rambut Zahra kebelakang telinga.
"Hmm, kenapa kamu yakin sekali kalau anak yang dikandung Jenar adalah anak lelaki lain dan bukan anak kamu?"
"Maaf jika kamu akan marah mendengar hal ini, tapi.... sebelumnya aku selalu memakai pengaman jika berhubungan dengan dia."
Zahra diam beberapa saat, hatinya sebenarnya sakit mendengar kenyataan bahwa Ken memang sering melakukan hal itu dengan Jenar dulunya, namun ia meyakinkan diri bahwa sekarang pria yang ada didepan matanya ini sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Lalu, apa hanya itu yang membuat kamu yakin jika Jenar mengandung anak pria lain?"
"Bukan hanya itu, usia kehamilannya jauh berbeda dari waktu terakhir kali kami melakukannya, usia kehamilannya nyaris sama dengan usia kandungan kamu. Itu yang membuat aku paling yakin bahwa Jenar hanya berniat menghancurkan rumah tangga kita. Dia berniat menjebakku!"
"Pergilah, Ken. Jika kamu memang yakin dengan semua pemikiran kamu, carilah bukti itu!" kata Zahra.
"Tapi kamu apa gak apa-apa aku tinggal disini sendirian?"
"Gak apa, aku dikamar aja gak keluar lagi."
"Tapi aku ragu ninggalin kamu disini, aku juga gak mungkin ajak kamu ke Club."
"Kenapa ragu?"
"Aku memikirkan Frans. Kamarnya tepat disebelah kamar ini."
Zahra menggeleng. "Dia gak akan bisa masuk kesini, kamar kamu pakai password kan?"
"Iya, tapi aku tetap gak tenang ninggalin kamu."
"Gak apa, Ken..." Zahra meyakinkan Ken. "Urusan kamu juga penting, kan?" ucapnya lagi.
__ADS_1
*******