
Ken datang mengunjungi Frans di lapas dengan niat untuk membuka pikiran adik tirinya itu mengenai kondisi Jenar yang tengah berbadan dua. Meski Ken tidak yakin hati Frans akan terbuka mendengar segala pernyataannya nanti, tapi yang terpenting Ken sudah mencobanya.
Sebenarnya Ken melakukan ini bukan karena empati pada Jenar apalagi pada Frans, hanya saja ini permintaan Zahra yang memintanya untuk membujuk Frans agar mau bertanggung jawab pada Jenar. Zahra cukup peduli terhadap nasib anak didalam kandungan Jenar, mungkin karena Zahra juga tengah mengandung, sehingga mau tak mau Ken pun mengunjungi hotel prodeo dimana Frans tinggal sekarang.
"Kau?" Frans langsung menatap sinis saat tahu yang mengunjunginya adalah sang kakak tiri yang merangkap rivalnya.
Ken duduk disebuah kursi yang berbatasan dengan sebuah meja kayu panjang dihadapan Frans yang masih berdiri seolah enggan untuk duduk dihadapan Ken.
"Mau apa kau kesini? Jika untuk mengejekku lebih baik kau pulang saja!" sarkas Frans.
Ken hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Aku bukan ingin melakukan hal yang kau tuduhkan. Aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal semacam itu. Aku cuma ingin membahas tentang Jenar."
"Kenapa lagi dengan dia?"
"Jangan berlagak tak tahu jika sebenarnya kau tahu mengenai kehamilannya."
Frans tertawa sumbang. "Oh..." katanya tersenyum tipis.
"Kau tahu jika yang dikandungnya adalah darah dagingmu, kan!"
Ken memberi pernyataan bukan pertanyaan sehingga Frans hanya diam tak menyahuti ucapan pria itu.
"Aku kesini cuma ingin mengingatkanmu. Anak yang dikandung Jenar itu ... mau kau akui atau tidak, pada kenyataannya itu tetaplah anakmu. Jangan biarkan anak itu hidup tanpa sosok seorang Ayah, karena jika itu terjadi ... anak itu akan tumbuh menjadi seseorang yang sepertimu!"
"Ternyata kau mau mengejekku karena aku yang tidak punya ayah!" kekeh Frans.
Ken menggeleng. "Kau cukup tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa figur ayah, ku harap kau tidak membiarkan anakmu merasakan hal yang sama. Bertanggung jawablah karena aku yakin Jenar mau menerimamu!"
Frans tercenung mendengar ucapan Ken yang begitu menohok, sedikit banyak ucapan Ken memang membuatnya menjadi berpikir tentang anak yang dikandung Jenar, padahal selama ini dia tidak pernah memikirkan nasib janin itu.
Ken pergi setelah memberikan Frans titipan yang Zahra berikan.
"Ini adalah titipan istriku. Hana sangat berharap kau mau menggunakannya. Tapi, jangan pernah mengharapkannya lagi karena sampai kapanpun dia tetap istriku dan dia memberikan ini padamu sebab dia menganggapmu sebagai teman sekaligus adik iparnya!"
Frans membuka bingkisan yang dikatakan Ken sebagai titipan dari Zahra, ternyata isinya adalah sebuah kopiah dan sajadah. Sebuah hadiah dari Zahra yang tak pernah disangkanya, hadiah itu seperti teguran keras dari Zahra seolah mengingatkannya tentang sebuah kewajiban yang telah lama ia tinggalkan.
_____
Hari ini Ken bersama Rasta dan Chandra menemui Jenar dikediamannya. Ken sengaja mengajak kedua orang temannya itu agar Jenar tidak mengambil kesempatan untuk mengelabuinya lagi.
"Ken...." Jenar terkejut mendapati Ken yang datang ke rumahnya sore ini. Beberapa bulan ini ia memang tidak ke klinik kecantikannya karena kehamilannya membuatnya malas untuk kemana-mana, hanya sesekali ia keluar rumah untuk keperluan mendesak dan waktu itu untuk melihat persidangan Frans.
"Ini..." Tanpa tedeng aling-aling Ken langsung menyerahkan map kearah Jenar.
__ADS_1
"Apa ini?" Jenar mengernyit keheranan. Sedetik kemudian ia menatap Ken dengan tatapan memicing. "Jangan bilang ini surat perjanjian itu!" katanya tak acuh.
"Iya, itu perjanjian yang menyatakan bahwa kau tidak akan menuntutku mengenai kehamilanmu karena anak itu memang bukan darah dagingku melainkan anak kandung Frans. Disitu juga tertera, jika suatu hari kau menuntutku lagi atas dasar tanggung jawab yang sama ... maka kau bersedia memberiku kompensasi berupa aset dan sejumlah uang yang tertera disana!" Ken merujuk pada surat perjanjian yang sudah dipegang Jenar.
Jenar pun segera membuka surat perjanjian itu dan membacanya sekilas.
"Yang benar saja, Ken! Kau memintaku memberi aset klinik kecantikan milikku beserta ganti rugi uang 500 Milyar?" pekik Jenar tak percaya.
Ken mengangguk. "Benar sekali! Kau pintar," katanya tersenyum tipis.
"Mana mungkin aku memberikan semua ini sebagai bentuk kompensasi!" kata Jenar tak terima.
"Ya aku juga tidak mengharapkan seluruh hartamu itu, Jen! Uangku masih banyak! Itu hanya akan kau berikan jika kau melanggar kesepakatan ini. Jika kau menuntutku dikemudian hari, barulah surat ini ku keluarkan agar kau tidak macam-macam lagi."
"Kalau aku tidak mau menandatangani semua ini, bagaimana?" ancam Jenar.
"Ya siap-siap aja nama baik lo akan tercemar," timpal Chandra.
"Apa maksudmu, Chand?"
"Semua bukti hubungan lo sama Frans itu udah ada. Rekaman pengakuan lo tentang anak yang lo kandung adalah anak Frans juga udah ada. Termasuk fitnahan lo ke Ken... yang justru mau membuat Ken agar menanggungjawabi kehamilan lo. Komplit semua! Jadi, lo tinggal pilih mau tanda tangan surat itu atau image lo yang baik dimata semua orang bakal hancur saat semua bukti ini kita sebar ke media."
Jenar terdiam, mana mungkin ia membiarkan semua ini menghancurkan image baik yang ia bangun bertahun-tahun. Ia merupakan owner klinik kecantikan yang cukup populer di Ibukota, mengendors klinik miliknya dengan kecantikannya sendiri hingga hal itu menjadikannya selebgram secara tidak langsung. Dimata publik, ia adalah orang yang begitu sempurna, baik secara penampilan fisik maupun sikap dan kepribadiannya, jadi mana mungkin ia menghancurkan segalanya karena satu kesalahan.
Dengan wajah merah padam menahan amarah, akhirnya Jenar pun menyetujui untuk menandatangani surat perjanjian Ken dan berjanji tidak akan menuntut lagi dikemudian hari.
"Kami gak selicik itu, Jen!" timpal Rasta yang akhirnya buka suara. Ia tersenyum puas, akhirnya Jenar menandatangani surat itu juga, sedikit banyak Rasta cukup khawatir jika wanita seperti Jenar mengacaukan rumah tangga Adiknya.
"Apa ucapan kalian bisa dipegang? Aku mau semua bukti itu dihapus habis, karena aku sudah menandatangani surat perjanjiannya!"
"Oke," jawab Ken cepat. "Tapi ada syaratnya!" lanjutnya dengam senyum penuh maksud.
"Apa lagi? Syarat? Kau benar-benar memanfaatkan posisiku yang terpojok, Ken!"
"Hahaha, syaratnya tidak berat. Kau hanya perlu meminta maaf pada istriku!"
"Enggak, aku gak mau melakukan hal seperti itu!" jawab Jenar cepat, ia tak mau merendahkan diri didepan Zahra.
"Kalau begitu, bukti ini akan terus berada padaku. Meski tidak akan ku sebarkan tapi tetap saja masih ada jejaknya."
Ken tertawa dibarengi tawa Chandra dan Rasta.
"Dasar licik!" kata Jenar geram.
______
__ADS_1
Ken dan Zahra bersiap untuk mengemasi barang-barang mereka ke dalam koper karena esok hari mereka akan segera melakukan perjalanan untuk menetap sementara di Jepang.
Selain untuk berlibur, mereka akan menenangkan diri dari permasalahan yang sempat mendera kehidupan rumah tangga mereka baik karena ulah Jenar maupun karena Frans.
"Udah siap semua?" tanya Ken memastikan pada istrinya.
"Udah, sayang."
Ken membawakan koper yang telah siap untuk diletakkan di ruang depan agar bisa dengan mudah diangkut ke mobil esok hari.
"Ken, aku kepikiran Cira..." kata Zahra, ia mengingat Cira yang sudah tinggal dirumahnya selama satu minggu ini. Rasta yang mengantarkannya karena tak punya pilihan lain sebab tak mungkin juga Cira tinggal dirumahnya, kan?
"Kenapa dengan Cira? Dia akan baik-baik saja disini, Mama juga akan tetap disini bersama Cira. Mama kan kepengen punya anak cewek dari dulu... biarin aja lah!"
"Bukan soal itu, dia kan harus tetap sekolah sementara dia masih takut ke sekolah, takut orangtua angkatnya itu mencari sampai kesekolahnya!"
"Ya udah, nanti Cira lanjut home schooling aja dirumah. Biar aku biayain," kata Ken tenang.
"Makasih ya, Sayang."
"Iya, Sayang... aku juga udah kenal dia sejak dia kecil, udah aku anggap adik sendiri juga!"
"Iya deh... kamu memang yang terbaik," kata Zahra mengacungkan jempol pada sang suami.
"Yang aku pikirkan justru kalau orangtua angkatnya ngelaporin soal hilangnya Cira ke kantor polisi. Gimana kalau itu kejadian... sementara kita udah berada di Jepang," kata Ken.
"Iya sih... mudah-mudahan Kak Dirga bisa lindungin Cira deh!"
"Kamu denger gak soal perlindungan terbaik untuk Cira yang disarankan sama kakak kamu itu?"
"Enggak... apa emang?"
"Rasta gak cerita ke kamu?"
"Belum, mungkin."
"Jadi, Cira itu disarankan sama Rasta supaya menikah diumurnya yang ke 17 tahun supaya lepas dari orangtua angkatnya itu."
"Hah? Nikah?" Terang saja Zahra terkejut mendengar hal ini, ia hanya mendengar tentang orangtua angkat Cira yang memiliki kelainann, namun tak tahu menahu pasal saran yang diberikan Rasta pada Cira apalagi mengenai pernikahan.
"Iya, saran itu bener sih! Tapi, yang buat aku geli... Cira minta Rasta aja yang nikahin dia."
"Hah?" Zahra makin terkejut lagi mendengar hal ini.
"Kebyang gak kamu, Cira yang kita kenal dari kecil... yang kita anggap sebagai adik, tiba-tiba harus jadi kakak ipar kamu karena menikah sama Rasta?"
__ADS_1
Zahra menatap Ken dengan tatapan cengo kemudian mereka terbahak bersama-sama.
******