
"Lo bisa-bisanya mau aja diajak Chandra pulang bareng!" omel Rasta pada Cira begitu mobil bergerak meninggalkan area sekolah.
"Bukan gitu, Om... Kak Chandra itu temennya Abang Ken dan Om juga, jadi aku--" ucapan Cira terhenti diudara karena Rasta segera memotong ucapan cewek itu.
"Terus, mentang-mentang dia temen gue lo mau aja gitu! Lo itu baru kenal sama Chandra, Cil! Lo gak tahu dia kayak apa! Gue yang tahu isi kepala dia itu kayak gimana!" ucap Rasta emosi.
Cira terdiam dan tertunduk, ia memang baru mengenal Chandra dan ia tahu sekarang dimana letak kesalahannya. Mudah percaya. Hanya saja hati kecilnya yang polos merasa Chandra tak akan menyakitinya apalagi Chandra mengenal Rasta dan Ken, begitulah yang ia pikirkan.
"Gue gak munafik, isi kepala Chandra sama gue itu gak jauh beda sebenernya, sebelas duabelas... cuma pandangan dia ke elo itu... lo denger sendiri kan, kalo dia anggep lo itu seorang gadis!" Rasta menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan perkataan Chandra tadi yang menekankan hal itu.
"Ya... aku tahu aku salah, Om. Aku minta maaf. Memangnya kalau Kak Chandra anggap aku seorang gadis itu salah, ya?"
"Ya salahlah!" sahut Rasta cepat.
"Kan aku emang seorang gadis, Om!" kata Cira dengan polos.
"Lo itu bocah! Jadi otak Chandra aja tuh yang gak beres!" ucap Rasta dengan entengnya.
Cira terdiam dengan mata berkaca-kaca, beberapa saat kemudian ia kembali berusara.
"Kalo Om menganggap aku bocah, jangan om paksa orang lain untuk menganggap aku serupa dengan pemikiran om! Kalau memang om anggap aku bocah, kenapa om takut aku pulang bareng Kak Chandra?" Cira menatap sendu pada Rasta yang menyetir mobil.
Rasta menghela nafas panjang, sepersekian detik berikutnya ia mengerem mobilnya secara mendadak. Ia memikirkan pertanyaan Cira yang harus dengan kata apa ia menjawabnya karena persepsinya terhadap Cira memang telah berubah-- dari menganggap Cira hanya bocah tapi sekarang ia sudah mengakui jika Cira memanglah seorang gadis dalam hatinya saja-- sedangkan dalam perkataannya, ia selalu memungkirinya. Itu ia lakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan apabila ia mengakui Cira sebagai seorang gadis.
"Kenapa berhenti disini, Om?" tanya Cira keheranan. "Terus kenapa Om diam? Jawab pertanyaan aku, Om! Kalau emang om anggap aku bocah, kenapa om harus takut aku dijemput sama Kak Chandra?" tuntut Cira.
Rasta diam sembari menatap lurus kedepan, tangannya menggenggam erat kemudi, seolah ingin meremukkannya saja karena rasa kesal dihatinya.
"Gue gak mau anggep lo seorang gadis..." kata Rasta pelan.
"Kenapa?"
"Karena kalo sampai itu terjadi, pandangan dan perlakuan gue ke elo bisa berubah."
"Maksudnya? Aku gak paham."
Rasta gemas melihat sikap Cira yang polos dan tak memahami maksudnya itu. Astaga... menghadapi Cira memang harus memiliki kesabaran ekstra. (Othor juga harus ekstra sabar menghadapimu Rasta😂)
"Udahlah, lo gak perlu paham! Intinya dimata gue lo tetap aja bocah yang harus gue jaga dari binatang buas kayak Chandra!" kata Rasta akhirnya.
Cira berdecak, kemudian dia mengingat sesuatu yang tadi sempat Chandra katakan sebelum Rasta datang.
"Tapi kan Om, tadi Kak Chandra bilang mau bantuin aku..."
"Bantuin apaan?" tanya Rasta tak acuh sembari ingin menstater mobilnya kembali.
"Itu loh, soal pernikahan. Dia mau kok nikahin aku setahun dua tahun gak apa-apa biar aku lepas dari orangtua angkat aku itu!" papar Cira terus - terang.
Rasta terdiam dengan pemikiran yang sudah kemana-mana.
"Fix Chandra mau manfaatin lo doang!"
"Gak dong, Om! Kak Chandra itu mau bantuin aku, apa aku terima aja ya... soalnya--"
"Gak!" potong Rasta cepat.
"Kok om yang jawab? Ini kan hidup aku, ya terserah aku dong!"
__ADS_1
Rasta tak jadi menyalakan mesin mobilnya, ia menatap Cira dengan nyalang. "Apa lo bilang tadi? Coba ulang sekali lagi apa yang lo bilang barusan!" ucapnya galak.
Cira menatap Rasta takut-takut. "Yang mana? Kak Chandra mau nolong dan nikahin aku? Atau ini hidup aku ya terserah aku?" tanyanya dengan penuh kehati-hatian.
Rasta tertawa hambar. "Dua-duanya!" ucapnya. "Sekarang gue tanya sama lo, ya... emang lo mau jadi janda diumur belasan tahun?" tanyanya kemudian.
"Enggak!"
"Ya udah, jangan pernah lo terima tawaran Chandra!"
"Kalau nanti kami menikah terus saling sayang satu sama lain, gak akan ada yang namanya janda diumur belasan tahun, Om! Yang ada pernikahan itu jadi selama-lamanya," jawab Cira percaya diri dengan ala kadarnya, namun membuat Rasta terkekeh kencang.
"Tapi laki-lakinya Chandra, Cil! Gue tahu banget Chandra itu kayak apa!"
"Yang jelas dia baik mau nolongin aku!"
"Bela aja terossss," kata Rasta kesal.
_____
Sampai dirumah, kedua orang itu hanya saling diam, tidak lagi berdebat dan hanya melempar pandangan permusuhan sebab tadi Cira terus membela Chandra dan Rasta tidak menyukai hal itu.
"Ngapain ikut turun?" tanya Cira pada Rasta yang ikut keluar dari mobil.
"Mau numpang makan!" kata Rasta.
"Mama gak dirumah, Mbak Ira juga hari ini gak masuk karena anaknya sakit... Om pulang aja sana!" usir Cira.
"Yeee, takut lo? Nggak bakal gue apa-apain juga kan gue anggep lo cuma bocah!" Rasta mengacak rambut Cira sembari berjalan menuju pintu rumah.
Rasta langsung menuju dapur dan ternyata tidak menemukan makanan apapun disana karena Devia tak sempat memasak.
"Gak ada apa-apa, ya, Om?" Cira pun melengos ingin mengganti pakaiannya dikamar.
Rasta hanya berdehem pelan.
"Nanti aku masakin, bentaran ya!" pekik Cira dari ujung lorong yang menghubungkan ke arah kamar yang ia tempati.
Rasta tak menghiraukan ucapan Cira, ia membuka kulkas mencari sesuatu yang ada disana untuk ia eksekusi menjadi makan siang.
Ia melihat sekotak pasta, sosis, kornet, ia pun mengambil itu. Tak lupa spaghetty saos, keju cheddar, paprica, bawang bombai lalu ia mengeluarkan semuanya keatas meja dekat kompor.
Saat Cira sudah keluar dari kamar dengan pakaian lain, gadis itu cukup speechless melihat ada koki baru didapurnya, ia terdiam, ternganga.
Rasta mengenakan apron, terlihat lucu dan tidak cocok dimata Cira karena tampangnya itu. Namun Cira membiarkan sajaa, tidak berniat membantu samaa sekali, ia mau menikmati pemandangan langka ini. Seorang pria macho sedang memasak didapur. Huhuhu...
Rasta mengisi panci kecil dengan air, menyalakan kompor dan mendidihkan air diatasnya, sambil menunggu itu ia merajang bawang bombai, memotong sosis dan membuka kaleng kornet, kemudian ia juga mencincang paprica, lalu ia memasukkan pasta kedalam panci berisi air yang sudah mendidih.
Dikompor satunya, Rasta memanaskan sedikit minyak diatas teflon, menumis bawang bombai kemudian paprika dan sosis terakhir memasukkan kornet dan spaghetty saos dn mengadukny menjadi satu.
Tidak ada momen yang terlewat dipandangan mata Cira, dia benar-benar menikmati kelihaian Rasta dalam memainkan peran sebagai koki saat ini, dalam hati Cira semakin kagum melihat pria itu.
"Gue emang tampan sih dari lahir!" celetuk Rasta di tengah-tengah kegiatannya itu. Ia berujar tanpa menatap Cira dan tak mengalihkan atensinya dari menu masakannya, membut Cira menelan saliva dengan susah payah.
"Lo jangan suka liatin gue kayak gitu, entar ilernya netes ke meja!" Rasta terkikik.
"Aku emang ngiler liat masakannya, bukan orangnya!" sanggah Cira sembari membuang wajah, mengelak.
__ADS_1
Rasta hanya tersenyum miring mendengarnya. Sesaat kemudiam, pasta yang ia masak sudah tersaji dalam dua piring berukuran sedang, ia membawa itu kearah meja makan dimana Cira duduk sejak tadi.
"Pegang nih!" kata Rasta.
"Taruh aja dimeja!"
"Ya pegang dulu dua-duanya!"
Cira tak protes lagi, ia memegang kedua piring dikiri-kanan tangannya, dalam hatinga bertanya mau apa Rasta dengan hal ini.
Kemudian Rasta mengeluarkan ponselnya.
"Lihat sini, Cil..."
Cira menoleh ke arah Rasta, rupanya cowok itu ingin memotret Cira. "Smile, say cissss..."
Cekrek
Cira hanya bisa geleng-geleng kepala mlihat tingkah Rasta itu, dalam hati ia mengolok Rasta yanh seperti anak kecil.
"Om tahu gak, persamaan om sama bocah?"
"Beda dong! Lo nyamain gue sama bocah?"
Cira mengangguk sembari mengambil garpunya.
"Emang apa coba?" tanya Rasta sembari ikut duduk disamping Cira.
"Sama sama gak ada bedanya!" ucap Cira terkekeh sembari menyuap gulungan pasta yang sudah ia balut digarpunya.
"Enak aja lo!" protes Rasta.
"Hehehe, betewe enak juga ini..." kata Cira memmuji masakan Rasta.
"Ya iya dong, gue yang masak!" jawab Rasta pongah.
"Aku abisin ya, om!"
"Hmmm..."
Mereka pun makan bersama-sama dengan senyap karena menikmati panganan yang masih hangat itu.
"Makannya pelan-pelan, Om!" kata Cira. Rasta menoleh pada Cira dan melihat Cira yang makan dengan sangat pelan namun belepotan (Jangan bilang gak tahu belepotan ya, Mak😂)
"Lo sendiri makan sampe kayak gini," kata Rasta yang tanpa sadar membersihkan sisi bibir Cira dengan ibu jarinya. Cira membeku dengan mata membola, Rasta awalnya tidak sadar namun sedetik kemudian ia menyadari jika sekarang jarinya berada dibibir gadis itu.
Oh sial! Ia merasakan kelembutan bibir Cira lewat kontak fisik yang ia lakukan sendiri.
Lalu entah bagaimana, jarak mereka berdua menjadi sangat dekat. Jantung Cira rasanya mau melompat keluar dari peraduannya. Ia ingin protes namun protesnya justru keluar setelah Rasta menyelesaikan aksi.
"Apaan sih, om!" Cira memukul dada Rasta dan mendorongnya menjauh, setelah itu ia beringsut pergi dari hadapan pria itu.
Seketika itu juga Rasta tersadar dengan apa yang ia lakukan, ia baru saja mengecup bibir Cira. Astaga.
"Kemarin gue nekat ngecup keningnya sekarang bibirnya. Gue bener-bener udah gila!" gumam Rasta sembari memeganv bibirnya sendiri.
******
__ADS_1