Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Teman lama


__ADS_3

Frans mondar - mandir dihadapan Irene yang menatapnya.


"Sudahlah, Frans... jangan seperti ini, Mama jadi pusing melihatnya!" kata Irene jengah.


Frans menyugar rambutnya. "Aku cuma gak habis pikir, Ma. Ternyata selama ini usahaku sia-sia saja! Aku gak akan bisa menyingkirkan Ken. Jangankan mendepak namanya dari perusahaan, menurunkan posisinya saja enggak bisa!" kata Frans gusar.


"Mungkin pencapaianmu sudah cukup sampai disini, Frans!" kata Irene mencoba membesarkan hati sang anak namun Frans justru terkejut mendengar ucapan sang Ibu.


"Mama bilang apa? Pencapaianku sudah cukup?" Pria itu menggeleng cepat. "Enggak, Ma! Aku gak boleh berada dibawah Ken! Sia-sia dong semua usaha aku selama ini!"


"Ya, mau gimana lagi ... kenyataannya Ken memang selalu berada diatas kamu," cetus Irene begitu saja.


"Ma ... sekarang aku harus gimana? Mama jangan menyurutkan semangatku untuk lebih dari Ken seperti ini, dong!" Frans terduduk sembari menopang kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangan.


"Sudahlah, Frans. Terima saja semua ini! Jabatanmu sekarang juga sudah bagus di perusahaan Papa."


"Tapi tetap Ken yang berada diatasku," keluhnya lagi.


"Ya, kan Papa juga udah bilang itu memang hak mutlak Ken, Frans!"


"Ya, dan aku baru tahu sekarang tentang hal itu, Ma! Padahal selama bertahun-tahun aku mengincar posisi itu! Arkhhh!" Frans meninju pegangan sofa disampingnya karena merasa terlalu bodoh dengan keadaan.


Irene menghela nafas panjang. "Mama gak punya plan untuk hal lainnya, Frans!" lirihnya.


Tiba-tiba Frans mengangkat wajah, senyum liciknya tersungging dengan mata yang berkilat. Ia mendapat sebuah pemikiran secara tiba-tiba.


"Aku tahu kelemahan Ken, Ma! Mungkin dengan ini dia akan kalah!" ucapnya percaya diri.


______


Zahra menoleh saat pintu ruangannya diketuk dari luar.


"Han, kamu gak makan siang?" Dewi, kawan sekantor Zahra menanyakan pada wanita berhijab pink itu.


"Iya, bentar lagi, Wi."


Dewi mendekat ke meja Zahra. "Lagi sibuk apa sih?" tanyanya sembari melihat kegiatan yang dilakukan Zahra.


"Oh ini ... nanti ada pertemuan dengan klien setelah jam makan siang. Aku cuma tulis perincian yang mau dibahas aja biar gak lupa,"


Dewi pun manggut-manggut.


"Udah, ayok!" Zahra bangkit dari duduknya dan menggamit lengan Dewi. Mereka berjalan beriringan untuk turun dari lantai tempat dimana kantor mereka berada.


"Mau makan apa nih?" tanya Zahra pada Dewi sambil berjalan pelan.


"Apa aja, deh.." jawab Dewi.


Sampai didepan Lift, mereka berpapasan dengan Zaki yang tampaknya ingin makan siang juga bersama dengan beberapa pria-- rekan sekantor mereka juga.


"Mau makan dimana, Wi?" sapa Adly pada Zahra dan Dewi.


"Belum tahu," sahut Dewi cepat.


"Bareng aja, yuk! mumpung Deka sedang ultah nih..." timpal Rado dan Deka yang disebut namanya pun langsung mengangguki ucapan rekannya itu.


"Gimana, Han?" Dewi berbisik di telinga Zahra, meminta pendapatnya. "Mau aja, ya... makan gratis ini, rezeki jangan ditolak!" sambungnya.

__ADS_1


Zahra sebenarnya sangat tak nyaman dengan keadaan ini, tahu sendiri dia adalah gadis yang introvert, meski sudah bergaul dengan sesama teman wanita di kantor, ia belum berbaur dengan yang berlawan jenis. Ditambah lagi, diantara mereka ada Zaki yang tampak diam saja tanpa menimpali ucapan dan tawaran rekan-rekannya.


Belum siap Zahra berpikir, ternyata Dewi sudah lebih dulu mengiyakan tawaran Rado dan kawan-kawannya.


Mereka berenam, Zahra, Dewi, Zaki, Adly, Rado dan Deka pun langsung menaiki lift yang sama untuk menuju lantai dasar.


"Makan dimana? Jangan jauh - jauh dari kantor!" celetuk Dewi.


"Di cafe seberang aja, ya!" jawab Deka yang berniat mentraktir mereka semua.


Sesampainya di cafe itu, mereka mulai memesan makanan dan mengobrol ringan, tentunya yang banyak berbicara dengan Rado dan yang lainnya adalah Dewi, bukan Zahra yang banyak diam.


"Han ... abis ini ada meeting di Ruby Restoran, kan?" tanya Zaki pada Zahra.


"Iya," jawab Zahra singkat.


"Bareng aja, ya? Mama tadi telepon aku, beliau gak jadi ke kantor hari ini dan meminta aku yang menggantikanmya dalam pertemuan meeting nanti," terang Zaki.


"Kenapa Tante Devia gak ke kantor? Apa Tante sakit?" tanya Zahra khawatir.


Zaki menggeleng. "Bukan, Mama lagi ada urusan yang sedikit pribadi gitu. Kamu mau kan, kita bareng aja nanti ke Ruby Restoran nya?" tawar Zaki.


Walau Zahra merasa tak enak hati, tapi mau tak mau ia pun mengiyakan ajakan Zaki karena ini menyangkut profesional kerja yang tak mungkin disangkut-pautkan dengan hal ketidaknyamanannya terhadap Zaki.


Mereka melanjutkan sesi makan siang itu dan tak lupa mengucap selamat ulang tahun serta rasa terima kasih pada Deka--sang pentraktir.


Seusai kegiatan makan siang bersama berakhir, Zahra dan Zaki langsung bersiap untuk menemui klien di Restoran yang sudah dijanjikan.


Zaki mengambil posisi dibalik kemudi mobil dan Zahra duduk di seat sampingnya.


Tak memakan waktu lama, mereka pun tiba di tempat meeting itu.


"Lala?" Zahra mengenali salah satu orang-- dari dua orang yang hadir dalam pertemuan mereka.


"Zahra ..." sahut perempuan yang sempat dikenali Zahra. Ya, wanita itu ialah Lala--kawan sebangku Zahra saat SMA.


"Ya ampun, gak nyangka ketemu disini... Aku kangen banget sama kamu, Ra!" Lala yang selalu bersikap pecicilan sejak dulu-- langsung saja memeluk tubuh Zahra dengan akrab.


"Kamu bekerja di Britania Jewelry?" tanya Lala yang mulai mengurai pelukannya dari tubuh Zahra. Zahra mengangguki pertanyaan kawan karibnya saat masa putih abu-abu itu.


"Oke - oke, udah dulu reuniannya ya, ibu-ibu!" Suara seseorang disebelah Lala menyela-- menyadarkan mereka berdua yang telah larut dalam suasana akrab. Suara itu terdengar pelan dan mendayu - dayu, cocok untuk mewakili pemilik suara itu sendiri--yang berpenampilan nyentrik namun tampak gemulai--padahal dia seorang ... pria.


Zaki yang tadi sempat melihat keakraban Zahra dan Lala pun seakan ikut tersadar saat itu juga.


"Ah, ya... bisa kita mulai meetingnya?" tanya Zaki dengan suara serak-serak basahnya yang khas.


Lala menoleh pada Zaki dan ia mengangguki ucapan pria itu dengan tatapan aneh. Semacam kagum atau terpesona, entahlah.


Mereka berempat pun duduk, lalu mulai membicarakan benefit bisnis yang akan saling menguntungkan.


Disini, Zahra mengambil perannya sebagai pembicara karena ia sudah mulai luwes menjadi sekretaris Devia. Ditambah lagi, kliennya kali ini adalah Lala-- kawannya sendiri-- jadi Zahra tidak merasa nervous sama sekali.


Tak menunggu lama, Lala yang sudah mengenal Zahra dan mungkin sempat terpesona dengan sosok Zaki, langsung menyetujui kerjasama mereka, bahkan ia mau menginves dana yang lumayan diperusahaan baru milik Devia.


Ya, Zahra cukup tahu sejak dulu jika Lala kawan sebangkunya itu memang sudah kaya sejak lahir, tidak salah jika kini Lala memegang kendali salah satu cabang perusahaan milik keluarganya yang bergerak dibidang konveksi.


"Selamat bekerja sama sahabat lamaku," gurau Lala, namun Zahra tersenyum dengan kalimat Lala itu.

__ADS_1


"Iya, La! Makasih ya udah mau mempermudah semuanya dengan langsung setuju soal penawaran kerjasama ini."


"Santai aja kali, Ra! Aku udah kenal kamu lama. Lagian, penjelasan kamu dan benefitnya juga lumayan," kata Lala.


"Ngomong - ngomong, kenapa kamu tertarik kerja sama dibidang kerajinan berlian? Bukannya usaha keluarga kamu itu perusahaan dan pabrik konveksi, ya?"


"Ya, aku mau melenceng sedikit dan lari dari jalur. Lagian zaman sekarang harus puter otak biar bisnis gak stuck disitu-situ aja, kalo gagal ya udah resiko!" sahut Lala.


"Otak pebisnis emang beda ya..." kata Zahra tertawa pelan dan mereka semua ikut terkekeh.


Setelah berbincang hangat tentang keseharian dan saling tukar nomor ponsel satu sama lain, mereka pun bersalaman untuk undur diri.


"Mas Zaki ... boleh minta nomor ponsel pribadinya enggak?"


Itu bukan suara Lala, melainkan Ceva--asisten Lala yang gemulai dan ternyata genit terhadap Zaki.


Zaki tersenyum kecil, mungkin merasa lucu dengan tingkah Ceva.


"Ih, Cecev! Jangan malu-maluin ih..." gerutu Lala yang jengah melihat tingkah centil sang Asisten.


"Bukan Cecev, La! Ceva! Nama aku tuh C..E..V..A.... Ceva!" kata Ceva mengeja serta menekankan abjad namanya.


Zahra dan Zaki tertawa serentak mendengar perdebatan dua makhluk dihadapan mereka itu.


"Mas Zaki, jangan didengerin ya... ini asisten aku suka aneh-aneh!" kata Lala dengan raut sungkan pada Zaki.


"Gak masalah," sahut Zaki tersenyum.


"Gak masalah apanya, Mas? Gak masalah kan kalo Ceva minta nomor hp?" lanjut Ceva dengan pedenya.


"Ih, Cev... apa-apaan sih!" Lala memijat pelipisnya sekilas, mungkin malu melihat tingkah Ceva yang semakin absurd saja.


"Jangan dengerin Lala, Mas! Aku serius minta nomor pribadinya Mas Zaki... Lagian, ini Lala sok naif, ntar kalo aku dapet nomor Mas, pasti dia juga ngebet minta sama aku!" kata Ceva yang membuat wajah Lala memerah sempurna.


"Baiknya kami duluan aja, ya, Mas..." kata Lala mengakhiri keadaan akward yang disebabkan oleh Sang Asisten. "Maaf ya, Mas." lanjutnya sembari menatap Zaki.


"Iya, gak apa - apa! Lagian, kalo kamu mau tahu nomor pribadi aku juga gak masalah... kita kan sudah jadi partner bisnis sekarang," kata Zaki.


"Iya bener, La!" timpal Zahra mengiyakan ucapan Zaki sambil mengulumm senyum.


"Oke deh, kalo Mas Zaki gak masalah nanti aku minta lewat Zahra saja, ya..." kata Lala dan langsung beranjak menuju pintu keluar Restoran sembari melambaikan tangan pada Zahra dan Zaki.


Seperginya Lala dan sang Asisten, Zaki dan Zahra juga keluar dari Restoran untuk kembali ke kantor mereka.


"Kamu sama Lala udah lama kenal?" tanya Zaki, lebih seperti berbasa-basi, Mungkin ia berpikir daripada perjalanan pulang diisi dengan keheningan-- seperti diperjalanan pergi tadi. Lebih baik mengobrol ringan saja.


"Ya, Lala teman SMA aku," sahut Zahra.


"Asyik gak anaknya?" tanya Zaki.


"Lala baik dan juga pintar."


"Sama kayak kamu dong?" ucap Zaki tersenyum.


Zahra menunduk tak ingin menjawab.


"Aku tuh sebenarnya penasaran sama kamu, Han... mungkin ini adalah momen untuk aku jujur sama kamu karena selama ini kita gak punya waktu dan kesempatan seperti ini," kata Zaki memulai pembicaraan yang agaknya menuju perbincangan yang mulai serius.

__ADS_1


"Jujur? Jujur apa, ya?" tanya Zahra bingung.


...Bersambung ......


__ADS_2