
"Ada apa ini? Hana?"
Zahra menoleh ke belakang, melihat sosok yang menyapanya.
Frans yang masih mencengkram lengan Zahra pun melakukan hal yang sama untuk melihat pemilik suara itu.
Ternyata itu adalah Devia yang baru tiba di gedung perkantoran.
"Tante, ini-ini ..." Zahra tergagap, tak tahu harus menjawab apa, haruskah ia jujur pada Devia tentang siapa Frans?
"Saya Frans," jawab Frans dengan senyum percaya dirinya. "Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya sedang ada urusan dengan calon istri saya," sambungnya menekankan kata.
Zahra menggeleng keras sebagai isyarat bahwa yang dikatakan Frans adalah tidak benar.
"Benarkah?" Devia tampak tersenyum kecil, entah apa maksud dari senyuman itu. Sampai akhirnya wanita baya itu bersuara kembali. "Aku pikir Hana akan bertunangan dengan anakku..." jawabnya dengan sangat tenang.
"Apa?" Frans terkesiap dengan ucapan Devia, begitu juga dengan Zahra yang mendengarnya.
"Apa sebenarnya maksud Tante Devia? Kenapa dia mengatakan aku akan bertunangan dengan anaknya? Dengan Zaki, begitu?" batin Zahra menerka - nerka, namun ia tepiskan pikiran itu karena ia merasa mungkin Devia mengatakan hal itu hanya untuk melindunginya dari sosok Frans.
"Itu tidak mungkin ..." kata Frans tersenyum kecut.
"Saya harap anda jangan mengakui Hana sebagai calon istri Anda lagi, karena kenyataannya Hana akan segera bertunangan dengan anak saya."
Frans tersenyum miring sambil geleng - geleng kepala, seperti tengah meremehkan ucapan Devia.
Devia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang masih ia kenakan.
"Han, kebetulan ini cincin pertunangan kalian sudah selesai dibuat," ujar Devia dan menyerahkan sebuah kotak bludru berwarna biru gelap kepada Zahra. Zahra menerima saja kotak perhiasan itu dari tangan Devia, walaupun dengan tatapan bingungnya.
Frans yang melihat itu amat terkejut, ia kira Devia dan Zahra tengah menipunya, namun kotak perhiasan itu seolah menjadi jawaban jika ucapan Devia tidak main-main.
"Tidak, pasti mereka sedang menipuku, bisa saja itu perhiasan milik wanita ini," batin Frans masih belum mempercayai namun ingin membantah pun ia tak punya kuasa, terlebih tempat ini bukanlah daerah kekuasaannya. Andai saja ini terjadi dikantornya, ia akan langsung mengusir wanita yang tiba - tiba hadir dan merusak momen negosiasinya dengan Zahra ini.
__ADS_1
Frans terus memperhatikan interaksi Zahra dan Devia dengan sorotan matanya yang tajam-penuh selidik dan rasa ingin tahu.
Melihat itu, Devia masih tersenyum dengan anggunnya.
"Nampaknya Anda belum mempercayai jika Hana akan menikah dengan anak saya, ya?" terka Devia.
Devia beralih kepada Zahra yang tampak masih kebingungan.
"Han, coba kamu buka kotak perhiasannya ... kamu tes dulu cincinnya sudah pas atau belum dijari kamu, sebenarnya Tante ingin mengantarkan itu kesini... kalau sudah pas Alhamdulillah, kalau longgar nanti kita perbaiki lagi," saran Devia sengaja memanas-manasi Frans.
Dengan gerak perlahan, Zahra segera mengikuti saran Devia. Ternyata didalam kotak itu memang ada sepasang cincin pertunangan yang tampak serasi. Entah milik siapa perhiasan ini, - batin Zahra.
Zahra mengambil cincin wanita dan mengenakannnya, siapa sangka justru ukurannya sangat pas dijarinya.
"Wah, bagus sekali, Han..." puji Devia tersenyum, Zahra juga ikut senang dengan hal ini, entah kenapa.
Frans mengepalkan tangan melihat hal itu, kini ia yakin jika ucapan Devia adalah benar, jika Zahra memang akan bertunangan dengan anak wanita itu.
Frans tidak mungkin membiarkan Zahra lepas begitu saja, tidak... Zahra itu kelemahan Ken. Ia harus menaklukkan Zahra dulu barulah Ken bisa lemah dihadapannya, sesuai rencana yang sudah disusunnya.
"Apa maksud kamu, Frans?" tanya Zahra.
"Ya, tadi kan aku udah bilang... kamu itu gak seberharga dulu lagi!" ucapnya dengan senyum mencibir.
"Frans, jaga bicara kamu!" Zahra menahan tangis, karena lagi - lagi Frans merendahkannya bahkan kini dihadapan Devia. Malu, sungguh ia malu karena kini Devia mengetahui aib yang ia tutupi selama ini, tentang kesuciann yang tak lagi dimilikinya.
Tanpa disadari, air mata Zahra menetes begitu saja, membasahi pipi mulusnya. Melihat itu, Frans semakin menyeringai senang.
Jika dulu, Frans tak akan sanggup melihat Zahra menangis, lain hal dengan sekarang. Itu semua karena Zahra adalah gadis yang juga diinginkan Ken. Membuatnya semakin muak saja. Ia harus menepis perasaannya terhadap Zahra karena tujuannya kini adalah menghancurkan Zahra, sama seperti keinginannya untuk menghancurkan Ken.
Jika Zahra hancur, Ken juga akan hancur, begitulah rencananya.
Frans kembali menatap Zahra yang telah bersimbah airmata.
__ADS_1
"Aku harus jaga bicara gimana, Ra? Bener kan kalau kamu itu udah gak berharga? Kesucian kamu juga sudah terenggut!"
Frans terkekeh, namun kekehannya hanya berlangsung sangat singkat karena pipinya segera ditampar untuk kedua kalinya, bukan Zahra yang melakukannya, melainkan Devia yang kali ini mengambil sikap agar mulut pedas Frans itu bungkam.
"Sial an! Berani sekali Anda menamparku? Apa kau tidak tahu siapa aku?" dengkus Frans marah, ia menatap murka pada Devia.
"Tentu, tentu saja aku tahu siapa kau Frans Septian!"
Deg...
Lagi - lagi Frans terkesiap, siapa yang tahu nama lahirnya? Hanya beberapa kawan dekatnya yang tahu. Kenapa wanita ini mengetahui jati dirinya? Seharusnya semua orang mengenalnya sebagai Frans Winarya, kan?
"Ka-kau!" ucap Frans tak terima. Ia mengepalkan tangannya kuat, sampai buku-buku jarinya memutih. Ingin membalas namun ia tak kuasa memukul seorang wanita yang tampak seusia ibunya itu.
"Tolong jangan ganggu Hana! Tinggalkan gedung ini sebelum security menyeretmu keluar! Kekuasaanmu tidak akan berguna disini, Tuan Frans yang terhormat!" kata Devia menekankan kalimatnya.
Frans menggeram marah, demi apapun harga dirinya benar - benar dipermalukan sekarang bahkan dihadapan gadis yang sebenarnya ingin ia permalukan.
Ia memang masih mencintai Zahra, namun mana mungkin ia menerima kondisi Zahra yang sekarang. Lain hal jika yang membuat Zahra hilang kesuciannya bukan Ken, mungkin ia akan menerima. Tapi nyatanya? Zahra benar - benar bekas Ken, jadi ia bisa apa? Ia mengatakan ingin menikah dengan Zahra hanya untuk menaklukkan Ken, bukan lagi tentang perasaan cintanya terhadap wanita itu. Semua ini karena ia ingin membalas Ken, sebab tak bisa mendepak saudara tirinya itu dari perusahaan.
"Kita belum selesai, Ra! Mungkin kamu bisa lepas dari aku! Tapi ingatlah konsekuensi yang sedang menunggu kamu, termasuk biaya finalty yang akan kamu tanggung setelah ini," ucap Frans sebelum benar - benar pergi dan meninggalkan Zahra yang sudah berurai airmata tanpa bisa menjawab sepatah - katapun lagi pada pria itu.
...Bersambung ......
Hayoo yang nebak Ken datang siapa? 😁
Tanpa sadar kita jadi main tebak - tebakan ya? Hehehe✌️
Othor gak bosan - bosan untuk ingatin supaya Like, Favorite, Komen dan berikan Hadiah untuk novel ini.
Kalau mau Vote, tentunya boleh banget dong♥️
Terima kasih ya buat yang masih baca novel ini sampai bab ini...
__ADS_1
Yang nanya Ken dimana, dia masih othor kekepin dirumah ya😂😂🤧🤧🤧