Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Mirip


__ADS_3

"Han, hari ini kita ada meeting dengan klien di Carbonara Restaurant, kan?" tanya Devia pada Hana saat ia baru tiba di kantor.


"Iya, Tant..." jawab Zahra.


"Oke, kita berangkat sekarang, ya."


"Baik, Tant... tapi, bukannya meeting itu akan dilakukan siang nanti?"


"Iya, tapi sebelum meeting yang nanti siang itu... kita harus ketemu dulu sama salah seorang investor penanam saham. Tante buat pertemuannya di tempat yang sama saja supaya nanti langsung dilanjutkan dengan acara meeting yang selanjutnya."


"Oke, Tant..."


Setelah mengatakan itu, Zahra dan Devia segera mengambil keperluan dan persiapan meeting hari ini untuk dibawa serta bersama mereka, lalu merekapun bersiap dan berangkat menuju tempat meeting.


"Hallo, Pak Adit..." Devia menyalami seorang pria muda yang juga telah mengulurkan tangannya, kemudian beralih pada pria satunya yang sepertinya adalah asisten pria pertama yang disapa Devia dengan nama Adit.


"Hallo, Ibu Devia... Bagaimana kabar anda?" tanya Adit ramah.


"Alhamdulillah baik," jawab Devia tersenyum lembut seperti biasanya.


"Syukurlah, ayo silahkan duduk, Bu!" ucap Adit seraya memberi isyarat mempersilahkan yang sama kepada Zahra.


Devia dan Zahra pun duduk kemudian mereka mulai berbincang sekilas mengenai hal pekerjaan. Perbincangan itu dilanjutkan dengan penawaran yang didetailkan oleh Zahra selaku pembicara untuk mewakili Devia, sesekali Devia juga membantu menimpali untuk semakin menyakinkan pada investor tersebut.


Saat meeting berjalan, ponsel Zahra bergetar. Zahra melihat sekilas siapa yang meneleponnya--karena tidak banyak yang tahu dengan nomor barunya ini--ternyata itu adalah sebuah panggilan dari nomor asing. Karena masih sibuk dengan pekerjaannya, Zahra mengabaikan panggilan itu.


Meeting selesai dengan hasil yang baik, investor itu tampak sangat puas dengan penjelasan yang Zahra berikan, bahkan memuji kinerja Zahra yang sangat cakap. Mereka pun segera undur diri setelah merasa semua yang ingin dibahas hari ini telah tuntas.


Seperginya Investor itu, Zahra baru bisa melihat pada ponselnya. Ternyata sebuah nomor asing yang tadi meneleponnya meninggalkan sebuah pesan text.


[Ra, kembalilah ke kota sendiri! Atau jika mau, aku akan menjemput kamu hari ini. Ingat, Ra! Cepat atau lambat posisi kamu akan diketahui oleh pihak perusahaan meskipun aku tidak memberitahukan tentang keberadaanmu! Jadi aku memberi kamu 2 pilihan. 1. Kembali ke perusahaan bersamaku. 2. Para utusan papaku yang akan menjemput kamu secara paksa dan meminta kamu segera membayar biaya finalty!]

__ADS_1


Zahra membaca pesan itu dan langsung tahu siapa pengirim pesan tanpa harus ia tanyakan.


Zahra menggigit bibirnya sendiri, perasaan cemas mulai melingkupinya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Kembali ke perusahaan Bagas-- dibawah naungan Frans--tentu ia tidak mau, apalagi mengingat perlakuan Frans padanya tempo hari. Frans semakin tempramental saja sekarang. Tapi, membayar biaya finalty yang tidak murah juga tidak bisa ia lakukan. Darimana pula ia punya uang sebesar 200 juta untuk membayar biaya itu?


"Ada apa, Han?" Devia tampak heran melihat sikap Zahra yang tak seperti biasanya. Wajah cemas sangat terpancar diraut Zahra saat ini.


"Ng-nggak apa - apa, Tant!" sanggah Zahra cepat, ia tak mau masalah ini sampai diketahui Devia, ia malu untuk membagi masalah pribadi kepada sang atasan.


"Ada masalah ya?" tebak Devia.


Zahra menggeleng pelan.


"Alhamdulillah... tapi alangkah baiknya kamu terbuka jika memang mengalami kesulitan, saya tidak punya ilmu untuk baca pikiran, jadi kalau kamu tidak mengatakan saya tidak akan tahu, hmm..." gurau Devia namun terdengar peduli dengan apa yang menimpa Zahra, meski Devia belum mengetahui masalah apa yang kini tengah Zahra hadapi.


"Terima kasih, Tant. Tapi, semuanya baik - baik saja kok!" bohongnya.


"Oke, kita tunggu tamu kita yang sebentar lagi datang ya, mudah-mudahan dia datang on time..." kata Devia sembari melihat arloji dipergelangan tangannya sendiri.


"Hallo... ibu Devia," ucap seseorang yang baru saja datang. Namun fokus orang itu bukan pada Devia yang disapanya, melainkan pada gadis yang duduk dengan raut wajah bingung disebelah Devia, ya fokusnya tertuju pada Zahra yang belum menyadari kedatangan seseorang itu karena saat ini pikiran Zahra tengah cemas.


Saat Devia kembali menatap tamunya yang masih diam, ternyata orang itu masih saja menatapinya dengan tatapan yang meminta penjelasan-- Devia hanya bisa tersenyum kecil sembari mengangkat bahu cuek. Tidak ada yang saling berusuara diantara mereka bahkan Devia lagi - lagi diam dan tak menjawab isyarat mata yang diberikan tamunya yang baru hadir itu.


Devia langsung sadar jika Zahra disampingnya masih dalam keadaan tertunduk, entah melamunkan apa sehingga Devia tahu jelas jika Zahra belum menyadari kedatangan tamu mereka ini.


"Han..." Devia menyentuh pundak Zahra demi menyadarkan gadis itu dari efek lamunannya.


"E-eh, iya... Tant." Zahra menoleh pada Devia disampingnya.


"Ini... relasi bisnis kita yang baru, beliau ingin tahu banyak tentang bisnis kita karena beliau akan mulai bekerja sama dengan kita," terang Devia dan Zahra menoleh ke depan untuk mengetahui sosok yang dimaksudkan oleh sang atasan.


"Ka-mu..." gumam Zahra pelan. Ia syok mendapati sosok Ken dihadapannya dengan penampilan yang berbeda.

__ADS_1


Apa Zahra salah lihat? Atau orang ini hanya mirip dengan Ken saja? Penampilannya berbanding terbalik dengan Ken yang Zahra kenal. Sosok mirip Ken ini tampil sangat rapi seperti eksekutif muda. Rambutnya disisir rapi, klimis dan sudah pasti menggunakan pomade. Setelan jas slimfit yang dia kenakan, sangat pas membalut tubuhnya, begitu pula celana bahan yang menutupi kaki panjangnya, serta sepatu mengkilat yang menutupi kakinya. Tampaknya, semua yang dipakai oleh sosok ini, benar-benar dijahit dan dipesan khusus untuk menyempurnakan penampilannya.


Zahra sempat terkesima untuk beberapa saat dan menepis kemungkinan jika yang ia lihat sekarang adalah benar - benar Ken yang dikenalnya.


"Tidak, dia bukan Ken... hanya mirip. Penampilan Ken tidak seperti ini!" batin Zahra berusaha berpikir positif agar ia tidak gugup saat sosok mirip Ken ini tengah menatapnya dengan lekat.


Namun, sepertinya ada yang terlewat. Aroma parfum yang dikenakan oleh sosok mirip Ken ini benar - benar mengingatkannya pada seseorang yang tak lain dan tak bukan ya Kendra Winarya.


"Tidak mungkin, pasti hanya kebetulan aroma parfumnya sama," batin Zahra kembali meyakinkan.


"Han... kamu gak apa-apa?" tanya Devia memastikan.


"Nggak apa - apa, Tant..." sahut Zahra dengan susah payah.


"Bisa kita mulai meetingnya sekarang?" tanya sosok mirip Ken dengan suara dan senyuman yang nyaris serupa dengan milik Ken.


"Astagfirullah.. atau perasaanku saja yang mengira dia mirip Ken? Aku sampai membayangkan orang lain mirip dengan Ken? Ada apa denganku?" Zahra menggeleng pelan demi menepis isi pikirannya sekarang.


"Bi-bisa, Pak..." sahut Zahra yang kini justru terbata. Sosok mirip Ken itu tampak mengulumm senyum melihat tingkah Zahra yang kebingungan.


Zahra langsung menjelaskan tentang materi pembahasan dan provit keuntungan seperti biasanya, ia sampai lupa berkenalan dengan sosok mirip Ken. Sanking gugupnya, ia sampai tidak bisa fokus menerangkan dan sesekali ia terbata - bata dalam berbicara.


Sikap percaya diri yang susah - payah dibangunnya selama ini, lenyap seketika. Bukan karena masih memikirkan pesan dari Frans yang sempat dibacanya tadi, melainkan karena sosok serupa Ken yang kini memperhatikannya dengan sangat intens.


"Penjelasan kamu menarik, tapi kenapa saya merasa kamu sangat gugup?" tanya sosok mirip Ken.


"Hah?" Zahra melongo dengan sikap absurdnya yang kembali lagi.


Sosok mirip Ken itu menatap Devia. "Benar begitu kan, Bu? Sekretaris ibu tampak gugup sekali... apa ada masalah?" tanyanya pada Devia.


"Mungkin grogi kali," celetuk Devia asal sebut saja.

__ADS_1


Sosok mirip Ken lagi - lagi tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya secara samar.


...Bersambung ......


__ADS_2