
Tiga hari berlalu setelah acara pertunangan Ken dan Zahra resmi dilaksanakan. Beberapa kali pula Ken menyambangi kantor Devia demi bisa bertemu dengan Zahra yang sudah berstatus sebagai tunangannya, namun entah kenapa selalu saja ada hal yang menghalangi pertemuannya dengan gadis itu.
Saat ia berkunjung, Zahra selalu tak ada dikantor. Entah itu karena makan siang atau sedang melakukan pertemuan dengan berbagai relasi di luar gedung perkantoran.
Jadi, selama tiga hari ini Ken benar - benar tak bisa menemui Hana-nya, jangankan menemui, mencuri pandang dari jauh pun tidak bisa.
Ken sudah memiliki nomor ponsel pribadi Zahra, namun entah kenapa pula panggilannya ke nomor itu selalu dialihkan.
"Apa iya dia sesibuk itu?" gumam Ken pelan. Saat ini, ia tengah berada di ruangan pribadi Zahra yang ada di kantor. Namun, seperti dua hari sebelumnya, ruangan itu selalu didapati Ken dalam keadaan kosong.
Para pekerja yang Ken tanyakan, selalu memberi alasan yang sama tentang kepergian Zahra. Mereka semua sudah tahu siapa Ken dan hubungannya dengan Zahra karena saat acara pertunangannya dan Zahra, ada beberapa staff yang juga diundang untuk datang.
"Rasanya tidak etis jika aku menelepon Mama hanya untuk menanyakan tentang keberadaan Hana, kan?" tanya Ken pada dirinya sendiri.
"Atau... Hana sengaja melakukan ini. Apa dia mau menghindariku?" batin Ken bergejolak memikirkan tentang berbagai kemungkinan.
Ken beranjak dari ruangan itu, ingin berlalu dari sana, namun di depan lift tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang tampak begitu terburu - buru.
"Pak Ken..." ternyata wanita itu menyapa dan mengenali Ken.
"Ya..." sahut Ken, meski sebenarnya Ken tak mengenali siapa wanita ini namun ia tahu pasti jika dia adalah salah seorang kawan Zahra yang bekerja di kantor sang Mama.
"Pak... pas banget ketemu Bapak disini!" ucap wanita itu tampak ngos - ngosan.
"Ada apa?" tanya Ken dengan dahi yang berkerut samar.
"Ha-na...!" katanya dengan susah - payah.
"Hana? Kenapa dengan Hana?"
"Hana di paksa masuk ke dalam mobil oleh seseorang, Pak!"
"Apa?"
"Saya sempat mengejar mobilnya, tapi keburu pergi! Tapi, saya sempat memotret plat mobilnya!" ucap wanita itu lagi sembari menyodorkan ponsel pipih miliknya pada Ken.
Ken pun melihat pada layar ponsel milik wanita itu, demi melihat apa yang dimaksudkan snag wanita.
Ken cukup terkejut sat menatap foto mobil yang membawa Zahra. Mendadak, ia jadi merasa sangat cemas, karena ia langsung bisa mengenali mobil itu dalam sekali pandangan.
Ken pun mengunpat dalam hatinya.
"Ba-ji-ngan!"
Namun, Ken terpaksa memasang wajah datar dihadapan sang wanita, walau sebenarnya aura kemarahannya saat ini mungkin akan terpancar jelas.
"Oke, thanks..." Katanya pada wanita itu. Ken pun gegas memasuki pintu besi yang akan mengantarkannya turun ke basement--tempat ia memarkirkan mobil.
Sesampainya di mobil, Ken meraih earphone bluetoothnya dan langsung menekan panggilan ke nomor seseorang.
"Lo dimana? Hana dibawa paksa oleh Frans!" ucap Ken to the point saat panggilan itu tersambung ke nomor Rasta.
"Apa?" kata Rasta dari seberang sana, nada suaranya tentu terdengar sangat terkejut.
__ADS_1
"Lo cari Hana di gedung Graha Metropolis. Kalo perlu bawa anak - anak kesana!" titah Ken.
"Tapi, apa nanti kata bokap lo? Kita bakal di gusur security bahkan sebelum menginjakkan kaki dilantai gedung itu!" kata Rasta pesimis.
"Emang Frans breng -sek!" umpat Ken sambil mengemudikan mobilnya secara serampangan. "Kalo nunggu gue bakal lama, Cukk! Paling enggak 2 jam lagi gue baru nyampek disana! Lo masuk lewat celah mana, kek! Atau gak, pake plan kedua!" ucap Ken memberi usul.
Rasta tak menyahut lagi, ia paham dengan Plan kedua yang dimaksudkan oleh Ken. Panggilan itu pun langsung diputus sebelah pihak oleh Kakak kandung Zahra itu.
Ken kembali fokus pada jalanan, ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi saat sudah memasuki jalan lengang.
______
Zahra terbangun dari pingsannya, ia mengerjap beberapa kali dan mulai menyadari jika sekarang ia tengah berada di dalam mobil bersama seseorang.
"Frans..." Zahra amat terkejut melihat sosok Frans yang mengemudi disebelahnya.
Mendengar namanya disebut, Frans hanya menyeringai santai. "Kamu sudah bangun?" tanyanya.
"Kenapa aku bisa bersamamu? Dan... mau kemana kamu membawaku, Frans?"
Frans terkekeh, namun entah kenapa Zahra merasa bergidik dan merinding dengan suara Frans kali ini.
"Membawamu itu tidak terlalu sulit, Ra!" ucapnya pelan dengan nada intimidasi yang kentara.
"Kamu mau aku membayar uang finalty itu?" tanya Zahra akhirnya.
"Ya, apa kamu punya uang untuk membayarnya?" tanya Frans.
"Ada!" jawab Zahra lantang, ia akan meminjam uang pada Rasta saja dan ini sudah dipikirkannya meski ia belum sempat menceritakan hal ini pada sang Kakak.
"Kenapa aku bisa bersamamu dalam mobil ini?" gumam Zahra, lalu ia pun mengingat momen yang sempat terjadi beberapa jam terakhir--yang mungkin bisa memberinya petunjuk-- kenapa ia bisa berakhir didalam mobil bersama Frans.
"Kamu membiusku?" terka Zahra dengan wajah terkejut.
Frans mengangguk samar.
"Kamu sadar gak, tindakan kamu ini sudah termasuk tindak kriminal, Frans!"
"Asal kamu tahu, aku gak peduli dengan hal itu, Ra! Aku juga gak peduli soal uang finalty itu sebenarnya. Mau kamu balik ke perusahaan Papa lagi atau enggak, aku gak peduli!" dengkus Frans.
"Terus, apa yang sebenarnya kamu mau, Frans? Apa yang kamu inginkan, hah?"
"Aku mau kamu, Ra!" ucap Frans frustrasi.
"Aku mau kamu! Aku udah mencoba membenci kamu karena kamu adalah gadis yang dicintai Ken! Tapi, aku tetap gak bisa, karena aku juga mencintai kamu, Ra!" Frans menatap Zahra dengan tatapan sendu.
"Frans, kamu bisa dapatkan gadis lainnya, kamu pintar dan sukses! Tidak ada yang kurang darimu! Kamu bisa mendapat yang lebih baik dari aku... dan soal Ken, dia tidak mencintai aku, Frans!" lirih Zahra.
"Bullshittt! Kamu jangan pura - pura gak tahu, Ra! Jelas - jelas Ken sangat mencintai kamu! Dia merebut kamu dari aku!" marah Frans.
Zahra menggeleng. "Kamu salah, Frans! Kamu salah jika mengira Ken mencintai aku... hentikan semua ini, Frans! Aku bukan sebuah mainan untuk kalian perebutkan!"
Frans mendengkus keras.
__ADS_1
Apa Ken tak pernah menyatakan perasaan pada Zahra? Seperti yang Frans lakukan berulang kali pada gadis ini? Kenapa Zahra tampak yakin jika Ken tak mencintainya? Apa sebenarnya ucapan Zahra itu memang benar?
Tidak... jelas - jelas tatto di tubuh Ken berinisial H dan itu pasti Hana yang adalah Zahra.
Tapi, jika Zahra sendiri tak merasa bahwa Ken mencintainya, apa sebenarnya dugaan Frans yang salah? Frans juga tak pernah melihat tatto itu secara langsung, bukan? Dan jikapun itu berinisial H, belum tentu artinya 'Hana' kan? Masih banyak nama wanita lain dengan inisial itu.
"Kamu... yakin, jika Ken tidak mencintai kamu?" tanya Frans dengan intonasi yang mulai rendah, tampaknya ia lebih tenang sekarang.
Zahra mengangguk mantap. Namun, ia juga tak berani mengatakan pada Frans jika ia dan Ken sudah resmi bertunangan saat ini.
Terdengar helaan nafas lega dari Frans. "Syukurlah jika memang begitu, itu berarti aku bisa mencintai kamu tanpa adanya bayang - bayang Ken lagi," gumam Frans.
"Frans, seperti yang tadi ku katakan, kamu bisa mencari gadis lain."
"Kenapa, Ra? Apa kamu gak bisa memberiku kesempatan untuk masuk dalam kehidupanmu? Apa aku terlalu hina atau jahat dimata kamu?"
"Gak gitu, Frans... hanya saja perasaan aku yang gak bisa dipaksain. Aku gak bisa, maaf..."
"Ra, aku akan menunggu kamu! Aku sungguh - sungguh, Ra!"
Zahra menggeleng. "Jangan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Kamu akan menemukan orang lain yang mungkin bisa membalas perasaan kamu, tapi itu bukan aku."
Frans kembali menghela nafas, kali ini terdengar dalam.
"Baiklah, Ra! Aku gak akan memaksa kamu lagi. Tapi, jawab aku dengan jujur!"
"Ya... tentang apa?"
"Apa kamu benar - benar sudah bertunangan dengan anak dari wanita yang waktu itu?" tanya Frans memastikan rasa ingin tahunya.
"Benar!" Zahra menunjukkan jari manisnya yang sudah dihiasi cincin pertunangan. Frans harus tahu statusnya saat ini, meski ia tetap tak berani menyatakan pada Frans--jika tunangannya, tak lain dan tak bukan adalah Ken.
Frans merasa hatinya benar - benar patah sekarang. "Apa kamu mencintai pria itu?" tanyanya kemudian.
"Iya, Frans." Zahra menjawab yakin. Tentu saja ia mencintai pria itu, tunangannya, Ken.
"Kenapa kamu bisa menerima orang baru secepat itu, sementara lamaranku berulang kali kamu tolak, Ra!" protes Frans.
"Terkadang masalah perasaan akan sulit dijelaskan, Frans! Dan lagi, pria yang menjadi tunanganku bukanlah orang baru yang ku terima, melainkan orang yang sudah lama aku kenal, kami dipertemukan lagi oleh takdir."
Frans terdiam, ucapan Zahra terasa mencekat tenggorokannya. Menohoknya sampai ke ulu hati, menjadikan sakitnya semakin nyeri yang kini terasa nyata.
"... aku rasa, begitulah yang disebut sebagai rantai jodoh. Biarpun kami berpisah dan berjarak sedemikian jauh, pada akhirnya kami kembali bertemu untuk disatukan," imbuh Zahra lagi.
"Apa tidak ada keajaiban untuk aku, Ra? Keajaiban yang akan menjadikan kamu sebagai jodohku?" tanya Frans dengan tampang sendu.
Zahra menggeleng lemah. "Maaf, Frans. Aku harap kamu adalah pria dewasa yang bisa menerima keadaan. Lepaskanlah segala yang menjerat kamu, baik itu cinta, dendam atau problem apapun! Aku yakin, jika kamu bisa melakukan itu, hidup kamu akan terasa lebih tenang," saran Zahra.
Frans semakin terpesona dengan sosok gadis disebelahnya ini. Buktinya ia tak bisa membenci Zahra meski ia sudah mencobanya.
Dan sekarang, saat mendengar Zahra berbicara dengan lembut padanya seperti ini, justru membuatnya semakin mencintai gadis ini. Tutur kata Zahra yang lembut selalu berhasil meyakinkannya serta mampu meredam kemarahannya. Zahra seolah menuntunnya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Sungguh, ia mengingikan sosok seperti Zahra yang akan mendampinginya kelak. Namun, ucapan Zahra harus ia pertimbangkan. Karena, urusan hati memang tidak bisa dipaksakan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha melupakan kamu, Ra. Meski aku tahu pasti akan sulit. Aku harap, kamu selalu bahagia dengan siapapun pilihan kamu!" batin Frans.