
"Selamat pagi, Sayang..." Sudah seminggu ini Ken bangun pagi dengan senyuman melengkung. Bagaimana tidak, sekarang ia selalu terbangun dalam keadaan memeluk istrinya yang tidur meringkuk didekapannya.
Jika dulu ia paling anti bangun subuh, sekarang ia seperti berlomba-lomba dengan Zahra, agar ia yang lebih dulu bangun daripada istrinya.
"Sayang, shalat dulu yuk..." Ia membelai wajah istrinya yang belum membuka mata. Ia menciumi wajah Zahra yang mulai tersadar dari tidur.
"Udah subuh, ya?" tanya Zahra sambil menggeliat pelan dalam dekapannya.
Ia mengangguk. "Huum... kenapa? Nyenyak banget ya tidur dipeluk aku?" tanyanya sambil terkekeh pelan.
"Iya, nih kayak didekap beruang... pegal - pegal badan aku," kelakar Zahra mengulumm senyum.
"Huahaha... suami sendiri dikatain beruang." Ia tertawa, "Aku bukan beruang sayang, aku ini buaya insyaf dan sekarang menjadi singa yang siap menerkam kalau didekat kamu!" sambungnya didalam hati. Dalam hati saja--tidak berani mengutarakan.
"Kenapa senyum - senyum?" Zahra menanyainya.
"Hehe... gak apa-apa, mana mungkin kamu pegal - pegal dipelukan aku, yang ada bahu dan lengan aku yang kesemutan, sayang." Ia berlagak mengeluh sembari menggerak-gerakkan otot bahunya yang sedikit kram karena posisinya ditimpa kepala Zahra semalaman.
"Ya aku pegal karena kamu peluk aku erat banget. Tapi, kalau kamu sampai kesemutan begitu, besok - besok aku gak mau dipeluk kamu lagi pas tidur, tidurnya jaga jarak aja deh, kalau perlu pakai masker," Zahra mencebikkan bibir-- membuatnya gelagapan.
"Hah?" Ia hampir terkekeh kencang mebayangkan jika tidur sambil memakai masker seperti ucapan sang istri.
"Ya janganlah, Sayang. Walaupun tiap hari aku kesemutan pun, aku rela asal kamu tidurnya mepet ke aku terus!" ucapnya mengelak.
Zahra mengangkat bahu cuek, tanpa menyahut Zahra beringsut menuju kamar mandi. Walau Zahra masih tetap dengan sikapnya yang kadang tegas dan kadang malu - malu jika ia goda, namun sekarang Zahra lebih terkesan tak canggung lagi padanya, mereka semakin dekat dan tentunya semakin intens satu sama lain.
Ia pun menyusul dibelakang tubuh istrinya.
Setelah shalat subuh, Zahra mulai memasak menu sarapan untuk mereka berdua.
Ia yang melihat Zahra memasak, justru merasa ingin mengganggu kegiatan istrinya itu.
"Ah, Ken... aku lagi masak ini!" keluh Zahra sembari mengendikkan bahu yang kini ia gelayuti dengan meletak wajahnya disana.
"Aku mau peluk kamu, begini... terus! Setiap hari..." ucapnya serius sembari semakin mendekap tubuh istrinya dari belakang.
"Ken!" decak Zahra saat ia sengaja menggigit cuping telinga istrinya.
"Entar gak siap ini masaknya!" keluh Zahra lagi.
"Kalau gak siap, kita tinggal beli online," jawabnya enteng.
Zahra membalikkan badan, menatapnya lekat. "Jangan bilang kamu lebih suka makanan yang dibeli secara online daripada masakan aku!"
Ia terperangah, lalu menggeleng cepat. "Siapa bilang? Bukan gitu! Masakan kamu paling the best sayang... aku mau makan masakan kamu setiap hari!"
"Ya udah, kalau gitu jangan ganggu aku masak."
"Tapi aku juga mau ganggu kamu tiap hari." Ia tersenyum culas.
__ADS_1
Zahra mencebik kesal dengan wajah merah. Ia menjadi gemas dan mencubit kedua pipi Zahra yang cukup chubby.
"Ya udah, lanjutin masaknya. Abis itu boleh kan pelukan seharian?"
"Enggak mau, nanti kamu kesemutan lagi."
Ia tergelak mendengar sindiran sang istri. Kemudian ia beranjak dari dapur, menuju ruang tengah. Seperti biasanya, ia akan memantau kurva di layar laptopnya.
Ia seperti pengangguran sekarang, Bengkel belum resmi dibuka, saham sudah bergerak di beberapa perusahaan tanpa campur tangannya, paling ia hanya memantau pergerakannya saja.
Pekerjaannya sekarang hanya menjaili istri cantiknya saja, pekerjaan yang menyenangkan, bukan?
Hampir setengah jam berkutat didepan laptopnya, ia mengadah saat Zahra sudah tiba didepannya.
"Ayo sarapan... makanannya udah siap dimeja makan," Zahra menatapnya dengan penuh cinta dan ia membalas dengan tatapan yang sama.
Mereka pun sarapan bersama di meja makan.
"Ehm, Ken... besok kita kembali ke rumah Mama kan?"
Ia mengangguk.
"Sudah seminggu kita menikah, apa aku boleh bekerja lagi dengan Mama?" tanya Zahra dengan nada penuh kehati-hatian.
"Kamu suka dengan pekerjaan kamu?"
Zahra mengangguk.
"Serius?" Intonasi suara Zahra berubah antusias.
Kini ia yang mengangguk.
"Makasih, Sayang ..." Zahra memeluknya, membuatnya tak menyangka akan perlakuan sang istri. Ia terdiam saat Zahra menggelayutkan kedua tangan dilehernya.
Baru saja ia ingin larut dalam kesenangan yang tak disangkanya itu, namun istrinya terlanjur sadar akan apa yang baru saja terjadi.
"Eh, maaf... aku terlalu senang," Zahra beringsut, kembali duduk di kursinya.
Ia tersenyum smirk. "Gak apa - apa, Sayang. Justru aku senang kalau kamu memanggilku 'Sayang'. Apalagi kalau sesekali kamu bersikap agresif seperti itu," jawabnya.
Zahra menunduk, sudah dapat dipastikan jika ucapannya tadi membuat wanita itu malu.
"Tapi... rumah kita disini gimana, ya? Kalau kamu kerja otomatis rumah ini gak ditempati. Ada kemungkinan juga kita jadi LDR, karena bengkel aku kan disini sementara kamu kerja disana. Apa aku pulang - pergi tiap hari dari sini ke rumah Mama? Atau kamu yang pulang pergi dari kantor Mama ke rumah ini?"
"Iya juga, ya..." Zahra tampak berpikir.
"Mana mungkin pulang - pergi, Ken! Perjalanan dari sana ke sini saja memakan waktu 2 jam. Pergi 2 jam. Pulang 2 jam. Kayaknya enggak mungkin..." kata Zahra memberi pendapat.
"Nah itu kamu tahu!"
__ADS_1
"Apa aku berhenti kerja ya, Ken?" Zahra tampak lesu setelah mengatakan hal itu.
"Kamu suka banget kerja sama Mama?" tanyanya.
"Dari kecil aku udah biasa cari uang, Ken."
"Kalau masalah uang, kan ada aku yang mencarinya, Sayang."
"Iya, tapi aku juga gak suka hanya berdiam diri dirumah."
"Kalau aku bukain usaha buat kamu, mau enggak? Supaya kamu ada kegiatan... ya itupun kalau kamu gak keberatan karena terlalu cinta sama pekerjaan kamu."
"Kamu ... beneran?"
"Iya, kamu minat dalam bidang apa? Biar aku punya ide yang cocok untuk usaha yang akan kamu kelola!"
"Emm... apa ya, aku suka buat kerajinan tangan, aku suka masak dan aku suka apa aja yang bisa menghasilkan uang."
Ia terkekeh mendengar antusias istrinya yang serba bisa itu.
"Ya udah nanti aku pikirkan apa yang cocok untuk kamu!"
Zahra menganggukkan kepalanya secara berulang, kentara sekali jika Zahra senang dengan usul yang ia kemukakan.
"Kalau memang kamu cinta banget sama kerjaan kamu dikantor Mama, mungkin aku bakal bujuk Mama biar pindah kantornya kesini."
"Ya gak usah segitunya, Ken! Aku juga gak mau buat semua orang jadi repot. Biar aku saja yang kehilangan pekerjaan, daripada semua orang yang bekerja dikantor Mama jadi pusing karena memikirkan kantor yang pindah tempat, terus jauh pula dari rumah mereka," ucap Zahra tersenyum hangat.
"Nah, istriku memang bijak. Aku jadi makin cinta." Ia mengecup dahi Zahra sekilas.
"Hari ini kita jalan - jalan yuk, kita kan masih pengantin baru," ucapnya kemudian.
"Baiklah, kita kemana?" tanya Zahra.
"Aku mau mengajak kamu kesuatu tempat. Aku gak tahu kamu suka atau enggak, tapi aku harap kamu bersedia kalau aku sering mengajak kamu kesana."
"Sering?"
Ia mengangguk pada sang istri.
"Tempat apa itu? Apa itu tempat spesial? Atau semacam tempat wisata?" tanya Zahra penasaran.
"Spesial, tapi bukan tempat wisata sih, cuma... hanya kamu yang akan aku beritahu tentang tempat itu. Orang lain gak pernah tahu kecuali kamu aja."
"Wah! Aku jadi semakin penasaran." Zahra tersenyum cantik, membuatnya mengelus rambut istrinya yang polos.
"Kamu akan tahu nanti, aku harap kamu gak terkejut."
"Jeng jeng jeng... tempat apakah itu?" gurau Zahra tampak memicing serius.
__ADS_1
"Yang jelas bukan tempat maksiat, Sayang... tenanglah."
******