Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Setelah ikrar


__ADS_3

Akad sudah selesai diikrarkan, namun entah kenapa Ken justru merasa masih gugup. Apalagi sekarang ia duduk berdampingan dengan gadis yang sudah resmi menjadi istrinya.


Mata Ken mencuri - curi pandang pada sosok yang ada disisinya, sosok itu amat anggun dengan balutan kebaya putih yang elegan. Senyumnya tersungging, apa saat ini Hana-nya benar - benar bahagia seperti yang tertangkap dalam lensa mata penglihatannya?


Disaat Ken tengah asyik mengagumi sosok Zahra dalam hatinya, para tamu yang hadir di acara dadakan mereka hari ini pun, mulai berdatangan kedepan mereka. Tamu - tamu itu menyalaminya dan Hana bergantian untuk memberikan ucapan selamat.


Ken tidak begitu fokus pada apa yang mereka ucapkan, ia hanya menjawab iya dan iya, karena atensinya saat ini adalah memikirkan gadis disampingnya. Apa benar Zahra bahagia telah dinikahi olehnya?


"Apa hari ini kamu bahagia?" Daripada ia bertanya - tanya dalam hati tanpa mendapat jawaban, lebih baik ia menanyakan langsung pada wanita disebelahnya.


Zahra menoleh padanya-- bersamaan dengan habisnya deretan orang - orang yang tadi berbaris seolah mengantri--untuk menyalami dan memberi ucapan selamat pada mereka.


"Kalau kamu?"


Bukannya menjawab pertanyaannya, Zahra justru bertanya balik padanya.


"Aku? Tentu saja aku sangat bahagia," jawabnya jujur.


"Sangat?" tanya Zahra lagi, dengan tampang menyelidik.


"Sangat... sangat bahagia, Sayang." Ia menjawab sembari melihat Zahra yang langsung menundukkan kepala.


Hah, sebutan 'sayang' pada Zahra selalu berhasil membuat gadis itu terdiam sejenak. Kata itu seperti mantra yang bisa membuat pipi Zahra langsung merona semerah delima. Ia selalu suka melihat Zahra dalam mode ini, rasa hatinya langsung ingin mengelus pipi merah milik wanita itu. Sangat menggemaskan!


"Kalau kamu, gimana? Bahagia enggak?" Ia kembali menanyakan lagi pertanyaan yang sama-- berharap kali ini dijawab oleh Hana-nya.


Zahra mengangguk sekilas.


"Serius?" tanyanya memastikan.


Zahra kembali mengangguk tanpa kata.


Wah ... betapa senang hatinya saat ini.


Itu berarti mereka sama - sama bahagia. Fiuh... leganya.


"Terima kasih, Sayang..." bisiknya mesra ditelinga Zahra.


Zahra terkesiap. "Ken..." ucap Zahra memprotes sikapnya. Zahra pun langsung sedikit beringsut, agak menjaga jarak, bahkan menggeser sedikit kursi yang ia duduki.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Malu..." jawab Zahra dengan wajah merah padam.


"Loh, kita udah menikah. Kenapa harus malu?"

__ADS_1


"Diliatin orang - orang, Ken!"


Ia tersenyum smirk.


"Yaudah, nanti aja ya kalau udah gak ada yang lihat!" Ia kembali berbisik meski kini jarak mereka tak sedekat sebelumnya.


Mendengar kalimatnya, entah apa yang dipikirkan oleh Zahra sehingga gadis itu mencubit lengannya sekilas. Ia meringis kesakitan walau sebenarnya tak sesakit itu, ekspresinya saja yang ia lebih - lebihkan.


"Jangan ganjen kamu!" kata Zahra tampak mengingatkan.


"Ganjen sama istri sendiri gak dosa kok! Halal dan sah - sah aja!" jawabnya jumawa.


"Udah ah, aku mau gabung sama temen - temen aku disana." Zahra segera beranjak dari kursinya dan ia membiarkan hal itu karena ia juga merasa perlu melakukan sesuatu yang mungkin akan mengalihkan atensinya dari Zahra sejenak.


Tanpa sengaja, ia melihat Rasta dan Cira yang berdebat diujung sana.


"Apa lagi yang mereka ributkan?" gumamnya.


Sebelum menyaksikan pertunjukan seru itu, ia menatap sekilas kearah Zahra yang sudah asyik berbincang dengan teman - teman kantornya yang hadir, termasuk Lala yang juga ikut berada diantara mereka.


Ia pun bangkit dari kursinya dan memilih untuk menggoda Rasta yang sepertinya tampak kesal sebab melihat Cira yang datang bersama Dito. Tentu saja ia juga mengenal siapa Dito.


Ia ingin melihat apa yang dilakukan Rasta pada Cira, diujung sana. Ia akan menggoda sahabatnya itu. Ia jadi memiliki naskah untuk mengolok Rasta kali ini.


______


Rasta menatap nanar pemandangan didepannya. Adik yang baru ditemukannya beberapa saat, kini harus ia ikhlaskan untuk dijaga oleh pria lain yang sudah sah menjadi suami dari Adiknya itu.


"Selamat ya untuk kalian," ucapnya lapang dada.


Ken yang sedari tadi menatapi Zahra, kini tampak menoleh padanya.


"Makasih ya, Kakak ipar!" ucap Ken dengan senyum meledek. Ia tahu, Ken ingin membalas senyuman yang sempat ia berikan diawal sebelum akad tadi.


Ia hanya menggelengkan kepalanya, kemudian melihati proses demi proses acara pernikahan Ken dan Zahra yang hampir selesai setelah menyalami Devia serta beberapa kerabat yang hadir.


Ia masih menatapi sang Adik yang tampak sangat cantik dengan balutan kebaya warna putih. Untunglah itu adiknya, jika tidak, mungkin ia akan menjatuhkan hati juga pada sosok sebaik Zahra.


Ken benar - benar beruntung mendapatkan Zahra, namun ia tak menyangkal jika Zahra juga amat beruntung berada dalam penjagaan Ken sebagai suami. Karena Rasta amat tahu bagaimana besarnya perasaan Ken terhadap adiknya itu. Ia mempercayakan Zahra sepenuhnya pada Ken, sahabatnya.


Sampai matanya tak sengaja menangkap sosok gadis bocah yang selalu memanggilnya dengan sebutan 'Om'.


"Hah, dasar bocil! Udah punya gandengan aja dia. Kalah gue sama anak kecil..." batinnya merasa tak terima, merasa kalah saing saat melihat Cira datang dengan didampingi seorang pemuda.


Dengan tingkat keusilan yang hakiki, kali ini ia ingin membalas Cira yang selalu menang adu debat dengannya.

__ADS_1


"Gue kerjain juga ni bocah... biarin aja dia putus sama pacarnya!" Batin tengilnya mulai bekerja aktif.


"Anak kecil udah pinter pacaran aja, ya!" celetuknya diantara Cira dan pemuda yang belum ia ketahui namanya itu.Tahu namanya?Ah buat apa juga? Bukan urusan gue!


Cira menoleh kepadanya dan memamerkan senyum kecut. "Eh, Om... rupanya Om itu Kakaknya Kak Hana, ya?" tanya Cira yang kemarin sempat heran dengan kedekatannya dengan Zahra.


"Ya baguslah kalo lo tahu. Makanya jangan cemburu duluan kalau belum tahu kebenarannya!" ucapnya percaya diri.


"Hah? Cemburu?" Cira tampak melongo. "Cemburu sama siapa, Om?" tanya Cira kemudian.


"Ya elo! Cemburu liat gue sama Hana!"


Cira terbahak. "Aku juga kalo mau cemburu lihat - lihat orang, Om!" ucap Cira yang terdengar sangat mencibirnya itu, bahkan menyulut amarahnya.


"Kamu kenal sama Om ini, Ci?" celoteh pemuda disamping Cira secara tiba - tiba.


Ia langsung menyoroti wajah pemuda itu. Kenapa anak ini memanggilnya Om juga? Cukup Cira saja yang memanggilnya begitu, kenapa cowok ini juga memanggilnya Om? Apa ia memang setua itu?


"Kau siapa?" tanyanya dingin pada pemuda itu.


"Aku Dito, Om!" sahut lelaki itu dengan tampang ramah namun ada kerutan heran saat melihatnya.


"Kak Dito, kita gak usah disini... pindah yuk!" Cira dengan entengnya menarik tangan Dito untuk menjauh dari dirinya dan Dito mengikuti saja langkah gadis kecil itu tanpa banyak protes.


Haisss... apa-apaan bocah - bocah ini? gerutunya dalam hati.


Tak berselang lama, Ken menepuk pundaknya dan memberinya segelas air minum.


"Sabar ya, Bro! Kalau naksir bocah emang saingannya bocah juga pasti!" ledek Ken dengan senyuman yang tampak menjengkelkan. Entah sejak kapan Ken berada disana untuk menonton perdebatannya tadi dengan Cira.


"Maksud lo?" Ia meneguk minuman yang tadi Ken beri padanya.


Ken menatapnya penuh arti, seolah tahu saja isi kepalanya saat ini.


"Lo pikir gue suka sama itu bocil? Gue cuma mau ngerjain dia doang! Gue juga masih normal, Bro! Masih banyak cewek seksii diluaran sana yang nunggu dan ngincar - ngincar gue!" ucapnya congkak.


Ken terkekeh. "Ya, ya, gak ada yang bisa nolak pesona seorang Rasta Dirgantara. Tapi, jangan lupa ingat umur, Men!"


"Lo jangan ngadi - ngadi, Cuuk! Lo enyahkan pikiran lo yang absurd itu! Lo lupa siapa yang lo ejek ini? Gue kakak ipar lo sekarang!" ancamnya sengaja.


Ken terbahak didepannya. "Huahahaha... sekarang udah punya jurus andalan ya lo? Bangga gitu?" ejek Ken.


"Bang-sat lo!" Ia merangkul leher Ken dan memitingnya sekilas, lalu mereka tertawa berbarengan karena kelakuan yang mereka perbuat.


*****

__ADS_1


__ADS_2