
Pagi - pagi sekali, Cira sudah bersiap untuk berangkat ke sekolahnya, ia telah memesan taxi online seperti biasanya dan ingin menaikinya namun ternyata Rendy datang menjemputnya ke rumah.
"Rendy...." Cira tentu heran kenapa Rendy masih tetap datang walau ia yakin kemarin Rasta telah melarang cowok ini untuk mendekatinya.
"Hai, Cira..." sapa Rendy.
Devia yang melihat Cira dihampiri seorang cowok SMA pun menghampiri untuk menanyakan siapa cowok itu kepada Cira.
"Cira, kamu mengenal dia?" tanya Devia dari ambang teras.
"Iya, Ma... ini Rendy temen sekolah aku."
"Hallo Tante...." Rendy menghampiri Devia dan menyalami wanita baya itu dengan takzim.
"Oh, temennya Cira. Tante pikir siapa.... ya udah, Tante masuk dulu ya. Pergi sekolahnya hati-hati ya, Ci."
"Iya, Ma."
"Iya, Tante..." kata Rendy pula.
Devia yang tahu bahwa Cira akan menaiki taxi online, kembali masuk ke dalam rumah.
"Ngapain kesini, Ren?"
"Usaha, Ci... siapa tahu kamu mau nebeng lagi."
Cira tertawa pelan. "Usaha apaan? Ini taxi aku udah dateng. Sampai ketemu disekolah aja ya," katanya terkekeh. Cira semakin yakin kalau Rendy sedang tahap mendekatkan diri kepadanya dan dia tidak mau memberi harapan kepada cowok itu karena selain Rendy bukan tipenya, ia juga masih memikirkan sekolah serta problemnya, tidak mau menambahi beban pikiran dengan hal lain termasuk soal percintaan.
"Jadi aku di tolak mentah-mentah, nih?" tanya Rendy saat Cira sudah ingin membuka pintu mobil.
"Gitu deh..." kelakar Cira sembari masuk ke jok belakang taxinya. "Dah..." Cira melambaikan tangan pada Rendy dari jendela mobil yang terbuka.
Rendy tidak marah, justru dia senang Cira mau meresponnya meski ajakannya ditolak lagi kali ini.
"Kayaknya besok gue harus datang lebih pagi sebelum Cira pesan taxi," tekad Rendy dalam hati.
Rendy celingukan melihat kedalam rumah, mencari-cari sosok Om Cira yang mungkin akan menasehatinya lagi karena telah berani mendekati Cira, namun sejauh mata memandang ia tak mendapati sosok itu hingga membuatnya bisa bernafas lega. Sedikit banyak ia harus waspada terhadap Om Cira yang cukup galak dipandangan matanya, namun ia tidak mau menyerah terhadap Cira karena ia sudah jatuh hati pada cewek itu. Cira definisi cewek yang sesuai tipenya, dari segi fisik, penampilan dan attitude.
_____
Disekolah, Cira berteman dengan sesama teman cewek, sikapnya yang ramah membuatnya gampang berbaur dengan siapa saja, namun Cira tetap menjaga jarak dari teman cowok karena ia tidak mau membuat kesalahpahaman lagi seperti saat ia dekat dengan Rendy-- itupun karena faktor tak disengaja.
__ADS_1
"Aku belom bisa yang ini nih..." gerutu Cira pada Alina, kawan sebangkunya. Cira memang payah dalam pelajaran fisika dan matematika.
Alina melihat tugas yang belum diselesaikan oleh Cira, ia membantu menjelaskan pada Cira sebisanya, namun Cira tidak memahami penjelasan Alina yang sulit dimengerti dan berbelit-belit. Cira semakin pusing jadinya.
"Ya udah, masih ada waktu sampai minggu depan sebelum tugasnya dikumpulkan, kamu belajar sendiri dari internet atau cari siapa yang bisa ngejelasin sama kamu dengan cara yang lebih mudah kamu pahami," kata Alina yang menyerah mengajari Cira yang sedikit bebal.
Cira memanyunkan bibir melihat Alina terkekeh setelah lelah memberi penjelasan pada cewek itu.
Jam pelajaran usai dan seperti biasanya Cira dan Alina keluar dari area sekolah bersamaan. Didepan gerbang, Cira dan Alina keheranan karena teman-teman mereka khususnya yang sesama perempuan berkumpul membentuk kelompok-kelompok lalu terdengar berbisik-bisik menceritakan seseorang, entah siapa.
Cira melongo melihat Rasta sudah berada disana, ngapain? batin Cira bertanya-tanya.
Penampilan Rasta juga tampak berbeda, biasanya pria itu tampil urakan dengan kaos oblong dan jeans belel yang robek sana robek sini, tapi sekarang penampilan Rasta berbeda 180° karena ia mengenakan pakaian jas formal slimfit yang sangat pas membalut tubuhnya.
Pantas saja semua teman-teman Cira berdesakan dan berdesas-desus menceritakan sosok itu. Tampangnya memang patut menjadi bahan pembicaraan.
"Haisss udah kayak artis aja di gosipin segala," gerutu Cira yang sadar jika semua teman-temannya sedang membahas pria itu.
"Kenapa, Ci? Kamu kenal?" tanya Alina yang mendengar sekilas gerutuan Cira tadi. Cira menggeleng, ia ingin berlalu dari sana sebelum Rasta melihat keberadaannya, pasti Rasta ingin memarahinya lagi kali ini, mungkin Rasta tahu jika pagi tadi Rendy datang lagi kerumah dan ia sangat malas meladeni kemarahan Rasta.
Alina merasa jika Cira berbohong, namun ia cuek saja. Alina pun pamit pada Cira saat ojeknya sudah menjemput.
Saat Cira hendak beranjak, didetik yang sama Rasta menyadari posisi cewek itu yang berada diantara sekumpulan siswi SMA lainnya yang entah kenapa hari ini tampak bergerombol didepan gerbang.
Cira menepuk jidatnya dan mau tak mau ia berbalik lagi demi menghampiri posisi Rasta disana.
Langkah Cira yang menuju ke arah Rasta dipandangi oleh semua teman-teman perempuannya yang masih berada disana. Tampak mereka menatap iri kepada Cira dan sebagian lagi bahkan mengira Cira cewek yang beruntung karena bisa mengenal sosok pria seperti Rasta yang sejak tadi mereka kagumi fisiknya.
"Om ngapain disini?" tanya Cira dengan suara berbisik.
"Jemput elo! Ayo naik!" jawab Rasta cuek.
Cira bernafas lega karena dugaannya jika Rasta ingin memarahinya ternyata salah.
Rendy yang baru keluar dari area parkiran pun melihat jika Cira dijemput oleh Om-nya, dalam hati Rendy merasa gagal lagi mengajak Cira jalan bareng.
"Lo nungguin apa? Ayo buruan naik!" kata Rasta lagi.
"Iya," jawab Cira dan memasuki kabin penumpang disamping Rasta yang mengemudi.
"Kenapa Om jemput aku disekolah?"
__ADS_1
"Gak boleh?"
"Bukan gitu, aneh aja!"
"Aneh? Bilang aja lo kesel gue jemput, karena lo jadi gak bisa pulang bareng cowok lo, kan?"
"Itu bukan cowok aku!" Cira mendengkus keras, bersedekap dan memandang keluar jendela mobil.
Rasta tertawa pelan. "Apapun sebutannya, intinya lo udah pulang bareng sama dia. Sekarang gue kasih tahu elo ya... lo jangan dekat sama cowok yang gak berani ngasih lo komitmen!"
Cira menoleh ke arah Rasta. "Maksudnya?" tanyanya tak paham.
"Lo inget problem lo apa kan?"
Cira menganggukkan kepalanya.
"Nah, kalo cowok cuma mau main-main deketin lo, lebih baik gak usah lo gubris. Tapi, kalo emang cowok itu berani berkomitmen dan mau nikahin lo baru lo boleh deket," terang Rasta.
"Oh..." Cira ber-oh panjang.
"Paham gak lo?"
"Ya paham. Berlaku untuk Om juga kan?"
"Maksudnya?" Rasta mengernyit, sekarang ia yang tak paham maksud Cira.
"Om gak usah jemputin aku, gak usah urusin cowok yang dekat dengan aku, kalo Om sendiri juga gak berani berkomitmen untuk menikah dengan aku!"
"Apa?" Mata Rasta melebar mendengar penuturan Cira. "Gue jemputin lo, ngurusin cowok yang dekatin lo karena gue... ya karena gue udah repot bantuin lo sekolah! Terus...Hana dan Ken nitipin elo ke gue! Jangan kaitkan sama gue yang gak mau berkomitmen sama lo dong! Gak fair itu namanya!" sanggah Rasta kemudian.
"Ya udah sih, intinya Om juga sama kan...enggak berani berkomitmen."
"Berani lah!"
"Mana buktinhya? Sampe sekarang aja gak berani nikah!" tantang Cira.
"Elo..." Rasta geram mendengar Cira yang sudah berani menjawab dan menantang ucapannya.
"Udah deh yang penting lo sekolah aja yang bener! Urusan gue mau nikah ya nanti juga gue nikah sama cewek yang srek dihati gue!" kata Rasta pedas.
Cira langsung kesal mendengarnya, itu berarti Rasta memang tidak menganggap tawaran menikah yang ia ajukan pada pria itu secara serius. Ucapan Rasta juga seperti mengatakan bahwa Rasta sama sekali tak tertarik pada sosok Cira.
__ADS_1
"Aku emang masih bocah... bukan tipe Om sama sekali dan gak akan membuat Om srek sedikitpun sama aku," batin Cira merasa sedih, entah kenapa ia merasa kecewa dengan jawaban Rasta itu.
******