
Bab ini akan ada sedikit adegan kekerasann! Harap bijak menyikapinya🙏 🙏
________
Ken tiba dikediaman Rasta dan Paman Sapta--setelah berkendara kurang lebih lima belas menit--namun setibanya disana, ia tak menemukan siapapun atau apapun yang tampak mencurigakan.
Rumah itu tampak sepi, sekelilingnya juga bersih seperti tak tersentuh, tidak ada tanda - tanda adanya kedatangan orang lain.
Ken memanggil Rasta dan menggedor pintu untuk kesekian kali, namun ia tak mendapat sahutan sama sekali.
Perasaan Ken semakin tidak enak. Insting dan nalurinya mengatakan jika telah terjadi sesuatu pada Rasta dan Paman Sapta.
Ken berjalan agak menjauh ke depan rumah, jalanan yang menghubungkan jalan raya ke pekarangan rumah itu tidak terdapat tanah atau semacamnya, melainkan jalanan itu sudah di paving blok--sehingga Ken tidak bisa melihat adanya jejak kaki seseorang ataupun jejak ban mobil yang mungkin sempat berhenti dipekarangan.
Jikapun memang ada yang datang ke kediaman Rasta, pasti mereka telah menyusun siasat agar rencana mereka mulus tanpa meninggalkan kecurigaan.
Tapi, selalu ada peluang untuk manusia melakukan kesalahan. Ken melihat bekas rembesan bensin yang tercecer diatas paving blok. Ia berjongkok dan melihat lebih dekat untuk memastikannya.
Disaat Ken berpikir tentang kemungkinan - kemungkinan yang terjadi, ponselnya bergetar dan ia meraih itu dari saku celana jeans nya.
Sebuah maps yang mengarahkan pada suatu titik lokasi.
Ia memang melacak keberadaan Rasta melalui sebuah alat pelacak yang sempat ia pasang di ponsel kakak iparnya itu, ia juga melakukan hal yang sama pada ponsel Zahra, hanya untuk berjaga - jaga--karena keadaan mendesak yang membuatnya harus melakukan itu dan ternyata sangat bermanfaat disaat seperti ini.
Ken marah, namun ia tidak tersulut emosi yang menggebu - gebu, ia masih tenang dalam menghadapi situasi ini karena ia tahu Rasta pasti bisa menjaga dirinya sendiri dan Ken yakin tentang kemampuan sahabatnya itu.
Ken beranjak dari sana dan menuju lokasi yang tertera di ponselnya.
_____
Rasta tertawa sumbang saat tubuhnya dilemparkan ke tumpukan garam. Ya, sekarang ia berada di dalam pabrik tua tempat pembuatan garam--entah gudang ini masih aktif digunakan atau tidak-- tapi, Rasta tahu jika pabrik ini berjarak sangat dekat dengan lautan lepas.
"Kau sudah tahu kan? Siapa yang pengecut diantara kita?" tanya Rasta mencibir ke arah pria berperawakan asing diseberangnya, wajah pria itu sudah bersimbah darah sebab dihajar oleh Rasta secara membabi-buta.
Hal itulah yang membuat Rasta harus terjebak disini, bukan karena kekalahannya melawan sang musuh utama--dia menang--namun, dia kalah jumlah. Dia sendirian, sementara musuhnya berkomplot menyerangnya setelah ia menumbangkan pria itu tanpa senjata dikediamannya beberapa saat lalu.
Pria dihadapan Rasta duduk disebuah kursi kayu dengan nafas yang pendek - pendek. Ia meminta seorang anak buahnya menyulutkan api rokok untuknya, dan diapun mulai menghisapp rokoknya dalam - dalam.
"Ikat dia!" titah pria itu santai.
Separuh dari anak buahnya pun mengikuti arahan pria itu untuk mengikat tangan serta kaki Rasta.
"Dimana pamanku?" tanya Rasta lesu, ia mencoba berontak saat diikat oleh beberapa orang, namun ia kalah tenaga karena sekarang ia juga lelah sebab telah menghajar musuhnya dengan tangan kosong tadi.
"Pria tua itu dimobil satunya, mereka belum tiba karena mereka harus berhenti dulu di dermaga, kemudian naik kapal agar sedikit ke tengah lautan!" Pria itu tertawa kecil. "Mereka akan memberi makan hiu - hiu yang kelaparan disana!" sambungnya santai dan melihat Rasta terbelalak diseberangnya.
"Bia dap!" kata Rasta, ia tahu pasti maksud pria ini tentang memberi makan hiu--dia mengumpankan paman Sapta untuk menjadi santapan hiu dilautan. Sia lan!
__ADS_1
Pria itu mengembuskan asap rokoknya ke langit - langit ruangan, membuat aroma nikotin menyeruak disana, satu orang anak buahnya pun mulai membersihkan luka - luka diwajahnya yang babak belur akibat perbuatan Rasta.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Rasta.
"Aku? Tentu aku ingin menghabisimu dan adikmu. Tapi, aku tidak mau kau mati dengan mudahnya... kau harus menerima penyiksaan dulu dariku!"
Pria itu menjentikkan jari sebagai isyarat untuk anak buahnya.
Tak berapa lama, anak buahnya menghampiri tubuh Rasta dengan alat - alat yang Rasta sendiri tak mengerti untuk apa-- semacam kabel--kemudian mereka mulai memasangkan alat itu disekujur tubuh Rasta yang sudah terikat.
"Aku akan menanyaimu sesuatu hal! Usahakan untuk menjawab dengan jujur atau kau akan tewas karena tegangan tinggi yang berasal dari alat itu!" ucap pria itu menyeringai.
Rasta memberontak lagi namun ia tidak bisa lepas dari cengkraman beberapa orang yang masih memegangi tangan dan kakinya.
"Kau siap?" tanya pria itu dengan tawa bengis.
Rasta meludah didepan pria itu menandakan kejijikannya. Pria itu hanya tertawa santai melihat tingkah Rasta.
"Baiklah, kita mulai saja. Yang pertama ingin ku pastikan adalah tentang Zahra. Aku ingin memastikan jika Zahra Alhana adalah benar Zeevana atau bukan?"
Rasta membuang wajah, tak menjawab pertanyaan orang itu.
"Apa urusanmu dengan Zahra Alhana? Dia bukan Zee!" dusta Rasta setelah beberapa saat terdiam.
"Sebenarnya aku sudah tahu, tapi aku masih berharap jika mereka dua orang yang berbeda. Jadi jawablah!" kata Pria itu mulai berdiri dari duduknya.
Pria dihadapan Rasta menyeringai sambil menggelengkan kepalanya.
"Setrum dia!" titahnya dan seketika itu juga Rasta tersetrum oleh alat yang memiliki tegangan tinggi, itu cukup bisa membuat Rasta lemah--meski itu hanya terjadi beberapa detik, tapi berhasil membuat Rasta hampir hilang kesadaran.
"Kau pikir aku bodoh? Dengan kau mengatakan jika Zahra Alhana bukanlah adikmu maka aku akan percaya?" pria itu berdecak lidah beberapa kali.
"Sudah ku katakan jika aku telah mengetahui segalanya dan kau masih bisa berbohong! Kau mau melindungi adikmu dengan dustamu itu, heh?"
Rasta terdiam, alat itu sudah berhenti mengalirkan arus ditubuhnya namun ia sekarang tampak tak berdaya, hanya sorot mata penuh kebencian yang tetap menatapi pria diseberangnya.
"Kau tahu kenapa aku tidak menabrak Zahra sampai tewas siang tadi?"
Rasta diam meski ia ingin tahu, ia mengira itu adalah sebuah peringatan untuknya namun ternyata jawaban pria diseberangnya membuatnya semakin tak habis pikir.
"Aku tidak menewaskannya karena logikaku kalah dengan perasaanku. Aku dendam dengan keturunan Yuda, namun siapa sangka aku juga jatuh cinta pada anak perempuannya! Aku berharap jika kenyataan ini salah, aku berharap jika Zahra bukan anak Yuda, tapi nyatanya... gadis itu memang darah daging dari pria yang telah membunuh Ayahku!" papar pria itu dengan gamblang.
*Flashback On
Zahra menjual dagangan asongannya di pinggir jalan-- masih mengenakan seragam putih abu - abu yang melekat ditubuhnya.
Ia menjajakan kue - kue yang ia buat sendiri pada orang - orang yang duduk di halte Bus. Beberapa orang membeli dagangannya, namun Zahra melihat pada seorang anak manusia yang sejak tadi menyorotinya dengan tatapan intens.
__ADS_1
Zahra menghampiri seorang pemuda berperawakan asing itu, yang mungkin terpaut 6 atau 7 tahun dari umurnya.
"Apa Tuan mau mencoba kue dagangan saya?" tanya Zahra dengan senyum penuh semangat yang selalu ia tebarksn saat berjualan.
Pemuda dihadapan Zahra mengangguk sambil tersenyum simpul. "How much? Berapa harganya?" tanyanya berbasa - basi. Sesekali ia melirik name tag yang tertera dipakaian seragam yang Zahra kenakan dan ia langsung tahu nama gadis itu. Zahra Alhana.
Zahra mulai membungkus semua kue pesanan pria itu yang ternyata memesan semua kue jualannya hingga dagangannya habis tak bersisa.
Pemuda itu mengucapkan terima kasih pada Zahra dan segera beranjak dari sana untuk menyebrang jalan. Zahra memperhatikan pemuda itu sampai ke pinggir aspal jalanan.
Namun, Zahra merasa pria itu menyebrang tanpa melihat situasi jalanan alias asal menyebrang saja--layaknya orang yang hendak bunuh diri.
Disaat bersamaan, tampak mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan, sepersekian detik sudah mendekat pada tubuh pemuda yang tampaknya melamun dan tak menydari situasi sekitarnya.
Dengan sigap, Zahra melemparkan tempat barang jualannya ke sembarang arah, lalu dia berlari cepat untuk menerobos tubuh pemuda itu, menyebabkan keduanya terpental jauh ke arah aspal jalanan, sementara kue - kue yang sempat dibeli pria itu pun berserakan dijalanan.
Zahra masih tersadar, dan ia masih sempat mendengar suara orang - orang yang menjerit histeris karena kejadian mendadak itu, sebelum akhirnya Zahra pingsan didalam dekapan pemuda itu sebab rasa terkejut.
Sebab kejadian itu, Zahra dan pemuda itu dilarikan ke Rumah Sakit. Zahra hanya syok dan dia dirawat beberapa jam saja. Sementara pemuda yang ditolongnya tidak berada di Rumah Sakit itu lagi padahal mereka sama - sama dilarikan ke tempat yang sama.
Zahra sempat ingin menjenguk pemuda asing itu, namun ia tak pernah menemukannya disana.
*Flashback off
"Kau jatuh cinta pada Zahra?" Akhirnya Rasta berucap meski dengan suara yang nyaris hilang, rasanya ia tak punya energi untuk mengucapkan sebuah kalimat sebab alat penyetrum itu.
"Dia menyelamatkan nyawaku, dia adalah gadis pertama yang menarik atensiku. Ini sangat gila!" Pria itu tertawa miris.
"Aku tidak pernah peduli dengan keadaan orang lain selain hidupku sendiri, adapun yang ku pedulikan hanya adikku! Sejak kecil aku bertekad tidak mau memiliki pasangan, tapi entah kenapa dulu aku membeli dagangannya, aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari Zahra sejak dia menyelamatkan nyawaku! Begitu kembali ke Indonesia aku terus mencari jejaknya tapi dia seakan tidak berada dinegara ini!" ujar pria itu panjang - lebar, ia tak tahu kenapa ia bisa berterus terang pada Rasta yang notabene -nya adalah orang yang ia anggap musuh.
Jelas saja pria ini tak menemukan Zahra di Indonesia, tamat SMA Zahra langsung kuliah di Singapore dan sempat bekerja disana.
"Kalau begitu, jangan ganggu dia!" kata Rasta nyaris berbisik.
Pria itu menggeleng. "Dia telah menikah, dia mengandung anak pria lain. Padahal, setelah dia menyelamatkanku waktu itu, aku sampai kembali ke negaraku demi melupakannya, ternyata dia yang telah melupakan aku, sementara aku... tidak!"
"Kau terlihat menyedihkan!" ejek Rasta.
"Ya, dan aku masih terlalu baik padamu dengan mengajakmu berbincang seperti ini!"
"Kau sebenarnya orang baik! Tapi dendam menguasaimu!" kata Rasta mencoba meraih peruntungan dengan memprovokasi perasaan pria itu.
Pria itu terkekeh. "Jangan mencoba mempengaruhiku dengan permainan perasaan! Aku berterus terang padamu karena aku tahu hidupmu akan berakhir saat ini juga!" katanya sembari menjentikkan jari lagi dan Rasta kembali tersengat listrik untuk kedua kalinya.
"Bereskan dia!" Pria itu pun berlalu dari hadapan Rasta dan meninggalkan tempat itu. Ia tak mau perasaan kasihan kembali melingkupinya-- seperti saat tahu siapa Zahra Alhana sebenarnya hingga ia tak berani menghabisi wanita itu.
*******
__ADS_1