
Frans tampaknya belum menyadari kedatangan Ken karena Ken memang punya keahlian khusus dalam meredam suara langkah kakinya.
Dengan satu gerakan cepat, Ken menarik lengan Frans yang bersiap mencumbuu tubuh Zahra yang tak berdaya.
"Ku bunuh kau, bajinga n!"
Frans yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Ken, harus merasakan tinjuan mentah dari pria itu.
"Kep arat kau!" Ken memukuli Frans dengan membabi buta. Frans mendorong Ken dan terjadilah pertikaian diantara mereka.
Ken gelap mata, ia menyerang Frans dengan sangat brutal. Tak perlu waktu lama Frans ambruk dibawah kakinya dan masih ditambahi lagi dengan Ken yang menginjak-injak tubuh pria itu.
"Mati kau bang sat! cuih!" Ken meludahi Frans.
Belum puas sampai disitu, Ken menendang tubuh Frans yang sudah tak berdaya. Kemudian, ia beringsut menuju kearah lainnya untuk mengambil lampu kaca yang ada diatas nakas, bersiap menghantam tubuh tak berdaya Frans dengan benda itu namun suara lirih Zahra berhasil menghentikan aksi dan mengalihkan atensi Ken dari Frans.
"Ken..." Zahra memanggilnya dengan nada pilu. Membuat Ken tersadar seharusnya ia lebih dulu mengurus Zahra ketimbang menghajar Frans yang tidak berharga dimatanya.
Ken segera membuka kemeja yang ia kenakan, menutupi tubuh Zahra dengan itu.
"Sayang... sayang...." Ken menatap sendu pada Zahra, tanpa terasa ia menitikkan air mata untuk wanita yang sama.
"Maafkan aku, maaf...." Ken segera merengkuh tubuh Zahra. "Mana yang sakit, Sayang? Kita ke rumah sakit sekarang..." sambungnya lirih.
"Semuanya, tapi perut aku. Ba-bayi... Bayinya, Ken..."
Ken tersentak, ia sadar bahwa Zahra tengah mengandung dan ia segera membawa tubuh Zahra keluar dari kamar saat itu juga, meninggalkan Frans yang tidak berdaya bak seonggok daging tanpa nyawa--yang tergeletak dilantai.
____
"Saya tidak tahu kenapa ibu Zahra bisa dalam keadaan membahayakan lagi seperti ini, Pak!"
Ken harus pasrah menerima kemarahan dari Dokter kandungan yang memeriksakan keadaan Zahra.
"Ini sudah yang kedua kalinya Ibu Zahra seperti ini. Yang pertama dia mengalami kecelakaan, yang sekarang dia mengalami pelecehan."
Dokter Clara menatap Ken sambil menggeleng dan berdecak lidah.
"Tolong Pak, anda sebagai suaminya ... tolong jaga istri Anda. Dia tengah mengandung. Bukan hanya fisiknya yang harus selalu diperhatikan tapi kesehatan mentalnya juga."
Ken mengangguk samar. Ia sudah cukup bersyukur karena kandungan Zahra masih bisa terselamatkan, ia tidak tahu apa jadinya jika Zahra sampai keguguran.
"Untunglah kandungannya kuat. Saya salut dengan hal ini. Saya amat berharap hal semacam ini tidak akan terjadi lagi, ya, Pak!" ucap Dokter Clara lagi, yang hanya bisa dijawab Ken dengan anggukan, lagi dan lagi karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ken menatap wajah Zahra yang tengah tertidur di hospital bed. Wajah bak malaikat itu baru saja merasakan kekejaman dunia yang berasal dari kehidupan Ken. Ken amat menyesal telah membawa Zahra dalam kehidupan keluarganya yang berantakan.
Ken menyesal karena Zahra juga harus terseret dan terkena imbas dari rasa dendam Frans terhadap dirinya.
"Abis ini, gue harap adik gue lo jaga sebaik-baiknya, Ken!"
__ADS_1
Ken menoleh pada Rasta yang tiba-tiba sudah berada dalam kamar rawat Zahra, memang tadi dia sudah menghubungi Mama dan kakak iparnya itu.
"Gue nyesel, Ta... harusnya kita emang gak perlu kerumah Papa selama masih ada Frans disana."
Rasta menghela nafas panjang.
"Gimana dengan Frans?"
Ken menggeram dengan rahang mengeras, giginya bergemelatuk menahan kekesalan tiada tara pada sosok pria yang baru saja disebutkan namanya oleh Rasta.
"Kalo gue gak ingat kondisi Hana, udah gue bu nuh dia!"
"Jangan kotori tangan lo! Dia udah sentuh adek gue biar urusan dia sama gue nanti!"
"Mau lo apain dia?"
Rasta hanya tersenyum miring.
"Jangan bilang lo mau lepasin dia gitu aja."
"Mana mungkin," ucap Rasta tenang.
Tak lama, Devia juga sudah tiba disana bersama Zaki.
"Apa yang terjadi, Ken?" tanya wanita baya itu dengan raut khawatir.
Ken menceritakan kejadian yang sempat terjadi.
"Tadinya enggak, kemungkinan papa udah tidur pas kejadian. Tapi sekarang pasti udah tahu karena aku tadi titip pesan sama security rumah pas bawa Hana. Aku bilang Frans hampir mati dilantai atas dan Pak Dani segera lari masuk kedalam rumah," terang Ken.
"Ya Allah, kenapa bisa kejadian seperti ini?" gumam Devia.
"Udah lapor polisi, Ken?" timpal Zaki.
"Belom sempat, bang."
"Gue rasa gak perlu, biar gue yang nanganin dia nanti!" kata Rasta.
Devia menggeleng, seolah bisa mengetahui niat Rasta pada Frans.
"Tante mohon, jangan kalian yang menghukumnya. Biar saja aparat yang memberinya peradilan. Tante gak mau kalian terseret dengan hal semacam ini lagi. Sudah cukup Almarhum Yuda yang menabur dendam sehingga anak keturunannya hidup dengan tidak tenang. Jangan lakukan apapun pada Frans, dia tipikal orang penuh dendam dan ambisi, tante takut keturunan kalian tidak tenang jika sampai berurusan terlalu jauh dengannya. Frans masih punya Irene yang siap melakukan apa saja untuk membela anaknya, jadi jangan lakukan apapun padanya!" ucap Devia panjang lebar, bagaimanapun ia belajar dari pengalaman.
Rasta dan Ken saling memandang satu sama lain.
"Telepon polisi saja, Zak!" titah Devia pada Zaki.
_____
Beberapa hari berlalu, Frans ditangani oleh pihak kepolisian sesuai anjuran Devia. Saat ini pria itu sudah berada di balik jeruji untuk diproses menunggu penetapan statusnya dan untuk mengetahui waktu sidang peradilan.
__ADS_1
Berdasarkan penyelidikan, terjawab sudah rasa ingin tahu Ken mengenai kenapa Frans bisa masuk kedalam kamarnya pada malam nahas itu.
Keadaan Ken yang sudah lama tidak berada dirumah, dimanfaatkan Frans untuk meminta bantuan Hacker agar bisa membuka sandi pintu kamar Ken. Melalui seorang hacker itu, Frans pun mengktifkan metode penguncian ganda dengan sandi lain yang ia rangkai sendiri.
Jika dalam keadaan listrik menyala, akses sandi yang salah tekan akan menyambungkan pada metode finger print atau sidik jari dari pemilik ruangan. Namun, Frans menggunakan metode listrik padam, sehingga akses sandi yang salah tekan hingga batas penentuan, tidak akan masuk ke mode sidik jari melainkan memintanya menekan sandi lain dari kunci ganda yang telah ia rangkai sebelumnya. Disitulah Frans dapat masuk ke dalam kamar Ken dengan mudah.
"Ken!"
Ken berbalik dan menatap Jenar disana.
"Kau disini?" tanya Ken tak terlalu terkejut.
"Aku mendengar jika Frans masuk kesini, beritanya sudah menyebar luas."
"Kau baru mengunjunginya, begitu?"
Jenar mengangguk singkat dan Ken tersenyum tipis dengan pemikirannya sendiri.
"Kami hanya berteman, Ken!" kata Jenar seolah mengklarifikasi hal yang sebenarnya tak perlu, karena dengan ini Ken semakin yakin jika diantara Frans dan Jenar memanglah ada sesuatu.
"Bagaimana dengan istrimu?"
"Kau menanyakan keadaan istriku? Kenapa? Kau berharap dia tidak selamat, begitu?" tanya Ken sinis.
Jenar menggeleng cepat."Bukan, bukan begitu."
"Aku jadi curiga kau terlibat dalam rencana Frans untuk menyakiti istriku!" ucap Ken to the point.
Jenar terlihat pias dengan ucapan yang Ken lontarkan.
"Aku tidak--"
"Katakan padaku, Jen! Anak itu..." Ken menunjuk perut Jenar. "Adalah anak Frans, iya kan?"
Jenar menatap Ken dengan mata membola. "Tidak! Ini--ini anakmu, Ken!" sanggahnya cepat.
Ken tertawa sumbang. "Baiklah jika kau mengotot! Lakukan tes DNA itu, kapan saja ... aku siap untuk memberi sampel DNA milikku!" ucapnya.
"O-oke!" jawab Jenar seolah tak takut dengan tantangan yang Ken utarakan.
"Setelah itu, lakukan juga tes DNA pada Frans karena aku yakin itu anaknya!" ucap Ken menekankan kata.
"Jangan melempar kesalahan pada orang lain, Ken!" ucap Jenar gusar.
"Kau yang jangan melemparkan tanggung jawab Frans kepadaku, Jen! Pikirkanlah masa depan anakmu jika sampai hidup bersama ayah yang bukanlah ayah kandungnya! Kau mungkin bisa membohongi aku saat ini, tapi jika anak itu sudah lahir nanti.... apa kau akan membohongi anakmu seumur hidupnya tentang siapa ayah kandungnya yang sebenarnya?"
"Anakmu itu... berhak mengetahui siapa ayah biologisnya yang sesungguhnya. Jangan menjadikannya alat untuk menguasaiku ataupun menghancurkan orang lain!"
Jenar terdiam, ucapan Ken seperti tamparan untuk dirinya. Disaat itulah Ken beranjak meninggalkan Jenar yang masih tercenung ditempatnya sebab mencerna semua ucapan Ken padanya.
__ADS_1
****