
Beberapa hari berlalu, Zahra yang sekarang seruangan dengan Frans sebenarnya merasa agak risih, apalagi pekerjaan barunya menuntutnya untuk mengikuti kemanapun langkah Frans pergi. Menyiapkan segala keperluan Frans, serta memonitori segala jadwal pria itu yang diisi dengan segudang aktivitas.
"Ra, nanti malam aku ada meeting dengan salah satu relasi Papa, kamu bisa ikut kan?" tanya Frans saat Zahra tengah sibuk mengatur jadwal Frans agar tidak bentrok.
Zahra mengernyit. "Tapi kegiatan itu gak ada di schedule Bapak," ucapnya heran sembari mencari jadwal kegiatan Frans hari ini.
"Iya, ini mendadak. Orangnya kemarin baru telepon Papa dan aku lupa kasi tahu kamu. Lagipula ini relasi Papa, Papa gak bisa menemuinya karena ada kegiatan penting lain. Jadi, beliau ingin aku mewakili untuk menemui rekannya ini."
Zahra manggut-manggut dan langsung menyelipkan jadwal dadakan itu di lembar kegiatan Frans malam nanti, agar tidak terlewat.
"Tapi, apakah saya harus ikut? Kegiatan ini sudah diluar jam kerja saya, Pak?" tanya Zahra.
"Iya, ikutlah... meskipun ini diluar jam kerja, tapi ini akan membicarakan soal pekerjaan dan ini sudah resiko kamu menjadi seorang asisten, Ra!" kata Frans mengingatkan.
"Baiklah," jawab Zahra akhirnya.
_____
Malam pun tiba, Zahra cukup terkejut karena Frans sudah menjemputnya didepan rumah kontrakan yang baru ditempatinya belum seminggu ini.
Darimana Frans tahu alamatnya? Rasa-rasanya ia tak pernah memberitahu pria ini tentang tempat tinggalnya sekarang. Niat hati Zahra adalah ingin pergi sendiri ke tempat meeting Frans itu, ia akan pergi dengan Taxi seperti biasanya. Namun, ternyata Frans telah berada didepan rumah kontrakannya sekarang.
"Bapak tahu saya tinggal disini?" tanya Zahra pada Frans yang tersenyum ke arahnya.
Frans mengangguk. Tak menjelaskan lebih detail mengenai begitu mudahnya dia mencari alamat baru Zahra di kota ini.
"Sudah siap?" tanya Frans yang melihat Zahra sudah mengenakan setelan rapi dengan pashmina berwarna peach.
Zahra mengangguk. Sebenarnya ia risih dengan sikap Frans yang sampai menjemputnya seperti ini. Perasaan hatinya mulai tidak enak tatkala menyadari Frans menyelidiki tempat tinggalnya tanpa bertanya padanya lebih dulu.
"Kita berangkat?" Frans membukakan pintu mobil untuk Zahra naiki.
Mau tak mau Zahra mengangguk juga, bagaimanapun ini semua adalah misi pekerjaannya dan ia tak bisa menolak dan memberi dalih.
Mobil yang dikendarai Frans mulai melaju meninggalkan area kontrakan Zahra yang cukup sederhana.
____
Ken tiba di sebuah Club yang menjadi tempat pesta perayaan ulang tahun Shella. Ya, Shella mantan teman kencannya.
Hubungan Ken dan Shella telah lama berakhir bahkan sebelum Ken mengenal Jenar.
Hubungan keduanya baik-baik saja, karena Ken dan Shella memang menjalin hubungan untuk bersenang-senang semata dan tak merasa saling dirugikan satu sama lain, meski dulu Ken menyudahi hubungan itu karena alasan bosan.
Mengingat Shella yang tetap menjaga hubungan baik dengannya, Ken pun menghargai itu dengan datang ke pesta ulang tahun Shella ini walau ia sangat malas dengan acara-acara semacam ini.
Ken suka pesta dan huru-hara, tapi jika pesta yang bertitle "ulang tahun" rasanya Ken benar-benar tak tertarik mendatanginya, namun kembali lagi, karena ini adalah acara Shella, ia pun terpaksa menghadirinya.
Ken datang bersama Rasta dan Chandra, kawan sependosanya.
"Gue males banget acara menye-menye gini..." kata Rasta yang sepemikiran dengan Ken. Hanya saja Ken tetap diam dan tak menyuarakan isi kepalanya.
Chandra terkekeh mendengar ucapan Rasta itu. "Biarin aja, Sob! Anggap aja undangan minum gratis," kekehnya.
__ADS_1
"Omongan lo! Kayak orang susah aja!" rutuk Rasta. "Mau minum? Noh ... disumur banyak aer!" sambungnya tergelak.
Ken dan Rasta pun meninggalkan Chandra yang sudah asyik dengan minumannya.
Mereka mendatangi Shella, lalu menjabat tangannya.
Shella tampak menyunggingkan senyuman yang semringah pada mereka berdua.
"Ken... Rasta... thanks ya, lo berdua udah datang ke acara gue!" kata Shella senang.
"Hmm, lo mau hadiah apa? Kita gak bawa kado kayak yang lain?" kekeh Rasta sembari menunjukkan tangannya yang kosong tanpa membawa apapun.
Shella tertawa kecil. "Bisa aja lo! Gue gak butuh kado dari kalian berdua! Lo berdua datang kesini aja ... gue udah senang," imbuhnya.
"Sayang ..." Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri ketiganya, dia menyapa Shella sembari merangkul pinggang ramping wanita cantik itu.
"Eh, sayang..." jawab Shella pada pria yang baru hadir itu. "Kenalkan ini Ken dan Rasta, mereka temanku..." sambungnya memperkenalkan Ken dan Rasta pada pria itu.
"Ken, Rasta... ini Bram, dia tunanganku." kata Shella lagi, beralih menatap Rasta dan Ken bergantian.
Pria yang diakui Shella sebagai tunangan itu pun langsung menjabat tangan Rasta lalu beralih pada Ken.
"Bram ..." ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Rasta..."
"Ken..."
"Bulan depan kami akan menikah," sahut Bram yang tersenyum pada Shella.
"Selamat..." kata Ken tulus.
"Terima kasih, Ken!" sahut Shella.
"Ayo nikmati pestanya, ya! Kami akan menyapa teman-teman yang lain..." kata Shella ramah.
Baru saja Ken mendudukkan diri di sofa, seorang wanita yang familiar langsung menghampiri dan duduk disampingnya.
Rasta memutar bola mata malas saat Jenar bergelayut manja dilengan Ken dengan tak tahu malunya. Sementara Ken masih diam saja saat menyadari itu.
"Gue, cari Chandra dulu, Cuuk!" kata Rasta yang malas melihat tingkah Jenar itu, dia lebih memilih pergi.
"Kenapa?" tanya Ken pada Jenar, sembari menepis pelan tautan tangan wanita itu dilengannya.
"Ken, ayo kita turun ke lantai dansa!" pinta Jenar.
Ken terkekeh. "Aku tidak bisa melakukan hal konyol seperti itu, Jen!" tolaknya halus, ia berusaha bersikap biasa pada Jenar walau sebenarnya ia malas meladeni wanita ini.
Ken ingin beranjak dan meninggalkan tempatnya.
"Sialan Rasta ninggalin gue berdua sama Jenar," Batin Ken merutuk kesal.
"Ken, jangan abaikan aku seperti ini!" lirih Jenar yang melihat Ken hendak bangkit dari duduknya. Ia meraih lengan Ken dan menahan kepergiannya.
__ADS_1
"Jen, aku mau mencari Rasta dan Chandra," kata Ken pelan. Ia tak mau menyakiti Jenar dengan berprilaku kasar, ia tak bisa melakukan hal itu pada seorang wanita.
"Paling mereka duduk di depan bartender," kata Jenar acuh.
"Ya sudah, aku kesana dulu."
"Ken, tolong jangan hindari aku seperti ini! Paling tidak, temani aku minum disini, please!" kata Jenar memelas.
Ken akhirnya kembali duduk, daripada melihat Jenar terus memelas padanya dengan sikap yang menjengkelkan, lebih baik ia menuruti kemauan Jenar sekejap.
Ken duduk dengan diam, tak tahu hendak membahas topik apa pada Jenar. Ia memainkan ponselnya dan justru memikirkan Zahra yang entah sedang apa saat ini.
____
"Pak, kenapa di hotel?" tanya Zahra menatap Frans yang baru menghentikan deru mobilnya di slot parkiran hotel berbintang.
Frans tersenyum kecil. "Iya, Ra. Ada apa?"
"Aku sedikit risih," jawab Zahra nonformal.
"Relasi Papa yang nentuin tempatnya, bukan aku. Maaf jika kamu keberatan dengan hal ini."
Zahra mengangguk samar, walau ia benar-benar risih dengan pertemuan di hotel seperti ini. Ada banyak tempat untuk membahas pekerjaan, kenapa mesti di Hotel?-pikir Zahra.
"Ra, hotel gak cuma tempat buat menginap, di Hotel juga ada Restoran, tempat Gym, tempat hiburan semacam Club juga ada. Jadi, kamu gak usah khawatir ya... Orang-orang sudah biasa mengadakan pertemuan ditempat seperti ini."
Zahra tersenyum kecut. "Aku kolot, ya?" tanyanya pelan namun Frans cukup mendengarnya.
"Gak kok, aku ngerti kekhawatiran kamu," jawab Frans. "Ayo kita turun!" sambungnya yang sudah selesai membuka seatbelt.
Mereka melangkah masuk kedalam hotel dan naik menggunakan lift.
Rupanya Restoran yang dimaksudkan Frans ada di Rooftop hotel.
Zahra duduk di meja yang sudah Frans pilih, kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan yang langsung menyajikan menu makanan yang entah sejak kapan telah dipesan.
"Mana orang yang akan menemui kamu?" tanya Zahra karena mereka kini hanya berdua saja dimeja itu.
"Mungkin sebentar lagi mereka tiba, makanannya saja sudah dipesan, tak mungkin mereka tidak datang," kata Frans meyakinkan.
Zahra mengangguk dan Frans tampak menelepon seseorang dengan memberi jarak dari posisi Zahra.
Beberapa saat kemudian minuman mereka datang dan Frans meminta Zahra menikmati minuman itu sembari menunggu relasi yang sedang mereka tunggu.
Zahra menurut dan menyesapp minumannya dengan perlahan. Tak berapa lama, Zahra mulai menguap panjang.
"Frans, sepertinya aku ngantuk sekali, bagaimana jika pertemuan ini kamu lanjutkan saja sendiri. Aku akan pulang dengan taxi, kepalaku rasanya sangat berat."
Mendengar itu, Frans tersenyum penuh arti, dia akan memulai rencananya kali ini.
"Aku takut kamu kenapa-napa, bagaimana kalau menginap di hotel ini saja? Biar aku pesankan kamar untuk kamu?" tawar Frans akhirnya.
...Bersambung ......
__ADS_1