Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Kembali bekerja


__ADS_3

Keesokan harinya, Frans datang ke kantor agak kesiangan. Setelah mengecek pekerjaannya sekilas, ia tak tahan untuk tak berbicara dengan Zahra. Ia pun menghubungi gadis itu lewat panggilan telepon kantornya karena tahu jika hari ini Zahra sudah kembali bekerja di kantor pusat.


"Ra, bisa kirimkan email tentang project terbaru yang akan diluncurkan? Aku ingin menelitinya lebih dulu," ujarnya saat Zahra sudah menerima line telepon darinya.


"Baik, Pak!"


"Ra, jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu. Anggap saja ini sama seperti di Singapore."


"Saya tidak bisa, Pak! Bagaimanapun, di kantor ini saya tetap orang baru. Gak enak jika didengar bawahan Bapak yang lainnya."


Frans tertawa pelan. "Baiklah, terserah kamu saja," ujarnya.


Seharusnya posisi pekerjaan Zahra di kantor pusat adalah sama seperti pekerjaannya saat di Singapore, yakni staff perancang ide yang tergabung dalam team sukses perusahaan Bagas.


Namun, karena Zahra pendatang baru di kantor pusat, Frans pun ingin memanfaatkan keadaan itu untuk memindahkan Zahra dibagian yang bisa ia kendalikan.


"Ra, kamu sudah diberi tahu Pak Soni mengenai pekerjaanmu disini, kan?" pancing Frans, tentu saja semua sudah ia atur sedemikian rupa agar Zahra bekerja dibawah naungannya langsung-- yang menjabat sebagai General Manager di perusahaan Bagas.


"Ehm ... iya, soal itu saya ingin menanyakannya lebih lanjut pada Bapak."


"Apa yang mau kamu tanyakan, Ra?"


"Kenapa saya ditunjuk menjadi Asisten Bapak? Kapasitas pekerjaan saya bukan itu, Pak..."


"Aku tahu kamu cukup canggung disini karena belum banyak orang yang kamu kenal di divisimu. Oleh karena itu, aku rasa lebih baik jika kamu bekerja denganku saja! Kita sudah saling mengenal dan semuanya akan lebih mudah," kilah Frans memberi alasan agar bisa lebih dekat dengan Zahra.


"Tapi, Pak... saya--"


"Sudahlah, kamu kirimkan saja email yang ku pinta! Setelah itu, pindahlah dari kubikelmu dan tempati ruangan yang ada didekat ruanganku!"


Frans bicara biasa dan berlagak seperti tidak terjadi apapun diantara ia dan Zahra, kemarin. Ia tidak menyinggung soal penolakan Zahra dan ia berbicara hanya mengenai pekerjaan saja kali ini. Namun, dibalik semua ini ia memiliki rencana untuk lebih dekat dengan Zahra dan tentunya akan ada rencana licik yang akan ia mainkan nantinya.


____


Zahra cukup terkejut mendapati pemindahan tugasnya dari staff perancang ide menjadi Asisten Frans. Selain pekerjaan baru ini bukanlah value-nya, penolakannya secara tegas kemarin malam pada Frans, juga membuatnya ingin menghindari pria itu.


Nyatanya, ia malah dihadapkan dengan pekerjaan yang seperti ini.


Setelah mengirim email sesuai permintaan Frans tadi, mau tak mau, ia pun mulai menyusun barang-barangnya yang sebenarnya juga baru ia susun di meja kubikelnya pagi tadi.


Semua ini ia lakukan karena ia tak punya pilihan lain, ia terikat kontrak kerja, serta ia juga memiliki loyalitas dan rasa profesionalitas di perusahaan ini.


Ia bertanya pada Pak Soni--pria yang memberinya info pagi tadi mengenai jobdesk barunya itu-- tentang keberadaan ruangan Frans. Pria setengah baya itu pun, langsung bersedia mengantarkannya ke tujuannya.


"Ini ruangan Pak Frans, Bu ..." ucap Pak Soni sopan--sebelum meninggalkannya didepan ruangan Frans.


Ia mengangguk paham. Ia menelisik ruangan lain yang ada di sekitar ruangan Frans berada, berharap ada ruangan yang dimaksudkan Frans tadi--sebagai ruangannya yang baru.

__ADS_1


Tapi disana hanya ada ruangan Frans dan satu lagi adalah ruangan yang bertuliskan divisi keuangan.


"Lalu, dimana ruanganku?" gumam Zahra pada dirinya sendiri.


Dengan berat hati, Zahra pun mengetuk pintu ruangan Frans.


"Masuk!" Suara sahutan dari Frans terdengar.


Ia memberanikan diri untuk masuk, mencoba bersikap biasa seperti Frans yang juga bersikap demikian.


"Ra, kamu rupanya..." kata Frans semringah.


Zahra menunduk, menatapi sekardus barang-barang mandahnya yang tengah ia pegang, dikepalanya terbersit rasa penasaran dan ingin menanyakan ruangan yang dimaksudkan Frans padanya melalui sambungan telepon tadi.


"Ruangan saya, Pak?" tanyanya mengadah pada Frans yang masih duduk di kursi kebesarannya--tampak santai.


Frans tampak tersenyum, kemudian berdiri dari duduknya lalu menghampiri Zahra.


"Ruangan kamu, disini... bersamaku, Ra!"


"Apa?" Zahra menatap Frans dengan mata membola.


Pria itupun mengangguk. "Ruanganku cukup besar, Ra. Nanti aku akan minta meja baru untuk kamu," katanya pelan.


"Tapi, Pak--" Zahra mencoba protes, namun Frans sudah menggeleng sebagai isyarat penolakan protes yang akan Zahra lontarkan.


"Kalau begitu, kenapa sekarang Bapak menunjuk saya sebagai asisten?"


Frans hanya tersenyum kecil untuk menanggapi pertanyaan Zahra itu.


"Sambil menunggu meja kamu tiba, bagaimana kalau kita makan siang dulu Kebetulan ini sudah jam makan siang?" tawar Frans.


"Tapi--"


"Jangan menghindariku, Ra! Seperti kesepakatan kita, kita masih bisa berteman dengan baik, jangan pikirkan apapun yang membuatmu menjadi risih. Jika kamu tidak bisa menganggapku sebagai teman, anggaplah ini ajakan atasan yang mengajak asistennya makan siang bersama!" Frans berkata sembari keluar dari ruangan kebesarannya itu.


Zahra menghela nafas panjang, kemudian ia mengikuti juga langkah Frans untuk melakukan sesi makan siang.


_____


Ditengah kegiatan makan siang Zahra dan Frans di sebuah cafe dekat gedung kantor mereka, tiba-tiba ponsel Zahra berdering dan Zahra sudah bisa menebak panggilan itu dari siapa.


"Assalamu'alaikum ..." sapa Zahra tenang.


"Hoam... lo dimana?" Ken yang menelepon Zahra sambil menguap panjang.


Setiap nelpon selalu menanyakan keberadaan, seperti tidak ada kalimat lain saja.

__ADS_1


"Lagi makan siang di cafe dekat kantor," jawab Zahra akhirnya.


"Bagus, gue kesana..."


"Mau ngapain?" bisik Zahra pelan karena melihat Frans yang mulai mengalihkan atensi kepadanya sebab menerima panggilan telepon ini.


"Lo lupa? Lo masih hutang penjelasan sama gue!"


"Aku masih di jam kerja, kapan-kapan saja!"


"Lo pikir gue peduli?"


"Jangan begitu, Ken!" ucap Zahra pelan dan akibat menyebut nama Ken itulah-- Frans yang ada diseberang Zahra langsung menghentikan aktivitas makannya, ia jadi tahu jika yang menelepon Zahra adalah Ken.


"Terserah kamu aja! Tapi, aku gak bisa sekarang." Zahra memutus panggilan telepon itu. Lagi-lagi secara sebelah pihak.


Frans tersenyum pada Zahra setelah Zahra berhenti bicara pada sambungan selulernya.


"Ken yang nelpon kamu?" tanya Frans.


Zahra hanya mengangguk samar.


"Kamu kenal dia dimana?" tanya Frans.


"Kami satu sekolah saat SMA."


"Oh ..."


Zahra hanya tersenyum kikuk, namun Frans masih merasa penasaran dengan hubungan Ken dan Zahra.


"Apa kalian pernah memiliki hubungan dimasa lalu? Maksudku... apa pernah dekat?" selidik Frans.


"Kami hanya berteman, Frans... apa ada yang salah dengan itu?" tanya Zahra, berusaha kembali bicara santai pada Frans karena mereka berada diluar lingkungan kerja.


"Bukan begitu, Ra. Aku hanya ingin kamu berhati-hati dengan Ken. Aku takut dia mendekati kamu sekarang karena ada niat tertentu."


"Maksudnya?"


"Aku sudah bilang kan, jika hubungan kami tidak begitu baik. Aku takut kamu yang diusik oleh Ken karena ingin membalasku," lirih Frans.


"Frans, aku rasa Ken tidak seperti itu. Lagipula itu masalah diantara kalian, tidak ada hubungannya denganku. Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja."


"Tapi, Ra ... kamu terlalu memandang sisi positifnya. Ken itu tidak sebaik itu!"


Zahra hanya diam tak menjawab. Ia memilih melanjutkan sesi makannya, karena bagi Zahra, ia cukup mengenal Ken dan mempercayai jika pria itu tak mungkin mengusiknya hanya karena berniat membalas Frans.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2