Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Merancang usaha


__ADS_3

Beberapa kali Ken meyakinkan Zahra untuk mengganti rujak sirsak yang dia inginkan dengan panganan lain, namun istrinya itu bersikukuh dengan keinginannya itu.


Setelah mencari ke berbagai tempat penjual rujak dan hasilnya sudah dapat dipastikan bahwa tak ada rujak yang menyediakan dengan komposisi buah sirsak, akhirnya Zahra tertidur di mobil dalam kondisi kelelahan. Ken hanya bisa menghela nafas panjang namun tak tega juga membiarkan keinginan ngidam istrinya tak terpenuhi.


Ken mengantar Zahra pulang, memindahkannya yang tertidur ke atas ranjangg dikamar mereka, kemudian menitipkan Zahra pada sang ART sementara Ken kembali pergi memacu mobilnya untuk memenuhi keinginan sang istri yang belum terwujud.


Ken pergi ke pasar buah dan akhirnya membeli buah sirsak disana, sekalian dia meminta untuk dikupas dan dipotongkan. Sebelumnya Ken juga sudah membeli rujak biasa dan jadilah Ken bereksperimen menggabungkan potongan buah sirsaknya dengan campuran bumbu rujak yang tadi lebih dulu dibelinya.


"Jadi juga rujak sirsaknya..." gumam Ken sambil terkekeh pelan. Masih aneh dengan kemauan istrinya.


Sejak tadi sebenarnya Ken sudah mengusulkan saran ini pada Zahra, namun Zahra tak mau dan bersikeras mau rujak yang sesuai keinginannya meski itu mustahil. Jika sudah begini Zahra tak akan tahu dengan eksperimen yang Ken lakukan, hanya perlu mengatur kata agar Zahra merasa rujak ini sesuai dengan keinginannya, yang terpenting Zahra tidak tahu asal usul darimana Ken mendapatkan rujak sirsak ala-ala ini.


Menjelang sore, Ken kembali tiba dikediamannya dengan bungkusan yang sudah ia satukan tadi.


Zahra ternyata sudah bangun dan duduk didepan tv menonton film kartun yang belakangan hari sering ditontonnya. Terkadang Ken lucu sendiri melihat tingkah baru istrinya, namun ia tahu Zahra begini karena bawaan hormon kehamilannya dan Ken berusaha untuk tenang menghadapinya.


"Kamu dari mana?" tanya Zahra begitu Ken tiba didepannya.


"Ini loh, cari rujak yang kamu pengen," Ken berucap sambil menunjukkan bungkusan rujaknya.


Wajah Zahra langsung berbinar - binar bahagia. "Dapet?" tanyanya.


Ken mengangguk.


"Ya ampun, makasih ya, Ken! Dimana ada jual rujak sirsaknya?"


"Ada deh," kata Ken mengulumm senyum. "Sebentar ya, aku ambil wadah dulu untuk tempat rujaknya." Ken berdiri dan menuju dapur.


Tak berapa lama pria itu sudah kembali ke hadapan sang istri dengan sebuah piring.


Zahra tampak antusias sekali, dia memperhatikan gerak-gerik Ken bahkan tak berkedip saat Ken memindahkan isi bungkusan ke dalam wadah.


"Nah, sekarang cobain!" Ken mengusap rambut Zahra yang memang sedang tidak mengenakan hijabnya karena mereka berada didalam rumah.


Zahra mengangguk, kemudian mulai mencicipi rujak sirsak keinginannya itu.


"Wah kan... enak beneran," kata Zahra tersenyum puas, sama puasnya dengan Ken yang akhirnya bisa bernafas lega sekarang.


"Kamu cobain makan, Sayang!" kata Zahra mengulurkan sesendok buah sirsak berlumur bumbu rujak ke arah Ken.


Ken tersenyum kecil. "Enggak deh, Yang," tolaknya.


"Kok gitu? Ini beneran enak," ucap Zahra sembari mengelus perutnya sendiri yang masih tampak rata.

__ADS_1


Akhirnya mau tak mau Ken memakan juga rujak yang disuapi Zahra padanya. Jangan tanyakan rasanya pada Ken, karena itu terasa aneh di indera perasa milik Ken, berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh lidah Zahra yang mengatakan itu 'beneran enak'.


"Ken, boleh tolongin lagi enggak?"


"Apa itu, Sayang?" tanya Ken merasa harap - harap cemas, takut jika permintaan Zahra akan aneh lagi dan berujung tak bisa ia turuti.


"Itu, diatas meja kan ada roti tawar, aku mau makan roti pakai sambel rujaknya ini, boleh tolong ambilkan gak?" pinta Zahra dan Ken mengangguki permintaan sang istri yang lagi - lagi terdengar absurd, namun masih bisa membuat Ken lega karena masih mudah untuk ia turuti saat itu juga.


######


"Sayang, besok kita lihat ruko untuk toko roti kamu, yuk!" ajak Ken saat membelai-belai rambut Zahra yang ada dipangkuannya.


"Emang udah dapet rukonya?" tanya Zahra.


"Udah, nggak begitu jauh dari bengkel aku," jawab Ken.


"Ya udah, besok aku ikut kamu deh, ntar kita lihat rukonya!"


"Iya, Sayang. Sekalian kamu bilangin nanti mau direnovasi gimana bentuk didalam rukonya, oke?"


Zahra mengangguk, lalu tangannya terulur ke atas untuk mengelus rahang Ken.


"Makasih banyak, Ken..." kata Zahra tulus.


"Makasih kamu udah menjadi suamiku," kata Zahra tersenyum manis.


"Kalau begitu, aku juga mau ucapin makasih karena kamu udah mau menjadi istriku..."


Zahra tertawa pelan.


"Gimana usaha bengkel kamu?"


"Alhamdulillah lancar, Sayang. Semua juga berkat doa kamu yang selalu menyertai aku," kata Ken mengelus jemari Zahra yang masih berada disisi wajahnya.


"Iya, udah tugasnya seorang istri untuk mendoakan suaminya."


"Kamu bahagia menikah dengan aku?" tanya Ken serius.


Zahra menggeleng.


"Kamu gak bahagia, Sayang?" tanya Ken lemas.


"Aku gak bahagia tapi aku sangaaaatt bahagia, semoga kita selalu seperti ini selamanya."

__ADS_1


"Aamiin," Ken tersenyum tampan lalu mengecup dahi Zahra yang masih setia berada dipangkuannya.


######


Keesokan harinya, Zahra dan Ken berangkat bersama pagi-pagi sekali. Kehamilan Zahra terbilang mudah karena dia tidak merasakan morning sickness sama sekali dimasa-masa trimester awal. Hanya keinginan mengidamnya dan kebiasaannya saja yang terkadang mengada-ngada.


Mereka berangkat menuju ke ruko yang rencananya akan dibuat sebagai toko roti untuk Zahra mengisi waktu luangnya.


Sesuai janji Ken, ia ingin mengabulkan keinginan Zahra yang tak terbiasa berdiam diri dirumah. Membuat roti dan kue adalah salah satu hobi dan kemampuan Zahra yang bisa disalurkan menjadi usaha dan menghasilkan pundi - pundi rupiah.


"Jadi, nanti aku mau buat kasirnya disini, terus di bagian ini untuk display roti. Dibagian sana kita pasang frezer kue khusus untuk cake ulang tahun yang biasanya harus ditempatkan disuhu yang sejuk. Kalau disitu buat pajangan kue bolu dan kue - kue basah."


Ken mengangguk saja dengan semua rancangan ide yang sedang diutarakan sang istri.


"Aku mau jual kue tradisional juga, Ken. Karena di zaman sekarang banyak orang - orang yang rindu dengan panganan seperti itu yang terkadang sulit didapatkan."


"Bagus, Sayang. Aku seneng kamu udah punya rencana penjualan seperti itu."


"Target penjualan aku mencakup semua, gak hanya satu kalangan tertentu saja. Jadi berbagai umur akan senang ke toko aku, gak cuma anak kecil atau remaja yang suka panganan manis saja, tapi orangtuanya juga bakal senang berkunjung karena di toko ini bakal menyediakan panganan khas tempo dulu yang bisa mengingatkan pada suatu momen," kata Zahra dengan antusiasnya.


"Kayaknya jiwa marketing kamu bagus juga, Sayang!" kekeh Ken yang cukup terkejut melihat istrinya memiliki rancangan usaha yang mencakup berbagai kalangan seperti itu.


"Iya dong! Mumpung dimodali sama kamu, aku akan berusaha membuat toko ini maju!" Zahra ikut terkekeh dengan kalimatnya sendiri yang penuh tekad.


"Iya, Sayang. Aku yakin kok usaha ini bakal laris ditangan kamu. Aku percaya kemampuan kamu, tapi kamu juga harus ingat kalau kamu sedang mengandung, jadi jangan terlalu capek memikirkan semua rancangan dan resep apa yang bakal kamu keluarkan untuk toko roti ini,"


"Iya Ken... pokoknya aku gak bakal ngecewain kamu," kata Zahra lagi.


Ken merangkul bahu Zahra dan mengecup pelipisnya sekilas. "Semoga ekspektasi kamu tentang toko ini bakal terwujud, ya..."


"Iya, besok-besok aku mau coba buat kue dan panganan yang rencananya bakal aku jual disini, nanti kamu yang jadi penikmat pertamanya," kata Zahra tertawa pelan.


"Wah, bakal gendut dong aku!"


"Ya gak apa-apa," kata Zahra terkikik, dikepalanya langsung membayangkan Ken yang jadi gendut.


"Bakal ilang dong roti sobek diperut aku," kelakar Ken.


"Gak apa-apa, nanti perut kamu jadi roti bakpao aja, aku tetap cinta kok!" gombal Zahra.


"Huahahaha...." Ken tertawa kencang, bagaimana mungkin Zahra berniat membuat perutnya menjadi roti bakpao, tidak bisa dibayangkannya jika itu benar-benar terjadi.


*******

__ADS_1


__ADS_2