Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Mengantarmu


__ADS_3

Aku kasi part bonus nih ya dipenghujung malam ini❤️❤️❤️ Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar👇


_______


Zahra keluar dari area bengkel yang tak ia ketahui ini. Pertengkarannya dengan Ken barusan, membuatnya lupa jika ini sudah larut malam.


Ia ingin membuka pagar namun itu terkunci otomatis dengan metode pin atau remote control.


Ia tahu, ia tak bisa pergi begitu saja sekarang dan lagi-lagi ia menyeka airmatanya yang tak kunjung habis.


Hidupnya benar-benar telah dihancurkan oleh Ken. Harga dirinya, kehormatannya, segala yang ia jaga selama ini telah habis tak bersisa dan itu diakibatkan oleh seorang pecundang bernama Kendra Winarya.


"Han ..." Tiba-tiba Ken sudah berada dibelakang tubuhnya, membuatnya menunduk-- tak mau menatap wajah pria itu.


"Masuklah, ini sudah larut..." ucap Ken pelan.


Zahra masih diam ditempat dan terduduk di lantai yang terasa dingin.


Terdengar helaan nafas panjang dari Ken.


"Sejak lama, aku memang seorang pecundangg, Han!" ucap Ken yang ikut duduk dilantai-- disamping Zahra, namun memberikan jarak antara mereka.


Zahra diam dan tak menyahuti satupun kalimat yang Ken utarakan.


Keadaan menjadi hening seketika, hanya ada suara dengungan nyamuk-nyamuk yang berniat meramaikan suasana senyap ini.


"Aku akan menikahi kamu, Han!" ucap Ken secara tiba-tiba, membuat Zahra terkejut dan menoleh kesamping untuk melihat wajah pria itu.


"Sebenarnya ... itu kan yang kamu harapkan sebagai bentuk pertanggungjawabanku?" Ken balas menatap Zahra dengan raut wajah yang serius.


Zahra segera mengalihkan pandangan ke arah lain. "Gak..." katanya.


"Lalu?"


"Aku gak mau dinikahi oleh orang yang terpaksa."


"Siapa yang terpaksa? Kamu gak maksa aku! Aku juga gak terpaksa melakukannya. Duniaku yang penuh huru-hara ini memang sudah harusnya dihentikan dengan cara menikah."


"Kenapa kamu berubah pikiran? Tadi di dalam kamu gak ada bilang soal ingin menikah?"


Ken mengangkat bahu, ia tak mau menjabarkan jawabannya secara gamblang kepada Zahra. (Kesel othor sama Ken! Gak mau terbuka! sok misterius😏)


"Kamu pasti membenciku, Han ..." gumam Ken pelan.


"SANGAT!" sahut Zahra.


"Baiklah, kita menikah besok."


Zahra terbelalak mendengarnya. "Gampang banget kamu ngomongnya!"


"Terus aku harus gimana, Han?"


Sekarang giliran Zahra yang mengangkat bahu, cuek.

__ADS_1


"Apa kamu masih mengira jika semua yang ku lakukan ini karena membalas Frans?"


Zahra diam tak menjawab.


"Aku memang dendam dengannya! Aku gak mungkin membiarkan kamu menikah dengannya!"


"Makanya kamu melampiaskannya padaku? Begitu?" Zahra tertawa sumbang dan tiba-tiba bangkit dari duduknya.


"Enggak gitu, Han!" jawab Ken lembut.


"Aku gak tahu ada masalah apa diantara kalian, tapi kenapa harus aku yang jadi korban dari perseteruan kalian?" Zahra bertanya dengan pipi yang sudah dibanjiri airmata.


"Han, Aku--"


"Udahlah, Ken!" potong Zahra cepat. "Buka pagarnya!" ucap gadis itu kemudian.


"Gak!" jawab Ken tak mau kalah.


"Buka atau aku teriak sekarang!" ancam Zahra tegas.


Dengan terpaksa, akhirnya Ken menekan juga pin pintu pagar itu.


"Lebih baik kita masuk, Han... lihatlah ini sudah larut!" ucap Ken pelan, namun Zahra tak memedulikan. Gadis itu segera membuka pagar, lalu keluar begitu saja.


"Han! Jangan begini, setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang!" ucap Ken mengejar Zahra.


Zahra hanya diam dan tak menoleh sedikitpun padanya.


Ken menarik nafas dalam, mengikuti langkah Zahra yang tiba-tiba berhenti di tepi jalan.


Jalanan tampak lengang karena sudah lewat tengah malam dan memang sudah waktunya orang beristirahat.


Zahra mengambil ponselnya dari dalam sling-bagnya, ia ingin memesan taxi online. Ia sempat melihat banyak panggilan tak terjawab dari Frans dan mengabaikan hal itu. Ia ingat, jika ia tak sadarkan diri saat bersama Frans dan ia tahu ini semua bermula karena ulah Frans. Tapi, entah bagaimana mulanya hingga ia bisa berakhir dengan Ken, ia benar-benar tak tahu.


Ken menatap Zahra yang memainkan ponsel. Entah apa yang dilakukan Zahra dengan benda pipih itu, mungkin hendak mencari taxi online.


"Kamu mau pulang kemana? Aku antarkan saja!" tawar Ken.


"Menjauhlah dariku, Ken!" kata Zahra yang kembali teringat jika Ken adalah orang yang telah menghancurkannya. Dengan Ken berniat menikahinya, bukan berarti ia langsung luluh begitu saja.


Ken diam dan menunggui Zahra yang fokus pada layar ponselnya. Mana mungkin Ken membiarkan Zahra pulang begitu saja setelah sekarang ia mengetahui-- bahwa gadis yang ada dihadapannya ini memiliki rasa cinta padanya, entah sejak kapan.


Hampir setengah jam mereka berdiri ditepi jalan itu, sampai sebuah taxi online menghampiri posisi mereka.


Zahra naik kedalam mobil itu dan Ken segera ikut merangsek kedalam mobil juga--tanpa persetujuan siapapun.


"Ngapain kamu?" pekik Zahra tertahan. Matanya melotot pada Ken yang telah duduk disampingnya.


"Nganterin kamu." Ken berusaha tenang. "Jalan, Pak!" ucap pria itu lagi-- beralih pada sopir taxi.


Zahra mendengkus pelan, bersedekap dada dan membuang pandangan ke arah luar jendela mobil.


"Aku mau pastikan kamu tiba dirumah dengan selamat, aku gak mau kamu pingsan lagi ditangan orang yang salah!" celetuk Ken membuat amarah Zahra kembali tersulut.

__ADS_1


"Kamu pikir, kamu adalah orang yang benar? Kamu lupa apa yang udah kamu perbuat sama aku?"


Ken terdiam, ia langsung menyadari kesalahan kosa-katanya. Ia ingat, jika ia telah melakukan kesalahan fatal pada Zahra dan tak mungkin melupakan kesalahan itu.


"Sampai kapanpun aku gak akan maafin kamu, Ken..." lirih Zahra kembali menangis.


Ken hanya bisa memijat pelipisnya sendiri sepanjang perjalanan menuju kontrakan yang ditempati oleh Zahra.


______


Frans datang ke kantor pagi-pagi sekali dan sudah pasti tujuan utamanya adalah menemui Zahra. Kemarin malam, ia langsung bertolak mencari keberadaan Zahra di kontrakannya, mengira jika Ken membawa gadis itu pulang.


Namun, begitu tiba disana ia tak mendapati Zahra. Frans langsung tersadar, jika Ken tak mungkin memulangkan Zahra begitu saja.


Ken pasti memanfaatkan keadaan ini untuk menghancurkannya, karena yang Ken tahu Zahra adalah calon istrinya. Ken tidak pernah tahu jika Zahra telah menolaknya.


Breng-sek! Apa yang akan dilakukan Ken pada Zahra? Apa Ken melanjutkan rencana yang disusunnya dengan melecehhkan gadis itu? Sedangkan ia tak berniat melakukan sejauh itu, lalu jika Ken yang melakukannya pada Zahra, apa yang harus diperbuatnya sekarang?


"Pak Soni!" panggilnya pada Staff yang dipercayainya itu.


"Ada apa, Pak?" Pria paruh baya itu balik bertanya kepadanya.


"Apa Zahra sudah tiba di kantor?" tanyanya.


Pria bernama Soni itu menggeleng. "Belum, Pak. Biasanya Zahra sudah datang jam segini..." jawab Soni.


Frans gegas meninggalkan area itu dan masuk kedalam ruangannya dan benar saja jika Zahra tak ada disana.


Frans mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zahra. Nomor itu aktif sejak kemarin, tapi tak pernah menerima panggilan telepon darinya ataupun menghubunginya kembali.


Akhirnya Frans menghubungi nomor Ken, nomor yang ada dikontaknya sejak lama tapi tak pernah dihubunginya. Bahkan kemarin ia benar-benar tak menghubungi Ken demi menjaga harga dirinya.


"Dimana Zahra, bang-sat?" tanyanya begitu panggilan tersambung.


"Dirumahnya..." jawab Ken tenang.


"Apa yang kau lakukan padanya?"


"Kau benar-benar ingin tahu, heh?"


"Breng-sek! Kenapa kau tak enyah saja dari muka bumi ini!"


Terdengar kekehan nyaring Ken dari seberang sana.


"Frans, rencanamu yang belum matang kemarin, ternyata justru membantu mematangkan rencanaku!" jawab Ken berlagak pongah.


Detik itu juga, Frans sudah bisa menebak apa yang terjadi antara saudara tirinya dengan Zahra, gadis yang ia cintai.


Ia memakii Ken dengan sumpah-serapah lalu membanting ponselnya begitu saja.


Disisi lain, Ken juga melakukan hal yang sama, ia mencampakkan ponselnya setelah menjawab telepon dari Frans.


Mungkin Ken bisa menjawab pertanyaan Frans dengan tegar, padahal saat ini ia juga tengah memakii dirinya sendiri sebab perbuatannya pada Zahra kemarin.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2