Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Pria asing


__ADS_3

Zahra mengerjapkan mata saat aroma desinfektan menyeruak ke indera penciumannya. Ia sadar dan ia merasa jika kini ia berada dalam ruangan yang didominasi dengan warna putih.


"Apa aku di Rumah Sakit?" gumam Zahra pelan sembari memegang kepalanya yang terasa nyeri. Ia mencoba bangkit dari posisinya, namun suara seseorang mencegah niatnya itu.


"Jangan, jangan banyak bergerak dulu. Berbaring dan istirahatlah dulu," ucap seseorang itu. Suara terdengar asing, namun cukup lembut untuk mencegah. Seketika itu juga Zahra langsung menyadari sesuatu, bahwa ia memang berada di Rumah Sakit dan satu lagi, ia ditunggui oleh seorang pria yang tak dikenalnya.


Zahra memegang kepalanya dan ia tersadar bahwa ada sesuatu yang salah disini.


"Dimana hijabku? Kau melihat rambutku! Ini... ini tidak sopan!" ucap Zahra dengan lemah saat menyadari rambutnya yang tergerai.


Pria dihadapan Zahra langsung gelagapan, tampak raut kebingungungannya saat harus menjelaskan apa yang telah terjadi pada wanita didepannya.


"Sorry, begini Nona... i'm so sorry, tadi kepalamu terbentur dan mengalami cedera. Kain yang kau maksud... yang harusnya menutupi itu--itu sudah dibuka agar dokter bisa mengobati lukanya. Ehmm... kain itu juga banyak noda darah. You know... itu--itu tampak mengerikan!" papar pria itu dengan logat indonesianya yang terdengar aneh.


Zahra menghela nafas panjang. "Kau yang menabrakku?" tanyanya.


Pria dengan tampang asing itu menggeleng. "No! Kau yang berdiri di pinggir jalan itu!" katanya.


"Aku berdiri di pinggir jalan dan kau menabrakku, begitu?" sarkas Zahra.


Pria itu terdiam.


"Baiklah, bisa kah kau keluar sekarang? Karena aku tidak nyaman dilihat oleh lelaki asing dalam keadaan seperti ini."


Pria itu mengangguk dan merangsek menuju pintu keluar.


"Ah ya, tolong hubungi keluargaku. Aku tidak mau mereka mencariku dan merasa khawatir!" ucap Zahra saat pria itu berada diambang pintu ruang rawat.


#####


Beberapa saat kemudian, Ken sudah tiba di Rumah Sakit dimana istrinya dirawat. Para bodyguars suruhannya sudah mrnemukan keberadaan Zahra dengan cepat karena tadi mereka langsung mengikuti mobil yang membawa istri Ken itu.


Ken berpapasan dengan pria asing yang menabrak Zahra, pria itu sudah diluar ruangan namun masih menunggui Zahra disana. Ken menatapnya sekilas karena belum tahu jika pria itu yang menyebabkan istrinya celaka. Ken melewatinya begitu saja lalu masuk ke dalam ruangan Zahra yang sudah ia ketahui lewat info di resepsionis Rumah Sakit.


Ken datang kesana sendirian, awalnya Rasta ingin ikut namun Ken mencegah karena ia ingin menyelidiki dulu tentang kecelakaan ini, apakah ini unsur kesengajaan atau tidak. Ia takut kehadiran Rasta di Rumah Sakit justru bisa mengungkap identitas kakak - beradik itu.


"Sayang..." Ken melangkah lebar menuju hospital bed yang ditempati sang istri.


"Ken?" Zahra tersenyum kecil. "Maafkan aku, Ken..." ucapnya pelan.

__ADS_1


Ken mengernyit. "Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Ken.


"Maaf membuat kamu khawatir dan pasti acara grand opening nya jadi berantakan karena aku."


"Sayang, apa - apaan? Acara itu gak lebih penting daripada kamu. Acara itu bahkan bisa aku tunda tapi keselamatan kamu enggak. Aku yang harusnya minta maaf, harusnya aku bisa menjaga kamu!" Ken meletakkan wajahnya di perut sang istri, ia tidak sanggup melihat Zahra harus terbaring di Rumah Sakit seperti ini.


"Kamu gak salah, Ken. Ini sudah terjadi dan ini berarti sudah digariskan bahwa hari ini aku akan mengalami kecelakaan."


"Apa itu sangat sakit? Pasti itu sangat sakit. Aku mau menggantikan posisi kamu. Biar aku yang merasakannya!" Ken mengelus pipi Zahra dengan lembut dari posisinya.


"Enggak, aku cuma sedikit pusing."


"Itu belum terasa sakit karena efek bius atau obat yang diberikan pada kamu. Nanti pasti akan mulai terasa berdenyut, Sayang..." Ken mengangkat kepalanya dan melihat perban yang ada dikepala sang istri.


"Lalu, apa kata Dokter?" tanya Ken lebih lanjut.


"Aku belum bertemu Dokter, aku baru saja sadar. Coba tanyakan saja pada dia. Mungkin dia tahu atau dokter ada mengatakan padanya tentang kondisiku!"


"Dia? Dia siapa?"


"Dia yang membawaku kesini."


"Ah si penabrak itu! Aku akan menemuinya!" Ken mulai beringsut, karena tiba-tiba emosinya memuncak mengingat orang yang telah menabrak sang istri.


"Ya?" Ken menoleh pada Zahra yang terbaring.


"Jangan menyalahkannya, aku juga salah tadi..." dusta Zahra, ia tak mau sang suami dalam masalah karena terlibat perkelahian dengan orang asing itu.


"Aku enggak paham kenapa kamu menyalahkan diri kamu sendiri! Aku pasti akan buat perhitungan dengannya!" tegas Ken dan langsung keluar dari ruang rawat begitu saja.


Saat Ken tiba diluar ruangan, wajah pria asing yang tadi sempat berpapasan dengsnnya pun terpampang nyata disana. Nampak sekali jika orang itu tengah menunggui Zahra karena dia memang berada didepan kursi tunggu yang ada didepan pintu ruang rawat Zahra.


"Kau yang menabrak istriku?" cecar Ken to the point.


Pria itu mengadah dan bangkit dari posisinya. "Kau suaminya?" tanyanya.


"Ya, aku suaminya!" jawab Ken lantang.


"Maaf, maafkan aku. Tadi aku memang berkendara dengan kecepatan tinggi..." ucapan itu terputus karena Ken segera meraih kerah baju pria bermata biru itu.

__ADS_1


"Kau!" geram Ken.


"Tunggu, aku belum selesai bicara!" kata pria itu.


Ken melepas tangannya dari kerah pria bule itu. "Aku akan menuntutmu!" putus Ken begitu saja.


"No! Aku tidak menabraknya. Dia berdiri dipinggir jalan dan dia pingsan. Mobilku bahkan tak menyentuh sedikitpun kulit istrimu!" tegas pria itu tak mau kalah.


"Jangan mengarang!"


"Aku tidak mengarang! mobilku berhenti disana tepat setelah dia pingsan. Awalnya aku ingin membeli rokok di mini market itu. Tapi begitu dia pingsan, aku segera membawanya kesini!"


"Lalu? Bagaimana bisa istriku mengalami cedera dikepala?"


"I dont know! Tapi sepertinya kepalanya terbentur trotoar jalan karena pingsan mendadak!"


Ken terdiam.


"Kalau kau ragu, silahkan tuntut saja aku dan aku akan membuktikan ucapanku lewat rekaman cctv!" kata pria itu balik mengancam Ken.


"Dan satu lagi, aku rasa dia pingsan karena kehamilannya!"


"Hamil?" Ken terkejut.


"Kau tidak tahu istrimu hamil? Ya, sekarnag ku beri tahu kau! Bahwa istrimu itu sedang mengandung! She's pregnant! Dan Dokter mengatakan kandungannya baik - baik saja. Dia hanya gegar otak ringan dikepala akibat terbentur!"


Lagi, Ken terdiam. Rasa ketakutannya akan terjadi sesuatu pada sang istri membuatnya terbalut emosi dan ingin menyerang siapa saja yang berani mengganggu ketenangan mereka.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku! Bisa saja tadi aku mengabaikan istrimu dijalan."


"Baiklah, aku minta maaf dan terima kasih atas bantuanmu!" ucap Ken tulus, ia mengakui kesalahannya sekarang.


"Hmm, jaga istrimu baik - baik! Aku menolongnya karena dia sangat cantik! Ternyata dia adalah istri orang!" ucap pria itu sambil lalu.


Ken terkesiap saat mendengsr oenyataan pria yang sudah berlalu dari hadapannya itu. Ingin rasanya Ken menerjang punggung pria itu yang masih tampak dipelupuk matanya.


"Berani sekali dia memuji wanita didepan suami wanita itu!" gumam Ken, ia merasa marah dan cemburu namun ia mssih bisa berpikir jernih, bagaimana pun pria ssing itu sudah menolong Zahra.


Tapi tunggu... Zahra hamil?

__ADS_1


"Hana, kamu hamil, Sayang?" batin Ken bersorak sorai dengan senangnya. Sesegera mungkin Ken kembali ke ruangan sang istri.


***


__ADS_2