
Setelah memastikan pada Dokter tentang kondisi Zahra yang sebenarnya, Ken kembali ke kamar rawat sang istri.
"Ken..."
Ken tersenyum kecil, kemudian duduk di bibir ranjangg sembari memegang jemari Zahra.
"Sayang, ada yang ingin aku sampaikan..."
"Apa itu?"
"Tapi, berjanjilah jangan marah tentang hal ini..."
Zahra mengernyit. "Apa maksudnya? Aku marah karena apa? Apa kamu berkelahi dengan pria asing tadi?" tanyanya.
Ken menggeleng pelan. "Bukan, itu tidak penting. Yang lebih penting lagi adalah tentang ..."
"Tentang?"
"Kamu sekarang sedang hamil, Sayang..." ujar Ken hati - hati, ia takut Zahra marah karena hal ini. Entahlah... ia merasa Zahra masih menginginkan waktu berdua dengannya dan belum memikirkan soal anak, karena mereka memang belum pernah membahas hal ini sebelumnya.
Meski begitu, Ken tahu pasti setiap perbuatannya pada istrinya akan berimbas kehamilan karena ia sendiri sangat menginginkan keturuan dari sang istri agar semakin mengeratkan hubungan keduanya.
Mendengar itu, Zahra terdiam, namun sesaat kemudian ia menyunggingkan senyuman yang merekah. Wajah Zahra pun tampak langsung berseri - seri.
"Ken, benarkah?" tanya Zahra sembari mengelus perut yang masih rata.
"Iya, apa kamu kecewa? Atau mungkin kamu marah?"
"Kenapa aku harus kecewa dan marah? Ini kabar bahagia, Ken!" sahut Zahra.
Ken menghela nafas. "Syukurlah, aku pikir kamu akan marah karena masih mau menunda kehamilan, apalagi kita baru menikah 2 bulan, jadi aku pikir kamu---"
"Apa - apaan, Ken!" potong Zahra cepat. "Ini anugerah buat keluarga kecil kita. Mana mungkin aku berniat menunda kehamilan. Aku sangat senang mendengar hal ini, ini hal terajaib dalam hidup aku!" celoteh Zahra sembari membalas genggaman tangan Ken dan menatap suaminya dengan lekat.
"Atau... kamu yang gak siap dengan kehamilanku?" tanya Zahra pelan.
"Sayang, tentu saja aku sangat siap. Ini yang aku nantikan! Kegiatan rutin kita yang hampir setiap hari itu ... tentu sudah ku perkirakan akan jadi seperti ini. Aku sangat sangat sangat mengharapkan ini!" seru Ken dengan antusiasme tinggi.
Zahra terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya yang terlalu gamblang membahas 'kegiatan rutin' mereka itu.
"...tak lama lagi aku akan menjadi seorang Ayah! tidak sia - sia kerja kerasku yang hampir setiap malam... awww!!"
Zahra mencubit lengan Ken dengan keras.
"Sakit, Sayang!" ringis Ken sembari mengusap lengannya sendiri yang sakit sebab dicubit oleh sang istri secara sengaja.
"Makanya jangan asal ngomong!" gerutu Zahra.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tahu kalau tadi aku asal ngomong! Kan, yang sebenarnya bukan hampir tiap malam aja tapi terkadang pagi, siang atau sore juga!"
"Ah terserah kamu lah!" kata Zahra menyembunyikan wajah dengan selimut yang ia kenakan di bed hospital itu.
"Sayang..."
"Hmm?"
"Buka selimutnya!" Ken meraih selimut Zahra untuk menyibaknya namun Zahra menahan agar itu tidak terbuka.
"Aku mau lihat wajah kamu!" Ken ngotot ingin membuka selimut yang menutupi wajah istrinya.
"Gak!" sahut Zahra dari balik selimutnya.
"Apa yang salah dari kata - kataku! Kan semua itu memang bener!" Ken tersenyum culas karena berhasil menggoda Zahra lagi dan lagi.
"Dasar suami m e s u m ! Bisa - bisanya membahas hal itu secara terus - terang!"
"Loh? Kalau gak m e s u m, gak berhasil dong cetak skor-nya! Boro - boro cetak skor, jebol gawang aja pasti gak bisa." Ken terkekeh dengan kalimat karangannya sendiri.
"Ya ampun!" gerutu Zahra masih dalam selimut.
"Ayo dong sayang! Buka selimutnya! Aku suka lihat wajah malu - malu kamu!" kata Ken bersikeras.
"Gak!"
Ken terkekeh - kekeh melihat tingkah Zahra ini, membuatnya semakin senang mengerjai istrinya.
Dan Zahra terkesiap saat menyadari ranjangg yang terasa bergerak, ia menoleh kesamping dan ternyata Ken sudah menyempil didalam selimut yang sama dengannya.
"Gimana? Masih malu?" tanya Ken dari jarak yang sangat dekat dengan wajah Zahra.
Zahra merasa sulit menelan saliva, ia juga merasa sulit bernafas karena tatapan Ken serasa menghunus tepat ke jantungnya. Meski sudah entah berapa kali Ken telah menjamahh tubuhnya, namun ia tak bisa memungkiri, jika sudah dalam keadaan seperti ini selalu membuatnya gugup dan tercekat.
Ken mengelus pipi Zahra dengan perlahan, menyusuri alis, mata, hidung dan bibir wanita itu dengan jari telunjuknya.
"Thanks for wanting to be my wife, thanks for being pregnant with our child... and thanks for loving me. I don't know how much you love me! All I know, just my love for you... which is so extraordinary!"
(Terima kasih telah mau menjadi istriku, terima kasih telah mengandung anak kita... dan terima kasih telah mencintaiku. Aku tidak tahu seberapa besar kamu mencintaiku. Yang aku tahu,hanya cintaku padamu... yang sangat luar biasa!)
Setelah mengucapkan itu, Ken mengecup dahi Zahra yang terkesima akan ucapan sang suami. Zahra tidak pernah menduga bahwa pria yang sekarang tengah mendekapnya begitu amat mencintainya.
Rasanya menjadi istri Ken hanyalah sebuah angan - angan dan ekspektasi di masa lalunya, tapi ternyata ia dan Ken benar - benar ditakdirkan bersama.
Dan yang paling membuat Zahra semakin bahagia adalah perasaannya yang selama ini terpendam mendapat balasan berkali lipat dari orang yang ia harapkan sejak bertahun - tahun yang lalu.
Sekarang Zahra bahkan mengandung anak dari pria ini.
__ADS_1
Selama ini Zahra berpikir lebih baik hidup dengan orang yang mencintainya daripada yang hanya ia cintai sebelah pihak. Ia menyangka Ken tak pernah mencintainya, sehingga ia sempat menolak tegas lamaran Ken waktu itu.
Ken yang dulu tak pernah mengucapkan kata cinta, sekarang justru sebaliknya, kalimat itulah yang sering Ken ulangi dihadapan Zahra.
Berbanding terbalik dari pemikiran Zahra selama ini, kan? Yang mengira Ken tak pernah mencintainya.
Tak salah jika kini, Zahra merasa sangat bahagia bisa hidup bersama dengan Ken.
Percayalah, tidak ada hidup yang lebih baik dari hidup bersama orang yang kita cintai dan juga mencintai kita.
Zahra berharap semoga kebahagiaannya dengan Ken selalu seperti ini dan tidak ada yang bisa mengusik atau merusaknya.
"Kenapa kamu menangis?" Ken menghapus airmata yang bercucuran deras dari pelupuk mata istrinya.
"Aku bahagia, Ken..." jawab Zahra sesenggukan.
"Kalau bahagia kenapa menangis? Ayo, senyum seperti ini!" Ken memperagakan senyum dengan menampakkan barisan giginya yang rapi, membuat Zahra tertawa akibat ulah absurd sang suami.
"Nah, gitu dong ketawa! Calon Bunda harus sering tertawa dan tersenyum, jangan menangis, oke?" Ken pun membawa tubuh Zahra kembali dalam dekapannya.
Zahra mengangguk dalam pelukan pria itu.
"Aww..." Zahra meringis dan Ken buru - buru melepas pelukannya.
"Ah, iya! Sayang... aku lupa, maaf sayang aku memeluk kamu terlalu erat." Ken buru-buru beringsut menjauh dan berdiri dari posisinya yang tadi sempat berbaring.
"Sayang, aku panggilkan dokter dulu!" ucap Ken buru - buru keluar dari ruangan itu.
####
Di lain tempat, seseorang yang sudah mengantongi informasi tentang keberadaan keturunan Dirgantara merasa kesal karena ternyata kedua anak Yuda masih hidup bebas dan sepertinya telah hidup bahagia.
Ia merasa demikian, karena mendapat laporan bahwa salah satu keturunan Dirgantara baru melangsungkan pernikahan 2 bulan yang lalu. Data semacam itu sangat mudah diretas oleh jaringan yang ia miliki karena hacker dan reziim banyak yang mengikuti Clan yang ia pimpin.
Sejak kematian ayahnya, ia menjadi pemimpin di Clan Zwart, yang dulu dipimpin sang Ayah.
Keterangan ini menjadi bukti akurat jika keturunan Yuda bisa hidup dengan bahagia. Berbeda dengannya, yang hidup dalam belenggu dendam. Ayahnya telah mati dibunuhh oleh Yuda. Meski istri Yuda juga sempat terbunuhh akibat dendam itu, namun rasanya belum puas, karena ia bertekad bahwa ia sendirilah yang akan membunuhh keturunan Prayuda Dirgantara disaat ia telah dewasa.
Setelah bertahun - tahun mencari, ia menemukan mereka sekarang dan momen ini sangat pas dengan usianya yang cukup untuk membalaskan dendam itu.
Ia dendam, tentu saja. Saat kejadian itu Ayahnya dari Clan Zwart seharusnya bisa menguasai negaranya sendiri, namun sialnya harus kalah hanya karena banditt kecil yang sukses menemukan dan memperdaya SDA kilang minyak di Negaranya yang terpencil.
Dendamnya itu terbentuk sebab ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika ayahnya langsung meregang nyawa akibat peluru pistol yang dihujamkan Yuda beberapa kali ke tubuh sang Ayah.
Menyebabkan ibunya menjadi gila dan mendekam dirumah sakit jiwa, ia dan adiknya terpaksa pergi jauh dari negara itu, karena kasus itu diusut tuntas oleh rezimm yang bertugas di negaranya.
Ia seperti diasingkan, namun dendam itu masih ada berkat apa yang telah dilihatnya, serta doktrin - doktrin dari para pengikut Clan Zwart yang terus menginterupsinya untuk pembalasan dendam.
__ADS_1
"Kematian ibu kalian, belum seberapa! Itu tidak bisa menggantikan masa kecilku! Itu tidak bisa mengembalikan ibuku yang akhirnya mati bunuh diri dirumah sakit jiwa!" ucapnya dengan senyum bengis.
******