
"Ken?" Zahra memanggil suaminya dan lelaki jangkung itu pun mengalihkan atensinya dari depan tab yang ia pegang.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ken dengan suara pelan.
"Ada panggilan tak terjawab dari nomor asing," kata Zahra mengulurkan ponsel milik Ken.
Ken memang mengaktifkan mode silent sehingga tidak mendengar dering ponselnya.
"Sudahlah, tidak penting...." Ken pun beranjak, ia naik ke tempat tidur dimana istrinya tengah berbaring.
"Jangan mengabaikan jika panggilannya lebih dari tiga kali seperti itu. Mungkin ada berita penting, cobalah telepon kembali," kata Zahra memberi saran.
"Aku ngantuk, ini sudah larut malam...meskipun di indonesia masih jam 10. Besok sajalah aku telepon kembali," kata Ken sembari menguap panjang.
"Pekerjaan kamu sudah siap?"
Ken mengangguk dan membawa Zahra kedalam dekapannya, ia bersiap memejamkan mata namun jemari Zahra yang terasa mengelus-elus dadanya membuatnya tidak fokus untuk hanyut ke dunia mimpi.
"Sayang... jangan seperti ini, ya." Ken menghentikan gerakan jari Zahra yang terasa membuat gambar-gambar abstrak di dada Ken yang polos.
Zahra terkikik geli, ia tidak pernah melihat Ken marah padanya sehingga ia ingin memancing kemarahan Ken, entah kenapa hormon kehamilannya membuatnya jadi bertingkah sangat jahil akhir-akhir ini.
"Ck! Sayang....!" Ken mengeluh karena Zahra malah semakin membuatnya tidak tenang.
"Kenapa? Mau marah?" bisik Zahra dengan tawa tertahan.
"Enggak, tapi nanti kalo ngantuk aku hilang kamu harus tanggung jawab, ya!" ucap Ken dengan mata yang sudah terpejam. Zahra terkikik, ia mendongak untuk menatapi wajah suaminya dari arah bawah.
Tiba-tiba mata Ken terbuka, mereka pun saling menatap ke netra masing-masing.
"I love you, Ken...." kata Zahra sambil tersenyum.
Ken mengelus puncak kepala istrinya. " I love you too, Sayang."
Kemudian Ken mengecup bibit istrinya sebagai obat penenang termanjur dalam hidupnya.
_____
Pagi-pagi sekali, Zahra dan Ken sudah bersiap untuk jalan-jalan. Kebetulan saat ini sedang musim semi di Jepang. Oleh sebab itu, negara ini akan dipenuhi oleh pohon-pohon sakura. Zahra tidak mau melewatkan momen ini. Ken sudah berjanji untuk mengajaknya ke Taman Nasional Shinjuku Gyoen karena saat ini mereka memang menetap di Tokyo.
Taman Nasional Shinjuku Gyoen adalah taman terbesar yang ada di Tokyo, disana banyak spot piknik yang asyik dan dikelilingi oleh pohon-pohon sakura yang sedang mekar.
Setelah dari taman itu, mereka juga akan mengunjungi Resor Fuji Motosuko yang menampilkan pemandangan Gunung Fuji yang tersohor. Kebetulan, jika musim semi seperti ini Resor Fuji Motosuko akan mengadakan Festival Fuji Shibazakura, karena bunga shibazakura (dikenal sebagai lumut pink atau lumut phlox) akan bermunculan hingga menutupi lahan di dekat danau, pemandangannya pasti sangat indah dan Zahra tidak sabar untuk segera berangkat.
"Sayang sudah siap, belum?" tanya Zahra dari meja rias, ia sedang mengenakan pashminanya disana.
__ADS_1
"Sudah kok, tinggal nunggu kamu aja."
"Oke."
Sambil menunggu istrinya bersiap, sesuai saran Zahra malam tadi, Ken mencoba menghubungi nomor yang kemarin sempat meneleponnya beberapa kali untuk memastikan maksud si penelepon karena nomor itu menghubungi Ken sampai delapan kali.
"Kamu nelepon siapa, Ken?" tanya Zahra yang sudah siap, ia menghampiri posisi Ken yang berdiri diambang pintu.
"Nomor kemarin," jawab Ken sambil tetal menghubungi nomor itu melalui ponsel pribadinya.
"Oh..." Zahra mengangguk dan menunggu Ken selesai dengan hal itu.
Beberapa kali mencoba, akhirnya panggilan Ken tersambung dengan nomor tersebut.
"Hallo..."
"Ya, siapa ini?" tanya Ken mengernyit karena yang menerima panggilannya adalah suara wanita.
Zahra menatap Ken seolah menanyakan 'siapa?' namun Ken hanya mengangkat bahu sebab belum mengetahui siapa pemilik nomor asing itu.
"Apa ini Ken?" Wanita diseberang sana balik bertanya pada Ken.
"Siapa kau?" Ken mengaktifkan mode speaker luar agar Zahra juga bisa mendengar pembicaraannya, dia tidak mau menutupi apapun dari sang istri.
"Ini... Mama Irene, Ken."
"Ohh, ada apa?" tanya Ken tak acuh.
"Maaf jika mama mengganggu waktu dan liburanmu, Ken. Mama hanya ingin meminta maaf kepadamu, mama harap kamu mau memaafkan mama dan juga.... Frans," kata Irene.
Ken menghela nafas berat, baru ini ia mendengar Irene mengucapkan kata maaf, padahal waktu Frans melecehkan istrinya saja Irene sama sekali tak meminta maaf, justru yang mengucapkan maaf adalah Bagas, ayahnya sendiri yang amat menyesali perbuatan Frans, sementara Irene? Waktu itu Irene hanya diam. Apa lagi kali ini? Apa Irene ingin mengerjainya dengan siasat dan rencanaa baru untuk menghancurkannya?
"Tumben sekali, kenapa tiba-tiba?" sarkas Ken.
"Mama malu, Ken.... sejak Mama melihat Mbak Devia menjaga Frans dan merawatnya di rumah sakit. Mama jadi merasa amat bersalah tidak bisa berlaku baik kepada kamu selama ini padahal...." Irene terdengar ragu melanjutkan kalimatnya.
"Padahal apa?"
"Padahal Mama yang banyak bersalah pada Mbak Dev, tapi dia masih bisa memperlakukan Frans dengan baik, sementara Mama tidak bisa berbuat begitu pada kamu padahal kamu tidak memiliki kesalahan, jika kamu terlahir dri pernikahan Mas Bagas dan Mbak Devia itu bukan kesalahan kamu. Maafkan Mama, Ken... Mama tulus mengucapkan ini," tangis Irene.
"Sudahlah, jangan berakting... aku sudah hidup tenang sekarang, jangan usik aku!" kata Ken akhirnya.
"Ya, Mama hargai keputusan kamu. Mama tahu tidak mudah bagi kamu mempercayai niat tulus Mama ini, tapi mama benar-benar meminta maaf, Ken. Apabila kamu berkenan, nanti Mama akan mengusulkan Frans untuk menghubungi kamu juga dari lapas,"
"Hmmm, terserah saja," jawab Ken malas.
"Oh iya, lusa... Frans akan menikahi Jenar."
__ADS_1
"Oh, baguslah... soal ini baru aku tertarik," kekeh Ken sinis.
"Ya, untuk itu maafkanlah Frans juga agar dia bisa menjalani hidup baru yang lebih baik seperti kamu saat ini."
"Aku akan mendoakan hal itu, tapi aku melakukannya agar Frans tidak mengusik istriku lagi."
"Apapun itu, terima kasih kamu sudah mau mendoakan Frans."
Ken memutus panggilannya begitu saja, setidaknya ia sudah tahu siapa pemilik nomor asing itu dan apa tujuannya. Namun, Ken masih belum bisa mencerna apakah niat Irene meminta maaf tulus atau tidak, entahlah.
Zahra menepuk pelan pundak Ken. "Kamu harus bisa memaafkan jika kamu mau kehidupan yang lebih tenang." Zahra tersenyum cantik.
"Sayang..." Ken mencubit dagu Zahra dengan gemas.
"Ya udah kita berangkat, yuk!" Zahra ingin menggandeng tangan Ken namun Ken justru melakukan hal lain yang membuat Zahra melongo.
Ken menyatukan jari telunjuk dan jempol, yang terlihat kaku dimata Zahra.
"Apaan itu? Minta duit?" tanya Zahra berlagak bodoh.
Ken berdecak. "Bukan sayang," katanya.
"Terus apaan itu jari kamu?" Zahra terkikik geli sebab ia sudah bisa menebak apa yang Ken lakukan.
"Ini... Sarangheo," ucap Ken dengan senyum lebar. Zahra tak kuasa menahan tawanya, ia tertawa kencang.
"Belajar dari mana sarangheo - sarangheo-an?" tanya Zahra masih dengan tawanya.
"Itu, lihat drakor yang sering kamu tonton, lah!" Ken ikut terkekeh juga. Kemudian mereka keluar dari tempat tinggal mereka selama berada di Jepang. Di Jepang lebih sering beraktivotas dengan berjalan kaki, jadi mereka melakukannya selama disana, jika terlalu jauh baru menaiki Bis untuk alat transfortasinya.
"Tapi sekarang kita di Jepang, bukan di korea, Sayang..." kata Zahra mendongak pada Ken disisinya.
"Iya juga ya, kalo gitu ralat, Itoshi teru boku no tsuma, Hana...."
"Artinya?" Zahra tertawa pelan.
Ken menarik tangan Zahra dan memasukkannya kedalam kantung saku sweater yang ia kenakan, menggenggamnya didalam sana. "Aku cinta istriku, Hana..."
Cup
Cup
Cup
Ken pun mengecupi jemari Zahra yang satunya secara bertubi-tubi, kegiatan ini agar ia melupakan sejenak perihal permintaan maaf Irene yang membuatnya cukup gusar tadi.
******
__ADS_1