Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Syarat


__ADS_3

Kini, jantung Zahra terasa berdetak dua kali lebih cepat daripada biasanya. Ucapan pria disebelahnya yang terdengar mengintimidasinya itu, malah membuatnya ingin berlari sejauh mungkin, rasanya ia ingin bersembunyi didalam celah dinding atau ditempat lainnya jika bisa, tapi ia tahu itu tidak akan pernah berhasil.


Sebab, satu kalimat yang diucapkan Ken tadi sudah sangat jelas, ucapan yang membuatnya serasa akan ditelan hidup - hidup tanpa bisa menghindar. Seorang Ken pasti akan merealisasikan ucapan yang telah terlontar dari bibir pria itu yakni--menangkapnya-- jika ia berani mencoba kabur dari acara dadakan ini.


"Hana... Ken! Ayo, acaranya akan kita mulai sekarang." Terdengar suara lembut milik Devia yang memanggil mereka berdua. Keduanya pun seolah tersadar, lalu buru - buru mengalihkan pandangan mata ke arah sosok Mama Ken yang berada diambang pintu.


Mendengar itu, Zahra gugup seketika dan merasa jika suasana dirumah ini berubah menjadi amat gerah. Ia pun melirik pada pria yang masih berdiri disisinya, Ken tampak menyunggingkan senyuman yang tak bisa ia tafsirkan apa arti dari senyuman itu. Namun, ia sangat yakin jika Ken juga tengah gugup sama seperti dirinya saat ini.


"Kamu duluan masuk." Ken mempersilahkannya lebih dulu.


Ia diam tak menjawab, namun dengan gerak pelan, akhirnya ia berjalan juga untuk masuk keruangan utama tempat berlangsungnya acara, langkah pelannya itu diikuti oleh Ken yang juga berjalan dengan sangat lambat dibelakang tubuhnya.


"Ah, dimana Kak Dirga?" batinnya, ia baru merasa kehilangan sang Kakak sekarang, padahal tadi mereka berangkat bersama - sama menuju ke rumah Devia.


Pandangannya langsung terarah pada sosok pria diujung sana yang tak lain adalah sang Kakak. Rasta tampak mematut senyum yang seolah meyakinkannya dengan semua hal yang sudah ada didepan mata ini.


"Ternyata Kakak juga sudah tahu semua ini... aku saja yang baru menyadarinya," batin Zahra merasa semakin rendah diri karena kepolosannya.


"Karena Ken dan Hana sudah ada disini, kita langsung lakukan acaranya saja, ya..." ucap Devia pada semua yang hadir.


Seorang MC acara yang juga sudah diundang khusus, langsung mengambil alih suasana. Dia memberikan kata sambutan pada semua tamu yang hadir.


Berkat MC yang pandai membawa diri itu, Zahra dengan polosnya mengikuti saja instruksi sang pengatur acara. Dia berdiri didampingi oleh Ken-- di depan semua tamu yang hadir disana.


Jangan tanyakan tentang Ken, tentu saja pria itu melakukan semua dengan hati lapang dan mengukir senyum. Ken mengukuti alur yang sudah disediakan oleh sang Mama. Ibarat kata, Ken saat ini tinggal memasrahkan diri pada arus dengan tenangnya, sementara akomodasi pendukung memang sudah disokong total oleh sang Mama.


Devia selaku tuan rumah, tampak tersenyum puas karena acara yang akan terlaksana didepan matanya. Putera sema - wayangnya akan segera memasangkan cincin di jari manis Zahra.


"Ayo, sekarang boleh saling beetukar cincin!" kata MC mengarahkan.


Dengan sigap Ken langsung mengambil kotak cincin dan menyematkan cincin dengan desain indah itu dijari manis gadisnya.


Zahra tersenyum kikuk saat Ken memegang telapak tangannya sekilas, demi memakaikan cincin dijarinya.


Semua orang terdengar bersorak sambil bertepuk tangan bahagia.


Sampai saat Zahra yang harus memasangkan cincin di jari manis Ken. Ia menatap Ken sekilas dan pria itu tersenyum kecil seolah meyakinkannya dengan senyum itu.


Senyum yang sangat tulus dari seorang Ken, senyum yang sangat jarang tersungging dari bibir tipis Ken. Senyum yang selalu ia rindukan karena senyuamn itu pernah ia lihat saat dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


Dengan tangan yang cukup gemetar, akhirnya Zahra berhasil juga memasangkan cincin dijari manis pria itu.


Sekali lagi, para tamu yang hadir disana bersorak gembira, menyaksikan pertunangan dadakannya dengan seorang Kendra Winarya.


Benarkah pria ini yang akan menjadi jodohnya?


Benarkah pria ini yang nanti akan mendampinginya dalam menjalani pahit - manisnya hidup?


Benarkah pria ini yang akan menjadi imam dalam kehidupannya? Menuntunnya dalam kegelapan, menemaninya menyusuri jalan dan membantunya menemukan cahaya itu?


Ah, kenapa matanya menjadi panas, secara mendadak ia ingin menangis, bukan tangisan kesedihan seperti waktu itu, melainkan tangis haru kebahagiaan!


Benarkah? Apa ia bahagia sekarang?


Kenapa rasanya airmatanya tidak bisa dicegah agar tak tumpah?


Kenapa kini terasa mengalir hangat begitu saja?


"Kamu... gak apa - apa?" Ken merunduk, mencoba menatap kedalam matanya yang telah berair.


"Nggak, aku gak apa - apa." Ia mencoba tersenyum sembari menyusut airmatanya dipipi.


Entah kapan Ken mengambil tisu, yang jelas pria itu sudah menyodorkan helaian itu kepadanya.


Zahra pun mengambil tisu itu dari tangan Ken dan mengusap sisa airmata yang tertinggal di pipinya.


Acara itu dilanjutkan dengan sesi pengenalan singkat. Devia mengenalkan Zahra yang memiliki nama asli 'Zeevana', agar semua orang tidak bertanya - tanya lagi. Hanya saja, Devia tak mendetailkan alasan atau sebab yang membuat nama Zeevana berubah menjadi Zahra Alhana.


Sampai acara selesai, Ken yang biasa bersikap datar, hari ini justru tampak selalu memasang senyuman diwajahnya.


"Senang kamu sekarang?" tanya Zahra sebal pada Ken.


"Senang? Tentu saja aku senang," jawab Ken tersenyum tipis.


"Kenapa gak ada yang ngasih tahu aku tentang acara ini? Bahkan Kak Dirga juga gak cerita!"


Ken hanya mengangkat bahunya, dia sendiri tidak tahu - menahu dan baru tahu acara ini akan diadakan di H-2.


"Sudahlah, Hana. Intinya kita akan menikah sebulan kedepan." Ken tersenyum puas.

__ADS_1


Zahra menghela nafas panjang.


"Baiklah, kita sudah terlanjur bertunangan juga, kan? Tapi ... aku punya permintaan pasca menikah!"


Ken mengernyit. "Memangnya calon istriku ini punya permintaan apa, sih?" tanyanya diakhiri dengan seringaian usil--merasa puas dengan julukan barunya untuk Zahra yaitu 'Calon Istri'.


"Pasca menikah, gak ada yang namanya malam pertama atau bulan madu!" ucap Zahra cuek.


"Apa? Kenapa?" Ken terperangah kaget. Absurd sekali permintaan Zahra ini.


"Karena kamu sudah mengambilnya duluan... jauh sebelum kita menikah. Ini hukuman untuk kamu, Ken!" ucap Zahra tegas.


Ken menggeleng. "Mana bisa seperti itu, Han!" protesnya.


"Kenapa? Kamu gak suka? Gak terima? Aku juga gak terima sama perlakuan kamu dulu! Kamu pikir aku udah maafin kamu? Pertunangan ini juga karena aku gak mengetahuinya!" jawab Zahra tersenyum kecut.


"Gini, gini... dalam ajaran agama, saat kamu sudah menikah, itu berarti kamu sudah menjadi milik suamimu!" ucap Ken berlagak bijak menceramahi.


Zahra tertawa sumbang. "Aku tahu, Ken! Tapi aku kan gak bilang selamanya seperti itu. Aku bilang cuma sebulan pertama saja, sebagai hukuman buat kamu!"


"Gak!"


"Ya udah, kalau begitu kita batal meni---"


"Han, kita menikah bukan cuma untuk permainan!" potong Ken tegas.


"Ya karena itu, Ken! Kalau memang niat kamu menikahi aku bukan semata - mata hanya untuk hubungan ran - jang, ya udah kamu terima aja syarat yang aku berikan!"


"Astaga, Hana..." Ken mengusap kasar wajahnya.


"Sebulan pertama, oke?" tantang Zahra.


Ken tak menjawab, ia justru pergi meninggalkan Zahra dan mengambil air minum yang tersaji di meja, menenggak air segelas penuh dengan perasaan kesal.


Bagaimana tidak? Ia menikahi Zahra bukan semata - mata hanya untuk hubungan 'semacam itu' saja. Ia mencintai gadis itu, tentu saja. Tapi jika diberi syarat seperti ini rasanya terlalu rancu dan janggal. Tentu ia belum bisa menerima hukuman itu. Ia pun ingin memiliki Zahra sepenuhnya.


"Haiss... ada - ada saja syaratnya! Apakah aku harus menjalani hukuman untuk kesalahan yang sebenarnya tak ku lakukan?" batin Ken menggerutu.


...Bersambung ......

__ADS_1


...Tolong tinggalkan jejak berupa komen, like, hadiah, atau vote ya... biar othor semangat update lagi♥️♥️♥️♥️♥️...


...JANGAN LUPA JUGA UNTUK DI JADIKAN FAVORIT!...


__ADS_2