Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Amarah


__ADS_3

Ken sengaja bersiap dengan setelan rapi malam ini, ia menaiki mobil sport-nya yang lama tak terjammah dan sudah ia ungsikan di bengkel.


Beberapa waktu mengendarai mobil itu, ia pun tiba ditempat tujuannya. Turun dari mobil dengan sikap percaya diri tinggi.


Dengan langkah mantap, Ken memasuki area Restoran-- tempat diadakan acara makan malam.


Senyum kecil tersungging di bibirnya, ia bertekad menaklukkan gadis yang menjadi calon istri adik tirinya tersebut.


Rencana gilanya adalah menggoda gadis itu, mengajaknya bermain-main, lalu memamerkannya pada Frans nantinya. Ia membayangkan wajah pucat Frans jika gadis itu berhasil direbutnya.


Ken akan bersikap terus-terang didepan Frans, bahwa ia akan menghancurkan rencana pernikahan itu dengan menjadi orang ketiga diantara Frans dan gadis pilihannya.


Gadis mana yang tidak bertekuk lutut padanya? Termasuk gadis pilihan Frans, yah... mungkin saja. Ia akan membuat gadis itu takluk di kakinya. Let's play... ia akan mencobanya!- Batin tengil Ken mulai siap untuk melanjutkan niatnya, jika ini tak berhasil, ia akan memikirkan rencana lainnya nanti. Setidaknya ia sudah mencobanya, bukan?


"Pa ..." Ken menyapa sang Papa yang sudah berada disana bersama dengan Ibu tirinya. Ken tersenyum kecut pada wanita yang tak muda lagi itu, lalu Irene melakukan hal yang sama.


"Ken, kamu datang ..." Bagas tersenyum cerah melihat kedatangan Ken disana. "Ayo duduk, Nak! Kami juga baru tiba," sambungnya.


Ken mengangguk dan duduk, ia belum melihat adanya Frans atau gadis yang akan dikenalkan Frans sebagai calon istri adik tirinya itu. Mungkin Frans masih menjemput gadis itu, pikir Ken.


"Kita tunggu sebentar ya, Frans masih di Kamar mandi," kata Bagas.


Lagi, Ken mengangguk. Ternyata Frans sudah tiba disana namun sedang di toilet.


Kenapa Frans tidak menjemput gadis itu?


Seorang pelayan datang untuk menyerahkan daftar menu dan menanyakan pesanan makanan mereka.


Ken sebenarnya tidak tertarik untuk makan, kedatangannya kesini dengan maksud lain. Tentu saja ingin melihat gadis seperti apa yang menjadi calon istri Frans. Tapi, ia tak mau mengambil perhatian dengan cara tak memesan satu makananpun. Maka, ia pun mencoba menelisik ke dalam daftar menu yang diserahkan seorang pelayan padanya.


Sampai suara seorang wanita, terdengar cukup jelas di indera pendengaran Ken.


"Ini, meja nomor tiga puluh dua atas nama Tuan Frans Winarya, Mbak..." Tampak seorang pelayan yang mengantarkan seorang lain ke meja mereka, mungkin orang itu adalah tamu Frans, yang tak lain adalah calon istri adik tirinya itu.


Ken masih cuek, sengaja tak ingin mengalihkan atensi dari buku menu walaupun ia sudah merasa penasaran dengan gadis pilihan Frans, namun ia tak mau keantusiasannya tertangkap basah oleh sang Papa atau si ibu tiri.


"Maaf, saya diundang Frans untuk datang kesini..."


Suara lembut itu, berhasil membuat Ken menutup buku menu lalu mengadah pada sang pemilik suara. Belum sempat Ken buka suara, sang Ayah yang lebih dulu mengenali sosok itu.


"Zahra ..." Bagas sampai berdiri dari duduknya, senyum melengkung tersungging dari bibirnya.


Zahra membalas dengan senyuman pula, tapi ia masih belum memahami situasi apa yang terjadi sekarang.

__ADS_1


"Loh, Papa kenal sama gadis ini?" timpal Irene yang mendengar suaminya menyebut nama Zahra.


Ken sendiri, terperangah dengan apa yang dilihatnya saat ini. Seorang gadis bergamis panjang, dengan jilbab berwarna senada dan terlihat sangat anggun. Otak Ken yang sudah dipenuhi hal liar mengenai Calon istri Frans, mendadak berubah membeku dan buntu, ia tidak bisa berpikir sama sekali sekarang.


"Hana? Ini ... tidak mungkin!" Batin Ken tak menerima kenyataan ini.


Di menit yang sama, Frans muncul dari sisi lain dan menyapa Zahra dengan ramah.


"Ra... kamu udah nyampek! Maaf aku di toilet tadi," kata Frans tersenyum senang.


Zahra mengangguk kecil pada Frans, mencoba memahami situasi yang terjadi didepannya. Disana ia bisa melihat Bagas, yang ia ketahui adalah Ayah dari Ken. Ia juga melihat wanita yang pasti istri dari Bagas.


Tapi, yang tak bisa mengalihkan perhatiannya adalah pria yang berada tepat diseberangnya yaitu Ken, yang kini menatapnya dengan tatapan entah.


"Jadi, gadis yang mau kamu kenalkan pada kami adalah Zahra?" tanya Bagas pada Frans membuat Frans mengangguk.


"Iya, Pa. Papa kenal sama Zahra?" Frans balik bertanya.


"Ya, tentu Papa kenal Zahra." Bagas terkekeh senang, ternyata pilihan istri Frans adalah wanita yang ia kenal sejak lama dan ia tahu jika Zahra adalah gadis baik-baik dan dengan senang hati ia akan merestui Frans dan Zahra, jika memang mereka ingin menikah.


Frans tak menanyakan lebih lanjut tentang darimana Bagas mengenal Zahra, karena ia mengira pasti Bagas mengenal Zahra karena gadis itu adalah staff divisi perusahaannya yang ada di cabang Singapore.


Zahra menyalami kedua orangtua yang ada dimeja yang sama, ia mulai paham jika Bagas dan Irene adalah kedua orangtua Frans dan Ken. Yang artinya dua pria ini adalah Kakak beradik.


"Ayo duduk... siapa namanya tadi?" sapa Irene ramah.


Zahra mulai duduk, posisinya berada tepat diseberang Ken. "Zahra, Tante ..." sahut Zahra lembut.


"Ayo Frans, pesankan makanan untuk Zahra!" kata Irene lagi yang tampak semangat sejak kedatangan Zahra, tampaknya ia juga menyukai gadis pilihan anaknya.


Frans mengangguk dan memberi Zahra buku menu.


Zahra merasa tak enak hati sekarang, bukan karena apa-apa, tapi pria yang ada diseberangnya menatapinya dengan tatapan mengintimidasi yang membuatnya gugup, entah kenapa Ken bersikap demikian? Apa ada yang salah dengan kedatangannya kesini? Begitulah pemikiran Zahra tentang Ken.


Zahra tidak tahu jika Ken menganggapnya adalah calon istri sang Adik tiri. Sementara Ken sendiri, tidak tahu jika sebenarnya tidak ada hubungan apapun diantara Zahra dan Frans. Kesalahpahaman yang belum terpecahkan.


Ken mengumpat kesal dalam hatinya, bagaimana bisa yang dikenalkan Frans pada keluarga mereka adalah gadis yang ada didepannya ini?


Sejak kapan Frans mengenal Hana? Bang sat!!!- Batin Ken murka.


Setelah memesan menu pilihan, Zahra izin untuk menuju toilet dan diangguki oleh Frans serta kedua orangtuanya.


Ken yang sudah murka hatinya, karena mengetahui jika Zahra yang dipilih Frans untuk menjadi istri, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menemui gadis itu. Ia segera beranjak dari kursinya dengan dalih menerima panggilan telepon.

__ADS_1


___


Zahra keluar dari toilet dan terkejut mendapati Ken yang berdiri di area lorong kamar mandi wanita-- seperti tengah menunggu seseorang. Sikapnya sama seperti dua belas tahun lalu--saat Ken sering menunggui Zahra didepan kelas.


Ken menyadari jika Zahra sudah berdiri tak jauh dari posisinya.


Karena kepala Ken sudah mau meledak dengan kenyataan yang ada, tanpa pikir panjang ia menarik lengan Zahra untuk kembali masuk kedalam kamar mandi secara mendadak. Beruntung keadaan memang tengah sepi dan tidak ada yang melihat aksi Ken itu.


"Ken, ada apa?" tanya Zahra bingung. Ia bahkan makin terkejut saat mendengar suara pintu yang ditutup lalu dikunci oleh Ken dari dalam.


"Lo mau nikah sama Frans?" tanya Ken langsung marah dan menuntut.


"Eng-enggak..." jawab Zahra jujur namun tergagap karena sadar jika Ken tengah marah sekarang.


"Jangan bohong!" senggak Ken.


Zahra menggeleng lalu memalingkan wajah, karena kini posisi Ken hanya berjarak sejengkal didepan wajahnya.


"Terus kenapa dia bilang kalo lo calon istrinya?" tuntut Ken masih dengan penuh emosi.


"Aku gak--" Zahra tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari arah luar.


"Ken, buka pintunya..." lirih Zahra kemudian.


"Gak!" kata Ken tegas.


"Kita bisa dicurigai, Ken! Dan ini toilet wanita, gak seharusnya kamu disini!" kata Zahra pelan dengan nada mulai ketakutan.


"Gue belom selesai bicara!"


"Kita bisa bicara nanti! Gak disaat seperti ini!"


"Oke! Mana nomor lo?" Ken memberi Zahra ponselnya, agar gadis itu mengetik nomornya disana.


Zahra segera meraih benda pipih itu dan menekan-nekan angka disana. Ken masih menatapi gadis itu dengan tatapan tajamnya.


Zahra menghela nafas panjang, mereka berduapun kembali diam, walau suara dari luar terus terdengar menggedor pintu kamar mandi.


"Ken, bagaimana kalau pintunya di dobrak orang? Terus kita ketahuan sedang berduaan disini? Bisa timbul pemikiran negatif! Ayo buka pintunya, Ken!" mohon Zahra.


"Lo bisa diem gak?" Ken pun mulai membuka pintu setelah memastikan tak ada suara gedoran lagi dari luar. Pria itu menendang pintu fiber kamar mandi sebelum akhirnya berlalu dari sana begitu saja.


Zahra menghela nafas lega setelah kepergian Ken. Tapi, kenapa Ken semarah itu? Dan lagi, kenapa Ken mengatakan jika Zahra adalah calon istri Frans? Pasti ada kesalahpahaman disini.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2