
Dengan langkah gontai, Ken memasuki area basecamp tempatnya dulu sering mengahabiskan banyak waktu. Tempat yang tak pernah ia datangi lagi beberapa bulan terakhir, sejak ia memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik.
"Bos, udah lama gak kelihatan..." sapa seseorang yang berpenampilan preman, salah satu rekan Ken disana.
"Minum, bos?" tawar pria bertopi itu dan Ken menggeleng samar.
"Ada apa, Bos? Kalau butuh sesuatu, bilang aja."
"Chandra mana?"
"Udah dua hari ini dia gak kesini. Telpon aja, Bos!"
"Gak bisa dihubungi." Terakhir Ken menghubungi Chandra adalah saat Ken meminjam pistol pria itu, yang pada saat itu memang dibutuhkannya untuk menolong Rasta saat dibawa paksa oleh orang-orang Owen beberapa waktu lalu. Bahkan pistolnya belum Ken kembalikan sampai sekarang karena Chandra sulit dideteksi keberadaannya.
"OD kali," celetuk salah seorang yang ada di ujung lorong tempat itu.
"Gak mungkin! Chandra udah lama gak make!" ucap Ken tegas.
"Siapa tahu! Tahu sendiri kalau bokapnya yang nyalurin barang!" timpal pria bertopi lagi. Ayah Chandra memang b a n d a r n a r k o b a makanya barang-barang illegal seperti pistol dan semacamnya dimiliki oleh Chandra, dan itu sudah menjadi rahasia umum diantara mereka.
"Emang perlu apa sih, Bos?" tanya pria bertopi lagi. "Kali aja bisa bantu kita-kita, ya gak?" Pria diujung lorong mengangguki ucapan pria bertopi.
"Gue butuh akses cctv club milik bokap Chandra yang sering kita datangi," terang Ken.
"Oh, mau cari info..."
"Hmmm...
"Tentang?"
"Jenar."
"Bukannya udah selesai sama itu cewek, Bos? Gue beberapa kali emang ketemu dia di Club... sama cowok!"
Ken memajukan tubuhnya, merasa antusias dengan info yang diberikan pria bertopi dihadapannya.
"Cowok? Lo tahu orangnya gimana?"
"Gak jelas lah, Bos. Tau sendiri di club itu remang-remang," jawabnya.
__ADS_1
Ken menghela nafas berat.
"Coba tanya sama Ari, Bos!" celetuk pria diujung lorong. Ken akhirnya mengangguk, ada benarnya ia harus menemui Ari. Ari adalah Bartender yang bekerja di Club milik Ayah Chandra, siapa tahu Ari mengenali pria yang sering bersama Jenar.
"Oke, gue cari Ari dulu. Lo pada... ada nyimpen nomor hp nya, gak?"
"Gak ada, tapi alamat kos nya gue tahu!" kata pria bertopi.
Setelah mendapat alamat Ari dari rekannya itu, Ken segera beranjak dari mantan tempat tongkrongannya itu.
"Thanks, kalau ketemu Chandra suruh dia hubungi gue secepatnya!" kata Ken memberi pesan pada kedua orang itu.
"Siap, Bos!"
"Anak-anak pada aman, kan? Gak ada penggusuran lahan?" Ken masih sempat menanyakan keadaan yang sudah cukup lama ia abaikan itu.
"Gak ada, Bos. Paling mafia kecil dan rentenir b a n g s a t, masih bisa kita handle."
"Oke sip." Ken beranjak dari tempat itu, tujuan selanjutnya adalah tempat tinggal Ari sang Bartender di Club.
_
Tempatnya tidak buruk, jauh dari kata reyot. Bahkan dilengkapi Ac disetiap kamarnya meski hanya setengah pk.
"Lo cari gue?" Ari keluar kamar dan menemui Ken, ia memantik api rokoknya dihadapan Ken.
"Iya," jawab Ken dan seketika itu juga Ari baru tersadar bahwa yang mencarinya adalah Ken, sosok Ken cukup famous dikalangan anak muda yang sering datang ke Club tempat Ari bekerja. Ken juga royal dalam memberi uang tip/fee, bahkan sering mentraktir minum rekan-rekannya ditempat yang sama. Untuk itulah Ari dan anak-anak lain sedikit sungkan dengan Ken, meski mereka tak tahu siapa jati diri Ken yang sesungguhnya.
"Eh, elo...Ken!" Ari nyengir, menunjukkan deretan giginya.
"Ada ketemu Chandra lo?"
Ari menggeleng. "Seminggu ini gak ada," jawabnya.
Ken cukup khawatir dengan keberadaan Chandra, apa benar Chandra OD alias over dosis? Namun, sekarang tujuan utama Ken bukan tentang Chandra, ia harus mencari bukti bahwa Jenar telah berhubungan dengan pria lain di tiga bulan terakhir ini.
"Lo tahu Jenar?" Ken menunjukkan foto Jenar kedepan wajah Ari.
Ari tersenyum miring. "Cewek ini, gue tahu lah!"
__ADS_1
"Nah bagus," kata Ken. "Lo tahu belakangan ini dia dekat sama siapa di Club?"
"Gue tahunya dia dekat sama seseorang yang berpenampilan kayak eksekutif muda. Sering pesan vodka, double shoot, ke gue, barengan pesannya! Ciumannya beuh... parah! Ada gue juga gak peduli mereka!" terang Ari.
Ini dia info yang Ken butuhkan. Sekarang tinggal mencari tahu siapa pria yang dimaksud oleh Ari, yang sering bersama Jenar untuk menghabiskan malam bersama dengan minum-minum dan berciuman.
"Cowoknya sering ke Club?"
"Dulu pas zamannya lo sama Rasta sering ke Club... sih gak pernah, ya! Tapi belakangan ini cukup sering," jelas Ari.
"Oke, thanks infonya..." Ken menepuk pundak Aris sekilas, kemudian dia memberikan beberapa lembar uang merah pada lelaki itu.
"Wah, gak usah, Bro!" kata Ari sungkan.
"Gak apa, anggap gue beli informasi dari lo!" kata Ken bersiap pergi dari halaman kos-kosan Ari.
"Kalau gue gak salah, nama cowok itu Frans," cetus Ari disaat Ken hendak membuka pintu mobilnya. Ken terkesiap, ia berbalik menatap Ari.
"Frans? Lo serius namanya, Frans?"
Ari mengangguk. "Gue sering dengar mereka saling sapa gitu, tahu sendiri kalo mabok suka nyeracau gak jelas!" katanya.
Ken mengambil ponsel dari saku, mencari-cari foto Frans untuk mengklarifikasinya pada Ari, tapi mana mungkin ia menyimpan foto adik tirinya itu.
"Bentar, gue cari sosmednya. Kalo beneran ini orangnya, lo kasi tahu gue!" kata Ken sembari mencari sosmed milik Frans.
Tak butuh waktu lama, didunia yang super canggih dengan ponsel yang juga super pintar, foto Frans sudah berada dalam genggaman Ken sekarang.
"Apa cowok ini yang lo maksud sering bersama Jenar?" Ken menunjukkan foto Frans pada Ari.
Ari terkekeh. "Yups," jawabnya singkat sambil menyeringai kecil.
"Sia lan!" Ken mendengkus. Sejak kapan Jenar mengenal Frans, ia tak tahu. Tapi ternyata mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Apa mungkin Jenar sedang mengandung anak Frans, sekarang? Ah, baru kali ini Ken sangat ingin menemui Chandra untuk melengkapi bukti-buktinya. Kenapa kawannya yang satu ini sulit ditemukan saat urgent seperti ini? Benar-benar sial!
"Gue balik, makasih info lo!" kata Ken kemudian.
Sampai di mobil, Ken memukul kemudinya dengan keras. Bukan karena ia cemburu jika Frans menjalin hubungan dengan mantan teman kencannya, tetapi Ken takut ini semua adalah jebakan dari Frans yang memang berniat menghancurkan rumah tangganya dengan Zahra.
__ADS_1
****