Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Mendekatkan diri


__ADS_3

"Ta, biar Hana pulang bareng gue aja ya!" ucap Ken saat ketiganya akan keluar dari area panti.


"Hmm," sahut Rasta. Pria itu sudah amat mengenali Ken dan tahu bagaimana perasaan sahabatnya terhadap Zahra, sehingga ia mempercayai setiap tindakan yang sudah Ken putuskan. Termasuk tentang Zahra, sang Adik.


"Aku pulang bareng Kak Dirga aja!" tolak Zahra, Ken semakin yakin jika calon istrinya ini benar - benar menghindarinya, mungkin masih kesal sebab acara pertunangan dadakan mereka.


Ken menatap Rasta, mencoba meminta dukungan sang kawan karib dan Rasta memahami arti tatapan Ken terhadapnya.


"Kamu pulang sama Ken aja ya, Han! Kakak masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan," ucap Rasta, berusaha mendekatkan Zahra pada Ken lagi, karena disini, ia lah yang paling tahu tentang perasaan masing - masing, baik perasaan Ken maupun perasaan sang Adik--yang sebenarnya saling mencintai satu sama lain.


Zahra menghela nafas dalam, tak ingin melawan ucapan sang kakak, akhirnya ia menganggukkan kepalanya patuh.


"Ok, Cukk! Gue balik duluan. Kalian hati - hati dijalan, udah sore!" kata Rasta sembari melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17:15 Wib.


Rasta menepuk sekilas pundak Ken, kemudian merangsek masuk kedalam mobil tua miliknya.


"Ayo, Han..." Ken bergerak dan membukakan pintu mobil untuk Zahra. Zahra pun masuk kedalam mobil yang Ken gunakan.


Beberapa menit dalam perjalanan, tidak ada yang buka suara untuk saling berbicara, mereka berdua seakan larut dalam pikiran masing - masing.


"Kamu masih marah sama aku, ya?" tanya Ken memulai obrolan demi memecah keheningan.


"Enggak," sahut Zahra.


"Terus, kenapa menghindari aku? Beberapa hari ini kamu sulit ditemui."


"Mungkin memang aku lagi sibuk," sanggah Zahra.


Ken manggut - manggut sembari tetap mengemudikan mobilnya.


"Kalau telepon aku, kenapa dialihkan?" tanya Ken lagi.


"Aku memang mengatur pengalihan panggilan terhadap nomor asing." Zahra memang melakukan hal itu sejak Frans sering meneleponnya dengan nomor asing untuk mengatakan tentang biaya finalty yang harus Zahra talangi.


"Kalau gitu, beri namaku dikontak kamu, agar bisa menghubungi kamu, boleh?" pinta Ken sembari melirik Zahra sekilas.


"Hmm..."


"Udah tahu nomorku belum? Kamu kan ponsel baru, pasti belum menyimpan nomorku yang baru."


"Belum."


"Ya udah, nanti aku kirimkan pesan dan kamu simpan ya."


"Hmmm..."


"Hmm terus jawabnya!" Ken tersenyum kecut.


Zahra mengabaikannya.


"Lama banget ya nunggu sebulan lagi," ucap Ken pelan namun masih bisa di dengar oleh Zahra.

__ADS_1


Ken melambatkan laju mobil saat sayup - sayup mulai terdengar suara Adzan berkumandang, kemudian ia mulai memberhentikan deru mobilnya di pekarangan sebuah Mesjid yang mereka lewati. Pria itu ingin mengajak Zahra sholat maghrib disana.


"Sholat disini?" tanyanya pada Zahra dan gadis itu mengangguk samar.


Mereka turun berbarengan dan berpisah untuk melaksanakan shalat maghrib di bagian masing -masing. Sebelumnya mereka mengambil wudhu terlebih dahulu-- ditempat yang sudah tersedia.


Sampai akhirnya Ken mulai bergabung dengan para jemaah lelaki dibagian depan Masjid. Sementara Zahra bergabung menjadi makmum dibagian belakang bersama jemaah wanita lainnya.


Selesai shalat maghrib berjamaah di Mesjid itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Hari sudah gelap saat mereka kembali masuk kedalam mobil.


"Han..." Ken memanggil Zahra dengan suara yang sangat pelan, terdengar ragu namun ia berusaha meyakinkan diri untuk menanyakan hal ini pada Zahra, mengingat mereka baru selesai shalat, mungkin sekarang perasaan Zahra sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Ya?" sahut Zahra tak kalah pelannya.


"Maaf jika aku ingin tahu, kenapa Frans membawa kamu secara paksa tadi? Apa yang dia lakukan sama kamu? Apa dia sudah tahu tentang pertunangan kita?" Ken mulai memberi Zahra banyak pertanyaan yang sejak tadi ingin ia ketahui jawabannya.


"Sebenarnya, aku pikir Frans ingin menuntutku soal uang finalty. Tapi ternyata tidak..."


"Uang finalty? Maksudnya?"


"Iya, aku masih terikat kontrak kerja di perusahaan papa kalian. Tapi sekarang aku malah bekerja dikantor lain. Bukankah itu melanggar perjanjian kerja? Aku juga sudah absen kerja tanpa keterangan di perusahaan Om Bagas. Jadi Frans sempat menuntut uang finalty padaku," terang Zahra.


"Lalu?"


"Ternyata Frans tidak memikirkan soal uang finalty itu... katanya dia juga tidak terlalu peduli dengan hal itu."


"Pasti yang dia inginkan itu... kamu, kan?"


"Han, sedari awal... aku gak habis pikir kenapa kamu bisa menjadi calon istri Frans waktu itu!"


Zahra menggeleng pelan. "Nggak gitu, semua hanya salah paham. Aku sudah menolak lamaran Frans tapi sepertinya dia masih mau berusaha."


Ken tersenyum miring. "Jadi, kalian gak pernah menjalin hubungan apapun sebelumnya?"


"Hubungan pertemanan dan rekan kerja, iya. Tapi yang lebih dari itu, enggak pernah."


"Alhamdulillah..." sahut Ken senang. "Tadi aku sangat cemas waktu tahu kamu dibawa oleh Frans. Lalu, kenapa kamu bisa di panti? Kenapa Frans membiarkan kamu begitu saja?"


"Aku cuma mengatakan padanya bahwa perasaan gak bisa dipaksakan, aku meminta dia ikhlas dan aku berharap dia mendapat yang lebih baik daripada aku."


"Terus? Dia menurut begitu saja?" Ken merasa speechless dengan hal ini.


"Ya, dia mengatakan akan berusaha melupakan aku."


"Ya itu memang harus, dia gak boleh punya niat untuk memiliki apa yang akan menjadi milikku!" kata Ken jumawa.


Zahra hanya menggeleng samar dengan ucapan congkak Ken itu.


"Tapi, aku gak tahu apa yang bakal dia lakukan kalau tahu jika yang bertunangan dengan aku itu adalah kamu!"

__ADS_1


Ken mengendikkan bahu cuek. "Apapun yang bakal dia lakuin, semuanya gak akan merubah keadaan! Kita akan tetap menikah, Han!" tegas Ken.


Beberapa saat kemudian, Ken kembali menghentikan mobil disisi jalan.


"Mau ngapain?"


"Kita makan malam dulu ya. Aku laper banget, Han. Tadi siang mau ajak kamu makan siang bareng, tapi kamu gak ada dan malah dibawa paksa sama Frans."


"Jangan bilang kamu belum makan dari siang..." tebak Zahra.


Ken mengangguk dengan wajahnya yang dipasang sememelas mungkin, Zahra menjadi tak tega dan segera mengiyakan ajakan makan dari pria itu.


Mereka makan diwarung seafood pinggir jalan. Warung yang dihiasi tenda berwarna orange itu tampak selalu ramai dengan pengunjung.


Ken mengajak Zahra duduk disisinya, ia menepuk kursi yang ada disebelahnya agar Zahra duduki. Zahra pun menurut tanpa banyak protes.


Kemudian pria tampan itu mulai ingin memesan menu makanan andalannya.


"Kamu mau makan apa?" tanyanya pada Zahra.


"Apa aja," sahut Zahra pelan. Kharisma seorang Ken disaat seperti ini selalu tak bisa ia hindari. Ia rindu masa - masa dimana Ken memilihkan menu makanan untuknya, seperti masa lalu mereka.


Ken tersenyum kecil, seperti sudah menduga jawaban Zahra akan seperti itu.


Sambil menunggu menu makanan yang sudah dipesan, Ken beralih lagi pada gadis yang duduk disebelahnya.


"Mana ponsel kamu?" tanyanya pada Zahra.


Seperti biasa, jika sudah termakan pesona Ken, gadis itu akan menurut dengan sendirinya bagai kerbau yang sudah dicocok hidungnya. Dalam hitungan detik, ponselnya sudah berpindah ke tangan Ken. Sepertinya Ken memang memiliki ilmu hipnotis, ck!


"Berapa passwordnya?" tanya Ken merujuk pada ponsel Zahra yang terkunci.


"Tanggal lahir aku, nol sembilan--" ucapan Zahra tak berlanjut karena ternyata kunci ponsel itu sudah terbuka dibuat Ken.


Apa dia hafal tanggal lahirku?- batin Zahra.


Ken mulai mengetik ponsel Zahra, entah apa yang dia ketik disana, Zahra tak tahu. Hanya beberapa menit saja ponsel itu berada ditangan Ken, kemudian sudah dikembalikan pada Zahra begitu saja.


Zahra ingin tahu apa yang Ken perbuat dengan ponselnya, namun makanan mereka terlanjur datang dan Ken segera meminta Zahra untuk menyantap makanannya.


Zahra pun mulai menikmati makanan yang dipilihkan oleh Ken untuk mereka berdua. Udang saus padang, cah kangkung, kepiting asam manis, serta cumi goreng tepung.


Zahra mencicipi makanan itu dan ternyata rasanya memang tidak mengecewakan.


Ken dengan telaten mengupas kulit kepiting menggunakan alat penjepit, kemudian dengan perlahan, dia mulai memberikan daging kepiting untuk calon istrinya itu.


"Makan yang banyak, biar kuat menghadapi aku," goda Ken sambil mengerlingkan matanya.


Tanpa disadarinya, Zahra ikut tersenyum sebab ucapan dan tindakan Ken itu. Entah kenapa hatinya kembali menghangat sebab sosok yang sama.


Ia memang marah pada Ken, tapi cintanya pada pria ini sepertinya lebih besar daripada kemarahan itu. Entahlah...

__ADS_1


...Bersambung ......


...Tinggalkan komentar, like, vote dan hadiah... Jangan lupa favoritin juga yaa...


__ADS_2