Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Spesial Rasta/Cira 1


__ADS_3

Disebabkan karena Devia yang sibuk mengurusi Frans di Rumah Sakit, mau tak mau Rasta lah yang mengantarkan Cira untuk mendaftar ke sekolah baru. Awalnya sulit karena hampir semua data Cira berada dikediaman orangtua angkatnya, namun Rasta memutar otak untuk mendatangi panti dan untungnya disana masih ada copy-an data Cira yang bisa digunakan untuk mendaftar sekolah. Rasta juga menyambangi sekolah lama Cira untuk memutus masa belajarnya disana.


"Kelak... lo harus inget jasa gue, yang udah mau repot kesana kemari demi bantuin lo pindah sekolah!" kata Rasta pada Cira setelah akhirnya selesai dengan tugasnya mendaftarkan Cira ke sekolah baru.


"Gak mesti kelak, Om! Sekarang sampe seterusnya juga bakal aku ingat semua jasa-jasa Om, kok." Cira meneguk minuman botolnya dengan santai.


"Lo harus sekolah yang bener, jadi anak yang pinter!"


"Iya, Om! Jangankan jadi anak pinter... jadi istri pinter juga bisa, kok!"


"Uhuk... uhukk..." Rasta tersedak minumannya sendiri mendengar ucapan absurd Cira.


"Lo semenjak gue saranin buat nikah ... pikiran lo jadi kesana mulu, ya!" protes Rasta.


"Ya gimana, Om! Namanya juga usaha."


"Usaha terus, tapi gak ada hasil kan, lo! Lo pikirin sekolah aja, lah! Daftarnya juga udah susah, belom lagi biayanya..."


"Maunya sih gitu, tapi problem aku kan tetap mau dipikirin juga, Om." Cira memanyunkan bibirnya. Ia tidak bisa melupakan masalah yang tengah menjeratnya sekarang, karena walau bagaimanapun hidupnya masih dalam naungan orangtua angkatnya sebelum ia benar-benar menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya kelak.


"Udah, gak usah dipikirin. Itu biar jadi urusan gue."


Cira menoleh pada Rasta. "Maksudnya... Om udah setuju sama pernikahan kita?"


Rasta menyentil jidat Cira hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Sakit, Om!" ucapnya sembari mengelus bagian jidat yang terasa perih.


"Abisnya omongan lo itu, loh! Pernikahan kita? Huahahaha..." Rasta tergelak sambil geleng-geleng kepala.


"Ya tadi kan om bilang gak perlu aku pikirin biar jadi urusan om aja, jadi aku menyimpulkan kalo om udah setuju dong!"


"Ampun deh ini anak, gue jadi nyesel pernah ngasi saran sama lo soal nikah - nikah segala," gerutu Rasta.


"Terus gimana dong? Om mau ini jadi urusan Om? Maksudnya gimana?"


"Gue bakal bantu lo lapor ke komnas perlindungan anak," kata Rasta memberi keputusan.


"Beneran ya, om!" Cira tersenyum penuh ssmangat mendengar secercah harapan yang diberikan Rasta, itu berarti ia bisa tenang sekolah dan tak perlu memikirkan soal pernikahan seperti orang dewasa.


"Iya... sekarang lo pikirin sekolah aja dan satu lagi..." Rasta menjeda ucapannya.


"Apaan?" Cira memicing menatap Rasta.


"Jangan pikirin soal PA...CA...RAN...!!!" ucap Rasta menekankan kata.

__ADS_1


Cira terkekeh. "Siap Om ku yang ganteng," jawabnya spontan.


Namun, ucapan Cira itu berhasil membuat Rasta besar kepala.


"Emang gue ganteng, baru nyadar ya lo!"


"Hahahha, gak pernah dipuji cewek ya, Om? Makanya telinganya langsung naik gitu!" goda Cira.


Secara refleks Rasta langsung memegangi telinganya sendiri. "Mana ada! Gue emang ganteng dari lahir, udah keturunan!"


Cira tertawa kencang mendengar kepercayaan diri Rasta yang tak ada obatnya itu.


_____


Cira berangkat ke sekolah barunya dengan menggunakan taxi online, ini salah satu kendaraan yang aman menurutnya ketimbang harus menaiki KRL atau angkutan umum lainnya karena bisa saja ada yang mengenalinya atau bahkan ia bisa bertemu orangtua angkatnya dijalanan.


"Perkenalkan, nama saya Ciradisty Putri... saya murid pindahan dari sekolah Harapan Bangsa. Semoga disini saya bisa mendapat ilmu baru dan teman-teman baru tentunya," ucap Cira yang memperkenalkan diri didepan kelas.


"Panggilnya Cira, Disty atau Putri?" celetuk salah seorang siswa cowok yang melihat pada sosok Cira dengan senyum mengembang.


"Aku biasa dipanggilnya Cira, sih! Tapi, apa aja boleh karena ketiga nama itu juga namaku." Cira pun tersenyum ramah.


"Kalau panggil Sayang... boleh juga enggak?" tanya siswa yang sama, lalu semua murid yang ada dikelas itu langsung menyoraki ucapan sang siswa.


"Huuuuuu..." Seketika itu juga suasana kelas menjadi riuh. Cira hanya bisa menyengir didepan kelas karena godaan siswa yang terang-terangan itu.


"Cira, sekarang kamu boleh duduk," kata sang Guru melanjutkan sembari menunjuk sebuah kursi kosong untuk Cira duduki.


Cira mengangguk, lalu melihat ke sebuah kursi kosong yang ditunjuk oleh gurunya.


"Haii Cira, aku Alina." Seorang siswi yang berada satu meja dengan Cira mengulurkan tangan ke arah Cira sembari tersenyum ramah.


"Hai Alina," jawab Cira menjabat tangan kawan barunya itu.


"Aku Rendy..." Siswa yang ada dibelakang Cira tiba-tiba menyempilkan tangan diantara posisi duduk Cira dan Alina.


Mau tak mau Cira menoleh ke belakang untuk melihat si empunya tangan yang mengaku bernama Rendy.


"Hallo, Rendy..." sapa Cira menatap Rendy yang ternyata adalah siswa yang tadi sempat menggodanya ketika memperkenalkan diri didepan kelas.


Alina yang melihat aksi Rendy hanya memutar bola matanya dengan jengah.


"Cira temen gue, jangan lo jadiin mangsa!" ancam Alina kepada Rendy. Terdengar kekehan pelan dari Rendy, kemudian mereka mulai belajar karena sang guru sudah menjelaskan didepan kelas mengenai mata pelajaran hari ini.


_____

__ADS_1


Bel pertanda kepulangan sekolah telah tiba, Cira sudah keluar kelas berbarengan dengan Alina. Tak berapa lama, Alina sudah pulang dijemput oleh ojek online langganannya. Sedangkan Cira masih menunggu taxi online yang ia pesan.


"Cira pulang sama siapa?" sapa Rendy ketika mereka sudah berada diluar gerbang. Cowok itu terlihat sudah berada diatas motor gedenya dan mengenakan helm.


"Aku naik taxi, Ren." kata Cira tersenyum kecil.


"Barengan sama aku aja, yuk!" tawar Rendy.


Cira menggeleng. "Enggak usah," tolaknya halus.


"Kenapa? Aku anak baik kok, gak bakal macem-macem, aku anterin sampe depan rumah," kata Rendy.


"Aku udah pesan taxi," jawab Cira menunjukkan ponselnya pertanda ia memang sudah memesan taxi online.


Tak berapa lama, taxi Cira pun datang dan Cira langsung berlalu dari hadapan Rendy.


Hampir seminggu ini kejadian yang sama terus berulang di sekolah baru Cira. Setiap jam pulang sekolah, Rendy selalu menawarkan agar Cira mau pulang bareng dengannya.


Hingga akhirnya Cira tidak bisa menolak tawaran Rendy karena taxi online yang ia pesan, meng-cancel pesanannya begitu saja. Ingin pulang dengan kendaraan lain, Cira takut bertemu orangtua angkatnya, ingin memesan taxi lain, tapi tidak bisa karena berbarengan dengan ponselnya yang kehabisan baterai. Nasibnya hanya bergantung pada Rendy yang menawarkan tumpangan.


"Ya udah, aku ikut nebeng kamu tapi langsung pulang ke rumah, ya!" kata Cira mewanti-wanti Rendy.


Rendy tersenyum puas, ternyata usahanya tidak sia-sia membujuk Cira hampir seminggu ini.


"Iya, langsung pulang kok!" kata Rendy mengacungkan kedua jari membentuk huruf V.


Akhirnya Cira pun ikut pulang bersama Rendy.


Sesuai janjinya, Rendy benar-benar mengantarkan Cira untuk langsung pulang.


"Aku gak bohong kan, aku anterin kamu langsung kerumah," ucap Rendy sembari membantu Cira membuka helm yang dikenakan oleh gadis itu.


"Iya, makasih, ya..." Cira tersenyum kecil.


Sementara itu, seseorang yang berada di teras rumah menatap interaksi Cira dan Rendy dengan tatapan tak senang. Tanpa disadari, ia sudah berjalan pelan menghampiri kedua orang yang saling melempar senyuman itu.


"Oh, jadi baru seminggu di sekolah baru... udah dapat gebetan aja," sarkas Rasta tanpa tedeng aling-aling.


Cira langsung menoleh ke arah dimana Rasta tengah bersedekap menatapnya.


"Eh, enggak gitu, Om! Rendy ini temen aku!" kata Cira membela diri, ia gelagapan dihadapan Rasta.


Rendy tersenyum sopan pada Rasta, namun Rasta hanya menatap dingin pada cowok itu.


"Aku udah bilang kamu sekolah yang rajin, yang bener, jangan mikirin pacaran!" omel Rasta.

__ADS_1


"Siapa yang pacaran!" sanggah Cira cepat.


******


__ADS_2