Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Harus memaafkan


__ADS_3

Ken menyaksikan rekaman cctv yang menampilkan kedatangan Zahra dipenginapan waktu itu. Dia melihat wajah bingung Zahra sampai bagaimana kejadian transaksi jual beli cincin dengan seorang wanita baya.


"Oke, terima kasih ya, Mas..." Ken meninggalkan ruang informasi itu karena info ini sudah cukup memuaskan rasa ingin tahunya.


Menggunakan Taxi, Ken kembali menyusuri tempat sekitar penginapan itu demi mencari jejak orang yang ingin ditemuinya.


Dalam perjalanan itu, Ken merasa terngiang-ngiang dengan permintaan maaf Ibu Kandungnya--yang sempat tak sengaja ditemuinya kemarin.


"Dunia emang sempit," gumam Ken bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ken pun berhenti di taman kota, ia duduk merenung seorang diri disana. Matanya menatap sekeliling, taman itu dikelilingi oleh banyak pohon rindang dan terdapat banyak arena permainan anak-anak, mulai dari ayunan, perosotan dan jungkat-jungkit. Mendadak Ken mengingat masa kecilnya, saat dimana ia hidup dengan kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuanya.


Namun, itu hanya dirasakannya sampai kelas 3 SD. Selebihnya, tidak ia rasakan lagi, sebab ia diungsikan dari rumahnya sendiri karena seringnya terjadi pertengkaran antara kedua orangtuanya.


"Ken, kalau kamu mondok, gimana, Nak?" Itulah saran Mama yang masih terngiang dikepalanya. Beralaskan jika itu yang terbaik untuknya, padahal ia cukup mengerti situasi dan kondisi keluarganya yang merenggang dan Mama tak mau membuat ia mengetahui semuanya diusia yang masih sekecil itu.


Ia cukup dewasa diumurnya waktu itu berkat keadaan yang memaksa, sehingga ia mengiyakan saja saran dari Mamanya.


Ia pun mondok disebuah pesantren yang letaknya cukup terpelosok dan jauh dari rumah. Disanalah ia memiliki keluarga baru dan cerita baru. Entahlah sejak saat itu mungkin ia memiliki nurani yang terketuk hingga tak pernah memilih dalam berkawan. Imbasnya, hingga sampai saat ini memang ia tak pernah memilih kawan dari kalangan apapun.


Beberapa tahun mondok, ia pun harus keluar dari pesantren bahkan sebelum lulus taraf SMP. Padahal ia sudah mulai asyik dalam dunia pesantren yang memberinya cukup ilmu.


Ayahnya lah yang memaksanya keluar dari pesantren.


Saat ia pulang kerumah, disitulah ia mulai menyadari keadaan yang telah berubah, ternyata orangtuanya sudah resmi berpisah tanpa sengetahuannya. Mamanya sudah tak ada, pergi meninggalkannya. Miris!


Bukankah lebih baik ia terus mondok? Kenapa ia harus pulang dan menerima kenyataan ini?


Ia pun melanjutkan sekolah taraf SMP nya disebuah sekolah Swasta dan langsung masuk dikelas 8.


Sampai akhirnya saat ia kelas 9, Frans masuk kesekolah yang sama dengan status yang sudah menjadi Adik tirinya.


Frans perlahan mulai menghancurkan jati dirinya yang mulai terbentuk. Ya, sejak taraf itulah ia memiliki kawan yang toxic dan membully nya habis-habisan. Semua karena ulah Frans.


Ia jadi tahu kenapa Ayahnya memulangkannya dari pesantren, karena ingin ia lebih dekat dengan Frans dan Irene-keluarga baru yang diperkenalkan padanya. Padahal jika tahu seperti ini, lebih baik ia terus mondok.


"Bang ... minuman dinginnya, Bang!" Suara cempreng seorang anak remaja, tiba-tiba menghampiri indera pendengarannya, mengagetkannya yang tengah melamun dikursi taman.


Ia menatap anak remaja perempuan itu, ia teringat akan adik-adiknya di Yayasan. Bahkan ia teringat seseorang yang punya masa lalu berdagang disaat usia remaja--Zahra.


"Boleh deh," ia mengambil sebuah air mineral dingin dalam kemasan botol, mengangsurkan selembar uang pecahan lima - puluh - ribuan.


"Gak ada kembaliannya, Bang. Aku baru keluar dagang!"


"Gak apa - apa, ambil aja buat kamu. Buat jajan!" Ken berucap sembari membuka tutup minumannya dan menenggak air mineral itu.


"Kembaliannya banyak loh, Bang!" protes remaja itu.


Ken menatapnya lucu. "Iya, gak apa - apa..."


"Abang bukan orang sini, ya?" Apa remaja pedagang asongan ini ingin mengajak Ken mengobrol?


Ken mengangguk sekilas.

__ADS_1


"Ya udah, gratis aja minumannya buat Abang."


"Loh kenapa? Kamu kan jualan, wajar aku kasi uang!" protes Ken tak habis pikir.


"Ya, tapi ini kebanyakan, Bang. Abang bukan orang sini, takutnya Abang kehabisan ongkos untuk pulang hanya karena memberiku uang berlebihan,"


Ken hendak terkekeh tapi ditahannya. Bukan apa - apa, tapi remaja kecil ini benar - benar polos ternyata.


"Aku ikhlas, uangku masih ada. Lagipula, apa penampilanku semenyedihkan itu ya? Sampai kamu kira aku gak punya ongkos nantinya?"


"Kalau dari penampilan sih ...." gadis kecil itu menyoroti penampilan Ken yang urakan. "Abang gak terlihat punya banyak uang, tapi abang ganteng sih," celetuknya membuat Ken tak tahan hingga akhirnya tertawa kencang.


"Kamu kecil - kecil udah bisa menilai orang yang ganteng atau tidak, ya?" goda Ken.


Gadis kecil itu tersenyum malu - malu tapi menganggukkan kepalanya.


Ken terkekeh lagi, setidaknya bertemu gadis kecil penjual asongan ini membuat moodnya cukup membaik.


"Kamu... kelas berapa?" tanya Ken.


"Kalau masih sekolah sih harusnya kelas 2 SMP, bang ..." sahutnya.


"Jadi sekarang udah gak sekolah?"


Gadis itu menggeleng.


"Nama kamu?"


"Rara ..." jawabnya.


Pasti dulu Zahra berdagang seperti ini saat SMP, inilah yang juga menjadi alasan Ken menampung banyak anak jalanan atau pedagang asongan hingga mendirikan yayasan. Melihat mereka, nurani dan hati kecil Ken selalu terketuk, ia membayangkan mereka semua seperti Zahra sewaktu kecil.


"Abang ke kota ini ... lagi cari orang, ya?" tanya Rara.


"Iya, kok tahu?"


"Aku lihat tadi abang tanya-tanya sama orang sekitar sini. Aku perhatiin."


Ken tersenyum kecil.


"Boleh aku lihat orang yang abang cari?"


Ken menunjukkan saja foto Zahra yang ada di ponselnya pada Rara.


"Aku gak pernah lihat sih bang. Itu pacarnya ya, Bang?"


"Calon istri," jawab Ken cuek. Ini sudah yang kesekian kalinya ia mengatakan pada orang lain jika Zahra adalah calon istrinya. Semoga ucapan itu jadi doa, itulah harapannya.


"Kenapa calon istrinya Abang pergi dan menghilang?"


Rara sepertinya sangat cerewet dan penuh rasa ingin tahu, tapi Ken tak sampai hati ingin memarahinya.


"Masalah orang dewasa, anak kecil tahu apa..." sahut Ken akhirnya.

__ADS_1


Rara tertawa pelan. "Iya sih..." katanya.


Ken memandangi anak-anak lain yang bermain di depan sana. Membandingkan dengan nasib anak disampingnya, miris...


"Kenapa, Bang?" tanya Rara.


"Kamu gak iri lihat anak-anak disana main, sementara kamu harus jualan dan cari uang?" tanya Ken.


"Ya iri sih, Bang. Tapi udah nasibnya begini juga..."


Ken manggut-manggut.


"Aku berusaha memaafkan keadaan bang. Ini sudah jalan hidupku jadi aku terima saja, siapa tahu dikedepan hari ada hidup yang lebih baik sudah menanti aku."


Ken cukup speechless dengan jawaban Rara yang terdengar sangat dewasa itu. Ya, Ken tahu Rara pasti dewasa karena keadaan. Seperti dirinya dulu.


"Kenapa, Bang?" tanya Rara yang melihat Ken terdiam.


"Gak ... gak apa - apa!"


"Abang juga harus gitu, Bang!" kata Rara terdengar menasehati.


"Harus gitu apanya?"


"Memaafkan keadaan, kayak aku. Aku gak tahu masalah Abang. Tapi, aku rasa Kakak yang di foto itu pergi karena abang punya salah sama dia."


Ken mengangguk.


"Wah, bener ya tebakan aku, Bang?"


Lagi, Ken mengangguk.


"Abang pasti mau minta maaf sama Kakak itu, kan?"


"Hmm..."


"Saran aku, kalau Abang mau minta maaf sama seseorang, Abang harus lebih dulu memaafkan orang lain."


"Maksudnya?" Ken tak habis pikir, bagaimana bisa ia meminta pendapat pada gadis kecil disebelahnya ini.


"Kalau ada orang yang punya salah sama Abang, atau Abang merasa orang itu bersalah dengan Abang, Abang harus lebih dulu memaafkannya. Agar saat Abang meminta maaf pada orang lain, maaf abang juga langsung diterima, terus... abang dimaafin deh."


Deg...


Apa iya begitu? Kenapa ucapan Rara seperti menyadarkannya akan sesuatu. Tentang kejadian kemarin! Tentang pertemuannya dengan Mama yang tak disengaja?


Mama bahkan sambil berteriak minta maaf kepadanya.


Apa ini maksudnya?


Apa iya dia harus memaafkan Mamanya lebih dulu, barulah ia bisa mendapat maaf dari Zahra?


Apa iya? Bahkan Tuhan lebih dulu mempertemukannya dengan Sang Mama daripada bertemu Zahra, kan?

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2