
Bagaimana Ken tidak melonjak girang, Mamanya lagi - lagi sudah menyiapkan acara yang matang untuk momen pertunanganya dengan Zahra.
Tidak tanggung - tanggung, bahkan sang Mama sudah memesan pakaian formal khusus untuk ia dan Zahra gunakan diacara itu.
Mama juga sudah memesan cathering dan dekor dirumah untuk hari yang sama.
Sebenarnya, akan lebih baik acara ini diadakan dikediaman Zahra dam keluarga Ken lah yang datang mengunjunginya kesana. Namun, karena sekarang Zahra masih tinggal disebuah kos dan lagi mengikuti alur rencana Mama, jadilah acara diadakan dikediaman Devia saja.
Tapi, yang membuat Ken tak habis pikir yaitu Zahra yang tak menaruh curiga sama sekali dengan rencana Devia, sang Mama.
"Hana ... Hana, gimana ceritanya kamu bisa diajak Mama fitting kebaya tapi kamu sendiri gak tahu tujuan asli pembelian kebaya itu." Ken terkekeh lagi dan lagi, mengingat kepolosan gadis yang sebentar lagi akan bertunangan dengannya itu.
Ia sampai geleng - geleng kepala namun senyum kebahagiaan tetap terpancar diwajah tampannya.
"Tapi sebenarnya aku juga dikerjain Mama, tanpa sadar aku sampai potong rambut mengikuti sarannya," gumam Ken pada dirinya sendiri dihadapan cermin.
"Ken, udah siap belum? Jangan kelamaan dandan kayak anak gadis."
Tentu Ken tahu pemilik suara itu, pastilah itu suara milik sang Mama.
Tak lama setelah ucapan itu terdengar, Devia menyembulkan kepala dari balik pintu.
"Apaan sih, Ma?" tanya Ken.
"Jangan banyak dandan kayak anak gadis! Keburu mantu Mama datang nanti! Buruan kamu sambut Hana, siapa tahu dia pingsan pas tiba disini karena syok!" Devia pun terkikik setelah mengucapkan hal itu.
Ken ikut menguulum senyuman. "Iya, Mama bawel. Lagian siapa yang dandan kayak anak gadis, gak mandi aja aku udah tampan kok!" ucapnya percaya diri.
"Halah... kalau memang gitu ngapain kamu mandi tadi?" cibir Devia.
"Ya malu dong kalo gak mandi!"
"Punya malu juga kamu?" Lagi - lagi Devia mengajak anaknya berdebat kecil.
"Jangankan malu, kemalu-an juga aku punya, Ma!" Ken pun tertawa kencang.
"Ish... ngomong sama orangtua loh ini!" kata Mama mengingatkan sambil mendelik tajam pada sang putera.
"Iya, Ma. Iya..." Ken bersungut - sungut sembari keluar dari kamarnya.
"Coba Mama liat penampilan kamu!" celetuk Devia sembari memperhatikan Ken dari kepala sampai ujung kaki, seolah mengoreksi penampilan sang anak.
"Udah bagus sih, cuma kurang senyum aja!" ejek Mama.
__ADS_1
"Wajahku memang sudah datar begini dari sananya, Ma!" protes Ken.
Devia terkikik. "Iya, tapi senyumnya kurang lebar. Jangan cuma berani senyum didepan cermin doang kamu! Tunjukkin sama semua orang bahwa hari ini kamu amat bahagia!"
"Iya, Ma... iya. Makasih ya, Mamaku sayang." Ken memeluk Devia dengan rasa penuh kasih sayang.
"Heleh, ada maunya pasti kan?" tebak Devia.
Ken terkekeh sambil tetap memeluk sang Mama. "Tanggal pernikahannya dipercepat ya, Ma!" bisiknya ditelinga Devia.
"Astaga Ken! Mama gak nyangka kamu sengebet ini lho!" kekeh Devia. "Tahu gitu, Mama gak buat acara begini," lanjutnya.
"Terus?"
"Tahu gini, Mama buat acara pernikahan langsung..." celetuk Devia membuat Ken terus tertawa.
"Sudah, jangan ketawa terus! Ayo kedepan. Sebentar lagi pasti calon istrimu sudah tiba. Ingat ya! Kamu siapin diri... siapa tahu Hana pingsan pas tiba disini."
"Huahahaha...." Ken pun berjalan mengikuti sang Mama sampai ke ruang tamu yang sudah dihiasi dengan pernak - pernik untuk acara pertunangannya. Bahkan barang - barang seserahan sudah tersusun rapi dalam box kaca dan ada disana.
Bukankah Mama Ken luar biasa? Sudah menyiapkan sedetail ini tanpa Ken ketahui? Ia baru tahu rencana ini setelah penyerahan kotak cincin beberapa hari yang lalu. Entah kapan Mamanya berbelanja kebutuhan seserahan ini. Padahal sang Mama juga sibuk dengan bisnisnya sendiri.
"Mama totalitas banget!" gumam Ken senyum - senyum sendiri.
Zaki sudah tiba sejak pagi dikediaman Devia, ikut membantu hal - hal yang diperlukan. Beberapa pekerja yang dipercaya Mamanya juga ikut hadir untuk meramaikan suasana.
Tak berapa lama menunggu, terdengar suara mobil yang berhenti dipekarangan mereka. Ken menyibak sedikit gorden jendela demi melihat siapa yang datang.
Ternyata itu adalah mobil yang menjemput Bu Nurma dipanti. Bahkan Devia memikirkan kehadiran Bu Nurma diacara hari ini, sampai meminta seseorang menjemput beliau.
Ken melihat Devia tengah menyambut kedatangan Bu Nurma yang datang bersama Cira dan dua orang anak panti lainnya, yang tak Ken kenali.
Kedatangan Bu Nurma semakin menambah suasana ramai, Ken segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menyambut Ibu Panti sembari menyalami tangan wanita itu dengan takzim.
"Selamat ya, Ken. Kalian benar - benar akan menikah. Ibu senang sekali!" ucap Bu Nurma dengan senyum hangatnya.
"Terima kasih, Bu." Ken cukup terharu, banyak yang mendukungnya menikah dengan Zahra.
"Selamat Abang Ken... Cira ikut senang... ternyata Abang Ken jodohnya Kak Hana!" ucap Cira dengan wajah antusias.
Setelah menyambut orang panti, Ken dan Devia tinggal menunggu kedatangan Zahra dan Rasta.
"Kok lama ya, Ma?" tanya Ken harap - harap cemas.
__ADS_1
Mama tersenyum. "Sabar, pasti mereka akan tiba sebentar lagi," ucapnya berusaha menenangkan sang putera.
Acara ini tidak dihadiri Bagas dan keluarga barunya, karena Devia dan Ken sepakat akan memberitahu Bagas jika Ken dan Zahra sudah resmi menikah saja nantinya. Mungkin Bagas akan kecewa karena tak diberitahukan, hanya saja itu lebih baik karena mereka takut Frans akan menghancurkan acara yang sudah disusun ini.
"Itu Hana sudah datang," celetuk salah seorang tamu yang sepertinya adalah teman kerja Zahra dikantor sang Mama.
Zaki datang menghampiri Ken yang tampak banyak diam.
"Ken... selamat ya, doakan Abang segera menyusul ya." Zaki memeluk Ken dan menepuk - nepuk pundaknya sekilas dengan akrab.
"Emang udah ada calon, Bang?" tanya Ken.
"Calon belum ada, tapi kandidat ada." Zaki pun terkekeh pelan.
"Oh, aku penasaran yang mana!" Ken melihat sekeliling dan tak menemukan siapapun yang cocok bersanding dengan Abang sepupunya itu.
"Dia belum tiba, nanti ku kenalkan. Sudah sana! Sambut saja Hana... sepertinya dia sudah tiba didepan!" kata Zaki tersenyum.
Ken mengangguk dan mulai berjalan ke ruangan depan.
Ia sempat terpana, melihat kecantikan gadisnya. Bayangan malam itu kembali muncul dibenak Ken. Dimana Zahra tertidur di ran-jang miliknya, meski waktu itu tidak terjadi apapun diantara mereka, hanya saja Ken belum bisa melupakan malam itu. Momen dimana Zahra menyebut namanya didalam tidur. Momen yang menyebabkan Zahra menjadi salah paham padanya, namun entah kenapa ia malah mensyukuri kesalahpahaman itu, karena dengan begitu ia sudah mengikat Hana-nya secara tidak langsung.
Ken berdiri tepat dibelakang tubuh Zahra yang sepertinya tampak mematung sebab mencerna keadaan yang baru dilihat.
"Ya Allah, kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini? Harusnya aku sudah menyadari jika yang akan bertunangan hari ini adalah anak Tante Devia yang ternyata itu adalah Ken..."
Ia tersenyum mendengar ucapan itu digumamkan oleh Zahra.
"Ken dan aku?" kata Zahra lagi, bermonolog pada dirinya sendiri.
Lagi - lagi Ken tersenyum, polos sekali kan gadisnya ini?
Hingga ia tak tahan untuk tak menyahuti ucapan Zahra itu. "Iya, kamu dan aku... apa kamu lupa jika kamu sudah menerima lamaranku kemarin?" tanyanya membuat Zahra berbalik badan.
Zahra menatapnya dengan tatapan yang sulit Ken artikan. Antara terkejut dan entahlah, tapi Ken merasa jika Zahra pasti akan pingsan saat ini juga.
"Apa kamu akan pingsan?" tanyanya pada Zahra yang membeku ditempat.
Zahra tampak diam, sepertinya sangat syok, tentu saja!
Ken pun bergerak mendekat demi menghampiri Zahra. Kemudian ia berucap pelan. "Jangan pingsan sekarang! Kita harus bertunangan dulu. Kamu gak bisa pergi lagi dariku ataupun kabur dari acara ini, karena aku pasti akan menangkap kamu, Hana..." ucapnya sengaja mengintimidasi.
...Bersambung ......
__ADS_1