
Ken menggerutu sepanjang perjalanan dari kamarnya menuju pintu depan. Bagaimana tidak, baru saja ingin mengajak istrinya bersenang-senang di sore hari--melupakan sejenak masalah dan insiden yang sempat membuatnya paranoid beberapa waktu belakangan ini--namun harus ditunda karena kedatangan tamu yang tak diundang. Siapa?
Ken membuka pintu dan terperangah melihat siapa yang menyambangi kediamannya kali ini. Namun, Ken bisa menyembunyikan raut terkejut dan khawatirnya dengan bersikap datar seperti kebiasaannya.
"Kau... ada apa kau kemari?" tanya Ken santai pada lawan bicaranya.
"Aku tadi ke Rumah Sakit dan ternyata kalian sudah pulang, jadi aku memutuskan kesini untuk mengucapkan kata maaf padamu... dan terutama pada Zahra," ucap orang yang tak lain adalah pria asing yang menabrak Zahra tempo hari.
"Maaf?"
"Ya, aku sudah memikirkan perkataanmu. Kau benar, seharusnya aku tidak hidup dalam rasa dendam lagi. Itu semua harusnya sudah berakhir sejak kedua orangtua Zahra tewas, sama seperti nasib kedua orangtuaku." Pria itu tertunduk sejenak, kemudian kembali menatap Ken dengan iris mata birunya yang cerah dan tampak teduh. "Apa aku tidak boleh masuk?" tanyanya lagi.
Ken masih mencerna maksud dan tujuan pria ini, ia takut salah mengambil langkah mempersilahkan orang asing untuk masuk ke dalam rumahnya, namun Ken juga tak mungkin menolak itikad baik pria yang ingin mengucapkan kata maaf padanya. Serba salah. Tapi Ken tak mau mengikuti naif diri, tentu ia tetap harus mewaspai orang ini.
"Haruskah kau masuk ke dalam?" Ken balik bertanya dan pria itu tersenyum tipis.
"Baiklah, aku tahu perasaanmu sekarang, tidak mudah mempercayaiku setelah aku mengelabuimu. Yeah, I knew it..."
"....Namaku Owen, jika kau belum tahu. Nevermind, aku hanya ingin meminta maaf secara tulus. Aku juga sudah mengunjungi Dirga dan Pamannya sebelum kesini untuk pernyataan maafku pada mereka. Aku memutuskan melepas belenggu dendam ini. I'm so sorry, aku telah mengusik keluargamu. Ku harap semuanya benar - benar berakhir karena aku juga ingin hidup dengan tenang," ucap Owen tampak tulus.
"Benarkah, kau serius dengan ucapanmu?" tanya Ken dengan tatapan menyelidik. Rasa - rasanya ia masih belum yakin semua dendam dan kemelut yang sudah berlangsung bertahun - tahun harus reda secepat dan segampang ini. Imposible!
Owen seperti mengerti makna tatapan Ken itu, ia pun tertawa renyah. "Ya, aku serius. Aku tahu semuanya terasa tak mudah bahkan terasa tak mungkin. Tapi kau bisa melihat jika aku kesini tanpa membawa senjata apapun," ucapnya sembari mengangkat kedua tangan seperti tanda menyerah.
"...aku juga tidak membawa satupun anak buahku. Mereka sudah ku bebaskan dan entah kenapa aku merasa lebih tenang sekarang. Kau benar, dendam itu telah menjeratku selama ini. Aku serius dengan perkataanku!" tegas Owen terdengar tak main - main.
Ken mengangguk. "Apa rencanamu selanjutnya?" tanyanya.
"Aku akan meninggalkan negara ini. Aku membuat keputusan untuk kembali ke Negaraku."
"Baguslah, pulanglah secara terhormat daripada harus dideportasi karena insiden lain yang kau perbuat," sindir Ken terus - terang.
Owen terkekeh. "Ya, thanks, Ken. Sampaikan maafku pada Zahra, aku berharap kalian bahagia."
"Kau naif sekali, bukankah kau mengatakan mencintai istriku? Atau, sudah berubah setelah tahu dia adalah Zee?" Ken menyeringai pada Owen.
"Of course not! She's my first love... jika kau melukainya maka bersiaplah aku akan mengambilnya darimu!" kata Owen serius.
"Itu tidak akan pernah terjadi," desis Ken dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Yap, jagalah dia. Aku tahu kau tidak lebih baik dariku, tapi aku juga tahu yang dicintai Zahra adalah seorang Kendra Winarya. Akan lebih baik jika Zahra hidup bersama orang yang mencintai dan dicintainya, dan orang itu bukan aku melainkan kau! Jangan menyakitinya atau aku orang pertama yang menjadi penyembuh lukanya," kata Owen memperingati sembari menepuk sekilas pundak kokoh milik Ken kemudian berbalik pergi menuju mobil yang ia kendarai seorang diri.
Ken masih tercenung, dengan Owen mengetahui nama aslinya berarti pria itu juga mencari tahu tentang latar belakangnya, namun yang menjadi atensi Ken adalah ternyata seorang pria seperti Owen mau mengakui kekalahan dan mengalah untuk kebahagiaan Zahra, yang dia akui sebagai cinta pertamanya.
Owen mundur secara gentle dan terhormat, tanpa ada persaingan fisik dan tanpa ada pertumpahan darah yang berarti.
Ken semakin sadar jika musuh utamanya bukan Owen melainkan ...
"Ken..." Ken menoleh dan melihat Zahra berdiri tak jauh dibelakangnya.
"Sayang? Kenapa turun dari ranjangg?" Ken menghampiri Zahra dengan raut cemas.
"Siapa yang datang? Mana tamunya?" Zahra balik bertanya sambil celingukan ke arah pintu yang sudah Ken tutup.
"Oh, nanti aku ceritakan!"
"Kok nanti?"
"Iya, karena kita harus melanjutkan misi yang tertunda dulu," ucap Ken sembari menggendong tubuh istrinya dan langsung membawanya kembali ke kamar.
#####
Zahra melepas kepergian Ken hari itu, ia dirumah ditemani seorang ART yang baru direkomendasikan oleh Mbak Warsih--pembantu di rumah Devia.
Rencananya hari ini Zahra ingin memasak untuk Ken, karena siang nanti ia akan mengirimkan makanan itu untuk makan siang suaminya.
Bahan makanan sudah lengkap didalam kulkas, Zahra tinggal mengeksekusi untuk memasaknya saja.
"Perlu dibantu, Non?" tanya Mbak Ira, ART baru di rumah mereka.
"Mbak tolong potongin sayurnya aja, ya... biar aku aja yang masak," kata Zahra lembut.
Mbak Ira mengangguk, "Baik, Non," ujarnya. Hampir seminggu bekerja di rumah ini, Mbak Ira merasa beruntung karena majikannya adalah orang yang sangat baik dan juga perhatian.
Sementara Mbak Ira memotong sayuran, Zahra pun menyiapkan bumbu masakan. Rencananya dia akan memasak simpel karena Ken memang tidak pernah memilih soal makanan. Ken terbiasa makan apa saja tapi yang paling Ken sukai adalah masakan rumahan bukan makanan siap saji ataupun junkfood.
Disaat Zahra sibuk didapur, ponselnya berdering dan itu ternyata dari sang Kakak. Rasta memang belum mengunjunginya sama sekali sejak ia masuk Rumah Sakit tempo hari, tapi kakaknya itu rutin meneleponnya lewat saluran telepon.
"Hallo, Kak?"
__ADS_1
"Han, kamu lagi dimana? Kakak dengar Ken sudah mulai sibuk di Bengkel, ya?"
"Iya, Kak. Aku di rumah, belum kemana - mana kok. Ken belum kasi aku keluar rumah," jawab Zahra seadanya.
"Ya, itu bagus. Di rumah aja, kalau ada perlu apapun bisa telepon kakak saja!"
"Kakak udah gak sibuk?" tanya Zahra memastikan karena Rasta memberikan alasan sedang sibuk kerja kepada sang Adik, padahal Rasta belum menunjukkan diri didepan Zahra karena tak mau Zahra khawatir melihat wajahnya yang masih banyak lebam akibat insiden tempo hari.
"Udah gak sesibuk kemarin sih," jawab Rasta. Yang artinya kondisi babak belur diwajah dan tubuhnya lah yang sudah tidak separah kemarin.
"Oh, kalau sempat nanti mampir ke rumah aja, Kak. Hari ini aku mau masak untuk makan siang Ken, kakak makan disini aja, sekalian nanti bawakan untuk Paman juga,"
"Em... rezeki nomplok nih, pas banget. Kamu masak apa, dek?" tanya Rasta dengan nada senang yang kentara.
"Rencananya sih mau masak dendeng balado sama sup jamur. Kakak mau makan apa? Biar sekalian aku masakin deh," kata Zahra serius.
"Wah enak bener ya yang udah punya istri... Ken menang banyak kayaknya, hehehe, kakak mau makan itu juga deh nanti kakak pamerin sama Ken!" kata Rasta terkekeh.
"Makanya nikah, Kak! Gak capek apa buat dosa melulu," sindir Zahra yang bjsa menebak jika sang Kakak suka bermain wanita.
Rasta justru terbahak keras. "Ada saatnya itu, Han! Gak sekarang, dek!"
"Kapan lagi? Umur udah berapa juga!" kata Zahra serius.
"Masih muda loh aku!"
"Muda untuk dilihat kalangan nenek-nenek, kalo untuk dilihat para anak gadis ya udah ketuaan, Kak!"
"Udah pandai menghinaku ya adikku ini, pasti sudah terkontaminasi oleh suaminya, hemm..."
Kini giliran Zahra yang tergelak mendengar kalimat Rasta.
"Sekarang lagi musimnya loh anak gadis tertarik sama yang jauh lebih tua kayak aku gini, istilahnya itu.... apa ya?" Rasta terdiam sejenak, seperti mencoba berpikir. "Jauh lebih mapan, dek... yah, semacam sugar daddy gitu lah!" Rasta terkekeh diujung kalimatnya.
"Ya udah sih terserah kakak aja, aku cuma mau ingatin aja kalau umur udah kepala tiga jangan sok kegantengan lagi, entar enggak laku!" kikik Zahra.
"Dasar adik durhaka nyumpahin kakaknya enggak laku! Masih banyak yang ngantri ini. Kamu bener - bener udah tekena virus Ken! Huh!"
"Ya udah nanti jangan lupa mampir ke rumah!"
__ADS_1
******