Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Makan siang bersama


__ADS_3

Frans baru saja menyelesaikan aktivitas gym-nya saat seorang ART mengetuk pintu ruang olahraganya itu.


"Den Frans diminta turun ke bawah sama Bapak. Bapak mengatakan ingin makan siang bersama," ucap ART itu padanya.


Ia mengangguk dan menyeka peluh dengan sebuah handuk kecil yang sempat ia sampirkan di bahunya.


Ia pun kembali ke kamar, memutuskan untuk mandi lebih dulu sebelum makan siang bersama Mama dan Papa sambungnya itu.


Lima belas menit kemudian, ia telah siap dengan penampilan ala rumahan yang biasanya. Mengenakan kaos hitam yang pas ditubuh atletisnya, serta celana jeans pendek andalan untuk melengkapinya.


Dengan langkah pelan, ia mulai menuruni undakan tangga untuk menuju ruang makan yang ada dilantai bawah.


Samar-samar ia mendengar suara yang cukup ramai dan akrab, suara itu terdengar familiar di indera pendengarannya. Ia tahu salah satu pemilik suara itu pastilah milik sang Ayah sambung. Namun, ada suara wanita juga disana-- yang ia yakini bukan milik sang Mama.


"Pa, Ma...." sapanya saat hampir tiba di meja makan. Disaat itu pula ia menyadari bahwa ada Ken disana, ia menatap wanita yang duduk disebelah Ken, Zahra. Matanya seakan terpaku disana, akhirnya ia bisa melihat lagi wanita bersahaja yang sempat ia cintai itu. Bahkan hingga kini perasaannya masih sama dengan tidak tahu diri.


Ia membuang muka saat Ken sengaja menggenggam jemari Zahra didepannya, seolah Ken ingin menunjukkan padanya bahwa perempuan itu adalah kepunyaan pria itu.


Ia mendengkus pelan. Merasa mood dan selera makannya terbang dibawa udara begitu saja. Menyisakan seonggok tubuh miliknya yang tak memiliki gairahh untuk berada ditengah-tengah meja makan yang sama dengan semua orang yang kini tengah menatapnya.


"Frans, ayo duduk! Kita makan siang bersama. Ada Ken dan Zahra juga disini," kata sang Ayah tiri.


Ingin rasanya ia meledakkan amarah saat itu juga, apalagi melihat senyuman tipis yang tersungging dari bibir Ken seolah tengah mengoloknya. Namun, ia tidak mungkin melakukan hal itu karena ia masih menjaga image-nya didepan Bagas dan juga Zahra tentunya.


"Iya, Pa." Akhirnya ia melangkah, menarik kursi untuk duduk dimeja makan yang sama. Posisinya berhadapan dengan Ken dan Zahra, membuatnya menghela nafas berat.


"Apa kabar, Frans?" Suara yang paling ia rindukan itu menyapanya. Zahra menayapnya dan ia tersenyum kecil, perasaan senang membuncah dihatinya. Ia sadar bahwa perasaannya setulus itu pada Zahra.


"Aku... baik, bagaimana dengan kamu?"


"Alhamdulillah aku juga baik, Frans." Zahra membentuk senyuman, lagi-lagi ia mengakui dalam dirinya sendiri jika ia merindukan senyuman milik wanita itu.


Ken tampak diam saja, hanya sesekali ia melihat jika saudara tirinya itu begitu perhatian pada Zahra. Mengambilkan Zahra nasi dan lauk, seolah sengaja memanas-manasinya.


Makan siang itu dimulai, ia yang sudah kehilangan selera mau tak mau harus makan juga karena tak mungkin ia hanya duduk diam disana, ia memperhatikan Zahra dalam kegiatan makannya.


"Ra, apa kamu bahagia menikah dengan Ken?" batinnya bertanya-tanya, namun tak bisa mengutarakan kalimat itu.


"Jangan melihati istriku dengan tatapan seperti itu. Aku tidak suka!" celetuk Ken yang membuatnya mendecih pelan.


Ia melatakkan sendok dan garpunya, menghentikan aktivitas makan. Jujur saja, ia tetap makan dimeja ini juga karena ingin melihat Zahra, namun ucapan Ken itu membuatnya merasa tak senang dan kembali kehilangan selera.


Tanpa kata, ia bangkit dan meninggalkan meja makan.


"Frans, selesaikan makan siangmu!" suara Ayah tirinya tidak ia hiraukan, ia berlalu ke arah samping rumah.

__ADS_1


"Frans!" pekik sang Mama namun ia juga tak mengindahkan hal itu. Mungkin karena rasa cintanya yang tulus pada Zahra, ia bisa merelakan wanita itu menikah dengan orang lain. Tapi sayang, orang yang menikahi Zahra adalah Ken. Dan keadaan itu sekaligus membuatnya terpuruk, karena ia memang belum bisa menerima kekalahan dari Ken.


_____


"Kamu kalau ngomong bisa gak, gak usah menyinggung perasaan Frans!" kata Irene tegas mengarah pada Ken.


Ken tersenyum tipis. "Tatapan dia ke istriku justru buat aku lebih tersinggung!" jawabnya enteng.


"Sudah... lanjutkan makan siang ini dengan tenang," kata Bagas menengahi.


"Nampaknya kau tidak sadar jika kau telah merebut calon istri Frans!" kata Irene membuat Ken terkekeh kencang.


"Sudah, Ken!" Zahra menggeleng pada Ken, sebagai isyarat jangan melanjutkan ketegangann ini lagi.


Namun, bukan Ken namanya jika ia menerima begitu saja tentang tuduhan yang diucapkan Irene kepadanya.


"Anda yang belum tahu kenyataan, jika aku dan Hana sudah berjodoh sejak dulu, bahkan sebelum Frans mengenal Hana." Ken menatap Zahra dengan tatapan penuh cintanya. "Allah yang sudah menetapkan serta menuliskan jika jodohku adalah Hana dan jodoh Hana adalah aku!" sambung Ken dengan percaya diri.


Mendengar itu, Irene mendengkus diujung sana. "Dasar tidak tahu malu!" desisnya pelan.


"Apa makan siang ini bisa dilanjutkan lagi?" Bagas menatap Irene seolah memberinya peringatan. "Dengan tenang!" lanjutnya menekankan kata.


Akhirnya mereka melanjutkan makan siang itu dengan senyap.


"Aku akan mengantar kamu," ucap Ken sambil beranjak.


Mereka berdua permisi pada Bagas dan Bagas justru menyuruh Ken untuk mengajak Zahra ke kamar Ken yang ada dikediamannya.


"Pakai kamar mandi yang ada dikamar kamu saja, Ken!" kata Bagas. "Mungkin Zahra ingin sekalian beristirahat," sambungnya.


Ken mengangguk, sudah lama ia tidak masuk ke kamar pribadinya yang ada dikediaman sang Ayah. Ia menggandeng jemari Zahra, menaiki tangga menuju ke lantai atas-- dimana kamarnya berada.


"Ini dulunya kamar aku, Sayang..." kata Ken membuka pintu kamar dengan akses sandi yang masih dihafalnya jelas. Ia ingat akses kunci menggunakan password itu dibuat sejak ia SMA karena ia tak mau privasinya terganggu. Hanya satu pelayan yang bisa masuk kedalam kamar Ken untuk membersihkan area kamar, itupun pelayan yang ia percayai karena sudah bekerja sejak lama.


Zahra dan Ken pun masuk kedalam kamar bernuansa monochrome itu. Ruangannya didominasi dengan warna hitam, putih dan abu-abu. Tidak banyak yang berubah dari tampilannya, kamar Ken tetap bersih dan nyaman pertanda tetap diperhatikan kebersihannya.


"Itu toiletnya disana, Sayang." Ken menunjuk ke arah ujung, toiletnya dirancang dengan kamuflase lemari, seolah itu adalah lemari namun jika pintunya dibuka justru itu adalah kamar mandi.


Setelah Zahra ke kamar mandi, Ken melihat-lihat isi kamarnya yang tak banyak berubah. Pandangannya tertuju pada meja buffet yang ada diujung kamarnya yang lebar. Ia tertawa kecil saat melihat sebuah figura foto, ia jadi melamunkan masa lalu saat melihat foto yang ada didalam bingkai itu.


"Ken..."


Ken berbalik dan mendapati Zahra yang sudah kembali dari kamar mandi.


"Udah?"

__ADS_1


Zahra mengangguk, kemudian melihat sesuatu yang ada digenggaman Ken.


"Apa itu?" tanya Zahra.


Ken terkesiap, kemudian menyembunyikan bingkai foto dibelakang tubuhnya.


"Apa yang kamu sembunyiin, Ken? Aku mau lihat..." kata Zahra penasaran.


Ken tertawa kecil. "Enggak, kamu gak usah lihat ini!"


"Aku mau lihat!" desak Zahra.


Ken menggeleng dan Zahra mencebik sembari bersedekap dada seolah tengah merajuk.


Ken mengelus puncak kepala Zahra yang tertutup jilbab berwarna kuning. "Aku kasi lihat tapi janji jangan marah ya?" ucapnya.


Perasaan Zahra jadi tak enak, pasti ini ada hubungannya dengan dirinya.


"Iya gak akan marah, siniin... aku mau lihat!" kata Zahra.


Ken menyodorkan figura fotonya dengan takut-takut. Kemudian Zahra menerima itu dan sedetik kemudian dia melongo menatap apa yang kini dilihatnya.


"Ini kapan, Ken? Aku gak pernah foto begini," Zahra tertawa juga akhirnya. Karena di figura itu adalah gambar dirinya yang mengenakan seragam SMA. Tampak jadul jika dilihat ditahun sekarang.


"Waktu itu aku foto kamu diam-diam. Zamannya ponsel aku masih merk Nokai," Ken terkekeh diujung kalimatnya. "Waktu itu udah keren banget pake ponsel yang merk itu trus tipenya model daun, hehehe ..."


"Kamu ini!" Zahra tertawa melihat potret dirinya sendiri.


"Ya gimana dong, namanya udah bucin dari lama," kekeh Ken.


Setelah membahas masa lalu itu, Zahra dan Ken keluar dari kamar, mereka bersiap hendak pulang.


Nemun, saat keluar kamar mereka berpapasan dengan Frans. Ken jadi teringat dengan rencananya, ia ingin mengajak Frans bicara sebagai sesama lelaki dewasa. Entahlah Frans mau atau tidak, tapi Ken harus menanyakan juga perihal kehamilan Jenar pada saudara tirinya itu.


Ken meminta Zahra untuk kembali ke kamar dulu, karena ia ingin bicara pada Frans dan Zahra menyetujuinya. Zahra merasa kedua pria ini memang harus bicara secara baik-baik, meski Zahra tak tahu apa yang hendak Ken bicarakan pada Frans, namun ia menyetujui saja saat Ken memintanya kembali ke kamar.


"Aku ingin bicara padamu sebagai sesama pria dewasa!" ucap Ken seolah menantang, ia tahu jika begini Frans tidak mungkin menolak karena jika menolak sama saja dengan kalah melewati tantangan yang Ken berikan.


"Soal apa?" tanya Frans.


"Jenar!"


Frans terkesiap mendengar nama wanita itu disebut oleh Ken. Sementara Ken, ia ingin tahu apa Frans terlibat dalam rencana Jenar untuk menjebaknya melalui kehamilan itu? Atau justru Frans tak tahu sama sekali mengenai Jenar yang tengah berbadan dua?


*****

__ADS_1


__ADS_2