Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Masih Masa Lalu


__ADS_3

Akhirnya, Zahra makan siang bersama dengan Ken di meja makan yang ada di panti. Bu Nurma ikut menemani mereka dan sesekali terlibat percakapan dengan Ken.


Entah kenapa Zahra melihat sisi lain Ken saat ini, lelaki yang biasanya dingin dan sulit ditaklukan itu tampak berbeda. Dia terkesan hangat dan banyak bicara pada Bu Nurma. Apalagi jika membahas tentang anak-anak panti.


Apa Ken tertarik dengan hal yang ada di Panti Asuhan? Apa menariknya? Disini hanya tempat tinggal anak-anak yang tidak memiliki orangtua. Apa seorang Ken peduli dengan hal itu? Sepertinya memang aneh, tapi Zahra meyakini sekarang jika Ken memang peduli bahkan mempunyai jiwa sosial yang tinggi, karena Zahra mendengar cukup jelas tentang percakapan antara Bu Nurma dan Ken-- yang memang terlihat antusias.


Zahra jadi memiliki kesimpulan tersendiri terhadap lelaki bernama Ken ini.


Ken tidak seburuk yang dikiranya dan orang lain. Ken memiliki sikap yang baik terhadap orang yang lebih tua, buktinya Ken begitu hormat pada Bu Nurma. Tapi kenapa Ken selalu dingin di lingkungan sekolah? Bu Tania juga mengatakan jika Ken sulit ditaklukan? Bahkan Om Bagas juga mengakui jika sang anak sangat keras kepala. Sebenarnya apa yang dialami Ken? Kenapa Ken seperti tidak menjadi dirinya sendiri?


Usai makan siang itu, Bu Nurma kembali melakukan aktifitasnya yang tertunda.


Zahra sudah mengganti baju dan jilbabnya, kemudian dia menghampiri Ken yang belum juga pulang dari panti. Apa Ken betah di panti ini?


Ken tampak berkeliling di halaman belakang panti, dia melihat anak-anak panti yang belajar bersama di sebuah tikar yang dibentangkan disana.


Ken duduk disebuah kursi kayu panjang yang tak jauh dari sana dan Zahra pun menghampirinya.


"Kamu kenapa belum pulang?" sapa Zahra.


Ken menoleh pada Zahra yang berdiri disampingnya.


"Udah ada?" tanya Ken.


"Udah ada, apanya?"


"Obat merah sama alkoholnya."


Zahra terdiam, kemudian tanpa kata dia beranjak menuju area panti untuk mengambil kotak P3K.


"Udah ada kok." kata Zahra menunjukkan kotak obat itu agar Ken puas.


"Siniin!"


"Untuk?"


"Lo duduk disini," Ken menepuk area kosong di kursi kayu panjang yang dia duduki. "Biar gue bantu obati luka di tangan lo," sambungnya.


Zahra menatap Ken dengan mata membulat. "Ng-nggak usah, ini aku bisa sendiri," katanya mengibaskan tangan didepan lelaki itu.


Ken tersenyum kecil, senyum yang jarang sekali Zahra lihat.


"Kalau gitu pertemanan kita batal!" seru Ken enteng.

__ADS_1


Zahra meneguk salivanya dengan susah. Sepertinya ini kesempatannya untuk membujuk Ken melakukan bimbingan belajar itu.


Zahra segera ambil posisi dan duduk disebelah Ken lalu memberikan kotak P3K pada Ken.


Ken mengambil kotak obat itu, meraih alkohol dan kapas kemudian memberi isyarat agar tangan Zahra yang terluka itu disodorkan ke arahnya.


Zahra menurut, Ken memegang tangan mungilnya dan itu cukup mengganggu sinkronisasi otak Zahra. Perlakuan Ken membuat Zahra merasa lembek seperti jelly.


Diam-diam Zahra memperhatikan Ken yang tengah sibuk mengobati luka ditangannya.


"Awww..." Zahra meringis juga kala alkohol dikapas menyentuh luka ditangannya.


Ken tetap diam, lalu dengan pelan dia meniup-niup luka ditangan Zahra dengan telaten. Zahra sangat terkesima melihat pemandangan itu, dia melting alias meleleh.


"Astagfirullah! Sepertinya otakku mulai erorr!" Batin Zahra merutuki diri sendiri ketika mengagumi Ken didalam hati.


Zahra terkesiap dan menarik tangannya yang masih dipegang oleh Ken dengan begitu cepatnya.


"Belum selesai!" protes Ken pelan.


Entah kenapa Zahra menjadi gugup luar biasa. "Si-sanya biar aku saja. A-aku bisa sendiri," ujarnya.


Ken membukakan tutup obat merah dan menyerahkan obat itu pada Zahra.


"Ma-makasih," kata Zahra menunduk, dia tetap merasa gugup. Lalu Zahra mulai memberi obat merah pada luka ditangannya.


"Namaku kan, Zahra Alhana."


Ken mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau gitu, gue panggil lo Hana juga," katanya.


"Kenapa?" Zahra menoleh pada Ken yang tidak mengalihkan atensinya pada pemandangan didepan sana.


"Gue lebih suka Hana daripada Zahra," kata Ken pelan dan tiba-tiba dia menoleh pada Zahra hingga pandangan mata mereka bertumbukan satu sama lain.


Cukup lama mereka bertatapan seperti itu, keadaan itu mengingatkan Zahra pada saat pertama kalinya Ken datang menghampirinya di kelas, mereka juga sempat bertatapan seperti ini meski saat itu belum mengenal satu sama lain.


Zahra segera menunduk, tersadar jika Ken menatapnya dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.


Ken berdehem, seolah mencairkan suasana yang sempat akward.


"Mau Zahra atau Hana sama saja, itu tetap aku juga, kan? Zahra dan Hana orang yang sama..." ucap Zahra akhirnya.

__ADS_1


Ken tersenyum kecil, senyum yang tak nampak dipelupuk mata Zahra dan hanya Ken yang mengetahui hal itu, jika Ken tengah tersenyum sekarang sebab mendengar ulasan yang Zahra berikan.


"Tapi Zahra menyebalkan, selalu mengikuti gue seperti anak ayam! Selalu memaksa gue untuk belajar!" Tiba-tiba Ken terkekeh pelan, dia mengingat Zahra yang selalu berada disampingnya akhir-akhir ini. Baik dikantin sekolah, maupun menungguinya di lapangan basket. Setiap jam istirahat berbunyi, pasti Zahra langsung muncul untuk mengambil kesempatan demi membujuknya ikut bimbel.


Zahra ikut terkekeh mendengar penuturan Ken itu, terutama dia tak menyangka jika Ken bisa berujar sampai tertawa seperti saat ini, disampingnya. Ken yang ia ketahui dalam beberapa bulan ini adalah Ken yang kaku, yang jika senyumnya dapat dijual, mungkin akan diberi harga yang sangat mahal.


"Lalu kalau Hana? Berbeda, gitu?" tanya Zahra memastikan kelanjutan penilaian Ken terhadapnya.


"Kalau Hana, gue baru mengenalnya hari ini di Panti," sahut Ken tersenyum miring.


Zahra tersenyum kecil. "Lalu?" tanyanya.


"Dari penilaian gue, Hana itu ... lumayan," kata Ken mengulumm senyum.


"Lumayan?" tanya Zahra mengernyit. Ia tak tahu apa yang dimaksud Ken dari balik kata 'lumayan' itu.


Ken mengangguk, tak menjelaskan lebih lanjut, kemudian dia berdiri dari duduknya.


"Gue balik... gue masih ada urusan lain!" Ken memakai ranselnya yang tadi diletakkan disebelahnya.


Kemudian tanpa kata lagi, Ken angkat kaki menuju ke arah depan bangunan panti.


"Ken!" pekik Zahra.


Ken menoleh.


"Hati-hati..." ucap Zahra refleks, entah kenapa dia mengucapkan kata itu pada Ken.


Ken hanya tersenyum kecil, kemudian melangkah semakin menjauh. Zahra ingin mengantar Ken ke depan gerbang, tapi entah kenapa dia urung. Zahra hanya memandangi kepergian Ken dari posisinya.


Ken tampak menyalami Bu Nurma yang berada diujung sana dengan senyum terkembang, kemudian Ken benar-benar pergi dari area Panti.


"Kak Hana ... sini!" Pekik Keysia, salah satu anak panti kelas 5 SD yang duduk di tikar bersama anak lainnya yang tengah belajar bersama.


Zahra beranjak dan menghampiri anak-anak panti itu.


"Gimana? Pelajarannya ada yang belum paham?" tanya Zahra pada anak-anak panti.


Semua anak-anak panti pun berebutan menunjukkan PR sekolah mereka agar diperiksa kembali oleh Hana.


Zahra adalah anak tertua yang berada di Panti. Sebenarnya saat dia masih kecil banyak yang ingin mengadopsinya, tetapi Zahra yang introvert tidak mau meninggalkan panti. Dia takut diadopsi oleh orang yang salah. Otak kecilnya yang belum matang, sudah bisa memperkirakan banyak hal negatif jika dia diadopsi orang lain yang tidak semuanya adalah orang baik. Entahlah, tapi dia memang selalu menghindar jika ada tamu-tamu yang ingin mengenalnya lebih dekat.


Hingga sampai usianya belasan tahun, ia masih setia menjadi anak panti asuhan, sedangkan teman-teman yang seangkatan dengannya telah banyak yang diadopsi oleh orang lain.

__ADS_1


Lambat laun, Zahra merasa lebih nyaman di panti dan terang-terangan menolak setiap ada orang yang ingin mengasuhnya, maka sekarang tinggallah dia di panti bersama anak-anak kecil yang jauh dari umur sebayanya. Namun, ia tetap bahagia. Ia berusaha menjadi lebih baik dan dapat menjadi panutan untuk semua anak-anak panti yang mengenalnya. Zahra selalu berusaha agar tidak mengecewakan mereka semua. Bagi Zahra, semua anak-anak panti adalah keluarganya.


...Bersambung ......


__ADS_2