
Ken tidak punya pilihan lain, ia harus mengantongi bukti sebelum Jenar atau Frans bertindak lebih dulu untuk memusnahkan bukti itu.
Akhirnya, Ken menuju kawasan Club. Hari beranjak siang saat Ken tiba disana dan sudah jelas tempat itu masih tutup.
Seandainya saja Ken datang bersama Chandra, minimal ia bisa masuk kedalam kawasan Club di siang bolong seperti ini. Namun, jangankan mendapat bukti berupa rekaman cctv, akses masuk kesana saja Ken tak punya.
Akhirnya, Ken menghubungi Rasta.
"Chandra dimana?" tanya Ken to the point.
"Ngapain lo nyari dia?" Rasta menjawab dengan nada tak senang, ia mengira Ken akan melakukan hal seperti dulu lagi, padahal mereka berdua sama-sama sudah menuju jalan insyaf sejak menemukan Zahra lagi.
"Gue ada perlu, Ta. Tau sendiri gue lagi ada masalah sama Hana karena Jenar!"
"Nah itu lo tahu! Ngapain lo nyari Chandra kalo masalah lo aja belum kelar!"
"Gue mau cari bukti...." Ken mulai menjelaskan semuanya pada Rasta mengenai Jenar yang dekat dengan Frans serta kecurigaannya mengenai semua hal ini.
"Jadi, lo mau ketemu Chandra supaya membantu lo untuk mengakses cctv di club bokapnya?"
"Hmmm."
"Lo temui aja bokapnya langsung!" kata Rasta memberi usul.
"Wah, gue gak mau berurusan dengan bokapnya, Ta."
"Kenapa?"
"Gue gak mau dianggap sedang transaksi sama dia," jelas Ken.
"Lo dimana sekarang?"
#####
Rasta tiba didepan Club dua puluh menit setelah panggilannya dengan Ken terputus. Tanpa dikomando, pria yang masih berpenampilan rapi sebab dari menghadiri rapat kantor itupun langsung masuk kedalam mobil Ken dan duduk demi mengambil posisi.
"Lama!" kata Ken mengeluh.
"Syukur mau gue bantuin, lo!" dengkus Rasta sekilas.
"Jadi gimana?"
"Tes masuk aja ya! Kalo kira-kira diusir tinggal dikasi pelicin aja, Man!"
"Baeklah," ucap Ken dengan senyum kecil yang memahami usul Rasta.
Mereka berdua pun turun dari mobil untuk menuju pintu belakang Club.
Jika siang begini, aktifitas dalam gedung itu hanya sebatas pemasokan bahan minuman dan camilan untuk stock dan kebutuhan Club di malam hari.
__ADS_1
"Gue mau ketemu pemilik club ini, bisa?" tanya Rasta yang suka bicara ke intinya.
Kedua penjaga yang berdiri di depan pintu saling menatap satu sama lain, seolah menanyakan pendapat masing-masing mengenai ucapan Rasta barusan.
"Gak bisa, buat janji dulu kalo mau ketemu si Bos!" ucap salah satu dari kedua orang itu.
Rasta tersenyum kecil. "Ya udah, gue buat janji sekarang, lo bedua bisa bantuin gak?" Rasta mengeluarkan trik money is everything dan kedua orang itu kembali saling memandang satu sama lain saat melihat beberapa lembar uang merah yang diiming-imingi Rasta pada mereka.
"Oke, kita bantuin tapi gak sekarang.... si Bos lagi keluar soalnya," terang salah satu penjaga yang memiliki kepala plontos.
Rasta menarik kembali sejumlah uang yang ingin ia berikan tadi. "Memangnya Bos lu kemana?" tanyanya.
"Lagi ngurus anaknya di panti rehabilitasi," jawab seorang penjaga yang satunya.
Kini giliran Ken dan Rasta yang saling berpandangan satu sama lain.
"Chandra?" tanya Ken memastikan pada penjaga pintu club itu.
Keduanya pun mengangguki pertanyaan Ken.
_____
Ken dan Rasta kembali ke rumah tanpa bukti apapun, namun satu yang Ken dapatkan yakni kedekatan Jenar dengan Frans, meski ia belum memiliki bukti tapi setidaknya ia tahu dan harus waspada mulai saat ini.
"Hana...." gumam Ken saat melihat Zahra yang tengah memasak untuk makan malam di dapur rumah Rasta. Rasa rindunya menguar begitu saja setiap melihat istri cantiknya.
Ken mendekati Zahra, memeluknya dari belakang, meletakkan dagu dipundak istrinya-- seperti kebiasaan yang sering ia lakukan jika dirumahnya sendiri.
"Ken, malu! Kalau sampai dilihat sama Paman Sapta atau Kak Dirga, gimana?" protes Zahra. Untung saja Mbak Darmi sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.
"Biarin, aku gak akan lepasin kamu. Aku gak mau kamu ngomongin hal perpisahan lagi," kata Ken mencebik.
Zahra tersenyum kecil, ia mengelus rahang Ken yang tengah disandarkan mesra dipundaknya.
"Maafin aku," kata Zahra tulus.
Ken merubah posisinya jadi menghadap Zahra, memegang kedua sisi tubuh iatrinya sehingga mereka jadi saling berpandangan satu sama lain.
"Janji sama aku, kamu gak akan ngomong gitu lagi. Gak akan minta hal-hal konyol kayak gitu, gak akan bicarakan perpisahan yang membuat mental aku down dan jadi gak bersemangat," ucap Ken mulai mengecupi telapak tangan Zahra berkali-kali.
Zahra mengangguk. "Iya, Sayang...." ucapnya lembut.
Ken berbinar-binar menatap istrinya dengan penuh cinta. "Coba ulang lagi ngomongnya," ucapnya.
"Ngomong apa?"
"Yang tadi, yang barusan!"
"Yang mana?"
__ADS_1
Ken berdecak, merasa Zahra berlagak bodoh dengan permintaannya. Sementara Zahra tertawa kecil.
"Iya, Sayang..." kata Zahra akhirnya, mengulangi lagi ucapannya dengan nada yang sama.
"I love you," lirih Ken mengecup dahi Zahra.
"Aku juga cinta kamu, Ken...." jawab Zahra jujur.
"Sayang, kok rasanya ada aroma gak enak," kata Ken kemudian. Zahra baru tersadar bahwa sejak kedatangan Ken ia menjadi mengalihkan atensi dari penggorengan.
"Astagfirullah... ikan aku jadi gosong!" kata Zahra yang cepat-cepat mematikan kompor.
Ken berlagak membantu Zahra mengangkat ikan yang telah gosong dari penggorengan, tapi tanpa sengaja tangannya justru terkena cipratan minyak goreng yang masih panas.
"Arkh...." Ken meringis keperihan.
"Ya Allah, Ken!" pekik Zahra. Sontak saja, Zahra meraih lengan Ken dan membawanya ke bawah kucuran air yang ada di kitchen sink.
"Perih banget, ya?" tanya Zahra dengan raut khawatir yang terpancar jelas pada sang suami. Ken mengangguk sembari merasakan kucuran air yang membasahi tangannya.
"Yaudah, ayo aku obatin." Zahra melepas apronnya dan menggandeng lengan Ken untuk menuju kamar yang ia tempati di rumah Rasta.
Zahra mengambil kotak obat dan mengolesi lengan Ken yang mulai memerah karena cipratan minyak panas tadi. Ia mulai mengoleskan salep secara perlahan-lahan dan meniup-niupnya agar terasa sejuk dikulit lengan sang suami.
Ken menatapi Zahra dengan senyuman, rasa sakitnya berganti menjadi rasa yang lain. Sikap manis istrinya malah membangunkan sesuatu yang tertidur dibawah sana.
"Sayang..." kata Ken menatapi Zahra lekat.
"Kenapa?" tanya Zahra yang masih fokus meniup-niup lengan Ken.
"Aku belum mandi nih, udah sore juga..."
"Oh, kamu mau mandi?" Zahra kini menatap Ken dan Ken tersenyum penuh maksud.
"Iya, mandi yuk!" Ken mengerling pada sang istri dan Zahra tertawa pelan sambil menggeleng samar.
"Aku udah mandi, Ken..."
"Ya tapi kan aku belum mandi..." lirih Ken memendam hassrat.
"Yaudah, aku siapin handuk kamu abis itu kamu mandi," kata Zahra berlagak bodoh.
"Mandiin, ya..." kata Ken to the point, ia malas berberlit-belit karena istrinya yang peka justru berlagak tak tahu dengan niatnya sekarang.
Zahra tampak berfikir dengan mengetuk-ngetuk jari didagunya. Ken menjadi gemas melihat tingkah istrinya itu dan tanpa persetujuan dari Zahra, ia langsung saja menggendong tubuh wanita itu menuju kamar mandi yang ada di ujung kamar.
"Ken!" protes Zahra. Secara spontan, Zahra pun mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
Ken tertawa pelan dan mengecup bibir Zahra yang mencebik. "Just one round, Honey..." ucapnya yang sudah dipenuhi gairahh.
__ADS_1
******