
Sekali lagi, Zahra tak bisa berkutik saat Ken sudah menuntunnya mendekat ke arah barisan baju 'dinas' itu.
"Nanti cobanya dirumah aja... jangan disini!" bisik Ken terdengar sumbang diindera pendengaran Zahra.
Zahra memicingkan mata pada Ken, seolah memprotes ucapan pria itu, namun sang suami hanya terkekeh pelan penuh kemenangan.
"Ken, malu banget aku beli baju yang begituan!"
"Ya udah sih kalau malu, aku aja ya g pilihkan, sesuai kesepakatan awal," ucap Ken dengan entengnya.
"Kamu gak malu belinya?"
"Kan beli bukan nyuri!" sahut Ken tanpa rasa bersalah, membuat Zahra mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Ya udah terserah kamu aja!" jawab Zahra pelan.
Seorang karyawan store menghampiri kedatangan sepasang suami-istri itu untuk menanyakan apa yang dicari. Ken yang tebal muka, hanya menunjuk beberapa pilihan yang ia sukai tanpa meminta persetujuan istrinya. Zahra juga mendengar jika Ken membelikannya u n d e r w e a r ditempat yang sama.
Astaga, Zahra sendiri lupa membeli benda itu untuk dirinya.
Zahra cukup bersyukur dengan sikap Ken yang cuek itu, karena itu membuat keduanya tak berada lama di store 'khusus' tersebut. Mereka pun langsung menuju kasir untuk pembayaran.
Ken masih terkikik saat mereka keluar dari store penjualan baju. Ken yang menenteng semua paperbag hasil belanjaan mereka yang terlihat cukup banyak.
"Abis ini kita shalat magrib dulu, baru setelahnya kita makan malam," usul Ken.
Zahra mengangguk patuh. Tapi ia mengingat sesuatu yang hampir terlupakan.
"Tapi, Ken... aku juga mau belanja untuk isi kulkas, biar besok bisa masak."
"Oke, setelah itu kita ke supermarket aja!" kata Ken tenang sembari memasukkan semua belanjaan mereka ke bagasi mobil.
Setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam mobil. Ken dan Zahra naik lagi ke lantai atas Mal tersebut, kebetulan ada Masjid didalam Mal itu dan merekapun menunaikan shalat terlebih dahulu.
__ADS_1
Selesai dengan hal itu, mereka mencari tempat makan yang cocok--tentunya masih berada dalam lingkup Mal yang sama.
Mereka pun memutuskan makan di restoran khas indonesia yang ada disana.
Namun, saat mereka makan ada seseorang yang menyapa.
"Ken..."
Ken menoleh sekilas, begitupun dengan Zahra.
Ken sampai tak jadi menyuap makanan yang sudah ada disendoknya saat emlihat sosok itu.
"Ternyata beneran kamu, Ken!" ucap wanita itu dengan senyum yang mengembang. Ia tampak antusias namun Ken justru sebaliknya.
"Siapa, Ken?" tanya Zahra pelan.
Wanita itu melirik ke arah Zahra sekilas. "Kenalkan, aku Jenar..." ucapnya sembari mengulurkan tangan ke depan Zahra. Mau tak mau Zahra menyambut uluran tangan wanita yang mengaku bernama Jenar itu.
Lalu, tanpa meminta persetujuan, Jenar langsung menarik kursi dihadapan Ken dan duduk disana. Ken masih diam namun rahangnya tampak mengerass--tak senang.
Mendengar kalimat itu keluar dari bibir wanita asing didepannya, perasaan Zahra mendadak tak enak. Ada hubungan apa antara suaminya dengan wanita ini?
"Oh iya, Ken. Dia ini siapa?" tanya Jenar dengan sikap cerianya yang terpancar.
"Ini istriku!" jawab Ken dingin. "Aku sedang makan bersama istriku, pergilah, Jen!" usir Ken terus - terang.
Jenar terperangah mendengar itu, matanya sampai melotot karena terkejut.
"Jangan bercanda, Ken!" kata Jenar.
Kali ini Zahra ikut angkat bicara.
"Saya memang istri Ken, apa ada yang salah dengan hal itu?"
__ADS_1
Jenar menggelengkan kepalanya tak percaya. "Bohong! Siapa kamu mengaku - ngaku sebagai istri Ken?" tanyanya dengan intonasi naik.
"Jen, ku bilang pergilah dari sini sekarang juga!" tegas Ken.
"Tapi Ken... bagaimana bisa? Istri? Oh my... ini tidak mungkin!" Jenar tertawa sumbang.
"Tapi kenyataannya aku memang istri Ken!" ucap Zahra menimpali.
"Oh iya, aku ingat... gadis ini yang dulu kamu cari - cari. Ya, ya, gadis berhijab itu!" Jenar tersenyum meledek. "Aku tidak menyangka, Ken... ternyata kamu menikahinya. Ini terdengar lucu karena aku yang telah lama menemani kamu!"
Tiba - tiba Ken meletakkan sendok makannya dengan kasar, mengeluarkan suara dentingan yang cukup keras.
"AKU BILANG PERGI! KAU MEMBUAT KESABARAN KU HABIS!" teriak Ken keras. Zahra ikut berdiri, mencoba meredam kemarahan Ken dengan mengelus pundak pria itu.
Kemarahan Ken ini menyebabkan beberapa pengunjung memandang kearah meja mereka dengan tatapan ingin tahu apa yang terjadi.
"Sudah, Ken..." bisik Zahra disamping Ken.
Jenar pun bergerak cepat, menunjukkan wajah tak senangnya pada kedua orang dihadapannya.
Sebelum Jenar benar - benar pergi dari sana, ia mengucapkan lagi sebuah kalimat.
"Selamat atas pernikahanmu, Ken! Aku yakin kamu akan segera bosan dengan dia! Jika itu sudah terjadi, kamu tahu kan dimana mencari aku," Jenar melambaikan tangan kearah Ken dan Zahra disertai senyum mencibir, sementara Ken mengepalkan tangan mendengar ucapan wanita itu.
Seusai kepergian Jenar dari meja mereka, Zahra terduduk lemas sembari memegang kepalanya yang tertunduk. Zahra sudah tak berselera lagi untuk melanjutkan makan malam, begitu pula dengan Ken.
"Siapa dia?" tanya Zahra pelan tanpa menatap wajah sang suami.
"Bukan siapa - siapa, tidak penting!" jawab Ken.
"Siapa dia, Ken?"
"Iya, nanti aku akan jelaskan siapa dia sama kamu. Tapi dirumah, tidak disini. Sekarang kita pulang, oke?"
__ADS_1
Zahra mengangguk, meski tanpa penjelasan dari Ken pun ia sudah bisa menebak jika Jenar adalah wanita masa lalu Ken.
******