
"Pantes aja om nolak aku! Rupanya mantan pacar om itu Bu Saskia. Tau gak, dia itu guru tercantik di sekolah aku! Cocok sih om sama dia! Kalo Om nanya aku cemburu atau enggak jawabannya iya aku cemburu, puas!"
Rasta terhenyak, dia tidak bisa berkata apapun lagi demi mencerna ucapan gadis kecil dihadapannya. Niatnya memang mau menggoda Cira saja, tak tahunya anak kecil ini benar-benar mengakui kecemburuan seperti yang ia tuduhkan.
Cira berbalik badan dan segera meninggalkan Rasta yang masih tercenung ditempatnya.
Cira tiba di Kantin Rumah Sakit, memesan menu makanan dan minuman dengan wajah yang sembab karena sempat menangis, andai sekarang ia tidak berada di tempat umum seperti sekarang, mungkin ia akan melanjutkan sesi menangisnya yang sempat terjeda. Cira melamun, sampai tak sadar bahwa Rasta sudah duduk dihadapannya sembari menatapnya lekat.
"Sejak kapan lo suka gue?" tanya Rasta membuyarkan lamunan Cira.
Cira menatap Rasta sekilas kemudian menggeleng pelan.
"Apaan tuh jawaban kayak gitu!" Rasta mendengkus pelan.
"Aku gak tahu, mungkin sejak awal Om datang ke panti bersama Abang Ken," jawab Cira terus - terang.
Rasta terkekeh pelan, kemudian mengacak rambut Cira dengan gemas.
"Lo itu masih labil, lo bisa suka sama orang lain nantinya..." kata Rasta tenang.
Cira menatap Rasta sekilas kemudian membuang pandangan. Atensi mereka teralihkan dengan seseorang yang datang demi menyajikan menu makanan pesanan mereka.
"Kalau nantinya aku suka sama orang lain, gak apa-apa?" celetuk Cira pelan.
Rasta tersenyum kecil. "Ya gak apa-apa, itu lebih bagus daripada sama gue. Gue ini gak sebaik yang lo kira. Mungkin lo lihat gue baik, suka bantuin lo makanya lo suka ke gue, tapi nanti kalo lo tahu aslinya gue kayak apa, pasti lo bersyukur karena gak terjebak sama gue," ucap Rasta memberi Cira pengertian.
"Kamu gak tahu aja, Om... kalo aku emang udah terjebak sama kamu bukan karena kebaikan kamu tapi sejak awal pun perasaan aku udah gak bisa tertarik kemana-mana lagi," batin Cira.
Mereka pun makan siang bersama di siang itu.
______
Cira cukup terkejut saat Saskia menghampirinya dikantin hari ini. Alina sampai memberi isyarat seolah bertanya 'ada apa' pada Cira sampai guru Bahasa Inggris mereka itu ingin mengajak Cira mengobrol, namun Cira yang memang tak tahu apapun hanya mengendikkan bahu.
Cira bisa menebak jika ini ada kaitannya dengan Rasta. Ya, pasti gurunya ingin membicarakan pasal pria itu, yang Cira tahu sebagai mantan pacar sang guru.
Alina beringsut menjauh karena Saskia seolah memberi kode untuknya meninggalkan area itu sebab ia ingin berbicara berdua dengan Cira.
"Ci, boleh Saya tanya sesuatu?"
"Soal apa, Bu? Om Rasta?" ucap Cira to the point.
Saskia mengangguk. "Saya baru tahu kalau kamu keponakannya Rasta."
Cira melongo mendengar penuturan Saskia yang menyimpulkan hal begitu saja tanpa bertanya dulu, padahal bisa saja sekarang gurunya ini menanyakan hubungan antara Cira dan Rasta, kan? Namun ternyata Saskia sudah menyimpulkan lebih dulu.
"Ibu ada perlu apa sama Om Rasta? Entar aku sampein..." kata Cira akhirnya, ia tak berniat meluruskan kesalahpahaman tentang kesimpulan yang dibuat oleh Saskia.
__ADS_1
"Kamu ada nomor hp Om kamu? Boleh saya minta?"
"Ada sih, tapi nanti kalau aku kasi Om Rasta bisa marah, kan nanti aku juga yang repot, Bu. Soalnya Om aku kalo udah ngambek susah dibujuk."
Saskia tersenyum pada Cira yang memasang wajah biasa-biasa saja malah terkesan jutek padanya.
"Rasta gak mungkin marah, dia gak pernah marah sama saya," papar Saskia percaya diri.
"Oh gitu, ya? Kalau gitu ibu minta aja sama orangnya langsung."
"Kapan ya saya bisa ketemu Rasta lagi?" tanya Saskia.
"Ngarep banget!" batin Cira tak senang, tapi ia tak bisa mengatakan hal itu karena kenyataannya Saskia adalah gurunya.
"Berdoa aja biar Om jemput aku kesini," kata Cira akhirnya.
"Oh, emang Rasta suka jemputin kamu, ya?"
Cira mengangguk. Beberapa hari ini Rasta memang selalu menjemputnya.
_____
"Cil..." Rasta melambaikan tangan pada Cira yang sudah terlihat dipandangan matanya. Cira berdecak, bukan ia tak suka dijemput Rasta, tapi sekarang ia tahu jika Saskia pasti tengah menunggu Rasta datang ke sekolah demi menjemputnya.
Baru saja Cira ingin bergerak menuju arah dimana Rasta berada, tiba-tiba sang guru sudah lebih dulu menghampiri pria itu.
"Kia, maaf ya... aku balik dulu, mau anter Cira." Rasta tersenyum pada Saskia, namun Cira memanyunkan bibirnya karena tak menyukai hal itu.
"Tapi kamu belom kasi aku nomor hp kamu, Ta," kata Saskia.
"Aku rasa enggak perlu."
"Kenapa gitu, Ta?"
"Iya, aku gak tertarik jalin komunikasi lagi sama mantan." Rasta menekankan kata 'mantan' pada Saskia.
Saskia terdiam, sementara Rasta menarik lengan Cira kemudian memaksa gadis itu agar segera masuk kedalam mobil yang sudah ia bukakan pintu sebelumnya.
"Om, gak suka banget ya sama Bu Saskia?"
"Suka, dulu..."
"Sekarang?"
"Enggaklah!" jawab Rasta cepat.
"Kenapa?"
__ADS_1
Rasta hanya tertawa pelan tak menjawab pertanyaan Cira karena ia juga tak tahu harus menjawab apa pada Cira.
Mobil yang dikendarai Rasta mulai berjalan membelah jalanan. Tapi kedua orang didalamnya hanya diam tidak mengeluarkan suara sama sekali. Rasta yang tidak suka didiamkan oleh Cira kembali mengajak gadis itu bicara.
"Makan di cafe dulu yuk! Gue laper," ajaknya menatap Cira yang banyak diam.
"Terserah om aja!"
"Lo cemburu lagi sama Kia?"
Cira tak menjawab, ia memalingkan wajah ke arah jalanan dan Rasta justru kembali tertawa melihat sikap Cira itu.
"Om kenapa jemput aku terus?"
"Gak boleh emang? Bosen lo gue jemput?"
"Gak gitu, aku cuma heran aja. Katanya suruh aku suka sama cowok lain aja, tapi gak biarin aku deket sama cowok lain."
"Kata siapa? Boleh kok lo deket sama cowok!"
"Beneran, Om? Bukannya aku gak boleh pacaran?" Cira menoleh pada Rasta, padahal sejak tadi ia bicara tanpa melihat pada pria itu.
"Gue berubah pikiran, boleh kok kalo lo mau pacaran. Kan gue udah bilang kemaren kalo lo lebih baik suka sama cowok lain daripada sama gue!"
"Serius, Om?"
Rasta menempeleng kepala Cira. "Semangat banget lo mau pacaran!"
"Gak gitu, Om! Cuma aku gak percaya aja om bisa berubah pikiran gini..." Cira tertawa pelan padahal ia menduga Rasta memang tak mau dengannya hingga menyuruhnya pacaran dengan orang lain. Cira tertawa hanya sebagai kamuflase untuk menutupi perasaannya yang kecewa pada pria itu.
"Iya, tapi kan gue udah pernah bilang sama lo... kalo mau pacaran sama cowok yang berani ajak lo berkomitmen, nah... kalo udah nemu cowok yang begitu baru deh boleh pacaran. Tapi kalo yang main-main ya gak boleh!"
"Ya udah deh..." kata Cira akhirnya. "Tapi mulai besok gak usah jemput aku lagi ya, Om!" kata Cira.
"Kenapa? Udah dapat kandidat lo?" tanya Rasta terkejut.
"Enggak, bukan karena aku, tapi karena aku gak mau Om ketemu sama Bu Saskia lagi," kata Cira jujur.
Rasta tertawa pelan, entah kenapa ia suka dicemburui oleh gadis kecil ini. Selain alasan itu, Ia juga tak mau membiarkan Cira pergi bersama lelaki lain meski dia mengatakan Cira lebih baik suka pada cowok lain ketimbang dirinya. Egois, ya? iya... hahahaha.
"Ya udah, besok gue gak jemput lo... yang penting lo jangan pulang bareng cowok kemarin itu, ya!" kata Rasta mewanti-wanti.
"Iya, enggak..." Cira senang karena Rasta mau mengerti rasa cemburunya dan tak mau menunjukkan wajah ke sekolah Cira lagi.
"Oke, kita makan disitu aja..." Rasta menunjuk sebuah cafe yang cukup nyaman dan Cira pun menyetujuinya.
*****
__ADS_1