
Pagi - pagi sekali, Mama Ken sudah bersiap dan sarapan pagi bersama putera semata wayangnya itu.
"Gimana kabar Abang, Ma?" tanya Ken.
"Alhamdulillah sehat, dia benar - benar bisa diandalkan untuk membantu bisnis Mama." Mama tersenyum lembut, seperti biasanya.
"Oh, baguslah... nanti aku mau ketemu dia pas weekend. Kirimin nomor Abang ke aku ya, Ma. Biar enak komunikasinya, udah lama gak ketemu."
"Iya, dia juga lagi sibuk di kantor jadi belum sempat kesini. Nanti Mama kirimin nomornya ya."
"Oke bos."
"Kamu... gak mau bantu bisnis Mama juga?"
"Aku? Hahaha..." Ken tertawa pelan.
"Kenapa?"
"Belum minat, Ma."
"Ya makanya dipelajari, Ken!"
"Nanti deh, Ma! Aku hobi nya otomotif!" kata Ken mengunyah roti panggang dalam genggamannya.
"Hmmm... ya terserah kamu saja!" ucap Mama.
Mereka pun melanjutkan sesi sarapan dengan mengobrol ringan.
-
"Ken, Mama berangkat ya, kalau kamu perlu sesuatu minta tolong sama Mbak Warsih saja, oke?"
"Hmm..."
"Nanti siang jangan lupa shalat dzuhur ya, Ken!"
"Hmm..."
Mama Ken terkikik geli melihat sikap datar puteranya itu, sebelum akhirnya, Mama pun berlalu pergi meninggalkan Ken dikediamannya.
Ken sendiri merasa cukup senang tinggal bersama Mamanya yang cerewet, sudah lama hidupnya tidak diperhatikan dengan detail seperti ini.
Terkadang, ia merasa Mamanya mirip seseorang, mirip gadis itu...
Hah, si-al! Berapa lama lagi ia harus belajar menjadi anak baik? Berapa lama lagi ia harus menahan rindunya terhadap gadis itu?
Sedangkan rasa rindunya sudah mencapai ubun - ubun, bahkan mungkin sudah menguap keluar dari permukaan kulit kepalanya. Tidak tahan lagi.
Namun, entah kenapa Mamanya masih mencegahnya mencari gadis itu. Ia sebenarnya takut gadis itu terlanjur pergi dari daerah ini sebelum sempat ia temui, namun Mama meyakinkannya jika semua niat baik akan berakhir baik.
__ADS_1
Jika diibaratkan, kepalanya hampir meledak karena kini dipikirannya hanya ada sosok gadis itu.
Gadis yang tengah terpejam dengan surai rambut yang terurai panjang, lalu gadis itu menyebut namanya dalam tidur dengan suara yang paling lembut.
Sia lan!
Kenapa bayangan wajah Zahra pada malam itu selalu menghiasi setiap hari yang ia lalui? Ini semua benar - benar tidak mudah, sebab ia menanggung rindu yang entah kapan akan kunjung bersua.
Ia pun mencoba menepiskan pikiran tentang Zahra, karena ia ingin fokus memperbaiki diri dulu. Benar kata Mama, ini bukan saat yang tepat. Jika ia masih dalam keadaan seperti sekarang, mungkin Zahra akan menolaknya mentah-mentah.
Akhirnya, dengan keadaan rumah yang sudah sepi sebab kepergian sang Mama, Ken pun jadi merasa sangat bosan. Bagaimana tidak, seminggu ini dia benar - benar menjadi anak rumahan. Tidak kemana - mana, berniat jadi anak baik. Selalu mengingat lagi ucapan Mamanya.
"Sabar Ken, jika niat kamu baik, semuanya akan berakhir baik pula, kalian pasti akan bertemu."
Maka dari itu, Ken ingin mencoba merealisasikan petuah sang Mama.
Tentu saja semua terasa sulit bagi seorang Ken yang sudah biasa hidup tanpa aturan, tapi Ken harus tetap sabar, ia yakin ia bisa karena sejatinya ia sudah pernah hidup teratur seperti ini--saat masih tinggal lengkap bersama kedua orangtuanya dulu.
Ken beralih meraih katalog - katalog yang tersusun di buffet bawah meja dekat ia terduduk, demi mengusir rasa bosannya. Ia mulai memperhatikan gambar - gambar itu dengan minat yang bisa dibilang fifty - fifty. Alias antara tertarik dan tidak.
Bagaimana mungkin ia tertarik dengan hal semacam ini?
"Hah! Mama ada - ada aja, mana mau gue terjun di bisnis Mama. Bisnis gue udah paling cocok di bidang otomotif!" gerutu Ken pelan sambil terus membuka lembaran gambar - gambar katalog yang ia lihat.
Setelah melihat isi katalog tanpa minat yang berlebih, ia beralih mengambil laptop miliknya. Walau tidak bekerja bukan berarti harus bermalas - malasan terus, ada saham yang harus ia pantau perkembangannya.
Ia mulai fokus pada kurva yang terpampang di layar datar itu. Jika ada yang sudah memberi keuntungan namun dirasa tak ada peluang lagi, ia tak segan - segan menjualnya. Begitu terus permainan saham yang ia geluti selama bertahun - tahun tanpa pernah merasai keuntungannya.
"Benar kata Mama, kenapa aku harus repot - repot ngelamar kerjaan?" Ia terkekeh sendirian sambil memperhatikan lonjakan saham yang ia teliti.
"Apa jadinya kalau saham yang di kantor Papa aku tarik semua ya," Ken mengendikkan bahu sambil membayangkan bagaimana wajah Frans yang begitu murka saat ia mendepak pria itu dari perusahaan Bagas begitu saja, lalu membiarkan Frans luntang - lantung dijalanan tanpa pekerjaan.
"Dia saja bisa memblack-list namaku... kenapa aku tidak bisa?" ucap Ken dengan senyum liciknya.
Tapi, Ken masih berpikir logis. Mana mungkin ia menarik saham sampai habis di perusahaan Bagas, bagaimanapun ia masih menghargai Bagas sebagai orangtuanya selama ini. Tapi, membiarkan Frans menjadi pengangguran, tentu akan ia pertimbangkan mengenai hal itu.
Sampai satu pesan masuk ke ponsel Ken.
[Ken, ini Abang. Kita bertemu nanti malam ya. Nanti Abang share lokasinya]
_______
Weekend yang ditunggu - tunggu akhirnya tiba, Zahra sudah bersiap didepan tempat kost-nya. Rencananya hari ini Zaki dan Lala akan datang menjemputnya. Mereka yang akan menemani Zahra ke luar kota untuk mengunjungi makam Ibu kandung Zahra.
Perjalanan mereka dimulai cukup pagi, jam tujuh pagi Zaki dan Lala sudah tiba dan mereka langsung menuju ke pemakaman itu.
Zahra tidak akan mengunjungi tempat manapun hari ini karena tujuannya hanya nyekar ke makam ibunya. Walaupun ia ingin mengunjungi Bu Nurma di panti, namun niat itu ia urungkan mengingat ia takut bertemu Ken atau Frans di kota hari ini.
Sebelum tiba di pemakaman, Zahra mengunjungi kedai yang banyak menjual bunga segar. Zahra memilih bunga mawar putih dan meminta pekerja di kedai itu merangkainya menjadi sebuah buket bunga yang cantik.
__ADS_1
"Bagus nggak, La?" tanya Zahra menunjukkan buket itu pada Lala.
"Bagus banget..." jawab Lala.
"Ya sudah, kalau sudah siap kita langsung ke pemakaman saja!" usul Zaki menimpali.
"Oke," sahut kedua gadis dihadapan Zaki dengan serentak.
Perjalanan kembali dilakukan. Tak butuh waktu lama karena jarak dari kedai bunga ke pemakanan itu terbilang sangat dekat.
"Makamnya yang mana, Ra?" tanya Lala.
"Enggak tahu," sahut Zahra.
"Kita tanya sama pengelola makam saja," Lagi - lagi Zaki selalu bertindak memberi usul.
Zahra dan Lala pun mengangguk.
Mereka lalu menanyakan pada pihak pengelola makam, tentang keberadaan makam atas nama Charista Galandra. Pengelola makam langsung mengarahkan mereka ke tempat tujuan.
Setelah sama - sama berziarah dimakam itu, Lala dan Zaki lebih dulu undur diri sementara Zahra masih saja betah berlama - lama disana.
"Ra, kami tunggu di mobil ya!" kata Lala yang diangguki oleh Zahra.
Zahra juga merasa ingin sendirian di makam ini, ia ingin berkeluh - kesah, walaupun ia tahu yang ia tatap saat ini hanya sebuah batu nisan bertuliskan nama Ibundanya.
"Assalamu'alaikum, Ma ..." ucapnya pelan dan nyaris tercekat. Airmatanya luruh begitu saja.
"Hana gak tahu panggilan apa yang ingin Mama dengar dari Hana. Tapi, Hana sangat ingin memanggil seseorang dengan sebutan 'Mama' karena selama ini Hana tidak memiliki Mama..." Ia mengusap sekilas airmatanya yang menggenang di pipi.
"Boleh ya, kalau Hana manggilnya Mama saja?"
Zahra tahu, pertanyaannya itu takkan terjawab sampai kapanpun.
"Ma, Hana tidak tahu rupa wajah Mama seperti apa. Kita tidak pernah berjumpa, adapun mungkin saat Hana masih bayi. Hana ingin melihat wajah cantik Mama, jadi senin besok, Tante Devia sudah berjanji akan membawa album foto miliknya yang masih ada menyimpan kenangan tentang Mama."
"... Meskipun kita gak pernah berjumpa, Hana tahu Mama amat menyanyangi Hana dan Kak Dirga. Hana berdoa, semoga segala amal kebaikan Mama selama didunia bisa menempatkan Mama ditempat terbaik di sisi Allah, ya, Ma."
Zahra meletakkan buket bunga mawar putihnya didepan batu nisan Charista.
"Doakan Hana, agar bisa menemukan Kak Dirga, Hana ingin kami bisa berkumpul meski hanya berdua. Hana gak mau hidup terpisah - pisah lagi, Ma."
"Oh iya, Hana suka dengan nama pemberian Mama pada Hana, semoga kelak Hana bisa menggunakan nama itu ya, semoga Hana dan Kak Dirga tidak hidup dalam persembunyian lagi." Zahra bangkit dari posisinya, kemudian berbalik badan.
Namun, alangkah terkejutnya Hana saat hampir menabrak tubuh seseorang yang telah berdiri dibelakangnya--entah sejak kapan.
"Hana..." ucap sosok itu lirih.
Zahra pun mengadah demi menatap sosok yang menyebut namanya itu.
__ADS_1
...Bersambung ......