Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Datang lagi


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Zahra ingin pergi makan siang bersama Dewi. Namun saat di lobby, lagi - lagi ia melihat sosok yang sama seperti yang ia lihat kemarin, membuatnya mundur perlahan -lahan di belakang tubuh Dewi.


"Kenapa, Han?" tanya Dewi keheranan.


"Aku titip makanan aja sama kamu, ya. Aku gak bisa lewati lobby."


"Tapi, kenapa?" tanya Dewi masih penasaran.


"Aku balik ke atas, tolong ya, Wi ..."


Zahra segera berbalik badan dan kembali masuk ke lift sebelum sosok itu menyadari keberadaannya.


"Untuk apa dia datang kesini lagi? Apa dia sudah tahu aku disini dan sengaja ingin menemuiku? Atau dia ada urusan pekerjaan disini?" batin Zahra merasa cemas.


Sampai diruangannya, Zahra mendadak takut. Ia tidak mau bertemu dengan sosok itu lagi. Meskipun ia tahu semua permasalahan harus dihadapi, tapi ia tak siap harus bertemu dengan sosok itu lagi.


"Han, kamu gak makan siang?" Tampak sosok Zaki yang terlihat memunculkan kepalanya dari sebalik pintu.


"Aku titip makanan sama Dewi, Zak! Ada apa?"


"Aku cuma mau bilang, kalau permasalahan cincin bayi itu aku kasi tahu ke Mama, boleh gak? Mungkin Mama bisa membantu juga," kata Zaki.


Zahra mengangguk saja, karena sejak awal ia sudah ingin bertanya dengan Devia lebih dulu.


"Kamu kenapa?" Zaki masuk kedalam ruangan dan menyadari raut wajah Zahra yang terlihat berbeda, sedikit pucat.


Zahra menggeleng lemah, ia hanya merasa cemas dengan sosok di lobby yang kembali datang ke gedung hari ini.


"Kamu sakit?" tebak Zaki dan Zahra kembali menggeleng.


"Kemarin kamu juga sempat begini ... sepulang dari meeting, pas dari lobby dan mau balik ke atas! Kamu sebenarnya kenapa, Han?" imbuh Zaki menuntut jawaban.


"Gak apa - apa, kok! Ehm, Mama kamu gak datang ke kantor lagi, ya?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan demi berusaha menghindar dari pertanyaan Zaki.


"Iya, Mama agak sibuk... karena ada---"


"Hana... ini makanan kamu!" Tiba-tiba Dewi datang sambil menenteng plastik berisi makanan.


"Oh, makasih ya, Wi! Makanan kamu jadi dibungkus juga?" tanya Zahra.


"Iya, aku mana mau makan sendirian di luar," kata Dewi manyun.


"Maaf ya," sahut Zahra tak enak hati.

__ADS_1


"Kenapa kalian gak makan dibawah?" tanya Zaki merasa ada yang aneh.


"Tau tu, Hana! Padahal udah sampai lobby tadi, tapi mendadak dia mau balik ke atas!" sahut Dewi mengendikkan bahu.


Zaki menatap Zahra, agaknya menuntut jawaban gadis itu.


"Aku cuma gak enak badan, Zak!" bohong Zahra.


"Kemarin kamu juga begini sehabis dari lobby. Kayak abis lihat hantu! Apa yang kamu lihat di lobby, Han?" Rupanya Zaki kembali ke pertanyaannya yang sempat dihindari Zahra tadi.


"Ehm... gak ada."


"Iya, Han. Kamu pucet banget deh jadinya! tadi gak gitu!" timpal Dewi sembari menarik kursi untuk makan bersama didekat meja lipat yang ada diruangan itu.


"Kita makan dulu, yuk! Mungkin karena aku udah laper banget!" jawab Zahra ikut duduk dihadapan Dewi.


"Kamu udah makan, Zak?" tanya Dewi mengarah pada Zaki.


Zaki mengangguk. "Lanjut aja deh, kalian!" ucapnya.


Kemudian, pria itu pun berlalu pergi dari ruangan Zahra dengan perasaan yang tak puas. Zaki merasa ada yang ditutupi Zahra dan tak ingin terus - terang kepadanya.


______


Beberapa hari berikutnya, Zahra harus berhati - hati setiap melewati lobby, ia takut bertemu dengan sosok yang sama.


"Ra!" seru sosok itu.


Zahra mundur beberapa langkah kebelakang, ingin lari dan menghindar tapi tidak bisa. Ingin teriak tapi rasanya tidak mungkin karena lidahnya mendadak kelu untuk berbicara. Ia benar - benar terpojok, disudut ruangan yang sepi pula.


"Kamu benar ada di sini! Kamu bekerja disini!" sosok itu tersenyum penuh kepuasan saat mendapati sosok Zahra yang ditunggunya hampir seminggu ini digedung yang sama.


"Ka-kamu mau a-apa, Frans?" tanya Zahra akhirnya, ia benci kenapa suaranya harus tercekat saat menghadapi sosok ini, karena itu seperti menunjukkan kelemahannya saat berada dihadapan sosok yang tak lain adalah Frans.


"Kamu gak bisa begini, Ra!" kata Frans memulai pembicaraan.


"Begini gimana?"


"Kamu gak bisa bekerja disini! Kamu lupa kontrak kerja kamu diperusahaan Papa aku!" Mata Frans tampak berkilat penuh kesal pada Zahra.


"A-aku ..."


"Kita balik ke kota dan kamu balik kerja di perusahaan Papa! Kamu menyalahi aturan kerja! Kamu bisa kena finalty, Ra!" ucap Frans mencecar Zahra.

__ADS_1


Zahra menelan salivanya dengan sangat sulit, ya harus ia akui jika ia memang masih terikat kontrak kerja di perusahaan Bagas dan ia telah melakukan pelanggaran aturan. Apakah ini saat yang sesungguhnya? Saat ia harus membayar finalty pada perusahaan tempatnya dulu pernah mengabdi.


"Kenapa, Ra? Kamu tahu kan kesalahan kamu?" tanya Frans menekankan. Tak sia - sia ia membayar orang untuk mencari informasi keberadaan Zahra sehingga dengan mudah ia bisa menemukan posisi Zahra. Punya uang memang sangat memudahkan segala urusannya.


"Apa aku harus membayar biaya finalty itu?" tanya Zahra dengan suara lemah.


"Ya, kalau kamu ketahuan bekerja ditempat lain seperti ini sebelum putus kontrak... seharusnya memang begitu!" sahut Frans seenaknya.


"Tapi..."


"Kenapa? Kamu gak punya biaya untuk membayarnya, ya? Kamu tenang aja, Ra! Aku mana pernah sih mempersulit kamu, aku gak akan bilang ke pihak perusahaan tentang hal ini. Kepergian kamu selama ini bisa aku anggap sebagai cuti... tapi tetap ada syaratnya."


"Syarat?"


"Ya, kamu tahu kan dalam dunia bisnis itu gak ada yang gratis...semua mencari benefit, keuntungan masing-masing."


"Frans... kamu mau memanfaatkan aku?" Zahra menatap Frans dengan tatapan marah.


Namun, Frans justru menyeringai senang dengan mode perlawanan yang diberikan gadis didepannya ini.


"Kamu mau melawan aku, Ra?" tanyanya dengan senyum mencibir.


"Frans, kamu keterlaluan!" Zahra ingin segera berlalu meninggalkan Frans namun pria itu menahan lengan Zahra.


"Lepasin tangan aku, Frans! Aku gak suka!" kata Zahra tegas, ia tak suka ada sentuhan fisik dengan lawan jenis seperti ini.


Frans tersenyum licik. "Baru juga aku pegang, Ra! Kamu lupa ... apa yang diperbuat Ken sama kamu jauh lebih daripada ini!" kata Frans dengan entengnya.


Plak!!!


Zahra terkejut dengan ulahnya sendiri, ia baru saja menampar Frans yang terdengar merendahkannya, begitu pula Frans yang menampilkan wajah syok atas perlakuan Zahra.


"Kamu ... nampar aku, Ra?" Frans menatap Zahra dengan tatapan marah.


Zahra terdiam, tadi ia refleks menamoar Frans, perlakuan itu terjadi diluar kendalinya, karena ia tak senang dengan ucapan Frans yang begitu merendahkannya tadi.


"Nampaknya kamu harus selalu diingatkan ya, Ra! Kamu itu udah gak seberharga dulu akibat ulah Ken! Tapi, harus aku akui jika aku masih menginginkan kamu, jadi jika kamu mau tahu syarat agar terbebas dari biaya finalty perusahaan... menikahlah dengan aku, Ra!"


"Kamu keterlaluan, Frans!" Zahra sudah menitikkan airmatanya, ia benar - benar seperti wanita yang tak berharga sebab ucapan Frans yang terlalu merendahkannya.


"Jangan jual mahal, Ra! Sudah baik aku masih mau sama kamu! Kalau saja perasaan aku gak memilih kamu, aku mana mau sama gadis bekas Ken. Teruntuk kamu aku berikan pengecualian!"


Zahra ingin sekali menampar Frans untuk kedua kalinya, tapi tiba - tiba suara seseorang menyela diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Ada apa ini? Hana?"


...Bersambung ......


__ADS_2