Cinta Terbalut Nista

Cinta Terbalut Nista
Acara pernikahan.


__ADS_3

Pintu kedatangan Bandara sangat padat, Ksn dan Zahra tiba di kota kelahiran pada siang hari.


Kepulangan mereka tidak diketahui siapapun karena mereka akan membuat kejutan untuk semua keluarga.


Acara pernikahan Rasta dan Cira adalah besok dan hari ini Ken dan Zahra memutuskan untuk menginap dihotel dulu barulah akan pulang ke kediaman mereka, besok.


"Sayang, apa gak ssharusnya kita pulang ke rumah buat bantu-bantu acara besok?" tanya Zahra begitu tiba di Hotel.


"Bantu apaan? Kamu juga lagi hamil, gitu!" decak Ken.


"Jadi kita beneran datang pas acara aja?"


"Iya sayang, udah... sekarang kamu istirahat aja ya, kamu pasti lelah abis dari perjalanan." Ken mengecup pipi Zahra kiri dan kanan, kemudian tak lupa mengecup perut istrinya yang sudah membuncit.


"Kamu mau kemana, Ken?"


"Aku mau ke Bengkel sebentar, udah lama aku tinggal, sekalian liatin anak-anak di Yayasan."


"Baiklah, Ken. Titip salam sama semua anak-anak, ya. Sama Rara juga."


Ken mengangguk. Sampai saat ini, Zahra belum menngetahui jika Yayasan itu adalah milik suaminy, meski sejak tahu tetang keberadaan Yayasan itu Zahra sering kesana untuk mengirim makanan atau kebutuhan sehari-hari tapi tak ada satupun yang membahas mengenai kepemilikan Yayasan.


_____


Rasta sedang mencoba pakaian yang akan ia kenakan esok hari di acara pernikahannya. Ia sangat gugup, akhirnya ia memutuskan juga untuk menikahi Cira sang gadis kecilnya. Dikepalanya yang terkadang omes itu, selalu memikirkan bagaimana caranya nanti melewati malam pertama bersama Cira.


"Napa lo?" Chandra menghampiri Rasta dikamar pria itu.


"Gak apa-apa," kata Rasta mengelak.


"Gue gak denger suara mobil lo!" kata Rasta, yang ia dengar justru suara motor. "Naik motor lo?" tanyanya.


"Yoi..." Chandra menggoyang-goyangkan kunci motornya didepan wajah Rasta.


"Motor baru ya?" tanya Rasta tak acuh, ia kembali membuka jas yang sempat ia coba tadi.


"Hmm, biasa. Kawan gue rupanya tajir semua, gue pikir .... selama ini bokap gue yang paling tajir karena jadi b a n d a r," kekeh Chandra.Ia baru mengetahui jika Ken dan Rasta adalah anak orang-orang yang berpengaruh di Kotanya, bahkan di Negaranya.


"Maksud lo? Motor baru lo dikasi sama kawan lo yang tajir?"


"Yoi, Bro... gue cuma bantu dikit dihadiahin motor gede. Meski gue masih mampu beli itu motor tapi kalo gratis siapa yang bisa nolak, coba?"


"Anjirrr... baek bener kawan lo!"


"Iya dong! Gak kayak lo!" kata Chandra mencibir Rasta.

__ADS_1


"Ye, gini gini gue juga suka traktir lo minum."


"Minum doang! Lo bayarin dong club bokap gue biar atas nama gue!" tantang Chandra.


"Lo minta aja ganti nama sama bokap lo! Minta sama gue hal begituan, itu namanya gak ada akhlak!" kekeh Rasta.


"Ken aja mau beliin gue moge padahal gue cuma bantuin buat manas-manasin lo soal Cira doang!" ucap Chandra kelepasan.


Rasta terdiam, Chandra pun terdiam karena baru menyadari mulutnya yang terlanjur berbicara sangat jauh.


"Jadi motor lo dari Ken? Jadi tingkah lo ke Cira itu akal-akalan kalian berdua?" tanya Rasta dengan wajah memerah.


Chandra menggaruk kepalanya. "Iya," jawabnya lesu.


"Dasar licik lo bedua ya!" cetus Rasta sembari menempeleng kepala Chandra.


Chandra terkekeh. "Tapi, lo tetap mau nikahin Cira, kan?" tanyanya.


"Kalo enggak?"


"Kalo enggak ya gue siap jadi pengantin pengganti," jawab Chandra jujur.


"Enak aja lo! Jangan coba-coba lo!" ancam Rasta.


"Cari yang lain deh, jangan calon istri gue!"


Chandra terkekeh pelan. "Jadi... udah bucin nih ceritanya?" cibirnya.


Rasta hanya tersenyum smirk, karena sebenarnya ia pun tidak tahu bagaimana mendefinisikan perasaannya terhadap Cira. Ia menyayangi gadis itu, ia juga tidak mau Cira menikah dengan lelaki lain, tapi untuk mengatakan bahwa ia mencintai Cira, ia belum sepenuhnya yakin.


______


Ken dan Zahra hadir tepat sebelum Rasta mengucapkan janji pernikahan. Kedatangan pasangan suami kstri itu membuat suasanaa menjadi riuh, terutama Devia yang sangat merindukan anak dan menantunya.


"Ken, Hana...." Devia memeluk haru tubuh putera semata wayangnya kemudian bergantian memeluk sang menantu.


"Kenapa enggak bilang mau pulang?" protes Devia memukul lengan Ken.


"Udah bilang sama Rasta, Ma."


"Iya, tapi dia kira kalian hanya bercanda. Hana juga lagi hamil tua, kenapa dipaksakan?"


"Sekalian besok rencananya aku mau buat syukuran 7 bulannya Hana di Yayasan, Ma." Ken menatap Zahra dan istrinya cukup terkejut mendengar hal ini sebab Ken justru belum mengatakan kepadanya.


"Yayasan punya kamu yang dijalan mawar?" terka Devia, tentu ia thu segalanya karena dia mengikuti gerak-gerik serta tindak-tanduk anaknya sejak dulu meski mereka terpisah jarak.

__ADS_1


Ken mengangguk, sementar Zahra menatap Ken lagi dengan tatapan meminta penjelasan.


"Besok kita kesana ya, bareng pengantin baru juga kalau mereka mau." Ken mengedipkan sebelah matanya sebelum Zahra merajuk sebab ia menyembunyikan kenyataan ini.


____


Suara Rasta yang mengucap ijab qabul terdengar bergetar, dikarenakan Cira adalah anak yatim piatu, walinya digantikan oleh wali hakim sebab tidak mengetahui asal usul gadis itu.


Rasta sempat salah dua kali dalam menyebutkan nama Cira, dikarenakan ia gugup luar biasa, semua orang menjadi harap-harap cemas dengan hal itu. Dikesempatan ketiga akhirnya Rasta bisa mengucapkan ikrarnya dengan lantang dan tidak salah lagi. Maka resmilah mereka bersua menjadi sepasang suami istri.


Rasta memberikan mahar sebuah kalung berlian kepada Cira dan memakaikannya di leher gadis itu. Cira tampak tersenyum bahagia namun ia juga menangis haru. Cira berharap ini adalah pernikahan pertama dan terakhirnya, ia bertekad akan membuat Rasta bertekuk lutut padanya.


Meski begitu, keduanya tampak serasi meski umur mereka terpaut 13 tahun.


Disebabkan Cira yang masih sekolah, pernikahan Rasta dan Cira masih harus dirahasiakan. Yang hadir dalam acara itu hanyalah pihak keluarga dan orang-orang terdekat saja.


Cira hanya mengundang Alina karena ia percaya Alina tidak akan membongkar hal ini sampai mereka benar-benar menyelesaikan jenjang kelas 12 di sekolah mereka.


Sementara Rasta, ia mengundang beberapa kerabatnya, Mira, sekretarisnya dan Chandra teman sependosanya.


Disana juga ada Zaki yang datang bersama Lala, mereka juga akan segera menikah ditahun depan.


"Selamat ya, Bro. Perasaan aku duluan yang pacaran eh kamu yang duluan menikah," kata Zaki pada Rasta. Rasta hanya nyengir mendengar godaan Zaki. Lala juga mengucapkan selamat atas pernikahan Rasta dan Cira.


Seperginya Zaki dan Lala, tinggalah Rasta dan Cira yang duduk bersisian dikursi kebesaran mereka dalam acara ini.


"Setelah ini, kamu jangan tinggal disini lagi..." bisik Rasta pada Cira.


"Terus?"


"Ikut ke rumahku lah, kamu kan udah jadi istriku."


"Harus gitu ya, Om?"


"Iya lah! Dan suka suka aku mau ngapain kamu!" kata Rasta dengan senyum tengilnya.


Glek...


Cira menelan salivanya dengan sulit. Apa maksud Rasta dengan ucapannya yang terdengar absurd itu? Cira menggeleng keras.


"Malam ini aku tetap disini ya, Om! Kak Hana dan Abang Ken ada disini soalnya," kata Cira bernegosiasi.


"Apa hubungannya dengan mereka? Mereka juga punya jadwal sendiri." Rasta mengangkat bahu cuek, membuat jantung Cira terasa melorot. Bukan masalah apaa-apa, Cira tentu tahu apa yang diinginkan oleh Om tenfilnya yang sudah menjadi suaminya ini. Tapi, Cira ingin itu terjadi setelah dia lulus sekolah, atau jika pun sampai terjadi sekarang, ia ingin jika Rasta benar-benar sudah memiliki rasa cinta untuknya, bukan hanya karena kewajiban semata.


*****

__ADS_1


__ADS_2