
Pagi-pagi sekali, Ken dan Rasta sudah berangkat ke tempat yang diberitahuan Reno, sebuah terminal yang sempat dikunjungi Zahra.
"Lo yakin kalo Hana sekarang tinggal disekitar sini?" tanya Rasta.
Ken mengendikkan bahunya, karena tak tahu harus menjawab apa. Ia pun merasa antara yakin tak yakin.
"Ini udah sebulan berlalu, gue rasa kalopun dia berkunjung kesini, dia pasti udah ngontrak di daerah ini," ucap Rasta lagi.
"Iya, tapi dimana? Buntu gue!" Ken mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Gue laper, Cukk! Makan dulu boleh enggak? Gak bisa mikir gue kalo laper," tawar Rasta dan Ken mengangguk mengingat hari memang sudah beranjak siang.
"Baeklah," Ken mengendarai mobil Rasta menuju tempat makan terdekat.
Tak berapa lama, mereka pun tiba disebuah rumah makan padang yang terletak didaerah yang sama.
"Gue denger lo cari kerjaan ya?" tanya Rasta. Ken memang tak menceritakan soal ini pada kawan karibnya itu, ia belum terbuka pada Rasta soal dicabutnya namanya dari Hak waris keluarga.
Ken mengangguk sekilas sembari menyeruput es teh manis pesanannya.
"Gue kasi lo ide biar dapet duit, mau gak lo?" kata Rasta.
"Apaan? Jangan aneh-aneh lo!"
Rasta terkekeh. "Gak lah! Lo pikir, gue mau ngasih lo job apaan? jadi p e n g e d a r, gitu?" terkanya.
Ken mengangkat bahu cuek.
"Lo liat-liat harga saham sih, Men! Siapa tahu otak bisnis lo bisa baca pergerakan saham yang mujur..." usul Rasta.
Ken tersenyum kecil dengan usul yang diberikan Rasta padanya.
"Kalo cocok, lumayan kan... tapi pahami resiko nya juga ntar..." sambung Rasta mewanti-wanti.
"Iya, nanti gue pikirin!" ucap Ken santai.
Seusai makan siang, mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini Rasta yang membawa mobil tuanya itu, mereka tak punya tujuan sebenarnya, hanya berkeliling pusat-pusat keramaian dan sesekali menepi ditepi jalan.
Brakkk!!
Ken dan Rasta saling pandang satu sama lain.
"Parah lo! Lo tabrak mobil didepan?" cecar Ken tak habis pikir.
"Gue gak sengaja, dia yang ngerem mendadak, Men! Haisss..." gerutu Rasta sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ken dengan inisiatifnya, membuka seatbelt dan turun saat itu juga, ia ingin meminta maaf atas keteledoran Rasta-- meskipun jika diperhitungkan ini tetaplah kesalahan pengemudi mobil depan yang mengerem secara mendadak.
Bersamaan dengan itu, pengendara yang mengendarai mobil didepan juga turun.
Ken menatapnya, begitupun sang empunya mobil, sama-sama menatap satu sama lain.
Cukup lama mereka bertatapan sampai Ken tersadar dengan situasi. Ia bergerak ingin kembali masuk ke dalam mobil tua milik Rasta.
__ADS_1
"Ken ..." pemilik mobil itu menyebut nama Ken dengan lirih namun Ken justru tergesa untuk kembali masuk ke dalam seat penumpang-- dimobil Rasta.
"Kenapa?" tanya Rasta yang melihat Ken kembali masuk mobil bahkan sebelum mengucap apapun pada sang pengemudi di mobil tadi.
"Cabut sekarang!!" kata Ken pelan namun menekankan kata-katanya itu.
Rasta terheran-heran melihat Ken, dia ingin menuruti Ken, tapi dia juga tak sampai hati jika pergi begitu saja dan meninggalkan mobil yang ditabraknya--walau itu tidak sengaja tapi bemper mobil itu tampak cukup penyok.
"Tapi..." Rasta ingin protes tapi Ken sudah menyorotnya dengan tatapan tajam.
Namun ternyata, sebelum Rasta sempat menyalakan mesin mobilnya kembali, kaca jendela mobilnya sudah terlanjur diketuk dari arah luar. Bukan kaca dibagian pengemudi, melainkan kaca dibagian seat yang Ken tempati.
Tok tok
"Ken...."
Ken menghela nafas jengah.
Rasta mengode nya dengan isyarat mata. "Siapa?" tanya Rasta tanpa bersuara.
Tok tok tok
Kaca itu diketuk lagi, seolah terdengar menuntut agar pintu mobil segera dibuka.
"Lo kenal?" tanya Rasta kemudian pada Ken, namun pria gondorng disebelahnya itu tetap terdiam sembari menyandarkan kepalanya di jok.
Kemudian, Ken hanya mengendikkan bahu untuk menjawab Rasta.
Ken baru ingin mengucap sepatah kata dengan wajah dinginnya yang sengaja ia pasang, namun orang itu segera memeluk tubuh Ken sebelum ia sempat mengeluarkan suara.
"Ken ... Mama rindu sekali, Ken!" orang itu menangis haru sambil memeluk tubuh Ken yang tegap dan menjulang.
Rasta yang ikut keluar dari mobil pun terperangah saat melihat dan mendengar ucapan orang itu, yang tak lain adalah seorang wanita-- yang menyebut dirinya sebagai 'Mama' bagi Ken.
"Jadi ini... Mama Ken?" batin Rasta terkejut.
"Ken, kamu sudah sebesar ini, Nak..." Wanita itu melepas pelukannya ditubuh Ken, lalu ia sampai berjinjit demi bisa memegangi bagian wajah Ken yang tampak datar.
Rasta pun memutuskan kembali masuk ke mobilnya, tak ingin mengganggu urusan Ken dengan wanita itu.
"Ken ... Mama ... tidak menyangka bisa bertemu kamu, Nak!"
Ken masih diam, entah apa yang dipikirkan pria itu sekarang. Namun kemudian dia menatap lawan bicaranya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Udah aktingnya?" tanya Ken dingin.
Wanita itu terkesiap, mundur selangkah dari tubuh jangkung milik Ken.
"Ken ..." lirih wanita yang sudah banjir airmata itu.
Ken tak mengucapkan satu patah katapun lagi, ia masuk kedalam mobil Rasta.
"Jalan, Ta!" titahnya dingin. Rasta yang tak mau terkena imbas dari pertemuan Ken dengan sang Ibu, hanya bisa menuruti kemauan kawan karibnya itu.
__ADS_1
"Ken... Ken... maafin Mama, Ken!" Wanita itu mengetuk kaca mobil sembari mengejar cepat mobil Rasta yang mulai bergerak meninggalkan tempat itu.
"Ken..." jerit wanita itu lagi--tepat disamping mobil Rasta--bahkan tubuhnya memepet body mobil tua itu. Tapi, Ken tetaplah Ken. Ia tetap sampai hati dan membiarkan saja keadaan yang sudah terlanjur seperti itu.
Mobil yang dikendarai Rasta mulai berjalan menjauh dengan kecepatan sedang.
Rasta melirik Ken yang sudah pasti tidak baik-baik saja sekarang.
"Sekarang kemana?" tanya Rasta, tak ingin membahas kejadian yang baru saja terjadi.
"Gue bakal cari penginapan disekitar sini, lo kalo mau balik, ya gak papa," jelas Ken.
"Sampai kapan lo di kota ini?" tanya Rasta lagi.
"Sampai gue nemuin Hana!"
"Kalo ternyata Hana gak disini, gimana?"
"Gue gak tahu, Ta ... gue cari Hana disini dulu dalam tiga hari ini, kalo gak ketemu titik terang lagi, baru gue balik!" terang Ken dan Rasta menganggukkan kepalanya.
Rasta mengantarkan Ken kepenginapan yang terdekat dari posisi mereka sekarang.
"Gue balik, ya! Gue gak bisa ikut nginep disini karena punya kerjaan yang gak bisa gue tinggalin! Kalo lo butuh apa-apa, lo hubungi gue! Nanti biar gue balik kesini buat jemput lo!"
"Siap!" Ken meninju akrab bahu Rasta dan mulai ingin beranjak.
"Yang tadi itu nyokap lo?" tanya Rasta memastikan-- walau ia yakin jika wanita tadi memanglah Ibu kandung Ken.
Ken menoleh. "Hmmm," katanya.
"Kenapa lo gak mau ngobrol sama dia?" tanya Rasta pelan.
Ken tertawa. "Lo bercanda? Ngobrol kata lo? Buat apa gue ngobrol sama orang yang udah ninggalin gue belasan tahun!" ucapnya bersungut-sungut.
"Ya, lo kan gak tahu pasti apa yang terjadi... kenapa nyokap lo ninggalin elo gitu aja dulu!"
Ken diam dengan ekspresi yang tak bisa ditebak, entah marah, entah sedih.
"Ya udah sih! Yang udah pergi ya pergi aja!" dengkus Ken cuek.
"Kenapa lo ngomong gitu? Hana yang pergi aja tetap lo cari, kan?"
"Itu udah lain cerita, Cuuk!" kata Ken.
Rasta tersenyum kecil. "Ya, gue cuma mau ingetin lo aja, Men! Lo sebenernya beruntung masih punya orangtua yang lengkap... gak kayak gue yang menyedihkan ini! Harusnya lo manfaatin kesempatan itu sebaik-baiknya, sebelum mereka udah gak bisa lo temuin lagi dibelahan bumi manapun!" ucap Rasta bijak sambil menepuk pundak Ken.
Ken terdiam, ucapan Rasta cukup menyentil hati nuraninya yang selama ini tertutup.
"Gue balik ya, gue harap ucapan gue bisa lo pikirin! Gue emang bukan teman yang baik - baik banget buat lo, tapi selagi gue masih bisa ingetin... ya kenapa enggak!"
Rasta pun berlalu dihadapan Ken yang langsung terdiam demi mencerna ucapan pria itu.
...Bersambung ......
__ADS_1